Dibutuhkan kekuatan untuk meyakini sesuatu,
Dibutuhkan keberanian untuk memiliki keraguan.
Dibutuhkan kekuatan untuk menyesuaikan diri,
Dibutuhkan keberanian untuk tampil beda.
Dibutuhkan kekuatan untuk merasakan kepedihan seorang teman,
Dibutuhkan keberanian untuk merasakan pedihan Anda sendiri.
Dibutuhkan kekuatan untuk menyembunyikan kepedihan Anda sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk menunjukkannya pada orang lain.
Dibutuhkan kekuatan untuk waspada,
Dibutuhkan keberanian untuk menurunkan kewaspadaan Anda.
Dibutuhkan kekuatan untuk menaklukan,
Dibutuhkan keberanian untuk menyerah.
Dibutuhkan kekuatan untuk bersabar menerima penghinaan,
Dibutuhkan keberanian untuk menghentikan mereka.
Dibutuhkan kekuatan untuk berdiri sendiri,
Dibutuhkan keberanian untuk bersandar pada seorang teman.
Dibutuhkan kekuatan untuk mencintai,
Dibutuhkan keberanian untuk dicintai.
Dibutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup,
Dibutuhkan keberanian untuk menjalani hidup.
Anda membutuhkan baik kekuatan maupun keberanian untuk menjalani kehidupan ini, namun Anda butuh kebijaksanaan untuk menentukan kapan harus menggunakan keberanian dan kapan harus
Rabu, 27 Juli 2011
Diampuni Untuk Setia
Pada suatu ketika ada seorang anak muda yang habis berpesta, karena sudah mengantuk dan lupa waktu, maka ketika mengendarai sepeda motornya dia menabrak sebuah mobil di jalan. Sang pengendara mobil tidak marah, hanya meminta pertanggungjawaban si pemuda untuk mengganti kerusakan mobilnya, si pemuda pun berjanji akan mengganti segala kerusakan mobilnya, maka tenanglah hati sang pengendara mobil dan mereka berdua pulang menuju rumah mereka masing masing. Hari berganti hari, sang pengendara mobil tetap menunggu janji si pemuda untuk mengganti kerusakan mobilnya, namun tidak ada kabar berita dari si pemuda. Karena mobilnya harus segera dipakai, maka sang pengendara mobil lantas memperbaiki mobilnya tanpa menunggu lagi janji dari si pemuda.
Sementara itu, si pemuda yang telah menabrak mobil kembali melanjutkan pesta dan kesenangan duniawinya tanpa memperdulikan janjinya untuk memperbaiki mobil sang pengendara, selepas berpesta pora hingga pagi hari, si pemuda kembali memacu motornya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di jalan, karena kondisinya masih mengantuk, kembali si pemuda ini mengalami kecelakaan saat menghindari seorang anak sekolah yang sedang menyeberang jalan.
Begitu banyak orang yang melihat, namun tidak ada satupun yang mau menolong, malah banyak orang mengutuki perbuatan sang pemuda tersebut, akan tetapi muncul satu orang yang mau meluangkan waktunya dengan resiko terlambat ke kantor, orang ini lantas berniat membawa si pemuda yang penuh luka ke rumah sakit. Ketika si pemuda melihat orang yang mau menolongnya tersebut, terkejutlah dia karena orang itu adalah orang yang pernah ditabrak mobilnya oleh si pemuda tersebut. Begitu malunya si pemuda ini melihat ketulusan sang bapak pengendara mobil ini, mengingat dia belum dapat memenuhi janjinya dan malah melupakannya.
Bapak pengendara mobil ini sempat terkejut melihat sang pemuda ini, namun niatnya untuk menolong si pemuda ini tetap dijalankannya, bapak ini malah berkata kepada si pemuda, ”janjimu yang dulu?, aku sudah melupakannya, aku juga sudah mengampuni perbuatanmu” dan mengulurkan tangannya kepada pemuda tersebut.
Mendengar ilustrasi seperti ini, mungkin sebagian dari kita akan merasa jijik kepada si pemuda tersebut, kerjanya hanya berpesta dan seenaknya mengucapkan janjinya kepada orang lain lantas melupakannya. Tetapi jika kita mengingat kehidupan kita di dunia ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari perbuatan si pemuda ini.
Ketika hidup kita hanya mengejar apa yang ditawarkan dunia ini seperti materi dan jabatan, apakah kita sempat mengingat segala kebaikan yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya?, dan ketika datang masalah yang begitu besar dalam hidup kita (yang diibaratkan sebagai kecelakaan), kita berjanji kepada Tuhan untuk kembali pada-Nya, mengikut jalan-Nya, dan tidak hanya memikirkan urusan duniawi saja.
