Jumat, 30 September 2011

Kumpulan Artikel Kehidupan

Aku Hanyalah Anak Jalanan

Seorang bapak dan ibu menemuiku. Mereka membawa buletin kami yang terbaru. Katanya mereka mendapatkan buletin itu dari temannya. Mereka memuji-muji buletin kami yang mengisahkan kehidupan anak-anak dampingan. Pembicaraan kami berlanjut pada isi buletin. Akhirnya bapak itu mempertanyakan mengapa terjadi banyak pencurian dalam rumah kami. apakah tidak ada cara untuk menghentikan pencurian?
Apakah aku tidak melaporkan saja semua itu pada polisi?
Mengapa aku masih berusaha melindungi mereka?
Mengapa aku masih bertahan dan menampung mereka? Mengapa tidak menutup saja rumah singgah itu dan membuka pelayanan lain? Pertanyaan-pertanyaan ini sudah sering kudengar. Ini bukan pertanyaan baru lagi. Aku berusaha menjelaskan bahwa pendampingan anak jalanan itu sulit. Sebelum masuk dalam aktifitas ini aku sudah tahu akan resiko yang bakal aku terima selama pendampingan ini. Mengubah seseorang butuh waktu. Apalagi yang menyangkut nilai dan perilaku. Ini tidak mudah. Butuh proses yang lama dan panjang. Memang gambaranku sebelum masuk itu tidak separah setelah aku menjalaninya selama ini. Banyak kesulitan yang muncul, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Banyak anak jalanan masih membawa kehidupan jalanan dalam rumah singgah. Akibatnya pencurian, perkelahian dan kehidupan jalanan lain masih sering terjadi dalam rumah singgah. Inilah resiko keputusanku. Bapak itu bertanya apakah aku tidak memilih siapa saja yang boleh tinggal di rumah singgah. Hal ini tidak mudah. Memang beberapa teman juga mempunyai pendapat yang sama yaitu diadakan seleksi anak jalanan. Tapi pertanyaan besar bagiku adalah bagaimana aku bisa memilih anak jalanan yang baik? Secara teori hal itu mungkin dan mudah, tetapi di lapangan tidak semudah apa yang dikatakan dalam teori dan saran-saran.
Akhirnya mereka bertanya mengapa aku bertahan untuk mendampingi anak yang tidak bisa diubah? Pertanyaan ini juga sering muncul dalam diriku sendiri ketika sedang dalam saat putus asa. Mengapa aku harus ada di sini? Mengapa aku mau menyusahkan diri berteman dengan mereka yang tidak bisa diajak berteman? Alasan klasik bagiku adalah bahwa sebetulnya mereka membutuhkan orang yang peduli pada mereka. Jawaban ini bisa menjadi pertanyaan baru, jika mereka membutuhkan orang yang mau menolong, mengapa mereka melakukan perusakan, pencurian dan hal negatif lainnya? Mengapa mereka tidak mau menyadari diri bahwa mereka ditolong lalu ada niat untuk berubah? Ibu itu bertanya bagaimana jika ada orang tahu bahwa barang yang mereka sumbangkan ternyata hilang dicuri? Ibu itu menyatakan bahwa pasti orang yang memberi itu akan kecewa. Aku katakan bahwa aku juga kecewa. Tapi yang membuatku kecewa bukan barang yang hilang melainkan sikap mencuri barang itulah yang membuatku kecewa. Aku merasa belum mampu mengubah mereka untuk mencintai barang-barang miliknya. Ibu dan bapak itu semakin gencar menyarankan agar aku meninggalkan mereka dan mulai serius di paroki. Masih banyak orang yang membutuhkan pendampingan, mengapa susah-susah mendampingi orang yang tidak mau berubah? Setelah lama memberikan nasehat, mereka pulang dan meninggalkan aku sendirian dalam pertanyaan-pertanyaan. Benarkan saran mereka agar aku meninggalkan anak-anak dan serius di paroki? Aku sudah disana selama ini dan mereka masih mencuri, berkelahi, ditangkap polisi, membuat rusuh kampung dan tindakan jahat lainnya. Mereka masih tidak bisa berubah. Aku tadi sempat mengatakan bahwa aku mencintai mereka. Namun bapak dan ibu itu mengatakan cinta juga harus rasional. Cinta harus tegas dan kadang memberikan pelajaran agar mereka sadar. Cinta tidak berarti menerima saja segala tindakan buruk. Cinta tidak harus juga mengajar dengan keras. Mereka mengatakan aku aneh jika masih mencintai mereka yang sudah jelas tidak mau membalas cintaku, bahkan sebaliknya hanya menyusahkan saja.
Dalam permenunganku di kamar, aku teringat pada ibuku. Ibu mengajarkan cinta yang tidak rasional. Ibu bukanlah perempuan berpendidikan tinggi. Dia hanya perempuan sederhana produk jaman penjajahan. Tapi aku banyak belajar cinta dari ibu secara nyata. Bukan hanya teori tentang cinta melainkan praktek cinta. Aku ingat bagaimana bapak sering menyalahkan ibu yang bertindak bodoh. Ibu dengan tenang memberi makan orang yang sama sekali tidak dikenal, padahal anak-anaknya banyak dan semua membutuhkan makan yang cukup. Ibu memberikan uang pada orang, padahal uang itu sangat berarti bagi kami. ibu berani meminjami orang uang, padahal tahu bahwa orang ini pasti tidak akan mengembalikan. Dan masih ada lagi tindakan ibu yang dianggap bapak sebagai tidakan yang tidak diperhitungkan akibatnya.

Teringat kembali pada mataku bagaimana bapak suatu hari sangat marah pada ibu soal beras. Suatu hari kota kami kebanjiran, sehingga semua toko dan pasar tutup. Waktu itu ibu hanya mempunyai persedian beras yang cukup dimakan dua hari saja. Pada banjir hari pertama, seorang tetangga datang dan meminjam beras. Bapak sudah memperingatkan agar ibu tidak meminjaminya. Tapi ibu mengatakan bahwa kondisi tetangga itu jauh lebih parah. Memang rumahnya hampir tenggelam, sedang rumah kami hanya sebatas separo lutut anak-anak. Maka ibu membagi beras yang dimiliki menjadi dua bagian dan memberikan pada tetangga itu yang satu bagian. Ternyata banjir tidak cepat surut. Pada esok harinya beras sudah habis dan pasar belum buka. Jelas bapak menjadi marah, sebab tidak ada lagi nasi yang bisa dimakan. Padahal kami semua lapar. Ibu tidak kehilangan akal, maka menumbuk jagung dan kami makan jagung yang sangat sedikit sekali. Aku masih ingat bapak sangat marah dan ibu hanya diam saja. Dia rela dimarahi sebab itu sudah resiko tindakannya untuk menolong tetangga. Saat itu ibu belum Katolik. Dia hanya bertindah berdasarkan belas kasih bukan berdasarkan ajaran Katolik. Masih banyak tindak cinta ibu yang tidak rasional dan mengakibatkan kerugian bagi kami. Tapi ibu mengatakan bahwa Tuhan tidak tidur. Dia akan melihat apa yang diperbuatnya dengan harapan suatu saat ada orang lain yang akan menolong anak-anaknya. Tindakanku mendampingi anak jalanan beberapa kali dikatakan bodoh. Tapi dalam situasi seperti ini, aku hanya berusaha mengingat tindakan yang pernah diajarkan ibu. Kasih yang tidak perlu memikirkan panjang lebar, soal untung dan rugi, terbalas atau tidak terbalas. Kasih yang harus mengakibatkan kesenggsaraan bagi diri sendiri. Tindak kasih yang hanya berharap bahwa Tuhan akan melihat dan suatu saat membalas pada anak-anaknya. Permenungan semakin jauh pada pada Yesus. Bagaimana Yesus mengajarkan kasih? Dia juga melaksanakan kasih yang tidak rasional. Dia tahu bahwa akan dibunuh, tapi Dia tetap berjalan ke Yerusalem. Dia tahu bahwa ada murid yang akan mengkhianatinya, tapi Dia tetap membiarkan murid itu melaksanakan kehendaknya. Dia tahu bahwa suatu saat Petrus akan mengkhianati, namun Dia tetap mengangkatnya sebagai pemimpin. Dia menyembuhkan 10 orang kusta dan hanya satu yang mengucapkan syukur, namun Dia tetap melakukan penyembuhan. Dia tidak pernah marah ketika semua orang mengkhianatiNya. Sebaliknya Dia mengampuni mereka. Aku yakin seandainya Yesus punya TV dan dicuri oleh para muridNya, pasti Dia tidak akan marah. Kalau nyawa saja Dia serahkan untuk para murid apakah Dia akan ribut ketika barangnya diminta orang lain? Aku yakin Yesus sudah tahu resiko yang mengiringi keputusanNya masuk dalam kehidupan manusia. Tapi Dia tetap masuk dan mendampingi manusia. Dia tetap mau menyelamatkan manusia meski banyak manusia yang menolak dan mengkhianatiNya. Dia tetap mencintai manusia meski manusia membalas dengan caci maki dan penyaliban. Dia tetap mencintai manusia meski mereka berulang kali mengecewakanNya. Mereka sudah bersumpah untuk mengikutiNya sampai mati, namun mereka sering mengkhianati sumpah itu seperti Petrus yang mengatakan berani mati demi Dia tapi ketika dihadapkan pada tantangan dia mengaku tidak mengenalNya. Kusadari bahwa aku tidak ubahnya adalah salah satu anak jalanan dihadapanNya. Aku yang sudah ditampung dalam rumahNya yang kudus masih kerap membawa masuk kehidupan dunia dalam rumahNya. Aku yang sudah dicintaiNya dengan sepenuh hati, masih kerap menyingkirkan Dia dari hidupku. Aku yang sudah ditebus dengan taruhan nyawaNya, masih mudah melakukan tindakan yang melanggar ajaranNya. Tapi Dia tetap menawarkan keselamatan dan pengampunan. Dia tidak bosan mengasihiku dan melindungiku. Dia tidak meninggalkan aku sendirian. Bahkan Dia tetap mencariku ketika aku tersesat dan berusaha membawaku pulang sambil meletakanku di pundakNya. Suatu cinta yang indah dan tidak masuk akal sama sekali. Kalau Yesus masih mengatakan padaku bahwa Dia mencintaiku, mengapa aku juga tidak bisa mengatakan pada anak dampingan bahwa aku tetap mencintai mereka, meski perbuatan mereka sangat mengecewakan hati? Mengapa aku egois hanya ingin diampuni tetapi tidak mau mengampuni? Mengapa aku harus bosan pada anak-anak jalanan sedang Yesus tidak pernah bosan untuk menerimaku kembali? Mengapa aku harus memilih anak jalanan yang baik-baik, sedang Yesus tidak pernah memilih orang, bahkan Dia sengaja datang untuk aku, orang yang berdosa ini. Orang yang ditolak masyarakat. Kalau Yesus memberiku kesempatan untuk berubah mengapa aku tidak memberi kesempatan anak-anak untuk berubah? Kalau Yesus masih memahami kejahatanku, mengapa aku tidak bisa memahami kejahatan anak-anak ini? Kalau Yesus tidak mau meninggalkan aku mengapa aku harus meninggalkan anak-anak? Aku hanyalah anak jalanan yang ditampung Yesus di rumah singgahNya. Tindakanku sering kali tidak jauh berbeda dengan anak-anakku. Aku tersenyum dan mengambil kunci motor untuk berangkat ke rumah singgah.

salam, yang nggak tahu kapan mentas dari jalanan
Aku Bisa

Seseorang pernah bercerita kepada saya tentang sebuah telur rajawali. Seekor induk ayam menemukan sebuah telur. Sang induk ayam ini mengerami telur ini dengan penuh kesabaran. Dan tiba pada suatu hari telur ini menetas dan keluarlah seekor anak rajawali. Ditengah tengah anak anak ayam yg lain, anak rajawali ini bertumbuh menjadi seekor rajawali yang gagah. Tapi dia tidak bisa terbang karena dia takut untuk belajar terbang. Pada suatu hari rajawali ini melihat keatas, beberapa burung yang menyerupai dirinya terbang tinggi di angkasa. Dia ingin sekali menjadi seperti rajawali rajawali yang dilihatnya tadi. Walaupun ayam ayam lain mencoba untuk menghalanginya, dia tetap pada tekadnya untuk belajar terbang. Dan pada akhirnya diapun dapat terbang juga seperti rajawali rajawali yang dilihatnya.

Kita sebagai manusia kadang kadang mempunyai pola pikir yang sempit, tidak mempunyai impian impian. Kita terkadang sudah terbiasa dengan lingkungan kita yang sekarang. Kita terkadang berkata,” saya sudah cukup puas dengan apa yang saya dapatkan sekarang ini.”

Saudara, Kita adalah anak anak Tuhan yang luar biasa. Kita jangan menjadi seseorang yang biasa biasa saja, tapi menjadi seorang yang luar biasa, menjadi seorang pemenang. Saya pernah mempunyai keinginan untuk mempunyai sebuah mobil sendiri, saya berdoa dan bekerja untuk memujudkan impian saya tersebut. Akhirnya pada suatu hari saya dapat memilikinya. Begitupun dengan rumah dan lain lain. Saya menerapkan pola pikir bahwa semua impian impian saya dapat terwujud, bukan karena saya layak tapi karena Tuhan mengasihi saya.

Alasan mengapa kita belum menerima apa yang terbaik dari Tuhan, adalah karena kita belum mengembangkan visi kita secara maksimal. Tuhan tidak ingin kita menjadi rajawali yang seperti ayam, tetapi Tuhan ingin kita menjadi seekor rajawali yang dapat terbang tinggi, melewati samudra, gunung yang tinggi dan awan. Tuhan ingin kita menjadi Luar biasa, baik dalam pekerjaan, rumah tangga, sekolah dan lain lain.

Kembangkanlah pola pikir keberhasilan, bukan kegagalan. Ingat apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi.

Jangan pernah berkata,” aku tidak dapat melakukannya, aku tidak bisa berhasil, penyakitku tidak bisa sembuh, aku akan menjadi miskin seumur hidupku.” tetapi katakanlah ,” AKU BISA.”




















Akhir Jaman

Dulu ketika semasa SMP, saya pernah dikejutkan isu bahwa akan ada kegelapan total selama tiga hari tiga malam. Beredar selebaran yang menyatakan bahwa pada saat kegelapan tersebut, penerangangan hanya bisa melalui lilin yang telah diberkati. Alhasil sebagian besar warga kota kecilku berbondong-bondong membeli lilin dan minta diberkati oleh pastor. Banyak keluarga memborong kebutuhan-kebutuhan pokok demi kelangsungan hidup selama tiga hari kegelapan tersebut. Mereka yang dapat bertahan hidup selama tiga hari kegelapan tersebut adalah mereka yang diselamatkan, sedangkan yang tidak layak akan binasa. Namun setelah hari yang ditunggu-tunggu tiba, ternyata kegelapan tidak terjadi. Sang surya dengan gagahnya tetap terbit dari ufuk timur, kembali memberi sinar dan pengharapan pada warga kotaku yang kebingungan. Ada rasa kecewa dan ada rasa suka. Kecewa karena sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa tapi apa yang diramalkan tidak terjadi. Tetapi lebih dari itu, ada rasa suka. Ternyata Allah tidak kejam seperti yang diisukan. Ia tetap baik dan mengasihi umatnya. Cahaya matahari tidak saja hanya untuk orang-orang beriman tapi juga untuk orang berdosa. Kasih Allah ternyata melampaui batas definisi dosa yang dibuat manusia untuk saling mengeksklusifkan satu sama lain. Berita tentang kedatangan akhir jaman (apokalipsi) selalu menarik perhatian banyak orang, terutama bila itu dilengkapi dengan sekian kesaksian para kudus, kutipan injil, atau pernyataan yang diasalkan pada perkataan Bunda Maria dalam beberapa penampakannya. Berita tentang kedatangan akhir jaman memang bukanlah sekedar isu. Injil hari Minggu ini berbicara tentang kedatangan akhir jaman tersebut. Dalam Injil hari minggu ini, Yesus memberi tanda-tanda yang mendahului kedatangan hari tersebut: bangsa akan bangkit melawan bangsa, gempa bumi, kelaparan, dan wabah penyakit di mana-mana. Bila menilik tanda-tanda tersebut, kita akan dengan mudah dituntun pada keterpenuhan nas tersebut. Peperangan dan bencana alam telah menjadi berita utama dunia ini. Juga kelaparan di banyak tempat, yang sering kali tidak terpantau oleh media. Belum lagi penyakit yang aneh-aneh dan baru di beberapa belahan bumi. Nampaknya dunia sudah menunjukkan gejala-gejala seperti yang dinyatakan Yesus tersebut. Orang yang pintar membaca tanda-tanda jaman tidak bosan-bosannya menyerukan pertobatan. Dunia hanya biasa diselamatkan dengan pertobatan yang segera mungkin. Beberapa yang merasa terinspirasi semakin berani mewartakan atau membentuk aliran-aliran yang mengklaim bahwa mereka telah menerima wahyu akan kedatangan akhir jaman tersebut. Atau bahwa mereka adalah mesias kedua yang dijanjikan tersebut. Dengan memanfaatkan kemampuan retorik yang isinya didominasi oleh ancaman-ancaman dan berkat, bukan keselamatan yang mereka bawa, justru semakin banyak kesesatan yang ditimbulkan. Selalu ada klaim bahwa hanya kelompok merekalah yang akan diselamatkan. Beberapa aliran tersebut berujung pada aksi bunuh diri massal, seperti aksi bakar diri atau minum racun bersama. Saya selalu merasa tertarik dengan konsep Alfred North Whitehead tentang Allah. Ia menempatkan Allah dalam dua hakikat, yaitu hakikat awali (primordial nature) dan hakikat akhiri (consequent nature). Dalam hakikat awali, Allah merupakan perwujudan konseptual dari seluruh kekayaan potensial absolut, suatu penataan segala kemungkinan bentuk perwujudan konkret. Dalam hakikat awalinya, Allah dikategorikan sebagai free, complete, eternal, actually deficient and unconscious. Sebaliknya dalam aspek akhiri, Allah bersifat determined, incomplete, consequent, everlasting, fully actual, and concious. Dalam aspek awalinya Allah berperan sebagai pencipta sedangkan dalam aspek akhiri Allah berperan sebagai penyelamat yang menampung segala sesuatu. Whitehead tidak melihat bahwa Allah sebagai yang sempurna dari permulaan, yang hanya memberi dan tidak membutuhkan apa-apa dari dunia, tetapi sebaliknya Allah pun mencerap dari dunia. Justru dengan mencerap dari dunia dan menyimpan, menampung, menyelamatkan segala sesuatu barulah Allah menjadi sempurna. Allah dalam hakikat akhirinya bukanlah Allah yang dapat meramal atau dapat menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan, tetapi bersama-sama dunia mengarungi masa depan. Dalam pola pandang ini berarti bahwa keputusan Allah tidaklah mutlak. Allah kita bukanlah Allah yang statis dan tidak peka. Ia bukanlah Allah yang sekali memutus maka akan berlaku selama-lamanya. Ia peka terhadap dunia, keputusanNya bisa berubah bila dunia berubah. Akhir jaman di sini tidak lagi ditempatkan pada suatu titik waktu di masa depan, tapi masih sebatas konsep. Terjadi atau tidaknya akhir jaman tersebut bukan lagi merupakan keputusan mutlak Allah, tetapi lebih merupakan keputusan dunia sendiri. Dunia menentukan akan jadi apa dirinya nanti. Bila bangsa-bangsa tidak lagi mampu mengontrol nafsu untuk saling menghabisi; bila egoisme sudah sedemikian merajalela sehingga manusia saling mengeksploitasi yang berujung pada kesengsaraan dan kelaparan; bila manusia tidak lagi mampu menjaga sikap dan perilakunya dalam batas-batas moral dan etika kristiani, maka akhir jaman sudah sedang terjadi.

Hemat saya, kita sebagai orang Kristen tidak perlu takut akan kedatangan akhir jaman. Akhir jaman bukanlah hukuman dari Allah untuk dunia, tetapi hukuman dari dunia bagi dirinya sendiri. Akhir jaman juga bukan tiga ketukan palu dari sang hakim yang akan menentukan nasib kita selanjutnya. Kita memang harus tetap membentengi diri kita dengan mempraktekan ajaran-ajaran Yesus. Peringatan Yesus tentang akhir jaman bukanlah untuk menakut-nakuti kita, tetapi saya kira lebih sebagai dorongan untuk saling berbuat baik dan mengasihi satu sama lain. Isu tentang kedatangan hari terakhir atau tentang kedatangan Mesias, janganlah membuat kita terpeleset dengan bergabung pada aliran-aliran sesat yang mengklaimnya. Bayangan tentang akhir jaman yang mengerikan bisa kita hindari dengan menjadikan bumi kita sebagai tempat diam yang lebih baik; menjadikan kehendak Allah di atas bumi seperti di dalam surga. Amin.


































Ahh aku dicuri lagi...

Rasanya kesal, rasanya ingin mengeluarkan sumpah serapah saat aku kehilangan sesuatu yang aku sayangi. Apalagi sesuatu itu adalah memiliki kesan yang dalam, terlalu banyak nilai yang tidak hanya bisa dihitung dengan satuan Rupiah. Tapi dengan seenaknya, ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengambil sesuatu yang berharga itu dari padaku. Ya saat aku tidak waspada, dengan seenaknya dia mengambil yang menjadi milikku, hakku, kepunyaanku. Dalam hitungan detik telah terjadi pertukaran kepemilikan, padahal aku tidak pernah mengizinkannya untuk mengambilnya dariku.. Tapi kata Tuhan aku harus mengampuni, aku harus mengasihi musuhku.. Tuhan rasanya sulit, rasanya rasa marah itu lebih besar daripada kasih yang menutupi segalanya.

Mungkin itulah sedikit gambaran bagaimana hati kita menjadi tidak karu-karuan, saat kehilangan "sesuatu yang berharga dalam hidup kita", tidak hanya materi, tapi bisa juga orang-orang yang kita cintai, kita kasihi, sahabat, semuanya. Ya, semua yang ada dalam dunia ini bisa hilang begitu saja, dalam hitungan detik, bahkan mili detik.

Sejenak aku merenung, saat kehilangan sesuatu yang berharga yang disebabkan oleh keteledoranku sendiri saja, aku tidak bisa tidur semalam-malaman. Tapi bagaimana, seandainya yang aku sia-siakan adalah keselamatan yang sudah Tuhan kasih ke semua manusia secara gratis?? (Tuhan berkata "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan"), pasti penyesalan itu akan tidak pernah ada ujungnya saat kita menyia-nyiakan keselamatan itu.

Ternyata, dalam segala sesuatu pasti selalu ada pelajaran yang indah, yang dapat aku tarik, toh walaupun aku rugi secara materi, tapi ternyata aku masih dapat belajar suatu pelajaran yang sangat berharga, ya hidupku sangat berharga sampai Tuhan rela mati untukku.. Jangan sampai kita frustasi karena kehilangan sesuatu yang berharga, karena hidup kita lebih berharga dari apapun, karena Tuhan sangat mengasihi kita..
