Tetapi ketika masalah yang besar itu sudah terlewati, seringkali kita kembali melupakan Tuhan dan sibuk dengan segala urusan kita. Sibuk inilah, sibuk itulah, segala macam alasan kita keluarkan untuk pembenaran perbuatan kita. Dan ketika masalah yang (mungkin) sama, atau lebih besar kembali menghadang, kemanakah akan kita berseru meminta pertolongan?
Apakan kepada segala kesibukan kita?, keluarga kita?, uang kita?, jabatan kita?. Mungkin. Dan ketika semuanya tidak dapat menolong kita?, ingatlah akan Matius 11:28 yang berbunyi, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Datanglah kepada Tuhan yang senantiasa akan menolong kita, tetapi ingat Galatia 6: 7 yang berbunyi, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
Tuhan selalu membuka pintu tobatnya setiap hari dalam hidup kita, janganlah kita melewatkan kesempatan ini dan menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya dengan segala dosa pemberontakan kita, JANGAN TAKUT, seberapa besarnya dosa kita, datanglah kepada-Nya, ingatlah janji-Nya di Yeremia 31:34b,” ...demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Sementara itu, si pemuda yang telah menabrak mobil kembali melanjutkan pesta dan kesenangan duniawinya tanpa memperdulikan janjinya untuk memperbaiki mobil sang pengendara, selepas berpesta pora hingga pagi hari, si pemuda kembali memacu motornya untuk pulang ke rumah. Sesampainya di jalan, karena kondisinya masih mengantuk, kembali si pemuda ini mengalami kecelakaan saat menghindari seorang anak sekolah yang sedang menyeberang jalan.
Begitu banyak orang yang melihat, namun tidak ada satupun yang mau menolong, malah banyak orang mengutuki perbuatan sang pemuda tersebut, akan tetapi muncul satu orang yang mau meluangkan waktunya dengan resiko terlambat ke kantor, orang ini lantas berniat membawa si pemuda yang penuh luka ke rumah sakit. Ketika si pemuda melihat orang yang mau menolongnya tersebut, terkejutlah dia karena orang itu adalah orang yang pernah ditabrak mobilnya oleh si pemuda tersebut. Begitu malunya si pemuda ini melihat ketulusan sang bapak pengendara mobil ini, mengingat dia belum dapat memenuhi janjinya dan malah melupakannya.
Bapak pengendara mobil ini sempat terkejut melihat sang pemuda ini, namun niatnya untuk menolong si pemuda ini tetap dijalankannya, bapak ini malah berkata kepada si pemuda, ”janjimu yang dulu?, aku sudah melupakannya, aku juga sudah mengampuni perbuatanmu” dan mengulurkan tangannya kepada pemuda tersebut.
Mendengar ilustrasi seperti ini, mungkin sebagian dari kita akan merasa jijik kepada si pemuda tersebut, kerjanya hanya berpesta dan seenaknya mengucapkan janjinya kepada orang lain lantas melupakannya. Tetapi jika kita mengingat kehidupan kita di dunia ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari perbuatan si pemuda ini.
Ketika hidup kita hanya mengejar apa yang ditawarkan dunia ini seperti materi dan jabatan, apakah kita sempat mengingat segala kebaikan yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya?, dan ketika datang masalah yang begitu besar dalam hidup kita (yang diibaratkan sebagai kecelakaan), kita berjanji kepada Tuhan untuk kembali pada-Nya, mengikut jalan-Nya, dan tidak hanya memikirkan urusan duniawi saja.
Tetapi ketika masalah yang besar itu sudah terlewati, seringkali kita kembali melupakan Tuhan dan sibuk dengan segala urusan kita. Sibuk inilah, sibuk itulah, segala macam alasan kita keluarkan untuk pembenaran perbuatan kita. Dan ketika masalah yang (mungkin) sama, atau lebih besar kembali menghadang, kemanakah akan kita berseru meminta pertolongan?
Apakan kepada segala kesibukan kita?, keluarga kita?, uang kita?, jabatan kita?. Mungkin. Dan ketika semuanya tidak dapat menolong kita?, ingatlah akan Matius 11:28 yang berbunyi, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Datanglah kepada Tuhan yang senantiasa akan menolong kita, tetapi ingat Galatia 6: 7 yang berbunyi, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
Tuhan selalu membuka pintu tobatnya setiap hari dalam hidup kita, janganlah kita melewatkan kesempatan ini dan menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya dengan segala dosa pemberontakan kita, JANGAN TAKUT, seberapa besarnya dosa kita, datanglah kepada-Nya, ingatlah janji-Nya di Yeremia 31:34b,” ...demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Bapaku Pemulung Ulung
Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb.
Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."
"Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat.
Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru
dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.
Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai
ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"
Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna
seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."
Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.
Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi."
"Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat.
Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru
dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.
Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai
ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"
Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna
seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."
Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.
Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak
Dikisahkan :
Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. "Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun," pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, "Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi." Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
"Aku rasa mungkin karena wajahku ... Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..." Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: "Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat." Aku katakana kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di veranda.
Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. "Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan." Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat.
Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.
Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung.
Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2.
Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi." Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu." Aku katakan silahkan dating kembali setiap saat.
Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami.
Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...
Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.
Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, "Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki." Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman."
Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu – dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.
"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b)
Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau perduli.. Teruskan ini, dan gembirakanlah hari seseorang. Tak ada sesuatupun yang akan terjadi bila kau tidak meneruskan ini. Tapi satu2nya yang akan terjadi bila kau toh melanjutkan kiriman ini ialah, Bahwa seseorang mungkin akan tersenyum gara2 kamu]. Buatlah seseorang Tersenyum hari ini.
"your failure is not a reason for GOD to stop loving you"
Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.
Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. "Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun," pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, "Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi." Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
"Aku rasa mungkin karena wajahku ... Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..." Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: "Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat." Aku katakana kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di veranda.
Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. "Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan." Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat.
Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.
Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka ditulang punggung.
Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2.
Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi." Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu." Aku katakan silahkan dating kembali setiap saat.
Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami.
Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...
Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.
Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, "Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki." Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman."
Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu – dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.
"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b)
Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau perduli.. Teruskan ini, dan gembirakanlah hari seseorang. Tak ada sesuatupun yang akan terjadi bila kau tidak meneruskan ini. Tapi satu2nya yang akan terjadi bila kau toh melanjutkan kiriman ini ialah, Bahwa seseorang mungkin akan tersenyum gara2 kamu]. Buatlah seseorang Tersenyum hari ini.
"your failure is not a reason for GOD to stop loving you"
Kisah Pohon Apel
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, dan tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel itu sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.
Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.
Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah"
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.”
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel itu sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.
Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.
Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu.
"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah"
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.”
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
Berikanku Hati Seperti HatiMU
Kami melayani kaum marginal (pemulung, pengamen, tuna wisma, anak-anak jalanan) kurang lebih 150 orang setiap hari Sabtu sore jam 18:00. Kebaktian marginal ini kami sebut "Kebaktian Bina Kasih" dan bertampat di gedung gereja.
Suatu saat, ketika kebaktian marginal selesai, seorang Ibu dengan 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki datang di pintu gereja, saat itu kami pengerja-pengerja akan "briefing", kemudian pulang. Kelihatannya mereka sangat kusam, kelaparan dan ternyata anak jalanan juga. Memang sering kali orang-orang tak mampu datang ke gereja dengan berbagai motivasi. Mulai dari yang ikut-ikutan saja, mengharapkan sedekah bantuan bahkan ada yang sampai memaksa.
Saya sebagai pengerja yang tiap sabtu melayani mereka, kira-kira sudah bisa membaca raut muka orang yang minta bantuan. Dan ketika Ibu ini minta bantuan, saya berkeinginan untuk memberi sedikit dari uang saya. Tetapi dengan adanya pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana banyak anak jalanan yang sudah punya trik-trik tersendiri demi mendapatkan uang, akhirnya niat saya undur. Ditambah lagi teman-teman saya berkomentar,"jangan biasakan cepat menanggapi orang yang demikian, kita harus hati-hati", .
Kebetulan masih ada sisa makanan dari kebaktian yang baru selesai, maka saya hanya memberi mereka nasi bungkus dan air mineral. Tetapi entah kenapa mereka bukannya saya suruh pergi tetapi saya ajak ngobrol, khususnya kedua anak yang sebenarnya bukan anak ibu tersebut, tetapi si Ibu sudah mengaggapnya sebagai anak menurut pengakuan anak-anak tersebut. Bercerita dengan mereka panjang lebar, maka kembali keinginan untuk memberi sedikit uang muncul di hati saya. Tetapi pikiran saya beranjak lagi kepada beberapa pengalaman dimana banyak anak jalanan yang mahir bersandiwara demi mendapatkan sesuatu.