MASIH ADAKAH PINTU BAGIKU

Perempuan di depanku wajahnya kuyu. Rambutnya agak acak-acakan, mungkin terkena angin dan tidak disisir lagi. Ada lingkaran hitam di sekitar matanya, mungkin kurang tidur, pikirku. Sebentar-sebentar dia melepaskan kaca matanya untuk menghapus air mata. Sudah berlembar-lembar tissue dia gunakan untuk mengeringkan air matanya. Aku hanya diam. Aku selalu tidak tahu apa yang harus aku katakan atau lakukan jika sudah enghadapi hal seperti ini. Kuhisap rokokku sambil menanti perempuan ini selesai menangis. Kubiarkan dia menumpahkan kesedihannya dalam tangis. Setelah sesaat mulailah dia bercerita. Dia memperkenalkan namanya Retno dan berasal dari Sragen. Sudah hampir dua tahun lebih dia bekerja sebagai SPG (Sales Promotion Girl) di sebuah perusahaan kosmetik. Tuntutan pekerjaan membuat dia berani tampil modis. Memakai pakai yang mini dan make up tebal. Padahal sebetulnya dia tidak suka dengan semua itu. Dia pun harus berani menawarkan produknya pada siapa saja yang lewat di dekatnya. Tidak jarang dia digoda oleh kaum pria yang iseng.
Bahkan lebih parah lagi dia pernah diajak tidur. Seolah dia adalah perempuan murahan. Semula dia menolak. Namun tuntutan untuk bisa hidup lebih layak dan keluhan dari orang tuanya yang miskin di Sragen, membuatnya terjebak. Suatu kali orang tuanya sakit keras dan membutuhkan biaya untuk perawatan di rumah sakit. Uang pensiun ayahnya yang hanya pegawai rendah di kecamatan, tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Jangankan membayar rumah sakit, untuk makan sebulan saja sudah tidak cukup. Dua kakaknya lelaki sudah menikah dan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Dengan demikian kedua kakaknya tidak bisa diharapkan lagi untuk membantu orang tuanya. Dalam kebingungannya seorang teman secara kasak kusuk menawarinya untuk menerima saja ajakan seorang pria. Setelah mengalami konflik batin akhirnya Retno menanggapi tawaran temannya itu. Uang yang diperoleh cukup besar, bahkan melebihi gajinya sebulan. Pertama dia melakukan hal itu, timbul kegundahan dalam hati. Selama beberapa hari dia gelisah. Akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan pekerjaan itu. Kalau dia berhenti, toh dia sudah tidak perawan lagi. Sudah tidak akan ada lagi pria yang sudi menerimanya. Dia sudah kotor dan menjijikan. Perempuan rendahan yang tidak punya susila dan moral. Perempuan yang bisa dibeli. Selama hampir setahun Retno melakukan pekerjaan ganda. Secara materi dia jauh lebih baik dibanding saudara-saudaranya. Dia mampu mengirim uang pada orang tuanya setiap bulan. Dia bisa membeli berbagai perhiasan. Bajunya cukup bagus. Dia sudah bisa kontrak rumah, semula dia hanya kost di sebuah kamar ukuran 2X3. Tapi dia sering gelisah. Dia takut orang tuanya tahu apa sebenarnya pekerjaannya. Dia tidak tahan selalu berbohong pada orang tuanya. Dia ingin cerita apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tidak berani. Suatu hari kakaknya mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan Retno di Surabaya. Ayah dan ibunya sangat terpukul. Dengan menangis Retno menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia menceritakan mengapa dia melakukan semua itu. Ayahnya sangat marah mendengar penuturannya. Dia tidak mau menerima apapun alasan yang dikatakan Retno. Baginya pekerjaan Retno sangat memalukan dan merendahkan martabat keluarga. Dia lebih baik mati dari pada sembuh dengan uang hasil dari perbuatan seperti itu. Retno terpuruk. Pengorbanannya selama ini hanya menghasilkan caci maki dan perkataan yang sangat menyakitkan hati. Tapi dia berusaha menerima semuanya itu. Caci maki ayahnya tidak hanya berhenti pada hari itu, namun terus dilanjutkan setiap ada kesempatan. Hal ini membuat Retno tidak tahan di rumah. Dia pergi kembali ke Surabaya. Tangisan ibunya tidak dia perhatikan lagi. Ibunya memang berusaha untuk memahami keputusan Retno, namun dia juga tidak kuasa akan kekerasan hati suaminya. Namun di Surabaya Retno sudah memutuskan untuk melepaskan pekerjaannya. Dia ingin bekerja yang lain, meski harus mulai lagi dari nol dan gaji yang kecil. Dia tidak peduli. Keluar dari pekerjaan seperti ini ternyata tidak mudah. Beberapa pria masih berusaha menghubunginya lagi dengan segala rayuan. Teman-temannya juga tidak bisa mengubah pandangannya bahwa sekarang dia sudah ingin berhenti. Teman-temannya masih menganggap bahwa dia masih Retno yang dulu. Retno yang bisa dibawa oleh siapa saja yang punya uang. Retno murahan. Retno yang PS (pekerja seks). Begitu sulitkah orang yang ingin bertobat? Apakah sekali orang jatuh dia akan selamanya jatuh? Begitu keluhnya. Aku diam. Banyak orang menilai seseorang dari masa lalunya. Dia mengikat orang pada masa lalunya. Sekali orang berbuat jahat, senantiasa dia akan dicurigai berbuat jahat. Dulu temanku seorang preman juga mau bertobat, tapi tidak mudah. Dia harus berhadapan dengan teman-temannya sendiri. Dia sampai dipukuli oleh teman-temannya, sebab dia berani melarang temannya yang akan mencopet seorang ibu. Pertobatan ternyata membutuhkan keteguhan dan keberanian.
Aku pikir jika Retno tidak tabah, maka dia akan jatuh kembali pada masa lalunya. Kini dia sudah berani untuk hidup serba kekurangan, namun teman-temannya dan keluarganya tidak bisa melepaskan dia dari masa lalunya. Dia sulit untuk melepaskan predikatnya sebagai PS. Banyak orang menyerukan agar seorang pendosa bertobat, tapi banyak orang juga sulit untuk menerima orang yang bertobat. Seolah dia menawarkan pintu tobat, namun ketika orang yang berdosa datang, segera pintu itu ditutup kembali rapat-rapat. Pandangan penuh kecurigaan,
ketidakpercayaan, pengungkitan masa lalu dan masih banyak kata dan sikap yang membuat seorang yang dicap pendosa merasa rendah dan merasa sia-sia pertobatannya. Buat apa bertobat jika semua orang masih memandangnya seperti dia yang dulu? Orang bertemu Yesus bisa bertobat, sebab Yesus
tidak mengungkit lagi masa lalunya. Maria Magdalena yang dulu dibebaskan dari 7 roh jahat, ternyata diijinkan mengikuti dan melayani Dia. Ternyata Maria Magdalena pula yang mendapatkan penampakan pertama ketika Yesus bangkit. Aku hanya mengandaikan seandainya semua orang berani melihat orang pada saat ini. Orang berani melepaskan orang dari masa lalunya yang kelam. Orang masih berani dan memberikan kepercayaan pada orang-orang yang pernah jatuh untuk memulai suatu hidup baru. Tentu akan banyak orang yang bertobat. Aku sadar aku pun sering melihat orang dari masa lalunya. Aku sering tidak iklas dan curiga ketika orang yang dulu pernah menipuku datang lagi untuk pinjam uang. Aku selalu langsung menuduhnya bahwa uang itu pasti tidak akan dikembalikan lagi. Jangankan sampai pinjam, baru mendengar orang itu datang saja aku sudah mengadilinya bahwa dia akan menipuku lagi. Aku tidak memberikan kepercayaan padanya. Padahal aku menyerukan agar orang bertobat. Seandainya aku jadi Retno, aku juga akan pedih. Mungkin aku tidak tahan menahan pandangan orang yang melecehkanku karena masa laluku. Dulu aku juga pernah jengkel, ketika teman-temanku semasa sekolah meragukanku menjadi seorang imam, sebab dulu aku bukan anak yang soleh dan alim. Aku bersama teman-teman pernah mencuri ikan di tambak sampai pemiliknya merampas semua pakaian kami, sehingga kami pun harus telanjang bulat masuk kampung. Aku bersama teman-teman pernah ketangkap ketika sedang mencuri jambu air di rumah tetangga. Aku pernah dicaci maki seorang ibu
ketika bersama teman-teman menggoda anak gadisnya yang sedang berjalan bersamanya. Aku bersama teman-teman pernah diskors sebab tawuran ketika main sepak bola antar kelas. Kenakalan seperti ini saja membuat orang tidak percaya bahwa aku sekarang memilih jalan hidup seperti ini,
apalagi orang yang mempunyai masa lalu seperti Retno. Yesus mengajarkan pengampunan sampai 70X7 kali. Namun itu tampaknya berat. Dia menunjukan bahwa sering kita mohon ampun pada Allah, namun kita tidak bisa mengampuni orang lain. Bahkan mengadili pendosa lebih kejam lagi (Mat 18:21-35). Apakah pintu tobat hanya terbuka jika kita berhadapan dengan Allah? Atau apakah hanya Allah yang sanggup memberikan peluang bagi orang yang ingin bertobat untuk memulai hidup baru? Apakah kita tidak bisa sedikit membuka pintu tobat bagi orang berdosa? Beranikah kita menerima Zakheus seperti Yesus menerimanya? Yesus menghendaki agar kita mencari orang berdosa dan membawanya kembali kejalan yang benar. Kesukacitaan satu orang yang bertobat seperti kesukacitaan seorang menemukan kembali dirhamnya yang hilang. Bahkan Yesus berani meninggalkan 99 dombaNya demi mencari satu yang tersesat. Beranikah kita mencari domba yang tersesat dengan meninggalkan 99 domba yang kita miliki. Aku sering enggan untuk melakukan ini. Bagiku lebih enak bergaul dengan 99 domba itu dari pada susah payah mencari satu yang hilang. Kalau toh yang hilang itu kembali aku akan memarahinya mengapa
dia meninggalkan kelompoknya. Ini lain sekali dengan gambaran bapa yang baik hati. Dia tidak pernah menanyakan mengapa anaknya bisa berbuat jahat seperti itu. Dia tidak pernah menanyakan digunakan apa saja uang warisan yang dimintanya dulu. Hati bapa sangat suka cita begitu melihat
anaknya kembali. Betapa indahnya peristiwa ini. Bapa ini bisa melepaskan masa lalu anaknya. Dia hanya memandang penyesalan dan ketulusan anaknya untuk kembali.

Retno hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang ingin bertobat namun kerap terhalang oleh sikap, pandangan dan gunjingan kita. Aku harus belajar menerima Retno dan menghargai dirinya yang mau bertobat. Memandang Retno yang menyesal dan ingin mengubah hidup. “Ampunilah dosa
kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Semoga hal ini bisa kulakukan dalam masa prapaskah ini.


Petualangan Cinta Lois Berujung Hamil Diluar Nikah

Saat usianya menginjak sembilan tahun, Lois Steicy menemukan sebuah kebenaran yang sangat mengejutkan.
“Jadi tante saya itu seumuran saya, dia yang menceritakan pada saya bahwa yang saya panggil papa mama itu bukan papa mama kandung saya. Sedangkan orang yang saya panggil kakak, itulah sebenarnya orangtua kandung saya,” ungkap Lois.
Lois memang terlahir di luar nikah. Ketika ia lahir, orangtuanya memberikan kepada saudara mereka, lalu ia diambil oleh kakek neneknya dan diangkat sebagai anak. Kebenaran itu mengubah hidup Lois selamanya. “Saya jadi cepat tersinggung, apalagi kalau tidak dibela, saya langsung lari ke kamar mandi. Saya merasa tertolak dan tidak diharapkan di keluarga. Jadi saya lakukan apa saja yang saya suka.”
Inilah awal pemberontakan dalam hidup Lois, sebuah petualangan pencarian jati dirinya yang sesungguhnya. ”Jadi saya berpikir bagaimana caranya orang bisa perhatiin dan bisa sayang. Boleh aja mereka tidak kenal saya sebagai Lois yang cantik, tapi seenggak-enggaknya mereka bisa kenal kalau saya itu orang yang hebat dalam organisasi.” Namun petualangan Lois tidak hanya berhenti disana, ia pun mulai berani menyerempet bahaya. “Waktu SMA, karena ingin tahu, kami nonton film blue, cewek semua sih. Tapi jadi ketagihan. Karena sudah sering nonton, jadi ada rasa penasaran. Sampai akhirnya ada seorang pria yang deketin, pada hal sudah tahu kalau dia sudah berumah tangga.” Sebagai gadis yang polos, Lois jatuh kedalam pelukan pria hidung belang tersebut. “Saya akhirnya ngalamin hal yang seperti itu dengan dia, yang akhirnya kehilangan virginitas,” demikian pengakuan Lois. “Saat kehilangan itu saya berpikir: ya udahlah, mau gimana lagi hidup gua. Kayanya emang harus begini hidup gua.” Hal tersebut hanyalah permulaan, sebuah awal dari petualangan-petualangan lainnya untuk mengejar cinta. “Karena takut ditinggalin, ‘Ya udah, saya lakuin apapun buat kamu deh. Yang penting kamu tetap sama aku.’ Jadi mind setnya adalah, saya akan bisa diterima kalau saya berikan yang ‘itu’. Sampai tahu-tahu saya sudah ngga datang haid-nya dan periksa memang positif.” Atas inisiatif sendiri dan dukungan dari sang pacar akhirnya Lois membuat tindakan yang gila, aborsi. “Supaya nama baik keluarga terjaga,” ucap Lois. “Kalau ditanya rasa takut, pasti ada. Cuma sudah ngga terlalu mikirin. Udahlah masih lama, kalaupun hamil lagi, ntar aborsi lagi. Sempet mikirin lagi.” Tidak ada kata jera bagi Lois, ia hanya ingin dicintai. Namun semua itu berakitat ia harus mengaborsi 4 dari 5 orang jabang bayi yang dikandungnya. Namun yang terakhir, Tuhan membuat sesuatu yang berbeda. “Adikku melihat perubahan badanku dan ngasih tahu ke mama kalau aku tuh kayanya hamil.” Akhirnya rahasia kehamilannya teruangkap juga, orangtuanya menuntut pria yang menghamilinya untuk bertanggung jawab. Namun orangtuanya memberi syarat, sebelum Lois melahirkan ia harus tinggal di Jakarta. “Waktu itu dia janji akan menyusul ke Jakarta, khususnya sebelum melahirkan.” Namun hingga bayi itu lahir, pria itu tidak pernah menampakkan batang hidungnya ke rumah orangtua Lois di Jakarta, untuk menikahinya. Hal itu cukup menekan kondisi mental Lois. “Dari segi mental benar-benar tidak siap, ada sebuah rasa malu. Saya pengen sembunyi, jadi waktu datang ke Jakarta itu tidak ada yang tahu (tentang kehamilan saya). Setelah Desember itu dia bilang tidak bisa datang, aku langsung memutuskan hubungan dengan dia melalui sms, ‘Mulai sekarang kamu ngga usah cari-cari aku lagi, anak ini cuma milik aku.’” Namun membesarkan seorang anak seorang diri di usianya yang masih sangat muda, bukanlah sesuatu yang mudah bagi Lois. “Yang tadinya bebas kesana kemari, tiba-tiba harus di rumah ngurusin anak.” Lois tinggal bersama mamanya, dan adiknya. Jadi jika dia pergi, mamanyalah yang menjaga anaknya. Suatu hari, sang mama menegur Lois untuk gantian menjaga anaknya. Namun Lois menyikapinya dengan amarah, “Emang ngapain, cuma mau jalan-jalan saja kok.” “Inget dong, kamu sudah punya anak..” ujar mamanya. “Ya udah, kalau ngga mau jaga bawa aja ke panti asuhan, emang siapa yang mau lahirin dia,” jawab Lois ketus. Sejenak Lois terdiam, dia sadar bahwa hal ini adalah konsekuensi tindakannya di masa lalu. “Dia itu ngga salah, yang salah itu kan mamanya,” demikian pengakuan Lois sambil meneteskan air mata. Luka hati dan kekecewaannya pada para pria, coba ia tutupi dengan bersenang-senang dalam kehidupan malam. Namun hal itu membuatnya jatuh ke lubang yang sama, kehidupan free sex. “Waktu itu, dalam waktu lima hari sudah ada dua orang yang mencampakkan saya,” ungkap Lois. “Setelah kejadian dengan dua pria itu, saya berpikir mulai sekarang ngga usah love-lovean. Cukup seks saja. Yang penting harus minum. Jadi seperti ingin berpikir layaknya para pria. Tidak pakai perasaan, yang penting mau saja. Waktu itu yang ada cuma dendam, pria-pria itu seperti ini, seperti ini..seperti ini.. Jadi udah benci sama papanya anakku, kemudian dicampakin.”
Di saat ia tidak ingin lagi merasakan cinta, seorang pria masuk dalam hidupnya.
“Dari segi kriteria, ngga banget sih. Tapi dia mau serius, sudah sampai bicara ke depan nanti bagaimana. Yah akhirnya berpikir, ternyata masih ada yang mau nerima saya. Lalu tiba-tiba dia mutusin dengan alasan keluarganya ngga setuju, padahal sebelumnya dia bilang keluarganya setuju dan bisa terima aku dan anakku juga. Saya coba cari tahu, dan ternyata dia telah menghamili seorang wanita dan akan melahirkan. Dia bilang sebenarnya dia cinta aku, tapi karena wanita itu sudah hamil jadi harus menikahi dia.”
Lois akhirnya terbujuk oleh rayuan pria tersebut, sekalipun tidak menjadi istrinya, Lois mau menerima dirinya menjadi orang ketiga dalam hidup pria tersebut.
“Aku berpikir, kenapa harus seperti ini ya. Kok ngga fair banget ya. Nah, pada saat itulah aku berpikir untuk mengakhiri hidup.”
Rasa putus asa dan membenci dirinya sendiri membuat Lois memilih jalan pintas. Ia pun menyampaikan pesan terakhirnya kepada anaknya yang masih balita, “Anya, mama pergi dulu ya. Nanti Anya sama mami sama papi aja.”
Lois pun siap meminum racun serangga yang ada di tangannya. Saat ia akan meneguk racun itu, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara, “Aku mengasihi kamu.”
“Langsung kesadaran aku muncul, ‘masak hanya gara-gara dia, aku harus mati dan masuk neraka.’”
Setelah kejadian itu, Lois mulai membuka hatinya kembali untuk Tuhan. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Hingga tiba ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun, saat itu seorang kerabat mendoakannya.
“Pada saat berdoa itu, saya benar-benar merasakan jamahan Tuhan. Sepertinya Tuhan sedang memeluk saya. Saya merasakan benar-benar bahwa kasih itu tidak bersyarat. Kasih Tuhan itu kasih walaupun.. walaupun saya sangat berdosa, walaupun saya sudah seperti itu pun kasih Tuhan tetap sama dari dulu.”
Di saat istimewa itulah Lois membuat sebuah komitmen yang mengubah hidupnya, “Hari itu aku melepaskan pengampunan. Tetapi baru untuk papanya Anya.”
Tapi Tuhan tidak berhenti bekerja dalam hidup Lois, dalam sebuah ret-reat, Lois menemukan kebenaran yang benar-benar membebaskan hidupnya.
“Di Champion Gathering itu dikupas yang namanya hati bapa. Disitulah baru disadari, kenapa selama ini sudah berusaha balik ke Tuhan tapi selalu jatuh lagi. Ternyata ada suatu celah. Celahnya yaitu akar pahit kepada orangtua. Jadi pulang malam itu dari puncak, langsung ngajak ngomong papa sama mama, aku minta ampun karena selama ini menganggap papa mama itu seperti bukan papa mama karena dari kecil selalu di ajarkan untuk memanggil kakak terhadap mereka. Akhirnya mulai hari itu, aku bisa manggil mereka papa dan mama sampai hari ini.”
Kini kehidupan Lois benar-benar berbeda. Ada suatu harapan akan masa depan yang indah bagi dia dan buah hatinya.

“Kalau dulu menyesali kelahiran dia,” ucap Lois sambil meneteskan air mata, “tapi sekarang malah ngga ada penyesalan. Dengan kelahiran dia, semua berubah. Dia ngga harus mengalami hal yang sama. Aku ingin dia besar nanti jadi wanita yang punya perinsip.”
Dari pengalaman hidupnya yang pahit itu, Lois menarik sebuah pelajaran yang penting, “Dulu saya berpikir segala sesuatunya harus diberikan untuk mendapatkan kasih itu, sekarang yang ada ternyata ngga seperti itu. Ada yang namanya kekudusan, dan kita pasti bisa hidup dalam kekudusan itu bersama Tuhan. Dan hubungan yang didasari oleh kasih Tuhan dan kekudusan, pasti tidak akan mengalami seperti yang saya alami dulu. Kalau Tuhan selalu bersama-sama dengan kita, pastinya segala sesuatunya menjadi indah.



Tsunami Membuatku Hidup Segan Mati Tak Mau

Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, Paulus Kilikili tetap beraktifitas seperti biasanya di tempat tinggalnya Banda Aceh. Hari itu hari Minggu, Paulus sudah bangun sebelum jam 8 dan sudah membuka warung dagangannya. Sang istri pun sedang menyiapkan makanan. Mereka sama sekali tidak mempunyai firasat akan apapun yang buruk akan terjadi menimpa mereka.
Sekitar jam 8, tiba-tiba terjadi goncangan keras. Mereka mengalami gempa, begitu juga dengan penduduk sekitar, kemudian gempa itupun berlalu saat mereka semua sudah keluar rumah tanpa mengalami cedera apapun. Sekitar 15 menit kemudian, ketika Paulus masih duduk-duduk santai sambil minum kopi di depan warungnya yang juga merupakan bagian rumahnya, tiba-tiba bahaya menghampiri mereka.
Semua penduduk di sana melarikan diri dan berteriak-teriak. Pasalnya adalah air laut naik ke permukaan daratan dan menghantam setiap benda maupun orang yang dihampirinya. Saat Paulus melihat air yang setinggi 15 meter itu menghampirinya, dia hanya bisa pasrah. Tiba-tiba Paulus dihantam dan tidak sadarkan diri. Yang dia tahu kemudian adalah dia tersangkut di batang kelapa dan berada sekitar dua kilometer jauhnya dari rumahnya karena terbawa tsunami itu. “Saya nggak lari kok saya yang selamat?” begitulah yang dikatakan Paulus sewaktu bersaksi. Sampai air itu surut, Paulus tetap mempertaruhkan nyawanya dengan berpegangan pada sebatang pohon kelapa tersebut. Setelah air surut, Paulus turun dari batang kelapa itu (Bisa dibayangkan setinggi apa tsunami itu sampai-sampai Paulus bisa tersangkut di pohon kelapa yang begitu tinggi?) Paulus yang sudah terluka parah bermaksud untuk kembali ke rumahnya dan melihat pemandangan yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidupnya. Kakinya begitu kesakitan dan tidak bisa lagi dipakai untuk berjalan. Saat itu Paulus melihat begitu banyak mayat yang tergeletak di sekitarnya. “Saya sudah sedih dan menangis melihat kejadian itu. Saya juga minta ‘Tuhan, mana keluarga saya? Mana keluarga saya? Selamatkanlah keluarga saya, Tuhan…” Dalam kondisi tubuh yang penuh luka dan kekuatiran yang mendalam mengenai keselamatan keluarganya, Paulus baru mendapatkan pertolongan menjelang sore dari beberapa orang relawan. “Saya sampai jam 4 sore, baru dibawa ke puskesmas. Sesampainya di sana pun sudah tidak ada makanan maupun minuman. Selama dua hari tidak ada makan dan minum. Baru hari ke-3 Paulus bisa makan minum setelah dibawa ke tempat lain.
Setelah sembuh, Paulus mulai mencari keluarganya. “Waktu saya masih sakit, saya kepikiran mungkin ada keluarga saya yang selamat.” Maka Paulus pun mulai mencari ke tempat-tempat informasi yang tersedia. Dia masukkan keterangan di Koran, masuk ke banyak rumah sakit dan mencari mereka tapi setelah satu tahun, dia tetap tidak menemukan mereka. Bahkan kuburan mereka pun tidak bisa dia temukan. “Saya sudah pasrah aja sama Tuhan. Sedih banget. Selama 6 bulan saya menangis terus. Saya tidak bisa ketemu anak, istri, cucu saya, menantu saya. Air mata keluar setiap hari, siang malam tidak bisa tidur memikirkan mereka.”
Rasa sedih tak tertahankan, membuat Paulus meninggalkan Aceh dan datang ke Jakarta. Namun, di Jakarta pun dia tidak memiliki tujuan yang pasti. “Lari ke Jakarta, saya tidak punya sanak saudara sekalipun. Tapi daripada stress, saya datang saja.” Di Jakarta, saat menjelang sore, Paulus pun mencari taksi dan pergi ke hotel yang paling murah. Paulus tidak mengerti tujuan hidupnya di Jakarta. Dia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan ditinggal istri dan keluarganya. Hal itu membuat Paulus seperti orang yang kehilangan arah saat di Jakarta. “Saya bangun pukul 10.00 pagi. Setiap hari saya pergi kemana saja saya bisa, saya tanya orang-orang. Yang saya lakukan kemudian cuma duduk-duduk saja di pinggiran jalan, dimana saja sambil merenung kembali tentang kehilangan yang saya alami. Selama sebulan itu, hanya itulah yang saya lakukan. Sepuluh malam pulang, sepuluh pagi saya pergi lagi, itulah yang saya lakukan terus menerus.”
Selama sebulan itu, uang Paulus pun habis. Dia kemudian hidup terlunta-lunta. Dia tidur di sembarang tempat dimana saja dia bisa tidur. “Saya tidak ada duit itu. Saya tidur di sana sini, sana sini, saya tidur di dekat polisi cepek. Tapi orang-orang kasihan kepada saya...” Sebabnya adalah ketika mereka menanyakan dia darimana, Paulus menjawab bahwa dia berasal dari Banda Aceh. Kemudian diapun menceritakan kejadian tragis yang menimpanya. Malahan, para polisi cepek itu memberinya makan. “Besok, kalau Bapak belum makan, datang lagi saja ke sini…” Itulah yang diperbuat oleh polisi cepek ini kepada Paulus.
Berbulan-bulan Paulus hidup jadi gelandangan di Jakarta. Tanpa harapan, tanpa apa-apa dan harus mengharapkan belas kasihan orang lain. Makanya, setiap kali bertemu orang, dia mengharapkan pekerjaan yang bisa menyokong dia untuk bisa makan. Saat Paulus sedang dalam kondisi tubuh lemah dan sakit-sakitan, saat itulah Paulus bertemu dengan seseorang yang tanpa disadarinya, akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
“Suatu saat, saat saya sakit, seorang hamba Tuhan datang dari gereja kepada saya...” “Bapak lagi ngapain?” tanya hamba Tuhan tersebut.
Paulus kaget melihat orang tersebut kemudian menjawab, “Saya numpang tidur, Pak. Saya lagi sakit.”
Hamba Tuhan tersebut memberikan kepadanya makanan dan menemaninya selama dia makan. Saat Paulus sudah selesai makan, dia mengatakan, “Pak, tolong cari saya kerjaan. Apa saja yang penting saya bisa makan.”
Hamba Tuhan tersebut meminta Paulus untuk datang kembali minggu depan. Saat yang ditetapkan tiba. Paulus datang dan akhirnya diajak ke salah satu rumah teman hamba Tuhan tersebut. Tanpa dia sadari, di sana Paulus merasakan kasih yang luar biasa dan penerimaan yang sesungguhnya.
“Kondisi Paulus saat itu sangat parah ya… Saya tidak tahu siapa itu Pak Is (Paulus, red) tapi saya mengasihi dia. Saya dan Pak Is tinggal satu kost.” Begitu kisah Lexi Kurmasela, orang yang dimintai bantuan oleh hamba Tuhan tersebut.
“Sekarang kondisinya jauh berbeda. Kalau dulu tujuan hidupnya tidak ada, sukacita tidak ada. Dia menjalani hidup biasa aja. Tapi setelah dia lebih lagi mengenal kasih Tuhan, perbedaannya jauh. Dulu dia membutuhkan sukacita, dulu dia meminta pertolongan kepada orang lain. Sekarang dia memberikan pertolongan dan sukacita kepada mereka yang membutuhkan.” Lexi bercerita.

“Sekarang makan saya teratur, pikiran tidak beban. Saya berpikir, kok bisa saya jadi begini? Saya diubah Tuhan sedemikian rupa dan dipulihkan. Saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus, apapun beban yang saya rasakan, sudah Tuhan Yesus angkat. Tuhan memberikan kekuatan bagi saya. Saya percaya Tuhan Yesus adalah Juru Selamat bagi saya sampai selama-lamanya.



Tuhan Sembuhkanku Dari Kanker Payudara

Saat sedang bersiap untuk menghadiri seminar khusus wanita, Naomi menemukan sesuatu yang akan menggetirkan hatinya.
“Ketika saya mandi pada pagi hari itu saya merasakan kok ada yang aneh di dalam tubuh saya. Saya kaget, saya lihat ada benjolan yang sebelumnya tidak pernah ada benjolan itu. Lalu saya merasa kuatir karena saya pernah dengar dari teman-teman, wanita kalau ada benjolan itu berbahaya dan menakutkan. Pasti itu membawa kepada kematian.”
Hari demi hari Naomi jalani. Namun, benjolan itu semakin membesar sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang teman. “Sebaiknya periksa ke Singapura saat itu. Saya bilang, ‘Bagaimana dengan biaya?’. Teman saya berkata, “Jangan kuatir, semua beban biaya rumah sakit saya yang tanggung,”. Bicara demi bicara akhirnya jadilah ke Malaysia. Dengan perasaan kuatir, takut, was-was, saya berangkat.”
Dorongan dari temannya itu membuat Naomi memberanikan diri untuk pergi ke Malaysia. tes demi tes pun ia jalani, namun ia mendengar hasil yang meruntuhkan seluruh harapan hidupnya. “Dokter katakan, ‘segera Ibu operasi. Jangan tunggu lama-lama lagi karena ini sudah bahaya.”
“Ketika saya tahu bahwa itu di kanker, saya sangat takut, saya sangat takut. Saya melihat selubung kematian sudah di depan saya. Lalu murid saya ini dengan tenangnya dia menenangkan saya. Dia katakan kepada saya, “tenang kak, tanang ada Tuhan Yesus yang menolong kakak. Kakak gak perlu kuatir” .. Saat itu benar-benar saya merasa sangat takut.”
Sepulangnya ke apartemen tempat Naomi dan temannya menginap, ketakukan yang luar biasa menghantui dirinya. Naomi pun nekat melakukan hal yang gila untuk menghilangkan rasa takut akan penyakit kanker yang dideritanya. “Ketika teman saya menonton tv di apartemen, saya keluar. Saya bilang, ‘Tuhan, cabut nyawa saya sekarang, lebih baik saya mati sekarang daripada nanti. Saya malu Tuhan. kenapa kok saya kayak begini. Saya takut Tuhan. Rasanya mau lompat dari apartemen itu. Tetapi, firman Tuhan terngiang di telinga, ‘Saya mengasihimu, anak-Ku. Saya sangat mengasihimu. Jangan takut, Aku selalu ada bersama engkau’ Dan disitu saya tidak jadi lompat, saya langsung masuk kamar.”
Naomi mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Dalam keputusasaannya, Naomi menjerit dan meratapi hidupnya. di saat itulah bayangan akan masa lalunya di putar kembali. “Saya dulu pernah menikah dan saya punya anak umur 3 bulan. ketika itu saya bersukacita dengan anak saya, dengan suami. Dan tiba-tiba saya melihat kok ada yang biru disini, di bayi saya. Saya keget, lalu tiba-tiba kok tambah lama tambah banyak disini, sini, sini. Saya telepon suami saya. lalu dia pulang. Kami ke rumah sakit.“
“Di rumah sakit itu, langsung dokter katakan anak saya menderita kanker darah. Dalam waktu 3 jam, dia meninggal. Aduh saya waktu mengetahui anak saya meninggal, dunia ini seperti terjungkir balik dan kehilangan harapan. Saya merasa separuh jiwa itu saya pergi. Saya merasa, aduh, saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya sering ke kuburan anak saya. Saya nangis, saya nangis di sana. Saya berharap anak saya bisa balik lagi sama saya. Tetapi tidak mungkin, saya memang sangat mengasihani diri saya sendiri.”
Naomi terus bergelut dalam kesedihannya. Namun, ia tak menyadari bahwa sesuatu yang menambah keterpurukannya akan segera terjadi.
“Sampai suatu sore hari, ia tidak pulang. Saya kaget. Ini kok biasanya dia pulang kok kini tidak pulang. Saya telepon ke kantornya, dia tidak ada. Saya telepon ke keluarganya, sudah di-block. Dalam jangka dua bulan, saya kehilangan anak dan suami pun pergi meninggalkan saya. Itu saya sedihnya luar biasa. Saya stres, saya depresi. beberapa bulan saya tidak bisa tidur. Saya nonton televisi, liat anak kecil digendong ibunya, saya nangis, saya nangis. Saya juga lihat ada keluarga bahagia, saya suka nangis, ‘Tuhan, kok dia bisa bahagia, saya tidak.’ Saya merasa hidup saya kosong. Gak ada lagi canda tawa, gak ada lagi tangisan anak, gak ada lagi yang membuat saya bahagia. Sakit hati, kepahitan itu saya bawa. Saya merasakan kebencian yang sangat dalam.”
Tayangan akan masa lalunya tersebut mulai membuat hati Naomi gelisah.
“Tuhan ampuni saya kalau saya mempunyai pikiran seperti itu. Ampun Tuhan, ampun Tuhan. Lalu saya bilang, ‘Saya pasrah kepada-Mu Tuhan, saya serahkan semua kepada-Mu. Saya tahu Engkau satu-satunya Allah yang tidak pernah tinggalkan saya. Manusia silahkan tinggalkan saya, bahkan orang yang terdekat dengan saya sekalipun, silahkan tinggalkan saya. Tuhan saya mau sembuh Tuhan. Saya tidak mau sakit seperti ini Tuhan, saya mau sembuh Tuhan. Oleh sebab itu Tuhan, saya mau melepaskan semua masa lalu saya. saya mengampuni, saya mengampuni, sungguh-sungguh dari hati terdalam, saya mengampuni mantan suami saya dan saya percaya Tuhan saya pasti sembuh Tuhan. Mampukan saya untuk saya bisa melewati semua ini.’
Dengan kepasrahannya, Naomi memberanikan diri kembali ke Indonesia untuk menjalani operasi. Detik demi detik terasa mencekam saat ia membayangkan dinginnya meja operasi. “Itu malam-malam saya tidak bisa tidur. Saya sangat, sangat, dan sangat ketakutan. Ketakutan yang tidak bisa saya hadapi. seolah-olah pintu maut itu sudah terbuka buat saya. Dan saya katakan, ‘Tuhan mau apa dalam hidup saya. Melalui peristiwa ini, Tuhan mau apa dalam hidup saya. Saya tidak kuat Tuhan,”
Keesokan harinya, Naomi menjalani operasi. Dalam ketidaksadarannya, ia dibawa ke dalam sebuah mimpi. “Tuhan menggendong saya. Dia memberikan gendongan yang tidak pernah saya rasakan. Disitu ada ular, kalajengking mau mencaplok saya, mau menggigit saya. Harimau, binatang-binatang buas mau menghantam saya, tetapi gada dan tongkat Tuhan memukul ular dan kalajengking itu. Tiba waktunya saya dibawa oleh Tuhan ke atas bukit, disitu padang rumput yang begitu indah dan saya tetap dalam gendongan Tuhan.”
Mimpi yang Naomi alami membuatnya yakin ia akan sembuh. Sampai akhirnya, sebuah suara membangunkan Naomi. “Saya katakan, ‘Tuhan, terima kasih karena telah menolong saya. Saya percaya Tuhan telah memberikan kekuatan ekstra buat saya.”
Dengan penuh harapan, Naomi menunggu hasil operasi. Dukungan dari teman-temannya semakin meyakinkannya akan kesembuhan. “Waktu dengar dokter mengatakan, ’Ibu, puji Tuhan ibu, cancer-nya itu tidak sampai ke getah bening. Saya merasa sukacita, kakak saya peluk saya, menangis dengan sejadi-jadinya.”
"Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, Engkau teramat baik, Engkau sungguh ajaib, karya-Mu luar biasa. Engkau Allah tidak pernah terlambat menolong aku Tuhan. Engkau, Allah yang begitu indah di dalam hidupku. Pertolongan-Nya begitu besar yang Tuhan telah berikan yang membuat saya selamat, yang membuat saya bersukacita. Membuat saya bisa hidup kembali, itu semua pertolongan Tuhan yang luar biasa.”
Mujizat besar telah Naomi alami dalam hidupnya. Ia akhirnya sembuh dari kanker payudara Stadium 3 yang hampir merenggut hidupnya. Kini ia menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.

“Karena saya tahu, Tuhan Yesus telah menebus saya. Sudah membuat saya berharga, saya menjadi wanita yang utuh. Tuhan katakan, ‘Naomi, walaupun anggota tubuhmu kurang satu, yaitu payudaramu hilang satu, kamu tetap utuh dan kamu sebagai wanita yang KU-banggakan,” ujar Naomi menutup kesaksiannya.





































Andri, Anak Punk Pecandu Seks

Musik Punk merupakan salah satu genre musik rock yang memiliki komunitas penggemar tersendiri. Komunitas ini pun banyak menjamur di Indonesia ini, kebanyakan mereka adalah anak-anak remaja. Andri Santoso, ini adalah salah seorang yang pernah menggemari musik punk bahkan bergabung dengan komunitas anak punk. Sayangnya, musik dan komunitas tersebut tidak membawa kehidupannya kearah yang positif.
“Waktu itu kami sepakat membuat sebuah grup punk, yang diberi nama Punk Squad. Isinya kehidupan kita cuma rusuh. Kita bolos bareng-bareng dan kita selalu urakan, ngancurin tong sampah, ngancuri meja, ngancurin pager, dan hal itu untuk menunjukkan bahwa kita hebat.”
Merasa bangga melakukan keonaran di sekolah, Andri dan teman-temannya memutuskan untuk bergabung dengan geng punk lainnya. Hanya demi sebuah pengakuan Andri dan teman-temannya rela melakukan sesuatu yang menjijikkan.
“Sebagai anak punk kita harus menunjukkan sekalipun tidak punya uang kami bisa hidup. Jadi kami makan makanan yang ada di sampah, dan kami lakukan itu. Pada saat itu bagi kami hal itu keren banget,” tutur Andri.
Tidak hanya tingkah laku Andri menjadi urakan, tapi ia juga menjadi anak yang tidak perduli dengan keberadaan orangtuanya. Jika mereka menasehatinya, Andri malah membentak mereka. Hal itu membuat kedua orangtuanya sangat sedih. Bahkan saat ayahnya sakit, Andri sama sekali tidak perduli, baginya kedua orangtuanya hanyalah seperti orang asing yang tingga bersamanya.
“Jika saya ambil sikap sedih terhadap anak saya,” tutur Bapak Sumardjo, ayah Andri, “Saya bisa malah tambah sakit.”
Sang ibu yang sedih dengan sikap Andri hanya bisa berdoa agar anaknya tersebut dijamah oleh Tuhan dan berubah. Tapi pada kenyataannya, Andri semakin menghancurkan hidupnya. Selain menjadi pengguna narkoba, ia juga menjadi pengedar.
“Aku bangga saat itu make narkoba, selain mendapatkan nikmat dari efeknya, aku juga dapat ‘nama baik’.”
Hingga suatu hari, seorang temannya datang dan menceritakan pengalamannya bersama seorang gadis, “Yang saya tanya tuh efeknya, ‘Rasanya apa?’ Dia bilang kalau rasanya ngga bisa diungkapkan. Hal itu membuat saya berpikir, kalau dia bisa saya juga bisa.”
Sejak duduk di bangku SMP, Andri sudah menonton film biru di rumah seorang temannya, dan sejak itu ia terikat dengan masturbasi dan pornografi. Namun dirinya tidak punya keberanian untuk melakukan hubungan intim dengan seorang gadis. Namun ketika ia lulus SMA dan mulai bergaul dengan seorang gadis primadona di kampusnya, semuanya itu berubah.
“Saya bertemu dengan seorang gadis yang ternyata hyper sex. Saya diajari banyak tentang seks sama dia.”
Semenjak saat itu, Andri semakin liar mempraktekkan apa yang dia pelajari dari sang primadona kampus. “Pada saat itu saya tidak pernah puas dengan satu wanita, karena saya punya ikrar dalam hidup saya kalau saya ingin berbuat dengan semua orang yang menurut saya cantik. Saya tertantang untuk melakukannya dengan dia dan mengabadikan dalam file saya. Hal itu adalah sebuah rekor yang harus saya capai, sebanyak-banyaknya. Ternyata saya adalah seorang seks maniak. Kalau tidak mau saya abadikan, langsung saya lepas begitu saja. Saya tinggalin, saya putusin.”
Bahkan saat ia mendapatkan kesempatan sebagai seorang ketua klub mobil, tingkah Andri semakin menjadi-jadi. “Waktu itu harga seorang perempuan saya ukur dengan onderdil mobil. Misalkan, ‘Kalau kamu bisa tidurin dia dalam semalem, kamu bisa dapat knalpot, pelek atau karburator.’”
Sejak menjadi ketua klub mobil itu, Andri jadi jarang pulang ke rumahnya. Jika orangtuanya bertanya atau mengingatkan, mereka akan dibentak oleh Andri. Nasihat dari kedua orangtuanya sudah tidak digubrisnya lagi, namun ayah dan ibu Andri tidak putus-putusnya berdoa agar Andri berubah. Hingga suatu hari Andri berusaha menghindari sebuah razia polisi, namun motornya malah mogok di depan sebuah bangunan megah.
“Setelah saya perbaiki motor saya sampai hidup lagi, saya baru sadar kalau saya sedang di depan sebuah rumah ibadah. Saya kaget kok rumah ibadah itu bagus banget. Pikiran saya saat itu hanya satu: saya pengen ah ibadah disitu.”
Rasa ingin tahunya membawa Andri mengikuti kebaktian pemuda di rumah ibadah itu.
“Saya ngga tahu kejadiannya gimana, tahu-tahu saya didoakan, ada apa?” jelas Andri.
Pendeta Agus yang menjadi pembimbing rohani dalam kebaktian pemuda tersebut digerakkan Tuhan untuk berdoa bagi Andri.
“Ketika saya mendoakan Andri saya merasa pastilah kuasa tangan Tuhan akan memberikan pertolongan dan memampukannya keluar dari kehidupannya yang lama,” ungkap Pdt. Agus. “Ketika saya mendoakan dia, keluar darah dari hidung dan mulutnya. Saya tidak tahu pengaruh apa itu, tapi saya merasa itu adalah kekuatan kuasa roh jahat yang mengikat dia dan tidak menghendaki jiwanya menjadi milik Kristus. Saat itu saya yakin bahwa kelepasan sesungguhnya terjadi.”
Sejak pengalamannya di gereja tersebut, Andri merasakan kegundahan di dalam hatinya. “Aktifitas saya dipenuhi dengan kenikmatan tapi saya tidak pernah merasakan damai sejahtera. Saat itu seperti ada seseorang yang berbisik pda saya, “Andri kamu harus keluar dari semua itu. Kamu disitu ngga dapet apa-apa. Kamu hanya buang-buang waktu disitu.” Sampai saya memutuskan untuk berdoa, sesuatu yang sangat jarang saya lakukan. Saya waktu itu Cuma bilang, “Ya Tuhan, saya ngga tahu apa yang harus saya lakukan. Apakah saya harus keluar dari tempat ini atau tidak? Tuhan kalau sayang sama Andri, tolong bantu Andri Tuhan.” Setelah saya berdoa, saya merasakan ketenangan yang luar biasa.”
Tak lama kemudian, dalam sebuah ibadah Andri mengalami terobosan dalam hidupnya dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Namun masih ada pergumulan dalam hidupnya yang belum ia taklukan.
“Saya pernah tergoda dalam masa pertobatan saya, untuk melakukan seks lagi. Saya ambil pisau dan saya lukai tangan saya untuk mengalihkan perhatian, dan itu berhasil..” tutur Andri.
Tapi Andri sadar, melukai dirinya sendiri adalah sebuah tindakan bodoh. Akhirnya Andri mengambil keputusan untuk berpuasa, “Sekalipun hal itu berat, tapi saya percaya janji Tuhan lebih besar dari apa yang saya lakukan saat ini.”

Melalui doa puasa, Andri dibebaskan dari keterikatannya akan seks. Ia pun meminta maaf kepada kedua orangtuanya dan menunjukkan pertobatannya kepada orangtuanya. Kini hidup Andri benar-benar diubahkan, ia menjadi pribadi yang baru yang penuh dengan sukacita yang sejati.




