Kemudian, sebelum saya menyuruh mereka pergi, saya mengajak rekan pengerja yang lain untuk berdoa bersama mereka. Ketika saya memimpin doa, saya tidak sanggup menahan air mata saya, belas kasihan Yesus begitu menyentuh hati saya. Ketika selesai berdoa kemudian mereka pergi keluar dari gereja.
Dengan sisa air mata di pipi saya berlari mengejar mereka dan akhirnya melepaskan uang di dompet saya dan memberikan kepada mereka.
Malam hari ketika saya hendak tidur, saya merenungkan kejadian ini di kaki Tuhan. Dan saya mendapatkan teguran lembut di hati saya: masih adakah belas kasihan atau kecurigaan??. Masih adakah hati yang rela melayaniKU dengan tulus bukan karena kebiasaan?? masih adakah kepekaan untuk mereka yang sangat membutuhkan?? Apa yang kau punya berikan dengan rela tanpa menuntut balasan, itulah kasih dari Bapa Surgawi.
Kemudian saya menutup saat teduh dengan menghapus air mata sambil berkata kepada Yesus: "aku belum punya hati yang demikian, berilah anugerahMu untukku, aku mau punya hati yang rela"'.
Lalu saya tidur dengan hati yang damai dan tenang dalam pelukan kasihNYA yang hangat.
Suatu saat, ketika kebaktian marginal selesai, seorang Ibu dengan 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki datang di pintu gereja, saat itu kami pengerja-pengerja akan "briefing", kemudian pulang. Kelihatannya mereka sangat kusam, kelaparan dan ternyata anak jalanan juga. Memang sering kali orang-orang tak mampu datang ke gereja dengan berbagai motivasi. Mulai dari yang ikut-ikutan saja, mengharapkan sedekah bantuan bahkan ada yang sampai memaksa.
Saya sebagai pengerja yang tiap sabtu melayani mereka, kira-kira sudah bisa membaca raut muka orang yang minta bantuan. Dan ketika Ibu ini minta bantuan, saya berkeinginan untuk memberi sedikit dari uang saya. Tetapi dengan adanya pengalaman-pengalaman sebelumnya dimana banyak anak jalanan yang sudah punya trik-trik tersendiri demi mendapatkan uang, akhirnya niat saya undur. Ditambah lagi teman-teman saya berkomentar,"jangan biasakan cepat menanggapi orang yang demikian, kita harus hati-hati", .
Kebetulan masih ada sisa makanan dari kebaktian yang baru selesai, maka saya hanya memberi mereka nasi bungkus dan air mineral. Tetapi entah kenapa mereka bukannya saya suruh pergi tetapi saya ajak ngobrol, khususnya kedua anak yang sebenarnya bukan anak ibu tersebut, tetapi si Ibu sudah mengaggapnya sebagai anak menurut pengakuan anak-anak tersebut. Bercerita dengan mereka panjang lebar, maka kembali keinginan untuk memberi sedikit uang muncul di hati saya. Tetapi pikiran saya beranjak lagi kepada beberapa pengalaman dimana banyak anak jalanan yang mahir bersandiwara demi mendapatkan sesuatu.
Kemudian, sebelum saya menyuruh mereka pergi, saya mengajak rekan pengerja yang lain untuk berdoa bersama mereka. Ketika saya memimpin doa, saya tidak sanggup menahan air mata saya, belas kasihan Yesus begitu menyentuh hati saya. Ketika selesai berdoa kemudian mereka pergi keluar dari gereja.
Dengan sisa air mata di pipi saya berlari mengejar mereka dan akhirnya melepaskan uang di dompet saya dan memberikan kepada mereka.
Malam hari ketika saya hendak tidur, saya merenungkan kejadian ini di kaki Tuhan. Dan saya mendapatkan teguran lembut di hati saya: masih adakah belas kasihan atau kecurigaan??. Masih adakah hati yang rela melayaniKU dengan tulus bukan karena kebiasaan?? masih adakah kepekaan untuk mereka yang sangat membutuhkan?? Apa yang kau punya berikan dengan rela tanpa menuntut balasan, itulah kasih dari Bapa Surgawi.
Kemudian saya menutup saat teduh dengan menghapus air mata sambil berkata kepada Yesus: "aku belum punya hati yang demikian, berilah anugerahMu untukku, aku mau punya hati yang rela"'.
Lalu saya tidur dengan hati yang damai dan tenang dalam pelukan kasihNYA yang hangat.
Langganan:
Postingan (Atom)