Kesuksesan Samuel Membawa Petaka

Kesuksesan tidak selalu berdampak positif bagi yang mengalaminya. Tanpa karakter yang kuat, kesuksesan dapat membuat seseorang lupa diri. Salah seorang mengalami lupa diri saat sukses seperti ini adalah Samuel Lakahena.
Kisahnya dimulai saat ia baru saja mendapatkan jabatan baru dan diperkenalkan oleh seorang rekan kerjanya pada seorang wanita, Ita Purnamawardani. Tiga bulan menjalin hubungan, Ita langsung meminta Samuel menikah. Pernikahannya terlihat bahagia, apa lagi sang istri tidak lama kemudian mengandung. Namun inilah pengakuan Samuel:
“Waktu istri saya mulai hamil, saya masih bisa selingkuh.”
Yang lebih kejam lagi, Samuel selingkuh dengan wanita yang mengenalkannya pada sang istri yang tak lain rekan satu kerjanya dan juga tetangganya.
“Awalnya mungkin karena kasihan, karena dia sering curhat akhirnya kami jadi berhubungan seperti itu,” demikian jelas Samuel.
Hubungannya dengan wanita selingkuhannya membuat sikap Samuel berubah, semua itu dilakukannya untuk menutupi kecurigaan sang istri.
“Saya kasar sama dia, dengan dia diam, saya pikir masalah selesai.”
Tapi sebaik apapun kebusukan ditutupi, baunya pasti tercium juga. Demikian juga dengan perselingkuhan Samuel, apa yang tidak pernah dipikirkannya terjadi. Dua orang polisi mendatangi rumah Samuel. Istrinya yang sedang hamil tua shock saat Samuel di cokok oleh polisi.
“Saya melihat istri saya dalam kondisi seperti itu, saya hanya bisa menyesali diri saja..” ungkap Samuel.
Selepas Samuel dibawa oleh polisi, tetangganya yang adalah suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Samuel datang kepada Ita dan menjelaskan bahwa Samuel itu telah menghamili istrinya. Itu sebabnya ia melaporkan Samuel kepada polisi.
“Kok ada masalah seperti ini, saya ngga mau anak ini lahir.. Setelah saya nangis, saya sadar kalau saya pukulin perut saya nanti anak saya lahir cacat,” demikian Ita bertutur sambil matanya berkaca-kaca.
Sekalipun telah disakiti, namun masih ada cinta di hati Ita untuk Samuel. Karenanya, Ita dengan setia tetap mengunjungi Samuel di penjara. Penyesalan dan maaf, itu yang terlontar dari mulut Samuel. Tapi penyesalan itu ada saat ia dibalik jeruji, ketika ia telah bebas dan kembali bekerja, semua penyesalan itu tidak diingatnya lagi.
“Dengan gampang sekali saya mendapatkan uang, akhirnya saya pacari dua orang karyawan saya. Waktu yang harusnya buat istri, saya pakai untuk bersama mereka.”
Jauh dilubuk hati Samuel, sebenarnya ia tidak ingin menjadi seperti itu. Prilakunya tak jauh beda dengan prilaku ayahnya, pribadi yang ia benci.
“Begitu ibu saya hamil, bapak saya tidak bertanggung jawab,” tutur Samuel. “Saya belum pernah mengenal sosok seorang ayah di rumah, hidup maunya saya sendiri. Tidak ada yang bisa melarang.”
Tapi kini, dirinya jadi seperti sang ayah. Ia menjadi pria yang tidak punya perasaan, bahkan ia dengan berani membawa wanita selingkuhannya ke rumah. Suatu hari, salah seorang selingkuhannya memberitahu Ita bahwa Samuel tengah bersama seorang wanita. Sudah tak tahan dengan ulah Samuel, Ita pun mendatangi rumah wanita itu.
“Kalau kamu sayang sama suami saya, kamu ambil juga ngga papa!” demikian ucap Ita sambil menggandeng anaknya. “Saya rela kok, ambil aja. Tapi panggil orangtua kamu!”
“Kamu juga,” tunjuk Ita pada Samuel. “Panggil orangtua kamu, silahkan daripada kamu berbuat zinah!”
Untuk menenangkan keadaan, akhirnya Samuel pulang kerumah. Tiba dirumah, Samuel seperti telah dibutakan oleh cinta sesaatnya dengan wanita selingkuhannya.
“Waktu itu saya sudah kalut, ya sudahlah. Ini sudah tidak bisa dipertahankan. Kita bubar saja..” permintaan cerai itu akhirnya dilontarkan oleh Samuel.
Ita seperti tidak percaya Samuel tega mengatakan hal itu, hatinya hancur. Padahal dirinya sudah mengorbankan banyak hal untuk mempertahankan rumah tangganya, termasuk perasaan dan harga dirinya.
”Pengin saya, rumah tangga itu harmonis,” ucap Ita. “Tapi kok dia minta cerai..”
Ita menanggapi serius pernyataan Samuel, ia pun mengemas barang-barang miliknya dan anaknya. Tapi tiba-tiba Samuel datang.
“Maafin saya ya… Saya sangat sayang sama kamu,” demikian ungkap Samuel.
“Saya cuma bisa bilang saya nyesal. Tapi itulah perbuatan-perbuatan saya. Saya takut, sampai saat ini pun saya masih takut, saya takut anak saya mengalami seperti apa yang saya lakukan pada orang lain,” jelas Samuel.
Samuel sungguh beruntung memiliki istri seperti Ita yang begitu berbesar hati menerima permintaan maafnya yang kesekian kalinya.
Tapi badai belum selesai menerpa rumah tangga Samuel dan Ita. Perusahaan tempat Samuel bekerja gulung tikar karena krisis, dan Samuel pun dirumahkan. Tanpa pekerjaan dan uang, Samuel pun putus dengan wanita-wanita selingkuhannya. Saat itu, dirumah memperhatikan istri dan anaknya yang masih tetap rajin beribadah, muncul sebuah kegalauan di hati Samuel.
“Timbul dalam benak saya, harusnya saya jadi sosok ayah yang baik. Harusnya saya menjadi nahkoda yang baik. Tapi saat itu bukan saya yang jadi nahkoda, tapi saya yang jadi anak buah. Saya lihat anak saya antusias dan suka beribadah. Kenapa saya ngga? Disitu saya merasa malu, merasa tertuduh terhadap diri saya sendiri.”
Melihat ketekunan istri dan anaknya, akhirnya Samuel memutuskan untuk membuat sebuah langkah yang akan mengubah hidupnya.
“Aku boleh ngga ikut?” demikian tanya Samuel pada sang istri yang akan pergi beribadah.
Dengan sangat antusias dan gembira Ita menjawab, “Boleh… ngga ada yang larang kok..”
Melihat tanggapan istri dan anaknya, Samuel bersemangat. Ia tahu bahwa masih ada istri dan anaknya yang mengharapkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sejak itu, Samuel mulai rajin mengikuti berbagai ibadah. Hingga suatu hari di sebuah seminar rohani, ia mengalami sesuatu dalam batinnya.
“Disitu ada banyak sesi yang memberkati saya, terutama hal mengampuni dan mengaku dosa. Disitu saya belajar mengampuni bapak saya sekalipun dia menyakiti saya. Disitu saya dapat, kalau saya tidak mengampuni bapak di dunia, bagaimana Bapak di Sorga mau mengampuni saya. Saat itu saya juga mengakui dosa-dosa saya. Pada saat saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya secara pribadi, saya merasakan bahwa dosa-dosa saya sudah diampuni. Akhinya saya diingatkan bahwa seorang imam yang baik itu dia harus bisa melindungi, dia harus berdoa, dia harus bisa menjaga keluarganya. Luar biasa, lega banget.”
Setelah mengikuti seminar tersebut, Samuel langsung menghubungi istrinya melalui SMS, “Saya minta ampun sama dia, dan puji Tuhan ada kata pengampunan buat saya.”
Berlahan-lahan, kepercayaan Ita pada Samuel mulai pulih. Ita bukan hanya melepaskan pengampunan pada Samuel, namun juga pada wanita-wanita mantan selingkuhan suaminya. Kini, Samuel dan Ita menjalani babak baru dalam kehidupan rumah tangga mereka.

“Saya bisa berubah seperti ini, itu karena kuasa Tuhan. Istri saya sendiri tidak sanggup untuk mengubah saya. Hanya Yesus saja, Tuhan yang memampukan saya dan merubah saya,” demikian ungkap Samuel menutup kesaksiannya.











Pahitnya Cinta, Buat Lely Sakit Jiwa

Ayah Lely menikah hingga sebelas kali, sewaktu ia masih dikandungan ibunya sang ayah telah meninggalkan ibunya. Ia dan seorang kakaknya akhirnya dibesarkan sang ibu tanpa pernah merasakan kehadiran seorang ayah.
“Aku dengar dari cerita mami, waktu aku dalam kandungan mami sering dipukul bahkan sampai ditelanjangi dan diusir keluar dari rumah,” demikian tutur Lely.
Bagi Lely sosok ayahnya telah mati. Ia dan ibunya harus bertahan hidup walaupun dalam keadaan kekurangan. Hingga suatu hari, sang ayah datang tanpa diundang.
“Waktu itu aku SD dan berumur sekitar 8 tahun, dan bapak datang. Waktu pertama kali aku lihat dia, rasanya benci banget. Dia berusaha untuk peluk aku dan kakak aku, tapi aku menolak. Aku ngga mau lihat dia, karena aku pikir aku ngga punya bapak. Aku cuma punya mami. Yang kumiliki hanya mami dan kakakku…” demikian tutur Lely sambil meneteskan air mata. “Aku lihat dia itu jahat, aku lihat dia itu monster buat aku.”
Firasat buruk Lely tentang kedatangan sang ayah benar, sejak kehadirannya rumah itu jadi seperti neraka. Pertengkaran sang ayah dengan ibunya sering terjadi, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku berharap bapak ngga balik, karena dia balik pun cuma bikin mamiku sedih. Mendingan aku ngga punya bapak, aku anggap bapak aku mati. Makanya kalau aku ditanya teman aku, “Bapak kamu dimana?” Aku bilang udah mati.”
Rasa marah dan dendam Lely kepada ayahnya itu terbawa hingga ia dewasa. Kebenciannya pada sang ayah akhirnya Lely lampiaskan pada para pria.
“Sempat aku benci sama cowok. Makanya kalau aku ketemu sama cowok, rasanya ingin balas dendam. Sampai aku bikin cowok itu jatuh cinta sama aku, lalu aku balas dendam. Karena dulu bapak ngga pernah nafkahin aku, jadi aku porotin para cowok. Bisa dikatakan matre..”
Namun semua itu berubah ketika ia bertemu dengan seorang pria, yang tak lain adalah manajer di restoran tempat Lely bekerja.
“Aku lihatnya dia itu sosok cowok yang bertanggung jawab. Beda dengan yang lain. Aku bisa nyaman banget sama dia. Aku berharap dia akan bersama aku selamanya..”
Pria tersebut sepertinya mengerti apa yang Lely inginkan, hingga ia melamar Lely dan mereka pun mulai mempersiapkan pernikahan.
“Tiap bulan kami nabung buat biaya merit, kami sudah beli cincin, pokoknya semua sudah di DP. Tinggal kami menunggu hari H-nya saja.”
Ditengah semua persiapan pernikahan itu, pria tersebut memutuskan untuk membuka restoran sendiri di kota lain.
“Pertama modal dari dia. Tiga bulan hingga empat bulan pertama restorannya berjalan dengan lancar. Tapi masuk bulan ke lima dan ke enam mulai menurun.”
Kondisi usaha sang calon suami kondisinya tidak baik, dan dia meminta bantuan Lely.
“Beb, aku pinjem uang dong. Kan kamu ada motor, motornya digadaikan dulu saja.”
“Ya udah ngga papa..” demikian jawab Lely. Pikirnya, pria ini akan menjadi suaminya juga, jadi tidak ada salahnya membantunya. Namun uang dari menggadaikan motor tersebut belum cukup, akhirnya ia harus meminjam uang dari seorang teman dengan menggunakan nama Lely.
“Uang keluar sebelas juta setengah, karena waktu itu aku masih kerja jadi bisa bayar dengan gaji aku.”
Namun kondisi usaha pria itu tidak kunjung membaik, dan pria itu hampir menyerah.
“Aku mau ijin pulang kerumah,” jelas pria tersebut. “Aku mau minta bantuan sama mama. Supaya mama bisa melunasi semua hutang. Kamu tenang aja, nanti dua minggu sebelum pernikahan kita aku sudah datang.”
Tetapi seperginya pria itu, keanehan mulai terjadi. Pria tersebut mulai sulit dihubungi. Apalagi ketika penagih hutang mulai menyambangi rumahnya, Lely dan ibunya tidak berkutik dibuatnya.
“Akhirnya ku pinjam kalung mami aku dan kugadaikan. Aku bingung, “Tuhan jalan mana lagi Tuhan? Aku sudah seperti ini. Tinggal sebentar lagi pernikahan aku..” jelas Lely.
Detik-detik pernikahannya semakin dekat, namun pria itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Lely marah dan kecewa, pria yang ia cintai tega meninggalkannya begitu saja.
“Aku merasa kalau aku tuh bodoh banget, belum jadi apa-apa semua sudah aku kasih. Semua sudah aku “iya”-in. Aku sudah terlanjur sayang sama dia, jadi dia ngomong apa saja aku nurut.”
Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya telah berakhir. Hingga hari pernikahan mereka, pria tersebut tidak pernah datang. Impiannya untuk bersanding di pelaminan dengan pria yang ia kasihi, hancur sudah.
“Aku depresi banget, jadi kaya orang gila. Nangis sendiri, ketawa sendiri. Waktu itu, kencing di situ, buang air besar juga di kamar. Aku mau mencoba bunuh diri, tapi takut. Aku mikirin dia, “Tuhan kok dia kejam banget sama aku, padahal aku sudah berkorban buat dia. Kok balasannya seperti ini? Salah aku apa, kok aku dicampakkan seperti ini?”
Berbagai cara diambil untuk menyembuhkan Lely, termasuk ke para normal.
“Waktu itu kemarasakan seperti ada kekuatan yang baru,” ungkap Lely.
Lely akhirnya meninggalkan kota asalnya dan pergi bekerja di Jakarta untuk melupakan pria itu. Disana ia bertemu dengan seorang teman yang membawanya ke sebuah pengalaman yang baru.
“Habis firman Tuhan kan ada doa, disuruh maju. Waktu itu aku ngga mau maju, karena aku malu, tapi ibu gembala dari mimbar dia bisa tahu, ‘Itu yang pakai baju kuning, maju ke depan.’ Di depan aku di doain.”
Saat Lely didoakan di depan, rasa sedih, kecewa, marah dan rasa bersalah yang ia coba lupakan tiba-tiba mengusik hatinya.
“Aku nangis, ‘Tuhan ampuni aku..! Ampuni aku!’ Aku sudah seperti ini, pikir aku sudah hancur, ngga ada harapan lagi.”
Tiba-tiba, hamba Tuhan yang mendoakannya berkata, “Ampuni dia, ampuni dia. Satu hari kamu akan menjadi orang besar asalkan kamu mau mengampuni dia.”
“Aku ngga bisa mengampuni dia tante, aku benci dia. Aku benci dia..” ucap Lely.
Hingga satu titik, Lely melembutkan hatinya dan berkata, “Baik, saya mau belajar mengampuni dia. Hanya tolong doakan saya.”
Namun roh jahat yang menguasai Lely tidak tinggal diam, mereka menggunakan kegalauan hati Lely untuk mengintimidasinya.
“Tiap hari dia intimidasi, di depan aku muncul dua mahluk aneh. Waktu itu aku sempat pegang HP dan aku SMS, ‘Ivan tolong aku… tolong aku..’”
Teman Lely dengan segera menjemputnya dan membawanya ke pembimbing mereka. Waktu di doakan, Lely bermanifestasi hingga akhirnya kuasa kegelapan itu berhasil di usir keluar dari tubuhnya.
“Jadi yang merasuki aku dari mbah dukun yang kasih kekuatan aku waktu itu. Jadi kalau kita menyimpan akar pahit, roh jahat bisa masuk leluasa. Bisa menguasai diri kita. Akhirnya ketika aku mengucapkan kata, ‘Tuhan aku mengampuni, aku mengasihi Aditia Tuhan.” Akhirnya aku merasakan damai sejahtera yang luar biasa Tuhan kasih ke aku.”
Hari itu adalah awal bagi Lely untuk hidup dalam pengampunan. Bahkan ketika ia teringat pada masa kecilnya, ia dapat melepaskan pengampunan pada sang ayah. Lely menyadari bahwa ingatan akan masa lalunya dapat datang kapan saja, namun ia tahu pasti bahwa dalam keadaan apapun ada satu pribadi yang selalu mengasihinya.

“Figur seorang bapak ini yang aku cari dan aku temukan dalam pribadi Tuhan Yesus. Aku ngga tahu kalau Tuhan ngga campur tangan dengan hidup aku, mungkin saat ini aku sudah di rumah sakit jiwa. Atau aku ngga tahu sudah ada di mana. Aku bersyukur sama Tuhan, aku menemukan pribadi yang luar biasa yang menuntun aku melewati proses ini. Jika aku bisa berdiri dan menikmati semuanya, itu karena anugrah Tuhan, karena kemurahan Tuhan. Karena Tuhan begitu mencintai aku, Karena Tuhan begitu baik sama aku.





Demi Pengakuan, Paulus Rela Tiduri Banci

Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik, itulah yang terjadi atas hidup Paulus Setiawan. Sewaktu kecil, Paulus dimata orangtuanya adalah anak yang baik. Namun karena salah memilih pergaulan, ia melakukan pencarian jati diri dengan cara yang merusak di masa remajanya.
“Orangtua saya tidak memiliki cukup peranan dalam mengarahkan pergaulan saya,” ungkap Paulus. “Yang saya ingat, mereka pernah berkata ‘Ya, karena anak laki-laki sudah seharusnya seperti itu.’”
Sikap pembiaran ini membawa Paulus kepada sikap yang semakin liar.
“Kelas dua SMP, itu pertama kali saya mengenal seks. Saya diajak teman hanya untuk mengantar saja, tetapi pada kunjungan-kunjungan selanjutnya saya mulai jatuh dalam seks.”
Petualangan Paulus tidak berhenti disana, ia mulai berani menjamah dunia okultisme.
“Waktu itu ada seorang teman yang mengajak pergi ke seorang tua yang dikenal memiliki ilmu-ilmu. Waktu itu saya juga diisi. Diberi rapalannya, dan ngalami prosesinya.”
Sejak itu, prilaku Paulus berubah drastis. Ia menjadi pribadi yang sensitive dan mudah tersinggung. Sikap Paulus kepada anggota keluarganya pun menjadi sangat kasar dan membuat mereka semua takut kepadanya.
“Akhirnya pada kelas 3 SMP, saya memilih untuk ke Bandung,” tutur Paulus.
Bukannya bertambah baik, kepindahan Paulus ke bandung membawanya ke sebuah pergaulan yang semakin buruk. Memasuki SMA, Paulus lebih sering bolos sekolah dan mulai terlibat dengan gang-gang motor.
“Saya pernah ikut dengan gang motor saya berkelahi dengan gang motor lain. Kami kalau berkelahi seperti itu biasanya sudah membawa senjata, mulai dari samurai, pisau kecil, hingga stik softball.”
Keinginan Paulus untuk membuktikan kejantanannya di hadapan teman-temannya membuatnya melakukan sesuatu yang diluar batas kewajaran.
“Di Bandung umumnya, seks menyimpang dengan banci itu jadi salah satu style. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya lihat banci-banci disana begitu cantik. Bahkan menurut saya lebih cantik dari wanita. Kalau kita nongkrong atau bahkan sampai melakukan hubungan seks dengan banci, itu berarti kami lebih baik dari gang motor lain, lebih nekat..”
Suatu malam ditengah rencananya untuk melakukan perkelahian, Paulus dalam keadaan mabuk berat mengantarkan pacarnya. Namun rencananya untuk melakukan perkelahian itu tinggal rencana, karena sebuah bencana lain sedang mengintainya.
“Saya antarkan pacar saya pulang, dan saya pakai topi lalu helm two piece itu saya taruh di atas topi tersebut. Ditengah jalan, helm yang saya pakai itu jatuh menutupi wajah saya. Saya tidak bisa melihat jalanan, dan saat itulah terjadi kecelakaan.”
Akibat kecelakaan itu wajah Paulus robek dari kening atas sampai ke dagunya. Gigi bagian bawahnya semuanya tanggal dan hidungnya hancur. Kakinya patah dan mata kakinya keluar dari jalurnya. Paulus pun dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya di ujung tanduk.
“Disitulah saya mengalami sebuah kematian, karena saya rasa roh saya keluar. Saya merasa terbang, naik terus dan tambah jauh, tapi saya bisa melihat ke bawah, saya bisa melihat ambulan seperti tanpa atap. Saya melihat teman-teman kost saya sedang duduk, sedang pakai paju apa dan sedang melakukan apa.”
Ketakutan yang mencekam, itulah yang dirasakan Paulus. Sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, kini harus ia hadapi.
“Saya takut sekali. Saya tahu sekali bahwa saya mati, saya akan dibawa pergi. Saat itu saya berusaha memberontak dan ingin turun lagi. Setelah itu roh saya kembali pada tubuh saya.”
Paulus akhirnya sadar kembali, namun bagaimana reaksinya ketika tahu bahwa ia akan cacat selamanya?
“Pertama kali saya tahu keadaan wajah saya, saya sangat kaget, sangat shock. Karena mata saya tidak simetris dan hidung saya hancur, wajah saya jadi bengkak,” tutur Paulus.
Dalam kondisinya yang kritis itu, sang ibu dengan setia menemani dan merawatnya. Ibunya hanya bisa menenangkan Paulus dan memberi dukungan di tengah keputusasaan yang dialami Paulus, dan usahanya merusak diri.
“Selama tiga bulan setelah kecelakaan, saya tidak keluar rumah. Hanya merokok, minum, menghisap ganja dan nonton VCD porno. Saya tidak berpikir untuk bertobat, untuk memperbaiki kehidupan, justru waktu sadar saya sudah mati cenderung lebih nekat.”
Hingga suatu hari, keluarganya mendapatkan kunjungan dari seorang hamba Tuhan dan rombongan jemaatnya. Kebetulan mereka saat itu menginap di rumahnya.
“Rombongan itu kebanyakan anak muda, akhirnya hal itu menjadi daya tarik buat saya. Karena saya melihat mereka masih muda kok bisa hidup baik, normal, tidak seperti saya. Besoknya saya diajak untuk hadir dalam sebuah ibadah,” ungkapnya.
Dalam ibadah itu, Paulus mulai merasakan sebuah pengalaman baru. “Sementara ibadah berjalan, saya duduk di belakang, saya sendirian. Saya ingat sekali lagu yang dinyanyikan waktu itu adalah ‘Bangkit Srukan Nama Yesus.’ Sementara yang lain berdiri dan bertepuk tangan, saya duduk di belakang dan menundukkan kepala. Justru merenung. Sementara lagu itu dinyanyikan, Tuhan seperti memutar klip kehidupan saya, dosa-dosa saya. Kenakalan dan kejahatan saya. Saat itu, saya benar-benar lemas. Benar-benar merasa capai, lelah, dan muncul paradigma yang hari saya ingat sekali dan saya yakin itu suara Tuhan.”
Saat itu, inilah yang muncul dalam pikiran Paulus, “Kalau kamu merokok hari ini dan merokok tahun depan, bedanya apa?” Belum sempat Paulus menjawab muncul pertanyaan kedua, “Kalau kamu mabuk, minum hari ini sama kamu mabuk dan minum tahun depan, itu bedanya apa?”
“Sampai yang ketiga kali, pertanyaannya sama,” tutur Paulus. “Kalau kamu main wanita hari ini, sama main wanita tahun depan bedanya apa?”
Pertanyaan-pertanyaan yang memberondong pikiran Paulus itu membuatnya menyadari bahwa dirinya telah semakin jauh dari Tuhan.
“Dari situlah saya sadar, dan mau mulai memperbaiki kehidupan.”
Pertobatan Paulus tidak main-main, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan.

“Kalau sebelumnya saya nakal, saya jahat, saya berdosa, bahkan cenderung nekat, saya juga mengambil komitmen sekarang saya harus sungguh-sungguh melayani Tuhan. Saya harus sungguh-sungguh ikut Tuhan. Saya bersyukur karena saya memiliki Yesus sekarang ini. Dialah yang sudah membawa saya keluar dari kehidupan saya yang lama untuk saya punya masa depan. Untuk saya memiliki harapan,” demikian Paulus menutup kesaksiannya.



















Karen, Wanita Pemabuk Pengagum Pria Beristri

Wanita ini pengagum pria-pria beristri, baginya berhubungan dengan pria-pria itu membuatnya bebas dari ikatan apapun. Namanya adalah Karen Reagle, dia mengakui dirinya bukanlah wanita baik-baik.
“Saya bukan wanita baik-baik. Pria-pria beristri itu mengagumkan. Kami bisa menjalin hubungan, tanpa ada yang harus dilakukan, dan mereka juga harus pulang kerumahnya. Tak ada sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Jika Anda pernah melanggar 10 perintah Tuhan, saya telah melanggar semuanya. Termasuk membunuh, pembunuhan yang sesungguhnya,” demikian pengakuan Karen.
Pembunuhan yang dilakukan Karen adalah melakukan aborsi sebanyak dua kali terhadap bayi yang dikandungnya. Namun saat ia melakukannya, ia tidak pernah berpikir hal tersebut dosa atau tidak, satu-satunya yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana ia bisa minum minuman keras hingga mabuk.
“Saya sudah minum hingga tidak sadarkan diri sejak berumur 18 tahun,” demikian ujarnya.
Karen memiliki sebuah alasan kuat untuk melakukannya.
“Tidak ada satupun dari diri saya yang saya sukai,” ungkap Karen. Ada banyak kemarahan tersimpan dalam hatinya. Hal ini dimulai ketika Karen masih kecil.
“Ada pengasuh yang melakukan hal-hal buruk kepada saya. Ada seorang paman yang melecehkan saya. Ayah saya meninggalkan saya saat saya berumur 5 tahun. Saat itu saya benar-benar mengikutinya keluar dari pintu rumah, menaiki sepeda roda tiga saya dan mengikutinya ke jalanan. Dia pun keluar dari mobilnya dan membawa saya masuk ke dalam rumah. Dia berkata pada saya malam itu bahwa dia akan menjemput saya besok, karena saya adalah anak ayah. Saat itu saya tidak begitu akur dengan ibu saya. Keesokan harinya, ayah tidak datang untuk menjemput saya.”
Tiga tahun Karen tinggal bersama ibunya, hingga akhirnya ayahnya benar-benar datang untuk menjemputnya. Tapi sekalipun ia sudah tinggal bersama sang ayah, ada hal lain yang merebut cinta dan perhatian ayahnya, sang ibu tiri.
“Saya pikir saya akan memperoleh segalanya. Akhirnya saya memutuskan akan melakukan apa saja yang saya mau dan ingin menjadi jahat. Saya ingin menyakiti orang lain, sama seperti saya telah disakiti. Dan yang tidak saya mengerti adalah saya sedang menyakiti diri sendiri.”
Bertumbuh sebagai seorang gadis kecil dalam rasa sakit akibat dilecehkan, diabaikan dan kesepian, Karen sulit mengabaikan godaan untuk bunuh diri.
“Isi perus saya dikuras pada usia 16 tahun. Menyayat tangan saya pada usia 18 tahun. Merupakan sebuah kesengsaraan berada di dunia ini.”
Sebuah pemikiran muncul dalam pikiran Karen, mungkin pernikahan dan anak bisa mengobati semua luka hatinya. Tetapi kenyataannya, hidupnya malah bertambah sulit. Arkohol telah menghancurkan pernikahan pertamanya. Kecanduannya begitu parah hingga ia mengabaikan anak perempuannya yang masih kecil.
Lalu Karen menikahi seorang pria bernama Ronnie. Keadaan memanas ketika Ronnie memintanya untuk berhenti minum minuman keras.
“Saya ingin dia pergi dari hidup saya. Karena tidak seorangpun yang bisa mengatur apa yang harus saya lakukan,” demikian keputusan Karen.
Suatu hari setelah sebuah pertengkaran sengit, Karen hampir saja meledakkan kepalanya dengan senapan suaminya.
“Saya menaruh kaki saya di pelatuk senapan, dan menaruh ujung larasnya di mulut saya. Namun saya terlalu mabuk, sehingga tidak mampu melakukannya,” jelas Karen.
Dalam keadaan mabuk, Karen memutuskan untuk tidur sebentar sebelum ia akan bunuh diri. Namun Ronnie datang dan menemukan Karen tidak sadarkan diri dengan senapan di atas tubuhnya, yang mengagetkan Ronnie, senapan itu mengarah tepat pada tempat tidur anak perempuan mereka. Jika saja Karen berhasil menarik pelatuk senapan itu, bisa saja yang tewas bukan hanya Karen, tapi juga anak perempuannya.
“Kemudian peristiwa 11 September terjadi dan suami saya merasa terpanggil untuk datang ke gereja. Dia berkata bahwa saya juga harus pergi ke gereja, dan saya berkata tidak.”
Namun Ronnie, suami Karen tetap memaksanya ke gereja. Dengan berat hati, Karen mengikuti suaminya ke gereja namun dengan enggan. Hal ini berlangsung selama beberapa minggu, hingga suatu hari Karen menunjukkan sikap yang berbeda.
“Saya datang dan duduk di bangku. Saya berkata dalam hati: baiklah, saya akan menjadi penghangat bangku gereja. Lalu musik dimainkan dan saya hanya sekedar bernyanyi la..la..la.. dan tiba-tiba lagu Shout to the Lord dinyanyikan. Saya pun mulai diam. Yang saya dengar saat itu adalah: “Karen, datanglah kepada-Ku.” Saya tidak tahu apa yang sedang memasuki saya, tiba-tiba saya menuju ke altar dan berlutut. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya berkata bahwa saya tidak mengerti bagaimana melakukan hal ini. Saya hanya tahu hidup yang seperti ini. Saya tidak tahu hidup yang tanpa alcohol. Saya tidak tahu hidup yang tanpa segala sesuatu yang telah saya lalui. Dan sekali lagi, “Datanglah kepada-Ku, dan Aku akan mengasihimu.” Dan saya katakan, baik, saya mencintai-Mu. Pada hari itu, saya menerima Yesus dan saya pulang ke rumah lalu duduk di teras sambil minum 3 atau 4 gelas bir. Namun saya tidak mabuk malam itu. Lalu saya mendengar Tuhan berkata bahwa saya harus berhenti minum.”
Dengan pertolongan Tuhan dan beberapa orang di gerejanya, Karen akhirnya mampu benar-benar lepas dari alcohol sepenuhnya.
“Saya sudah tidak menyentuhnya lagi selama lima tahun,” ungkap Karen sukacita. “Saat ini kesenangan saya adalah duduk di teras rumah berbicara dengan burung beo saya, membaca alkitab dan minum kopi.”
Apa yang dulu ia cari melalui minuman keras telah ia temukan di dalam Yesus. Sesuatu yang semu digantikan dengan kedamaian yang sejati.

”Harapan dan kedamaian yang hidup dan tinggal di dalam saya kini bahkan begitu sulit untuk saya gambarkan. Ada sesuatu di dalam saya dan mengambil alih segalanya. Saya bangun pagi dan bersyukur pada Yesus untuk kehidupan yang saya miliki, yang Dia berikan pada saya. Saya memiliki hal-hal yang belum pernah saya miliki sebelumnya. Saya memiliki rumah, saya memiliki suami yang begitu mencintai saya, anak-anak yang mencintai ibunya. Dan yang terpenting adalah saya kini memiliki kasih di hati saya yang sama sekali belum pernah saya miliki. Ada sebuah kotak di luar sana dan setiap dosa yang pernah saya lakukan, saya dapat membuangnya dan mengambil kotak baru dan dikotak itu tertulis “PENGAMPUNAN.” Tuhan mengambil debu dari jalanan dan membuatnya menjadi sebuah bejana. Semua belenggu yang ada pada saya sudah hilang. Satu-satunya rantai yang kini ada bukanlah belenggu, namun sebuah borgol dan saya diborgol dengan Tuhan Yesus. Sehingga Dia kini selalu ada disini bersama saya.




















Keluargaku Hancur Karena Pesona Penyanyi Pub

Kata orang, selingkuh adalah bumbu pernikahan. Tapi apakah hal itu benar? Pria yang bernama Hasan Sugiarto ini sepertinya ingin mencoba membuktikan perkataan banyak orang itu. Dengan berani ia bermain api tanpa memperdulikan bahaya yang mengancamnya.
“Dunia malam dan seks bebas adalah bagian dari kehidupan saya,” demikian pengakuan pria yang merupakan seorang pengusaha sukses ini. “Hal itu memberikan suatu petualangan dan kenikmatan yang luar biasa, sehingga seolah-olah memberikan suatu spirit baru dalam hidup saya.”
Hingga suatu hari, ketika Hasan berada di sebuah night club matanya tertuju pada seorang gadis yang menyanyi di atas panggung. Tanpa pikir panjang, Hasan mendekati gadis itu. Bagai gayung bersambut, gadis itu tidak menolak ajakan hasan untuk makan malam.
“Saya menjemput dia, kami makan malam bersama di suatu tempat yang cukup ekslusif sehingga menimbulkan suasana yang cukup romantis.”
Hasan tidak pernah memikirkan istri dan anak-anaknya yang menunggu di rumah. Setiap kali ia pulang malam dan istrinya bertanya dari mana, ia selalu saja punya alasan. Hasan yang terlena dalam perselingkuhannya seperti dimabuk cinta. Namun tanpa disadarinya seorang teman membongkar perselingkuhannya. “Kamu siapa?” tanya Indah, istri Hasan ketika menerima telephone.
“Kamu tidak perlu tahu siapa saya,” jawab suara dibalik telephone itu. “Saya Cuma mau kasih informasi, kamu catat saja alamat ini. Suami kamu ada selingkuh dengan perempuan ini.”
Kebetulan tetangga rumahnya ada yang bekerja sebagai sopir taksi, Indah meminta tetangganya itu untuk mengantarkannya ke alamat tersebut. “Akhirnya saya pergi ke alamat tersebut, dan menemui tantenya. Tantenya bilang seperti ini, ‘Oh dia udah kaya sekarang, dia ngga tinggal disini lagi. Dia sudah punya apartemen.’” Seperti tak percaya apa yang ia dengar, Indah akhirnya mendatangi alamat apartemen yang ternyata adalah suaminya. Semua praduganya selama ini terbukti, ia melihat suaminya pulang malam berdampingan dengan wanita itu dan masuk ke dalam apartemen.
“Saya lihat suami saya sama perempuan itu. Saya ikutin terus sampai ke dalam. Saya liatin lift yang dinaiki suami saya berhenti di lantai berapa, ternyata di lantai 26. Saya naik dan menggedor-gedor pintunya,” tutur Indah.
“Buka pintu, saya tahu kamu ada di dalam!” teriak Indah sambil menggedor-gedor pintu apartemen itu. Akhirnya Hasan membuka pintunya dan Indah langsung merangsek ke dalam mencari wanita selingkuhan Hasan tadi. “Langsung saya masuk ke kamarnya, saya mau menjambaknya, saya pengen pukul dia dan maki-maki perempuan itu. Tapi suami saya menghalangi,” ujar Indah. “Dia lari, saya mau kejar. Saya berharap suami saya membela saya, tapi dia lebih membela perempuan itu. Saya kesal banget.”
Indah mengamuk tak terkendali, sedangkan Hasan mencoba menenangkannya. Namun karena kemarahan Indah yang sudah memuncak, ia seperti tidak bisa ditenangkan, hingga satu titik Indah sudah tidak tahan lagi dan pingsan. Dengan bantuan petugas apartemen Hasan mencoba menyadarkan istrinya. Ia pun membawa Indah pulang, namun dalam perjalanan dengan gelap mata, Indah membuat sebuah tindakan yang gila. “Saya berpikir terlalu pendek,” ungkap Indah sambil menangis. “Lebih baik berakhir begini. Saya tarik setir itu, saya bilang lebih baik kita mati saja dari pada hidup kita begini terus. Saat itu saya rela mati, saya pikir daripada dia mengkhianati saya terus, dan daripada dia dimiliki orang lain, lebih baik kami mati.” “Mobil saya hampir masuk ke dalam danau,” jelas Hasan. Tapi di saat-saat terakhir, Hasan berhasil menguasai kemudi dan mengarahkan mobilnya kembali kearah jalan raya. Tetapi sampai di rumah mereka, pertengkaran dilanjutkan kembali. “Kamu tahu ngga, kamu hampir saja membunuh kita berdua. Kalau kita nyemplung ke dalam danau bagaimana?!” “Biarin kita mati berdua! Ngapain kita hidup seperti ini, saya disia-siakan, saya dikhianati terus. Karena kamu sudah merusak kepercayaan saya! ” jawab Indah ketus sambil menampar Hasan. Ditengah keributan itu, seorang tetangga datang melerai dan memberikan nasihat kepada mereka. Tapi hal itu tidak bisa memadamkan kemarahan Indah. Istri Hasan itu telah membuat keputusan dalam hatinya, karena ia sudah tidak tahan dengan pengkhianatan Hasan. Indah mengepak semua pakaiannya dan meninggalkan suami beserta anak-anaknya begitu saja.
Hasan pulang mendapati lemari istrinya sudah kosong dan istrinya telah pergi. Ia hanya menerima sebuah pesan singkat di handphonenya. “Saya tinggalin kamu supaya kamu bisa bebas,” demikian isi SMS dari Indah. “Saya mulai menangisi kekosongan hidup keluarga saya, dan mengapa hidup saya jadi begini? Hidup saya mula-mula begitu baik, sekarang seolah-olah dunia runtuh menimpa rumah tangga saya. Bisnis saya pun jadi terbengkalai karena pikiran saya juga sudah ruwet.” Namun dalam keadaan tertekan seperti itu sebuah perubahan positif ia lakukan, ia menghubungi hamba Tuhan untuk mendapat dukungan melalui masa-masa sulit itu. Setelah kepergian istrinya, Hasan baru menyadari betapa berartinya Indah dalam hidupnya. Apa lagi ketika ia melihat kedua anaknya yang tertidur lelap di kamar, “Saya berdoa, ‘Tuhan berikan saya kesempatan sekali lagi untuk mengurus keluargaku dengan baik.’” Setelah delapan bulan Indah pergi, Hasan memberanikan diri menghubungi istrinya itu. “Udah mi, balik. Saya sudah bertobat.” Telephone itu diberikan Hasan kepada anaknya, Sintia. “Mami..pulang mi..” demikian ucap Sintia yang masih berusia 3 tahun itu sambil menangis. Indah terenyuh hatinya mendengar suara Sintia, apalagi saat itu anaknya yang kedua, Kevin masih berumur satu setengah tahun, ia tak tahan lagi ingin melihat wajah mereka. Namun saat itu ia masih belum bisa melupakan apa yang telah diperbuat suaminya. “Saya gelisah sekali, dimana-mana saya tidak merasakan damai,” tutur Indah. “Malam itu lebih tidak damai lagi. Akhirnya saya paksakan pulang. Saya hanya berharap bisa ketemu anak-anak dan tidak berharap bertemu suami saya.” Sekalipun telah pulang ke rumah, Indah bersikap dingin kepada Hasan. Bahkan ia tidak mau melakukan hubungan suami istri dengan suaminya itu, sekalipun Hasan sudah membuktikan bahwa dirinya telah berubah. “Suatu saat dikarenakan keterpaksaan, saya harus melayani dia. Saya melayani namun merasa jijik setengah mati,” ungkap Indah yang merasa dirinya seperti seorang pelacur. Karena merasa sangat jijik, usai melayani Hasan, Indah langsung membersihkan diri dengan penuh rasa kebencian. “Saya tahu istri saya mengalami siksaan yang luar biasa,” aku Hasan. “Karena dalam hatinya belum bisa mengampuni saya.” Hasan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Indah, ia pun mengajaknya untuk beribadah. Karena tidak mau, akhirnya Hasan menjanjikan uang sebesar 5 juta kepada Indah jika ia mau pergi ke gereja bersamanya. Namun tindakan Hasan itu tidak sia-sia, dalam ibadah itu Indah mengalami jamahan Tuhan. Bahkan Indah bersedia mengikuti pertemuan-pertemuan selanjutnya yang mengubah hidupnya.
“Suatu kali hamba Tuhan itu bilang, ‘Kalau suami kamu sedang tidur, lihat raut wajahnya. Lihat kerutannya, ada kebaikan apa dalam dirinya. Jangan melihat seseorang dari kejahatannya saja. Tapi coba Anda lihat kebaikannya.’ Ternyata bukan suami saya aja yang berdosa, saya juga banyak dosa sama dia. Hati saya menjerit saat itu, kalau Tuhan Yesus sudah maafkan saya, masa sebagai manusia saya tidak bisa memaafkan suami saya.”
Pulang dari acara tersebut, Indah melakukan tindakan yang sangat radikal yang membawa pemulihan bagi hubungannya dengan Hasan.
“Pulang, saya sujud dibawah kaki dia. Saya bilang, ‘Pi maafkan saya. Saya manusia berdosa sama kamu. Selama ini saya juga salah, tinggalin papi dan keluarga. Maafkan saya.”
Sambil memeluk Indah, Hasan pun meminta maaf atas semua yang telah ia perbuat dan akhirnya jurang pemisah yang bernama sakit hati itu kini hilang sudah. Hubungan mereka pulih kembali oleh kasih Kristus yang menjamah hati keduanya.

“Saya merasa Tuhan baik bagi saya, bagi keluarga saya,” ungkap Indah bahagia.
Hasan telah belajar banyak hal dari kejadian di masa lalu, ia pun membuat komitmen baru, “Saya berjanji sebagai seorang laki-laki akan memberikan yang terbaik dan merawat dia (Indah) sepanjang hidup saya. Tuhan Yesus sangat baik, Dia memperhatikan kami. Bahkan keluarga yang sangat berantakan pun, Dia sanggup memulihkannya kembali.”








Papaku Kejam, Adikku Minum Racun Dia Tidak Peduli

Bagi Ayung dan adiknya Afuk, ayah mereka adalah seorang pria yang sangat kejam. Dia tidak pernah menanyakan apa permasalahan kakak beradik itu, setiap kali kesalahan terjadi ia langsung memukuli keduanya. Bahkan saat mereka bertumbuh remaja, prilaku sang ayah tidak berubah. Hal itu membuat Afuk mengalami depresi berat dan melakukan sebuah tindakan yang membahayakan jiwanya.
“Saya stres berat, jadi saya minum racun serangga,” tutur Afuk.
Sang kakak, Ayung yang menemukan keadaan adiknya yang sudah terkapar di lantai dapur panik.
“Dia sudah dalam keadaan berbusa, ini harus cepet dibawa ke rumah sakit nih..Tolong! Tolong! Pah…” demikian teriak Ayung.
Herannya, sang ayah yang melihat anaknya merenggang nyawa malah memakinya, “Fuk, loe minum racun?! Dasar ngga ada otak, loe cuma ngabis-ngabisin duit gua aja loe..!”
“Papa kok kejam sekali..” demikian Ayung mengungkapkan perasaannya. “Perkataan itu terus terngiang-ngiang di telinga saya.”
Suatu hari, Afuk mengalami kecelakaan. Motornya menabrak seorang pejalan kaki. Sebagai seorang kakak, Ayung merasa bertanggung jawab untuk mengurus adiknya.
“Saya tulus-tulus saja mau ngurusin, tapi papa malah bilang ngga usah, ‘Nanti kamu nguntit duitnya lagi!’ Saya coba beresin, tapi yang saya terima ketidak percayaan. Jadinya saya cenderung memberontak. ‘Loe aja ngga percaya sama gue, ngapain gua pusing.’”
Karena merasa direndahkan dan tidak dianggap oleh sang ayah, Ayung lari pada minuman keras dan narkoba.
“Waktu saya kelas 3 SMA ada teman bilang, ‘Yung, nih ada obat mabok baru, putaw..’”
Memang Ayung menikmati kenikmatan sesaat, namun ia tidak pernah mengira rasa ketagihan karena obat bius jenis ini akan demikian menyiksa.
“Kalau ngga pakai sakawnya parah, menggigil ngga enak, dan akibatnya kecanduannya makin parah.”
Dulu Ayung berprinsip tidak mau mengambil barang milik orangtuanya, namun karena rasa ketagihan itu begitu menyiksanya, ia akhirnya harus menelan perkataannya kembali.
“Saya nyesel, saya berpikir bahwa saya harus berhenti. Saya ngga mau begitu terus, kayaknya ngga berguna banget.”
Tapi tidak semudah itu melepaskan diri dari kecanduan narkoba. Ayung berulang kali bolak-balik panti rehabilitasi, namun tetap saja ia selalu kembali kecanduan. Semakin ia mencoba dengan kekuatannya sendiri, Ayung semakin putusasa.
“Ngga bakalan bisa lepasla, udahlah.. Bodo amat deh, mau mati, mati deh..” demikian ungkap Ayung kala itu.
Tak tahan dengan keadaanya, dan rasa keputusasaan yang begitu besar menguasi hatinya, Ayung akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
“Tapi setiap kali saya sudah megang pisau, ada aja teman yang dateng dan ngetok pintu.. Ada saja kejadian yang membuat saya berhenti,” jelas Ayung heran.
Tapi penundaan atas rencana bunuh dirinya itu bukanlah sebuah kebetulan, ada sebuah rencana Tuhan dibalik semua itu.
“Tiba-tiba teman datang, ‘Tuhan baik Yung..’ dia certain segala macam lalu bilang, ‘Tuhan baik Yung..’ Dia terus ngajakin saya ibadah, saya tolak, besoknya dia datang lagi. Terus kaya gitu setiap hari.”
Hingga suatu saat temannya itu memberikan suatu tantangan kepadanya, “Yung, loe mau berhenti?”
“Pasti mau lah..”
“Kalo loe mau, loe percaya ngga Yung, Tuhan bisa sembuhin loe.”
“Oke, klo itu gua percaya.”
“Ya udah, doa Yung. Pasti Tuhan sembuhin loe.”
Akhir-akhir itu rasa sakaw yang dirasakan Ayung semakin parah. Ia bahkan hingga membentur-benturkan kepalanya ke tembok untuk mengurangi rasa sakit yang menderanya.
“Karena saya sudah menerima tantangan itu saya akhirnya berdoa, ‘Kalau Tuhan Yesus seperti yang dikatakan pendeta-pendeta itu, tunjukin ke saya Tuhan. Tuhan tunjukin ke saya, saya akan jadi saksi seumur hidup saya. Dalam nama Yesus, amin.’ Tiba-tiba saya merasakan seperti orang yang hauuus.. terus minum air es. Rasanya dingin, alirannya dari atas kepala sampai ujung kaki,” tutur Ayung sambil meneteskan air mata.
“Terima kasih Tuhan!” seru Ayung berulang-ulang sambil melompat-lompat kegirangan.
“Dibadan saya seperti ada semangat baru,” ungkapnya. “Saya nangis, ‘Tuhan terima kasih,’ saya sangat bersukacita luar biasa.”
Saat itu Ayung begitu heran, dirinya yang sudah seperti sampah bagi ayahnya sendiri namun Tuhan masih menerimanya.
“Tuhan, orangtua gua dah ngga peduli, mau mati, mati deh.. Tapi kamu siapa sih.. Kok Tuhan mau ngasih suatu yang baik?”
Hingga akhirnya Ayung menemukan sebuah jawaban di Alkitab, “Ada firman yang berkata, ‘Aku melukis engkau di telapak tangan-Ku.’ Ternyata saya luar biasa di hadapan Tuhan. Dia pilih saya, dan Dia bebasin saya dari keterikatan itu.”
Sejak itu, Ayung menjadi pribadi yang baru. Ia pun rajin beribadah dan melayani Tuhan. Namun Tuhan tidak mau setengah-setengah memulihkan hidup Ayung.
“Tuhan negor saya dalam suatu kebaktian, yang dibicarakan tentang kita anak harus mengampuni orangtua. Berkat di atas kepala orangtua.”
Inilah yang Ayung lakukan meresponi teguran Tuhan itu, “Tuhan saya minta maaf sama Tuhan terlebih dulu, ampuni dosa dan kesalahan saya.” Tidak hanya pada Tuhan, Ayung juga mengambil langkah berani dengan meminta maaf pada sang ayah, namun bagaimana ayahnya meresponi pertobatan Ayung itu?
“Saya masuk ke rumah, ‘Pah, Ayung minta maaf..’ Ditepok tangan saya, ‘gua ngga butuh minta maaf loe.. buktiin aja!’ Taba-tiba Tuhan puter video bahwa selama ini saya tuh benar-benar nyusahin dia (papa). Saya berlutut, saya pegang kaki papa saya, saya ciumm! Papa mau berontak ngga saya kasih, saya pegang kaki papa saya.”
Sekalipun Ayung mencium kaki ayahnya, sang ayah masih tetap tidak percaya. Ia meminta bukti kesungguhan pertobatan Ayung.
“Saya terus melayani, terus jujur lakukan kasih. Saya juga mulai ada hasil di pekerjaan, sampai akhirnya papa mulai melihat dan papa percaya.”
Pembuktian Ayung terhadap sang ayah, membuat hidup ayahnya juga diubahkan, bahkan mau pergi beribadah kembali.
“Hampir delapan tahun bahkan sembilan tahun lebih, akhirnya papa mau ke gereja. Saya sangat bersyukur sekali dan saya bersukacita karena hal itu. Saya lihat perubahan papa begitu banyak. Akhir-akhir saya bisa gandengan tangan sama papa, jalan.”

Perjalanan hidup sang ayah akhirnya berakhir di bulan Oktober 2010, namun Ayung tetap bersukacita karena ayahnya sudah mengenal Yesus. Ayungpun telah berkeluarga, kini ia hidup bersama istri dan anak-anaknya dalam kasih dan anugrah Tuhan yang luar biasa.















Ayah Mati Dibunuh, German Berakhir Jadi Pencuri

Sebagai pemimpin kelompok gang, ayah German sangat disegani di daerahnya. German pun sangat bangga pada ayah yang begitu mengasihinya itu. Hingga suatu hari sang ayah hendak merantau ke Jakarta bersama ibunya.
“Kamu mau tinggal sama namboru kami disini atau ikut sama bapak sayang,” demikian tanya sang ayah kepada German.
“Namboru saya itu sayang sama saya dan selalu minta saya tinggal sama mereka,” itulah alasan German menjawab kepada sang ayah bahwa ia memilih tinggal bersama namborunya selama sang ayah mencoba peruntungannya di Jakarta.
“Ketika mereka naik kendaraan bus, disitu saya merasa tidak akan lagi berjumpa dengan orangtua saya,” ungkap German.
Firasat German benar, beberapa waktu kemudian seseorang datang membawa sebuah kabar buruk kepada tantenya.
“Ada orang datang mencari tante saya, lalu mereka pergi ke kamar. Lalu tiba-tiba saya dengar tangisan dan jeritan seperti telah terjadi sesuatu.”
Sang tante keluar dari kamar dan memeluk German sambil menangis. Ia memberi tahu German bahwa sesuatu yang sangat buruk telah menimpa ayahnya.
“Bapakmu dibunuh orang Man..” ucap tantenya sambil menangis histeris.
“Saya betul-betul kaget saat melihat (gambar) ada pisau tertancap di kepalanya bagian samping. Saat itu saya merasa bahwa saya tidak akan pernah lagi merasakan kehadiran ayah saya. Saya merasa menyesal kenapa dulu berpisah. Saya sangat kehilangan, dan saya berpikir bahwa saya harus balas perlakuan orang terhadap ayah saya.”
Rasa sedih, terluka dan kehilangan ayahnya membuat German kecil berubah perangainya, ia menjadi anak yang keras dan pemarah. Apalagi ketika teman-temannya mengganggunya, ia tidak segan-segan untuk memukuli mereka sampai mereka mau minta ampun.
Sepeninggal sang ayah, hidup German sangat menderita. Ibunya tidak mau merawatnya dan malah menikah dengan pria lain. Ia tinggal bersama paman dan tantenya, disana ia harus bekerja keras.
“Sejak kecil, sekalipun saya tinggal di rumah famili jam 5 saya sudah harus ke sawah dan menggembalakan kerbau.”
Karena terlalu lelah, German kecil akhirnya beristirahat di bawah sebuah pohon rindang dan tertidur. Malangnya, kerbau itu pergi ke sawah orang dan merusak tanaman padi mereka.
“Saat saya terbangun, saya sudah tahu pasti dipukul.”
Saat itu sekalipun German dipukul bertubi-tubi, ia memutusakan untuk tidak menangis. Menurutnya yang menangis itu bukan laki-laki.
Untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik, German di bawa oleh pamannya ke Dumai. Tapi hidupnya di daerah baru itu sama saja, ia tetap harus bekerja keras dan tidak pernah merasakan kasih sayang. Akhirnya, untuk mencari hiburan German diam-diam keluar dari rumah setiap malam.
“Keluar malam itu saya ingin ketemu sama teman-teman. Saya ingin mencoba rokok sambil main kartu. Ada kepuasan kalau saya banting domino itu. Lalu kalau saya menang, itu seperti ada kepuasaan. Ditempat judi itu saya merasa tidak ada penghinaan, waktu itu saya pintar domino, karena itu orang ingin berteman sama saya. Saya merasa berharga, dan dibutuhkan.”
Namun kesenangan itu tidak lama, karena akhirnya pamannya tahu ulahnya.
“Saya ketahuan, saya ingat di depan teman-teman saya ditinju sama om saya. Rasanya sangat-sangat terhina, akhirnya saya putuskan untuk keluar dari rumah o mini,” tutur German.
Namun hidup dijalanan tidaklah mudah, ia bingung bagaimana bisa mengisi perutnya dan meneruskan sekolahnya. Tanpa pikir panjang, German nekat melakukan pencurian di pabrik-pabrik sekitar tempatnya. Namun keberuntungan suatu saat meninggalkan German, saat ia sedang mencuri kaca-kaca nako di sebuah pabrik, satpam mempergokinya. Ia pun dengan cepat lari, namun ia salah arah. Di depannya adalah rawa-rawa.
“Jadi saya tertanam di rawa-rawa, akhirnya saya diteriaki kalau tidak menyerah ditembak. Saya takut mati, yang juga membuat saya menyerah karena saya membawa seorang saudara saya. Saya ajak juga mencuri. Dari pada dia yang ditembak, saya menyerah saja.”
Karena masih dibawah umur, saudaranya dibebaskan. Namun tidak dengan German, karena pamannya sudah tidak mau membela dan mengurusnya juga, maka pamannya menyerahkannya untuk dihukum.
“Ada dalam hati saya berkata, suatu hari dia akan tahu siapa saya. Namun saya sudah patah arang. Saya tidak mau lagi bicara sama dia, sejak itu saya putus hubungan sama om saya.”
Penyesalan tinggal penyesalan, German tidak bisa membayangkan seperti apa masa depannya. Padahal ia berharap minimal bisa menyelesaikan SMA. Namun setelah berhari-hari di balik jeruji penjara, sorang guru yang iba kepadanya memberikan jaminan sehingga German bisa keluar dan kembali bersekolah. Berkat keluarga guru itu yang dengan tulus mau menerima dan membimbingnya German akhirnya bisa lulus SMA.
Selulus SMA German pergi ke Jakarta, ke rumah seorang kerabat, “Selama di Jakarta, Bang Richard ini selalu membawa saya kemana saja. Pada bulan November itu Bang Richard mengajak saya ke kkr ‘Kasih Melanda Indonesia’ di Senayan. Waktu sebuah lagu dinyanyikan secara berulang-ulang, waktu itu saya merasa hancur. Saya menangis dan betul-betul saya membuka hati. Saya mau bersama Yesus yang besar. Yesuslah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup yang bisa membawa kita ke sorga. Datang ke Tuhan, saya akui semua yang saya alami, yang saya rasakan selama ini dan kedua saya mengampuni orang-orang yang menurut saya melukai saya. Saya juga mengambil keputusan untuk berhenti merokok, berhenti bergaul dengan orang-orang yang membawa saya kepada situasi merokok dan berjudi.”
Sejak saat itu German memiliki kehausan yang luar biasa untuk membaca firman Tuhan, “Kapan saja saya punya waktu, selalu saja saya buka Alkitab.” Cintanya kepada Yesus membara sejak saat itu. Namun suatu hari, German kembali diperhadapkan pada situasi yang sulit. Siang itu, German di ajak salah seorang kerabatnya untuk makan siang.
Kerabatnya itu bertanya, “Seandainya kamu ketemu sama pembunuh ayah kamu, akan kamu apakan dia?”
“Ngga tahu,” jawab German sambil mengangkat bahunya.
Seorang pria datang mengantarkan minuman dan duduk di depan mereka.
”Inilah dia..” tunjuk kerabatnya pada pria tersebut.
Semua ingatan German tentang masa lalunya seperti diputar ulang saat itu juga, “Tapi saya tidak ada rasa ingin membunuh. Semua kebencian-kebencian itu sudah diangkat sama Tuhan Yesus.”
Hati German seperti mengalami kelegaan, bahkan hatinya tergerak untuk menceritakan tentang Yesus kepada pria tersebut. Pengampunan ia telah lepaskan atas pria yang membunuh ayahnya, German pun ingin menyelesaikan rasa sakit hati yang dipendam kepada ibunya.
“Saya katakan pada mama saya, ‘Aku sayang mama.’ Mama saya mungkin saat itu merasa bersalah, dia minta maaf. Saya mulai berpikir, jika saat itu ibu saya ada pilihan untuk tidak menikah dan mampu membiayai hidup mungkin ia tidak akan melakukannya. Akhirnya semua perasaan dendam, benci, itu tercabut semua.”
Kini ibunya telah tiada, namun hidup German telah berubah. Hidupnya kini telah dipenuhi kasih Tuhan yang dapat ia bagikan kepada anak dan istrinya.

“Setelah saya di dalam Tuhan, pengalaman saya di masa kecil itu tidak harus di alami oleh anak saya. Saya sangat-sangat bersyukur karena Tuhan Yesus telah selamatkan saya. Hidup saya yang sia-sia, diubahkan-Nya menjadi berarti. Kalau bukan karena Tuhan, saya binasa, bagi saya Tuhan Yesus segala-galanya.”








Suami Istri Sama-sama Selingkuh Dengan Alasan Sakit Hati

Apa jadinya sebuah rumah tangga ketika istri dan suami sama-sama selingkuh dan saling menyakiti? Anda pasti bisa bayangkan betapa hancurnya rumah tangga tersebut, namun itulah yang dilakukan oleh Tuty dan Oktavianus. Padahal dua sejoli ini mengawali rumah tangganya dengan cinta, tapi semua itu bisa berubah. Apa gerangan yang terjadi? Simak pengakuan keduanya berikut ini:
“Saya punya mantan pacar, gangguin saya, goda-godain saya,” cerita Tuty. Tak pernah disangka kejadian itu dilihat oleh suaminya, Oktavianus.
“Saya naik motor, lagi jalan saya berpapasan dengan istri saya. Ketika saya lihat ada laki-laki ngikutin dia, jadi saya balik arah dan ngejar istri saya. Orang itu lari, jadi saya suruh istri saya naik ke motor untuk pulang sama-sama,” tutur Oktavianus.
Sesampai mereka di rumah, pertengkaran hebat terjadi. “Sampai rumah, saya pukul,” jelas Oktavianus. Tuty tidak terima di perlakukan kasar, ia pun membela dirinya. Bukan hanya dengan perkataan, Tuty bahkan melempar dan memukuli Oktavianus. Ia menunjukkan bahwa dirinya tidak bisa begitu saja ditindas.
“Karena saya takut kalau saya diperlakukan seperti ibu saya, saya kasih liat kalau saya juga bisa lawan,” jelas Tuty. “Ibu saya kan ngga bisa lawan sama papa saya, Cuma tahunya nangis.”
Rupanya ini menjadi akar semua tindakan kasar Tuty pada suaminya. Ia begitu benci pada sang ayah yang sering memukuli ibunya dan juga dirinya. Bahkan tidak jarang kata-kata kasar juga dilontarkan sang ayah kepadanya.
“Hal itu yang buat saya berontak,” ungkap Tuty,
Karena pertengkaran itu, Tuty sempat kabur ke rumah orangtuanya. Namun Oktavianus mengalah dan menjemputnya kembali. Namun itu barulah sebuah awal, ketika Oktavianus pergi ke Manado dan Tuty tetap tinggal di Makasar, karena rasa saling tidak percaya keduanya sama-sama main gila.
“Saya tinggal di tempat kost, ada perempuan-perempuan. Awalnya biasa aja, tapi kemudian saya tergoda. Karena saya ada cemburu, jangan-jangan istri saya disana selingkuh, jadi saya disitu mulai coba-coba. Dari coba-coba akhirnya keterusan.”
Tuty pun tidak jauh beda, “Saya juga asik sendiri, saya bebas.. Apa lagi ditambah teman-teman mompain saya.. ‘Yuk..yuk.. dari pada kamu mikirin suami jauh, mendingan main joker.’ Disitu saya mulai kenal seorang pria, tapi dia sudah berumah tangga. Lama-lama saya tertarik sama dia. Karena cocok akhirnya kami jalan bareng.”
Namun ulah Tuty itu tercium oleh suaminya. Seorang teman Okta yang mampir ke Manado membeberkan apa yang dilakukan oleh Tuty.
“Disaat itu aku marah, ternyata dia di sana selingkuh. Saya telephone istri saya, saya tanyakan kebenarannya.”
Tanpa tedeng aling-aling, Tuty mengakuinya. “Kalau begitu kita cerai saja!” ujar Tuty.
Kedua-duanya akhirnya melanjutkan perselingkuhannya karena sama-sama sakit hati karena telah di khianati. Hingga suatu hari, seseorang menyadarkan Tuty.
“Kamu seperti pelacur saja! Apa kamu ngga malu hidup seperti ini? Kamu itu punya suami!” ungkap kakak laki-lakinya dengan ketus.
“Saya langsung kaget, langsung menyentuh banget. Dari kata-kata kakak saya itu, saya sadar kembali. Dalam hati saya, ‘Saya harus ikut suami saya ke Manado..’ Saya pindah kantor..”
Namun niat baik Tuty tidak di responi dengan baik oleh Oktavianus. Sekalipun Tuty telah tinggal bersamanya, Oktavianus tetap berselingkuh. Bahkan suatu hari, selingkuhan Oktavianus yang tinggal di dekat tempat kostnya itu berani menghina Tuty. Akhirnya terjadi pertengkaran antara Tuty dan wanita tersebut. Karena lebih membela si perempuan selingkuhannya, Tuty bertambah kecewa kepada Oktavianus.
“Saya sudah tidak bisa apa-apa lagi, dan sepertinya ada suara ‘Mati aja.. tuh di depan kamu ada racun serangga dan obat-obatan yang lain..’” Jelas Tuty.
Tanpa pikir panjang Tuty meracik racun itu dan meminumnya. Tak berselang lama, ia langsung terkapar di tempat tidurnya.
“Saya dipanggil oleh tuan rumah di mana saya kost,” ungkap Oktavianus. “Saya buru-buru melihat, ternyata saya lihat istri saya terkapar dengan di sebelahnya ada racun serangga.”
Oktavianus pun segera melarikan Tuty ke rumah sakit, beruntung tidak terlambat sehingga nyawa Tuty bisa terselamatkan. Namun usaha bunuh diri Tuty itu tidak merubah Oktavianus sama sekali.
“Saya tetap selingkuh sama pacar saya. Pacar saya akhirnya nagih janji saya, dia minta dinikahi. Saya bilang, ‘Udah kamu sabar dulu, dia kan lagi sakit. Nantilah kalau sudah sehat, aku cerai.. Setelah itu kita kawin.’”
Selingkuhannya minta dinikahi, istrinya berusaha bunuh diri, Oktavianus terjebak dalam permainannya sendiri. Ia pun merasa tertekan. “Pusing.. ngga tau mau gimana. Ternyata ada teman ngajak judi, ‘Ayo pasang-pasang nomor saja. Kalau kena ya untung..’ Saya pikir itu bisa membantu saya menghilangkan stres dan pusing.”
Namun bukannya membuatnya merasa senang, judi malah menambah masalah bagi Oktavianus. Ia lebih sering kalah daripada menang, hingga ia akhirnya terlibat hutang dengan lintah darat. Hal ini diperparah ketika masalah perjudian dan hutangnya itu sampai kepada pimpinannya di tempat kerja.
“Kantor akhirnya skors saya.”
Karena tidak lagi punya pekerjaan, Oktavianus dan Tuty memutuskan untuk pindah rumah. Beruntungnya, di rumah baru tersebut Tuty berkenalan dengan seorang ibu yang membuka jalan untuk perubahan hidupnya.
“Mulai saya kontrak di rumah tersebut, di situlah awal saya kenal Tuhan. Sewaktu ibu Grace ini sering menasehati saya dengan firman, ‘Ibu Tuty kalau jadi istri kamu harus patuh dan tunduk sama suami.’ Saya juga meresponi dan saya membaca Alkitab tiap hari.”
Ketekunan Tuty merenungkan Firman Tuhan merubah hidupnya, ia dengan lembuh hati merubah hidupnya sesuai dengan Firman Tuhan.
“Saya tidak mau merokok lagi, tidak mau main judi lagi, dan saya mulai berubah sama suami saya. Saya mulai memahami sebagai seorang istri harus berbuat apa sama suami.”
Kasih Tuhan membuat Tuty mulai bisa mengasihi Oktavianus apa adanya, bahkan ia berani membuat sebuah keputusan yang sangat luar biasa.
“Saya lakukan apa yang Yesus lakukan sama murid-muridnya. Saya pikir saya sudah berbuat salah banyak sama suami saya,” ungkap Tuty yang membasuh kaki suaminya.
Pemulihan keluarga Tuty dan Oktavianus tidak berhenti sampai disitu, dalam sebuah bimbingan rohani keduanya belajar bersama untuk saling mengampuni dan mengasihi. Bahkan Tuty bukan hanya mengampuni suaminya, namun juga sang ayah yang telah menyakitinya. Kini Tuty dan Oktavianus menjalani kehidupan rumah tangga yang dijalin kasih Tuhan, sebuah kehidupan baru yang berbeda.

“Terima kasih Tuhan, Terima kasih Yesus, saya bersyukur kepada-Mu karena Engkau Allah yang sungguh sangat baik dalam hidup saya,” itulah ungkapan Oktavianus atas karya Tuhan yang luar biasa dalam keluarganya.













Susah Ampuni Istri Selingkuh, Meski Aku Hamba Tuhan

Berawal dari teman yang menceritakan bahwa dia melihat Evert di mall bersama wanita lain, membuat istri Evertlandus curiga. Dia mencoba memeriksa handphone Evert yang tidak pernah dihapus SMS-nya. Kecurigaan ini diperkuat dengan salah satu SMS yang mengungkapkan kata ‘sayang’ dari suami Debby, Evertlandus.
“Akhirnya saya tanya sama suami saya. Saya sebut nama cewek ini (yang ada di handphone tersebut).” kisah Debby, istri Evert. Lalu Evertlandus menceritakan bahwa cewek ini cuma curhat dan tidak ada apa-apa di antara mereka. Untuk membuktikannya, Evert menelepon si cewek di depan istrinya.
“Istri saya marah-marah dengan wanita itu. Saya kemudian bilang kepada wanita itu kalau kami tidak bisa berhubungan lagi.” kisah Evertlandus kemudian. “Tetap aja. Saya kayaknya nggak percaya. Saya pikir suami saya ini pasti selingkuh. Oh, liat aja. Kalau lu bisa, saya juga bisa. Itu yang tertanam di pikiran saya.” timpal Debby kemudian.
Kecemburuan itu sudah membutakan mata hati istrinya. Demi membalas Evert, sebuah tindakan konyol pun dilakukan sang istri. “Ya, tadinya memang urusannya itu cuma urusan pekerjaan. Karena sering bersama, ya ga tahu kenapa, kenapa saya bisa gitu ya, saya tertarik sama cowok itu dan akhirnya melakukan hubungan yang terlarang.” tutur Debby kemudian.
Di lain sisi, Evert pun curiga kepada istrinya. Istrinya yang tidak pernah membuatkan teh maupun menyediakan roti untuknya, mau menyediakan teh dan roti untuk laki-laki tersebut. Sang istri pun pandai menutupi perselingkuhannya. Ajakan Evert dan temannya untuk ikut ke Bandung tidak digubrisnya. Dia malah bersenang-senang dengan pria selingkuhannya.
Ketika Evert sudah pulang dari Bandung, Evert semakin merasa curiga. Pasalnya adalah ketika dia menggedor pintu rumah yang terkunci, lama tidak ada yang membuka. Akhirnya agak lama baru Debby membuka pintu. Mengingat peristiwa itu, Debby masih ingat rasa takut ketahuan oleh suaminya karena perselingkuhan yang dia lakukan.
Saat itu Debby menjelaskan bahwa dia habis mandi, dan sekarang laki-laki yang membantunya beres-beres rumah orangtuanya lagi mandi. Di situlah Evert mulai berpikir, “Wah, sudah terjadi ini.” Evert saat itu menahan dirinya dan mengatakan bahwa mereka sedang ada masalah rumah tangga dan meminta laki-laki itu untuk tidak datang dulu ke rumah mereka. Evert takut dia bisa membunuh laki-laki tersebut.
Kebusukan itu akhirnya Evert bongkar di depan keluarga sang istri. Belum puas sampai di situ, Evert melakukan tindakan gila lainnya. Dia menginterogasi istrinya dan menanyakan berapa kali mereka melakukan hubungan terlarang itu. Istrinya mengatakan bahwa sudah tiga kali mereka berhubungan intim, tapi Evert tidak percaya. Meskipun tembok yang dipukul oleh Evert, namun istrinya menangis juga. Evert kemudian menyuruh istrinya agar menelepon laki-laki selingkuhannya tersebut, kalau tidak dia akan mati malam ini.
Malam itu juga, Debby menelepon dan meminta laki-laki selingkuhannya untuk datang karena ada suatu urusan yang ingin dibicarakan. Saat itu juga, Debby mengakui kesalahannya dan dia tidak mau mengulanginya lagi. Debby ingin agar semuanya berjalan lancar dan suaminya tidak marah-marah lagi, namun ditolak mentah-mentah oleh Evert.
Akhirnya laki-laki itu datang, Evert mengunci pintu rumahnya. Pertama-tama, dia bilang bahwa laki-laki itu seperti pagar makan tanaman. Dia juga menanyakan berapa kali mereka berhubungan intim. Ketika dijawab tiga kali, Evert tidak percaya. Laki-laki itu dipukul olehnya. Pukulan itu membuatnya tangannya sakit, sehingga dia pun menggunakan kaki dan lutut untuk menghajar perut laki-laki tersebut.
“Saya rencana mau bunuh dia sih, saya mau hajar pakai besi. Akhirnya, saya telepon adik saya itu. ‘Eh, lu mau liat ga nih, laki-laki yang tiduri bini gua…’ Adik saya suruh saya tahan di situ. Tak lama kemudian kakak saya telepon. ‘Siapa tuh, kunci dia di kamar, biar kita kuliti dia, kita potong-potong dia’. Kalau saya lepasin dia ke tangan kakak dan adik saya, matilah dia.”
Namun, ketika adik dan kakaknya datang, dia tidak membiarkan mereka masuk. Evert menyuruh agar lelaki itu tetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah. Setelah itu, Avert meminta nomor telepon keluarga si laki-laki selingkuhan istrinya, namun dia tidak mau memberikannya. Alasannya, ”Bang, jangan. Ayah saya lagi sakit, nanti kalau dia denger yang begini dia bisa mati.”
“Aku tidak mau tau, kasih ga nomor keluarga lu…” tanya Evert kepada laki-laki itu.
Saat itulah adik Evert masuk. “Adik saya ke dapur dan mengambil pisau. Terus dia disamperin..” Dia menyorongkan pisau itu ke laki-laki tersebut dan meminta nomor telepon yang diminta. “Dari tadi kenapa…” katanya setelah memukul kepala laki-laki dengan menggunakan helm.
Akhirnya Evert menelepon keluarga laki-laki itu. Meskipun tidak bisa menghubungi ayahnya, akhirnya Evert berbicara dengan kakak perempuannya. Mereka datang ke rumah Evert. Evert juga memanggil RT setempat dan meminta laki-laki tersebut untuk tidak datang di sekitar rumah / RT tempat mereka tinggal. Perjanjian ini dibuat hitam di atas putih, jadi kalau masih berhubungan, Evert akan lapor polisi.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang ke rumah. “Saya sudah tidak mikirin malu, saat itu sudah tidak ada malu di hati saya terhadap kondisi ini.” Sebaliknya, Debby sangat merasa malu atas kejadian tersebut.
Kejadian tersebut membuat Debby memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. “Karena saya pikir, buat apa lagi saya pertahankan? Kan, saya sudah ketahuan selingkuh, saya sudah tidur dengan laki-laki lain.” Namun lain dengan yang ada di pikiran Evertlandus.
“Buat saya, tidak ada kata perceraian, semua masalah kita selesaikan bersama. Bahwa pernikahan saya buat sekali seumur hidup.” Perkataan Evert seperti itu, membuat istrinya begitu menyesal dan sedih sekali. Kenapa ya saya melakukan hal seperti itu, begitu kata hati Debby.
Memang Evert bisa menerima kejadian ini, namun tetap ada yang tersisa di hatinya. Hal ini membuat Debby ingin menjauh sebentar dan kembali ke rumah orangtuanya. Evert marah-marah, semua barang Debby dikeluarkan dan Debby disuruh pergi dari sana. Debby yang duduk di bawah lantai, hanya bisa menangis menerima lemparan barang-barang dari suaminya.
“Saya merasa puas kalau melihat dia menangis, saya puas kalau bisa menyakiti dia. Saya ingin dia merasakan sakit seperti saya. Saya memang tidak pernah pukul dia, kalau saya kesel banget, saya pukul tembok.” itulah perasaan Evert saat itu. Susah bagi Evert untuk menghapus luka batin yang dideritanya.
Evert mencoba berbagai cara. Ketika di tempat tidur, Evert memeluk istrinya, tapi ada perasaan tidak nyaman. “Tapi saya merasa jijik aja gitu, saya merasa kok bekas orang ya? Terkadang juga terbayang di pikiran saya bahwa dia tidur dengan laki-laki lain. Saya kok bisa seperti ini ya? Saya komplain dengan Tuhan.”
Selama 1 tahun itu Evert menyimpan rasa sakit di hatinya, meskipun sebagai seorang hamba Tuhan, susah baginya untuk mengampuni perselingkuhan sang istri. Apalagi ketika dia sedang mempersiapkan materi tentang pengampunan, terjadi pertentangan dalam batinnya. Dia sampai-sampai membenturkan kepalanya.
Kemudian ada suara dalam hatinya. “Saya tidak tuntut kamu sempurna kok…Kamu mau naik kelas.” Meskipun sangat menyadari hal itu, tapi Avert tetap saja menderita. “Iya, saya sakit lho. Saya nggak kuat menahan. Tuhan, saya bisa gila nih. Lebih baik saya mati aja deh. Saya berharap kepala saya pecah.”
Dengan segala keputusasaan, Evert tetap pergi ke acara tersebut. Di atas sepeda motor yang setia membawanya ke tempat tujuan, Evert terus bicara dengan Tuhan tentang apa yang harus dia khotbahkan. Dia meminta bisa mengampuni istrinya, agar tidak ada rasa sakit.
”Jadi, ketika saya berkhotbah, Tuhan mengingatkan jika ada orang yang menyakitinya, ampunilah dia, doakanlah dia, berkati dia, Tuhan ingatkan yang lebih mengena kepada saya adalah jika engkau memberikan persembahan kepada-Ku tapi punya masalah dengan saudaramu. Pulanglah, bereskan masalah itu terlebih dahulu.”

Selesai ibadah, Evert menemui sang istri. Evert berdoa dan mengatakan kepada istrinya bahwa dia mengampuni istrinya. Sejak saat itu, damai sejahtera ada pada keluarga mereka. Rumah tangga mereka dipulihkan.






















Hedi Nyaris Tusuk Papanya Sendiri

Mencari kebahagian, itulah yang Hedi lakukan dengan mengkonsumsi narkoba, pergi ke diskotik dan melakukan seks bebas. Namun ketika pengaruh obatnya berlalu, dan ia kembali kerumahnya, ia harus kembali menghadapi kenyataan yang pahit.
“Suatu hari waktu saya pulang ke rumah, di dapur ternyata papa dan mama saya itu berantem. Akhirnya karena saya masih dalam pengaruh obat-obatan, saya ke dalam. Waktu papa saya mau pukul mama saya, saya ambil pisau, saya mau tikam papa saya. Beruntung saat itu tangan saya ditangkap sama mama saya. Pisaunya di ambil sama mama saya, akhirnya saya pukul dinding. Waktu saya pukul dinding, saya maki papa saya, lalu saya lari dari rumah itu,” demikian tutur Hedi.
Dalam hati Hedi sudah terucap, bahwa jika ada kesempatan ia pasti akan membunuh papanya itu. Masih jelas tergambar dalam ingatannya bagaimana papanya memukulinya tanpa ampun, saat ia masih kecil mencuri uang papanya. Namun ia mencuri bukan tanpa alasan, mamanya sakit, dan papanya tidak peduli.
“Saya di hajar habis-habisan dan saya hanya bisa menahan sakit.”
Tapi tidak hanya karena itu ia membenci papanya, “Waktu itu papa pulang dari kerja, siang hari. Mereka makan di dapur, di dapur saya melihat mereka berantem. Saya lihat papa lempar piring, pecah, lalu mama lari ke depan. Papa saya kejar, dan tangkap mama saya. Mama saya dipukul sampai mulutnya berdarah. Lalu mama yang sedang hamil, kandungannya ditendang. Waktu di tendang, mama saya langsung jatuh pingsan. Waktu itu saya kaget, saya ngga bisa terima kejadian itu. Sebagai anak saya hancur, saya ngga bisa bikin apa-apa. Saya ingin menolong mama saya, tapi saya masih kecil dan ngga bisa bikin apa-apa. Disitu saya tambah benci pada papa saya.”
Akibat kejadian itu, bayi yang dikandung mamanya meninggal, “Disitu saya punya komitmen bahwa saya harus sungguh-sungguh mencari nafkah untuk membantu mama saya dan adik-adik saya. Segala cara saya lakukan, untuk menyenangkan mama saya.”
Karena tekadnya itu, Hedi menghalalkan segala cara termasuk dengan menjadi pengedar narkoba. Karena bergaul dengan bandar narkoba ia bahkan terperangkap oleh kecanduan putaw.
“Hampir setiap malam kami ke diskotik, kami triping. Kebetulan teman kost saya bandar putaw. Jadi pulang dari diskotik, kami pakai. Keesokan harinya, saya merasa badan saya pegal-pegal, sakit-sakit ngga seperti biasanya. Kata temen saya, ‘Kamu mulai sakaw, mulai kecanduan sama putaw.’ Dia sodorin barangnya, akhirnya saya pakai lagi. Pas saya pakai, badan saya mulai enak lagi. Disitu saya semakin gila.”
Suatu kali, jarum suntik yang ia gunakan untuk mengkonsumsi narkoba hampir saja merenggut nyawanya, “Jarum suntik saya itu ada gelembung. Bibir saya sudah biru, badan saya menggigil dingin banget, dan saya merasa ada sesuatu yang mau keluar dari dalam diri saya. Waktu itu saya panik, ketakutan juga, spontan saya berseru, ‘Tuhan tolong saya!’ Waktu itu teman-teman sudah tinggalin saya. Waktu saya berseru itu, saya merasakan sesuatu terjadi pada saya. Saya merasakan tiba-tiba badan saya langsung pulih seperti biasa.”
Namun pengalaman menghadapi maut tersebut tidak mengubah Hedi. Hingga suatu titik, keputusasaan menguasai hidupnya.
“Sampai suatu titik kami habis-habisan. Saya juga capek hidup seperti itu, teman saya juga capek hidup seperti itu. Teman saya mau bunuh diri, dia ajak saya untuk bunuh diri. Waktu itu pikiran saya masih sadar, waktu dia ajak saya bunuh diri, saya tolak. Saya tolak karena saya takut mati. Akhirnya saya memutuskan untuk pisah dari dia.”
Tak ada lagi tempat yang dituju, Hedi akhirnya pulang ke rumah orangtuanya. Namun disana, ia disambut dengan dingin oleh keluarganya.
“Saya ngga punya uang, keluarga saya ngga peduli, akhirnya saya tahan sakaw. Saya sendiri ingin lepas dari narkoba, tapi saya ngga tahu bagaimana caranya.”
Hedi berjuang seorang diri menghadapi sakaw yang mendera dirinya. Mulai dari rasa sakit, panas dingin, hingga paranoid menyerang dirinya.
“Kurang lebih dua bulan saya tahan sakaw itu, hati saya menjerit, ‘Saya ingin sembuh.’ Dalam hati saya berseru sama Tuhan, mungkin Tuhan peduli sama hidup saya sekalipun hidup saya hancur, kacau, dan penuh dengan dosa. Disitu dalam hati saya berseru, ‘Tuhan, tolong saya! Saya mau sembuh, saya sudah capek hidup seperti ini.’”
Ditengah keputusasaannya Hedi memiliki dorongan untuk pergi beribadah. Disanalah Hedi merasakan sesuatu yang berbeda.
“Waktu itu puji-pujian di nyanyikan, saya ngga ngerti. Saya hanya datang saja, saya ikut saja. Waktu itu saya lagi sakaw, badan saya kena AC rasanya menggigil, tapi saya tahan. Waktu firman dibagikan, saya berdoa, ‘Tuhan, sembuhkan saya! Kalau Tuhan sembuhkan saya, saya akan berikan seluruh hidup saya buat Tuhan.’ Dan jujur, saya merasakan sesuatu dalam tubuh saya, ada sesuatu yang hangat mengalir dalam hidup saya. Waktu itu saya seperti mendapat kekuatan, seperti ada seseorang yang memeluk saya. Saya merasakan kedamaian yang begitu indah yang belum pernah saya alami. Saya merasakan suatu sukacita yang sangat melimpah. Sukacita itu yang memberi saya kekuatan dan dorongan, ‘Saya mau berubah. Saya mau bertobat. Saya mau mencari Tuhan lebih sungguh-sungguh.’”
Sejak saat itu Hedi mulai berubah, dan berkat bimbingan seorang teman ibunya ia mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan dan keselamatan itu ada di dalam Yesus. Dan setiap manusia yang berdosa membutuhkan Yesus untuk diselamatkan.
“Saya buka hati saya, saya mengundang Yesus masuk dalam hidup saya. Disitu saya merasakan kedamaian.”
Tidak berhenti disana, Tuhan pun mengingatkannya tentang masa lalunya dengan ayah dan ibunya yang belum ia bereskan. “Saya bilang sama mereka, ‘Pah, mah, maafkan saya. Selama ini saya kurang ajar sama papa mama.’ Waktu saya bicara seperti itu mama saya menangis, papa saya hanya diam. Saya merasakan waktu saya minta maaf sama papa saya, tembok itu runtuh. Jadi tidak ada batasan antara saya dan papa saya.”

Kini hubungan Hedi dan keluarganya telah dipulihkan, dan ia menemukan apa yang ia cari selama ini. “Saya merasakan ada suatu kebahagiaan, keharmonisan di dalam keluarga saya semenjak keluarga saya mengenal Tuhan Yesus.”























Kecil Cita-cita Jadi Preman, Besar Jadi Preman Yang Haus Darah

Cita-cita Ciming sejak kecil memang menjadi preman, dan ketika hal itu terwujud ia menjadi seorang preman yang haus darah. Dibesarkan sebagai anak yang kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya, Ciming kecil menyadari benar bahwa jika ia ingin tetap hidup harus bertahan dalam pahitnya kehidupan ini.
“Mama saya penjudi berat, waktunya habis di judi saja,” demikian tutur Ciming. Kasih sayang yang diharapkan Ciming, namun ia menerima sesuatu yang lain. “Dengan kekerasan perhatiannya tuh, bukan dengan kelemah lembutan.”
Hukuman kejam sering Ciming terima dari sang ayah, diikat, dipukul dan disundut rokok yang menyala bahkan ia dibiarkan dikerubutin oleh semut sambil diikat menjadi pengalaman masa kecilnya yang membuat dia trauma.
“Saya sangat ngga kuat waktu orangtua saya menyiksa saya,” ungkap Ciming. Tidak berhenti disana, ia bahkan hampir dibunuh oleh sang Ayah. “Saya dimasukin ke karung, lalu dicemplungin ke air. Tapi tiba-tiba tetangga saya datang menolong. Karena hal itu saya dendam pada orangtua saya, nanti kalau saya sudah besar saya akan bunuh mereka.”
Ciming akhirnya bergaul dengan anak-anak jalanan, disanalah ia belajar melakukan kejahatan.
“Disana saya belajar kejahatan, mencuri, dan menodong.”
Bahkan diusianya yang baru 13 tahun, Ciming telah berani menusuk lawannya. Akibatnya, ia harus melarikan diri dari kejaran kelompok preman lain agar tidak terbunuh.
“Kalau ketemu, saya pasti mati dibunuh,” ucap Ciming. “Saya lari ke Lampung. Selama beberapa hari itu, yang saya makan cuma pisang busuk. Menderita saya di Lampung.”
Tidak tahan tinggal di jalanan, akhirnya Ciming mencari pamannya yang juga tinggal di Lampung. Ia tinggal bersama pamannya itu hingga ia mendapatkan pekerjaan. Namun bisa memiliki penghasilan sendiri malam membuat hidup Ciming makin parah.
“Ada duit itu tujuannya cuma satu, perempuan. Karena selama ini ngga ada yang memperhatikan saya, tidak pernah diperhatikan sama orangtua saya, sama mama saya, jadi carinya dari perempuan,” tutur Ciming sambil tersipu malu.
Namun pribadi Ciming tidak pernah berubah, ia adalah orang keras dan nekat. Sebagai seorang preman, tidak ada satupun yang ia takuti.
“Kalau saya orangnya nekad, kalau lingkungan saya diganggu orang, saya akan datangi preman yang penguasa itu. Mereka takluk dengan keberanian saya itu. Yang paling parah waktu teman saya ditusuk pahanya, saya tusuk lagi orang itu.”
Ciming benar-benar haus darah, hal itu bukan hanya kiasan, “Kalau saya sudah cabut pisau, orang itu harus saya tusuk. Darahnya saya jilat, kalau saya sudah jilat, saya baru merasa puas.”
Semua keberingasan Ciming itu karena sebuah keris yang ia miliki, “Keris itu kecil, kalau ada orang niat jahat, keris itu ngasih tanda. Kalau sudah keris itu nempel saya saya, dipukul orang sekampung pun saya ngga kerasa apa-apa. Tapi kalau saya mukul orang, sekali pukul orang itu langsung terkapar. Saya juga heran, saya pernah di keroyok, tapi mereka terkapar dan kabur semua.”
Sebagai seorang preman, ia tidak selalu beruntung. Suatu kali ia tertangkap oleh aparat dan harus mendekam di penjara. Namun dibalik jeruji penjara itu, kelakuannya bertambah aneh.
“Mungkin karena pengaruh obat ya, saya juga ngga sadar. Badan saya itu saya gigit dan saya hisap darahnya. Waktu saya sudah hisap darah itu, rasanya seperti sangat rileks sekali.”
Ciming akhirnya berhasil keluar dari penjara berkat bantuan seorang saudara, hari dimana ia melangkah menuju kebebasannya ia membuat sebuah komitmen. “Saya ingin hidup benar, saya ngga mau lagi berbuat seperti dulu lagi.”
Namun keinginan sekedar keinginan, ia tetap saja kembali kepada profesinya sebagai seorang preman. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita dan menikahinya.
“Waktu saya ngga punya duit, istri saya ini mau sama saya. Saya ngga mau melakukan kekerasan sama dia. Tapi keinginan untuk ngobat, berantem dan judi itu masih ada. Sampai suatu hari istri saya itu ngejar-ngejar saya pakai sapu. Saya kabur aja, ngapain ngeladenin perempuan yang ngejar-ngejar saya pakai sapu.”
Sekalipun rumah tangganya tidak selalu harmonis, namun Ciming mencintai istrinya dan tidak melakukan kekerasan kepada istrinya. Namun kepada anaknya, tidak demikian. Ia masih ingat bagaimana masa kecilnya bagaimana orangtuanya keras kepadanya, herannya ia juga melakukan hal yang sama kepada anaknya.
“Saya sudah gelap mata, saya pukul. Saya suruh dia tidur diluar, ngga boleh masuk rumah. Tengah-tengah malam, saya ngga bisa nafas, dan Tuhan berbicara, ‘Anakmu, darah dagingmu.’ Saya bangun, saya minta maaf sama anak saya.”
Setelah peristiwa itu, Ciming mengalami sesuatu yang mengguncang jiwanya. Adiknya yang mengandung 7 bulan dan melahirkan. Sayangnya, adiknya tidak bisa terselamatkan.
“Tiba-tiba saya melihat seperti angin beliung berwarna emas di tempat adik saya itu. Lalu bagitu angin itu naik, adik saya sudah tidak ada.”
Kehilangan adik perempuannya dan mengalami sebuah pengalaman aneh seperti itu, membuat Ciming berpikir tentang kehidupannya. “Saya mulai berpikir nanti kalau saya meninggal gimana nih? Saya takut, karena badan saya ini kotor. ‘Kalau saya mati mau kemana ya?’ Adik saya ini rajin ibadah, dia cinta Tuhan. Ujan-ujan dia datang beribadah, saya pernah bilang, ‘Gitu ya melayani Tuhan, ujan-ujan harus pergi. Ngga ada hari besok!’”
Ingatan akan kesungguhan adiknya dan caranya meninggal yang memberikan kesan mendalam di hati Ciming membuatnya memutuskan untuk merubah hidupnya.
“Hal itu membuat saya tobat, membuat saya harus mempercayai Yesus sebagai Juru Selamat saya. Karena saya melihat adik saya..”
Ciming pun bersungguh menunjukkan perubahan hidupnya, ia sadar bahwa di luar Yesus dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia membutuhkan Yesus untuk bisa hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Ia pun meminta maaf kepada kedua orangtuanya dan juga memperbaiki hubungannya dengan istri dan anak-anaknya. Preman yang bengis dan haus darah itu, kini berubah menjadi pribadi yang lembut dan penuh kasih.

“Buat saya Tuhan Yesus itu adalah seorang pribadi yang saya banggakan,” ungkap Ciming. “Karena di dunia ini belum ada pribadi yang seperti Dia. Dia mengangkat saya menjadi kepala sampai saat ini.”



















Narkoba Terus Mengejarku Hingga di Negeri Orang

Tak kuasa menghadapi kuatnya jeratan narkoba, Hendy Yefta dikirim ke luar negeri oleh orangtuanya. Hendy akhirnya berangkat ke Taiwan di tahun 1999 untuk belajar bahasa Mandarin. Selain belajar, Hendy juga bekerja di sebuah restoran Perancis. Ditempat kerjanya itu, Hendy memulai kisah cintanya.
“Waktu itu Mickey adalah manajer saya, dan saya bekerja sebagai waiters,” tutur Hendy.
Setelah berpacaran selama beberapa waktu, akhirnya Hendy meminang Mickey dan melangsungkan pernikahannya di Taiwan. Namun, pernikahan yang dimulai dengan manisnya cinta itu tidak berjalan seperti yang diinginkan.
“Setelah menikah itu saya merasakan semakin banyak ketidak cocokan,” ungkap Hendy. “Karena saya juga masih muda, saja masih ingin main-main. Saya tidak perduli lagi sama dia.”
Hendy yang sering pulang dalam keadaan mabuk, membuat sedih hati istrinya. Namun Mickey mencoba menyelami perasaan suaminya itu. Namun Hendy tidak juga menunjukkan perubahan, hal ini membuat pertengkaran antara suami istri tidak terhindarkan lagi.
“Jadi kalau saya pulang itu, dia marah tapi saya selalu lebih galak dari dia,” tutur Hendy. “Jadi kalau dia marah-marah, saya bentak dia.”
Kondisi Hendy makin buruk, terlebih lagi ketika ia pindah kerja di tempat yang baru disana ia mulai terlibat dengan narkobak kembali. Ini bukanlah pengalaman pertama Hendy terlibat narkoba, ia dikirim ke Taiwan oleh orangtuanya juga karena sebelumnya pernah terlibat narkoba bahkan hampir mati karenanya.
“Mama melihat kalau saya sudah parah, akhirnya diputusin saya dikirim ke Taiwan dan hidup dengan cici saya. Jadi waktu saya di Taiwan itu saya sempat berhenti tiga tahun ngga pakai narkoba lagi. Tapi karena saya ketemu teman yang pakai narkoba, saya terjerumus lagi.”
Hendy mencoba menyembunyikan ketergantungannya pada narkoba dari sang istri, namun itu tidak berlangsung lama. Karena pada akhirnya Mickey memergokinya juga.
“Saya ngga bisa nyangkal lagi, saya cuma bisa bilang kalau ini cuma iseng-iseng aja, ini makai yang terakhir, habis itu saya ngga akan pakai lagi, dan dia percaya itu.”
Namun rayuan Hendy hanyalah sekedar rayuan gombal, karena semakin lama ia makin tidak bisa mengendalikan diri. Hal itu seringkali memicu pertengkaran hebat dengan istrinya.
“Rumah tangga saya seperti neraka,” demikian tutur Mickey dengan menggunakan bahasa Mandarin, karena ia tidak bisa berbahasa Indonesia.
“Seringkali kalau kami bertengkar, ujung-ujungnya keluar kata cerai,” Jelas Hendy.
Mickey memang sudah tidak kuat lagi menghadapi Hendy, namun dirinya tiak rela melepaskan suaminya itu karena jauh di dalam hatinya ia masih sangat mencintai Hendy.
“Saya masih berharap suatu saat dia akan berubah,” ungkap Mickey.
Namun ketulusan Mickey mencintai Hendy tidak dilihat oleh suaminya itu, Hendy bahkan bertindak makin nekat. Untuk memenuhi kebutuhannya akan narkoba, Hendy melakukan berbagai pencurian hingga suatu saat ia akhirnya tertangkap.
“Saya bilang sama istri saya kalau saya mau lepas dari narkoba. Jadi biarin saja saya dipenjara, siapa tahu selama beberapa bulan di penjara saya bisa lepas dari narkoba. Tapi setelah saya keluar dari penjara, saya tidak ada penyesalan. Satu hari saya keluar dari penjara, saya langsung cari telephone umum dan hubungi bandar narkoba.”
Setelah berusaha dengan segala cara, namun tidak berhasil lepas juga, Hendy akhirnya membuat kesimpulan bahwa narkoba itu adalah hidupnya. Ia tidak mungkin bisa lepas lagi. Hingga akhirnya ia pulang kembali ke Indonesia, namun ia menemukan bahwa kini tidak seorangpun yang peduli pada dirinya.
“Waktu itu pikirnya udah mau mati aja, harapan terakhir udah ngga ada. Tapi saat itu sepertinya Roh Kudus lembutin hati saya. Saya berpikir daripada mati, kenapa saya tidak coba rehabilitasi saja. Siapa tahu disana benar-benar bisa nolong saya.”
Diawal berada di panti rehab, Hendi sempat pesimis. Menurutnya ia sama saja seperti dipenjara. Namun ditengah-tengah keragu-raguannya, Hendi mengikuti ibadah yang dilakukan dalam rehabilatisi tersebut.
“Waktu ikut ibadah itu, saya pikir akan membosankan. Tapi waktu saya duduk disana, saya gabung sama mereka, saya merasakan sesuatu yang saya tidak dapat di luar. Saya merasakan damai sejahtera. Selain itu saya merasakan ada seorang pribadi yang tidak kelihatan tapi sayang sama saya, duduknya di sebelah saya. Dia selalu bilang, “Saya sayang sama kamu!” Itulah yang selalu saya rasakan.”
Di ibadah itu, Hendy mulai merasakan kehadiran Tuhan. Ketika ia menyanyi dan meninggikan nama Tuhan, ia menangis seperti anak kecil karena merasakan kasih Tuhan yang besar dalam hidupnya. Ia kini mendapatkan kasih yang selama ini dicarinya, kasih yang ia tidak pernah rasakan dari orangtuanya.
“Mulai hari itu saya mengakui, “Ternyata Tuhan, Engkau itu ada..Mulai hari ini saya mau ikut Tuhan. Tuhan tolong jamah hati saya.” Disitu pemikiran saya mulai berubah.”
Saat itu ada satu hal yang masih mengganjal di hati Hendy, mungkinkah Tuhan mengampuni semua dosa yang telah diperbuatnya?
“Tapi banyak dari saudara-saudara yang ada di sini (tempat rehab – red) yang menguatkan. Mereka bilang, “Tuhan bukan hanya mengampuni dosa, tapi Dia lupain semua karena sayang sama kamu.. dan Dia bisa mengubahkan hidup kamu jadi baru, mengubah yang jelek jadi yang baik asal kamu hidup di dalam Tuhan.” Disitu saya baru ngeh, ternyata Tuhan bisa.”
Perubahan yang sangat besar dalam diri Hendy membuat istrinya Mickey sangat bahagia bahkan hampir tidak percaya. Setiap kali Mickey mengunjungi suaminya, ia selalu mendengar bagaiman karya Tuhan Yesus dalam hidup Hendy.
“Dia selalu bilang kalau percaya Yesus akan mendapatkan hidup kekal,” demikian tutur Mickey. “Disitu pelan-pelan saya menyadari bahwa dalam hidup ini tidak ada yang lebih penting selain Yesus.”
Selama satu tahun Hendy berada di tempat rehabilitasi tersebut, dan ia pun telah melepaskan pengampunan kepada orangtuanya yang terlalu sibuk sehingga kurang memberikan perhatian dan kasih sayang padanya. Kini, Hendy telah memulai lembaran kehidupan baru bersama Mickey dalam pimpinan Tuhan Yesus Kristus.

“Saya sekarang merasa berguna, Tuhan bilang bahwa saya adalah pribadi yang mulia dan Tuhan punya rencana bagi hidup saya. Dan sekarang saya bangga bisa jadi pelayan Tuhan,” demikian ungkap Hendy menutup kesaksiannya.





















Ingin Cepat Kaya, Jonathan Jadi Pencopet dan Penodong

Dilahirkan dalam keluarga yang miskin membuat Jonathan Hutabarat harus bekerja keras sejak kecil. Sekalipun ia tahu bahwa orangtuanya mengasihinya, Jonathan menyimpan rasa pahit dan dendam karena ia harus melalui penderitaan yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak-anak seusianya.
“Saya harus memanjat pohon kelapa setiap pagi kurang lebih 10 baru bisa berangkat sekolah. Hal itu saya alami selama kurang lebih sepuluh tahun. Saya lihat rekan-rekan saya, bangun tidur jam 6, mandi langsung berangkat sekolah. Tapi saya kok seperti ini, hal itu terasa sangat sakit dan saya sangat malu. Dalam hati kecil saya memang menyimpan dendam. Beberapa kali kalau saya memanjat pohon kelapa, sepertinya saya ingin melepaskan tangan saya. Karena kehidupan begitu pahit dan saya tidak berdaya. Apa bila saya tidak melakukannya akan terjadi masalah besar,” demikian tutur Jonathan.
Ayah Jonathan adalah pribadi yang keras dan disiplin, jika anak-anaknya salah pasti dipukuli. Itu sebabnya Jonathan sudah dituntut mandiri sejak ia kecil, baginya tidak ada waktu untuk bermanja-manja seperti anak-anak kebanyakan.
“Bagi saya Tuhan itu ngga ada. Tuhan itu ngga benar kalau penuh kasih,” ungkap Jonathan. Ditengah keputusasaannya, Jonathan memiliki sebuah permintaan pada Tuhan yang tidak lagi ia percaya. “Tuhan, biarlah saya jatuh atau tergelincir dan mati.
Tekanan kehidupan yang berat dan juga cara didik ayahnya yang keras telah membentuk Jonathan kecil menjadi pribadi yang kasar.
“Karena siapa yang kuat, siapa yang keras, itulah yang berkuasa,” demikian Jonathan mengungkapkan kepercayaannya.
Sudah lelah dengan kemiskinan yang ia rasakan sejak kecil, Jonathan yang telah bertumbuh menjadi pemuda memutuskan untuk pergi merantau dengan satu tujuan pasti, menjadi orang yang berhasil dan kaya.
“Saya mau menghalalkan segala cara, yang penting saya bisa kaya, bisa dapat uang, dan saya pikir dengan uang itu akan memberi saya kekuasaan.”
Jonathan tiba di ibu kota Jakarta dengan harapan yang besar, namun kenyataan tidaklah seindah mimpinya.
“Kejam ibu tiri, lebih kejam ibu kota. Itulah yang saya rasakan,” ungkap Jonathan. “Tidak ada yang menampung saya di Jakarta. Saya masuk dalam komunitas di terminal. Saya lihat tidak ada kasih disana, dan benar bahwa siapa yang kuat, siapa yang berani, dia yang hidup. Akhirnya saya masuk dalam komunitas pencopet.”
“Saya tidak lagi punya hati nurani ataupun belas kasihan. Saya tidak peduli siapa korban saya, yang penting saya dapat uang.”
Nama Jonathan semakin dikenal dalam dunia kejahatan karena sepak terjangnya. Bahkan ketika ia harus berada di balik jeruji penjara, hal itu tidak mengubahnya sedikitpun.
“Memang ketika pertama penjara itu mengerikan. Namun ketika kita masuk dalam kegelapan itu, yang gelap itu malah menjadi terang bagi orang-orang yang gelap. Dari penjara itu saya malah mendapat bekal untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi.”
Sekeluarnya dari penjara, Jonathan langsung beraksi kembali. Namun kembali, kali ini dirinya tidak cukup beruntung.
“Kami tidak tahu kalau di dalam ada aparat. Jadi ketika kami melakukan penodongan itu, aparat tersebut melawan. Akhirnya kami kabur, dan massa mengejar kami. Tidak ada lagi pengharapan, karena hanya kematian yang sudah menunggu.”
Pukulan bertubi-tubi menghujam tubuh Jonathan dan seorang temannya yang melakukan penodongan itu. Massa seperti tak ada ampun lagi bagi pelaku kejahatan seperti mereka. Di saat menghadapi detik-detik kematiannya itu, tiba-tiba Jonathan mengingat sebuah kejadian di penjara.
“Saya mengingat kasih Tuhan yang pernah saya rasakan di penjara. Tuhan itu mengasihi saya, Dia mengasihi orang berdosa. Dia mau memberi kesempatan pada orang yang mau berubah. Pada saat itu juga saya berkata pada Tuhan, “Berilah saya kesempatan hidup, sekali ini saja kalau Kau inginkan saya untuk bertobat.””
Tuhan mendengarkan seruan Jonathan, sekalipun ia luka parah namun nyawanya selamat. Kali ini ia harus kembali ke penjara, disana ia mulai berpikir dalam-dalam tentang hidupnya.
“Ada terpikir bahwa saya harus bertobat. Bahwa saya harus mencari sesuatu yang disebut perlindungan yang abadi. Saya sadar bahwa saya tidak akan pernah menemukan itu..” terang Jonathan.
Dipenjara itu, ia terus bertanya-tanya apakah ia bisa menemukan perlindungan abadi itu. Hingga suatu saat ia bertemu seseorang.
“Saya bertemu dengan seorang rohaniwan di penjara, dia memberi saya pengajaran-pengajaran tentang pengenalan Kristus. Dia bukan hanya manusia, tapi juga Tuhan. Dia mengetahui hati kita, bahkan dikatakan sekalipun orangtua kita meninggalkan kita, tapi Dia sekali-kali tidak pernah meninggalkan kita.”
Disitulah Jonathan memutuskan, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi sekeluarnya saya dari penjara, tapi saya percaya Engkau Tuhan sanggup menolong aku.”
Setelah menjalani masa hukumannya, Jonathan mulai memperbaiki kehidupannya. Kini perubahan kehidupannya dapat dirasakan oleh istri, anak-anak bahkan mereka yang pernah mengalami masa suram seperti dirinya. Kini Jonathan memberikan hidupnya sepenuhnya untuk melayani orang-orang bermasalah dengan membangun sebuah panti rehabilitasi yang diasuh olehnya bersama istrinya.

“Kasih yang besar yang saya terima dari Kristus begitu luar biasa, dan saya akan membagikan kasih Kristus itu kepada mereka. Di dalam Kristus ada kasih yang sempurna. Ada kasih yang membawa kita kepada pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.”





























Musik Metal Buat Apron Dirasuki Setan

Musik metal awalnya hanyalah hiburan bagi Apron Stamril, namun tanpa disadarinya musik-musik pemuja setan tersebut lama kelamaan membuat dirinya seperti dirasuki oleh setan.
“Saya mulai melukis-lukis tembok-tembok itu dengan segala penghuni neraka. Saya mulai gambarkan monster-monster, saya mulai gambarkan ada api, tengkorak-tengkorak. Mahluk-mahluk itu adalah keluarga saya. Pikiran dan hidup saya mulai dirubah, saya seperti bukan si Apron lagi.”
Tidak berhenti sampai disana, prilaku Apron pun berubah menjadi beringas dan suka kekerasan. Suatu kali, hanya karena seseorang melihatnya dengan pandangan aneh, Apron dan teman-temannya memukuli orang tersebut.
“Dia jatuh ke got, masih kita injak-injak. Saya ambil batu lalu pukul kepalanya. Lalu teman saya berkata, 'Udah-udah, kita pergi.' Baru beberapa langkah, ada suara dalam hati saya seperti meneriakkan kepada telinga saya, 'Habisin aja!' Lalu saya balik lagi, dan menginjak-injak dia. Saya ngga tahu orang itu mati atau ngga sampai sekarang.”
Kekerasan dan keberingasan Apron tidak hanya dilampiaskan kepada lawan berkelahinya saja. Bahkan ia melakukan fantasi seks yang gila dan penuh kekerasan kepada kekasihnya. Dengan mencekik dan memukuli kekasihnya, pribadi lain dalam diri Apron seakan dipuaskan.
Namun setelah melakukan berbagai tindakan jahat itu, Apron terkadang menangis. Batinnya merasa tersiksa oleh semua tindakannya, namun ia tak mengerti mengapa ia terus melakukannya. Hingga suatu hari, sebuah rahasia terkuak. Sang kakak menceritakan bahwa saat ia masih kecil, ibunya hampir saja melemparkan dirinya ke tungku api.
“Mendengar kejadian itu, hati saya jadi sedih. Ternyata saya ini memang anak buangan ya..”
Namun ia tahu, ibunya saat itu melakukan tindakan nekat itu karena tertekan dan mengalami gangguan jiwa akibat siksaan sang ayah. Tak jarang sang ayah memukuli ibunya tanpa rasa kasihan di depan matanya. Hal tersebut membuatnya membenci sang ayah.
“Sampai suatu kali muncul pikiran gila, 'Pengen ku bunuh nih orangtua..” tutur Apron.
Kebenciannya pada ayahnya semakin dalam saat melihat ibunya yang sering kerasukan dan mengalami gangguan jiwa akibat tidak kuat mengalami siksaan mental dan fisik dari sang ayah. Sejak itulah ia mulai masuk dalam kehidupan jalanan dan terjerat dalam musik-musik pemuja setan.
Belum sempat mewujudkan keinginannya untuk membunuh sang ayah, Apron mengalami sebuah penyakit yang sangat menyiksanya. Karena sudah putusasa, Apron menghubungi kakaknya dan sebuah nasihat dari sang kakak menjadi titik balik kehidupannya.
“Sudahlah kau harus banyak berdoa. Kau harus terima Tuhan Yesus,” demikian nasihat sang kakak.
Sang kakak mengirimkan uang agar Apron membeli Alkitab. Saat hendak membeli Alkitab, mata Apron tertuju pada sebuah buku yang berjudul, “Dibebaskan Dari Jerat Iblis.” Judul buku itu begitu mengusik hatinya dan membawa langkah kakinya ke sebuah ibadah. Disana Apron berseru, “Tuhan, aku ini jahat. Masih mungkin ngga Engkau terima saya. Kalau Tuhan mau terima saya, aku akan berikan hidupku kepada-Mu.”

Sejak hari itu pemulihan demi pemulihan dialami oleh Apron. Kaset-kaset lagu metal itu dibakarnya, bahkan Apron meninggalkan rokok, minuman keras dan kehidupan seks bebas. Pada hari itu ia berkata, “Tidak akan lagi hal itu menyentuh hidup saya, hanya Yesus yang bisa menyentuh hidup saya,” demikian Apron memproklamirkan kebebasannya dari perbudakan setan.









Bila Aku Sudah Dikuasai Ketakutan, Aku Jadi Lumpuh

Pada waktu itu, memang kakak saya bilang kalau mau berhasil saya harus sekolah di Jakarta. “Pokoknya Mas mau kamu sekolah di Jakart!” begitu kata kakak saya yang laki-laki. Jadi, saya turuti saja. Jadi ketika saya lulus SMP, saya ke Jakarta. Di Jakarta, saya mengulang pelajaran kelas 1 SMA agar nantinya saya bisa mengikuti kelas 2 IPA.
Keengganan saya dalam sekolah di Jakarta terbukti. Pada saat itu, saya punya jadwal mengikuti kelas Jerman. Tiba-tiba saja saya disuruh menjawab pertanyaan. Saya bilang, “Pak, saya benar-benar tidak bisa, karena saya belum pernah belajar bahasa Jerman.” kata saya pada guru yang mengajar. Saat itu saya diejek oleh teman-teman dan juga guru tersebut mengatakan bahwa kami semua diharuskan bisa.
Mulai saat itu, saya bertekad untuk mengejar ketinggalan saya. Saya rajin mengulang dan mempelajari pelajaran yang belum saya kuasai. Itu buat saya benar-benar beban karena waktu belajar saya juga tidak banyak. Bukan hanya itu, pergaulan saya pun jadi terbatas. Pernah suatu kali ketika saya mau pergi ke pesta ulang tahun, ketika saya hendak pamit, kakak ipar saya bilang, “Ya sudah, kalau sudah sampe sana, ambil kue langsung pulang saja.” Saya pikir, buat apa saya ke sana kalau gitu.
Saya tahu dia masih menganggap saya anak-anak waktu itu, tapi itu membuat saya stress, membuat saya tidak bebas. Menurut orang kan masa SMA itu masa yang paling indah, tapi menurut saya tidak. Memang kakak saya itu sayang, takut kalau saya brutal, tapi itu membuat saya jadi terkekang. Akhirnya saya hanya bisa diam dan memendam di dalam hati. Hal itu makin menambah beban pikiran saya.
Saat di tengah ujian masuk kuliah, rasa sakit yang luar biasa mulai mengganggu. Apalagi ternyata soal-soal yang diujikan adalah soal-soal waktu kelas 1 SMA. ‘Ini nih yang tidak saya suka,’ begitu pikir saya waktu itu. Akhirnya saya mulai sakit kepala. Tekanan agar bisa masuk kuliah mulai menyerang saya dan membuat kepala saya begitu sakit. Akhirnya ketika saya tidak diterima dimana-mana, itu seperti membuat cita-cita saya kandas.
Tiap kali batin tertekan, rasa sakit kepala itu menyerang saya. Mungkin buat saya, saya kan tidak ada teman, jadi kalau ada apa-apa, semuanya saya pendam sendiri. Paling tidak tiga hari pasti saya tergeletak. Bagi saya kalau sudah seperti itu, tidak makan malam juga tidak apa-apa, yang penting saya bisa istirahat tidur.
Bukan perhatian yang saya dapatkan tapi malah perkataan ketus dari sang kakak ipar yang saya terima. Saya merasa sangat sedih dan takut. Sakit kepala saya itu bukan sakit kepala biasa. Pokoknya kalau sudah mendera, saya tidak bisa pergi ke sekolah deh. Kakak ipar saya malah bilang, “Kalau sakit, ketok aja pake palu, kan selesai?”
Rini tetap berusaha menyenangkan kedua hati kakaknya. Suatu malam, saya berkeluh kesah pada kakak laki-laki saya. Saya tidak pernah dikasih uang sepeser pun untuk uang jajan atau transportasi. Jadi ketika malam itu kakak ada di rumah, saya memberanikan diri mengutarakan uneg-uneg. Seringkali saya harus lihat dulu bagaimana mood-nya kakak atau bagaimana perasaan dia. Kalau dia bisa didekati, baru saya dekati. Untuk minta ini, minta itu rasanya berat gitu sementara kebutuhan terus berjalan.
Protes saya tersebut ternyata berbuntut pertengkaran antara kakak dan istrinya. Untuk menebus kesalahan saya, sekuat tenaga saya menahan sakit di kepala yang semakin menjadi-jadi. Saya coba minum obat sakit kepala biasa, tapi tidak ada pengaruh.
Menyadari sakit migrain yang semakin parah, akhirnya saya ke rumah sakit bersama kakak saya. Sewaktu mengambil obat, saya tanya kepada kakak saya, “Mas, saya itu sebenarnya sakit apa sih?” Lalu kakak saya menjawab, “Sebenarnya kamu itu kena gangguan pada otak kamu, jadi kamu tidak bisa mikir. Itu karena kamu stress.”
Waktu saya dengar itu, air mata saya jatuh. Pantesan saya tidak bisa mikir, jadi digimanain juga tetap aja ga bisa mikir. Ada juga malah stress kan? Udah blank… Kenapa juga baru sekarang saya tahu, kalau sudah tahu dari awal kan ngapain juga dipaksain kuliah?
Di mata saya, rasanya tidak ada harapan lagi untuk memiliki masa depan. Keputusasaan dan intimidasi menghujam hati saya. Saya takut masa depan, takut mati juga. Kalau migrain, kan saya tidak bisa tidur. Di situ ada bisikan. “Udah, kamu bunuh diri aja, kamu bunuh diri aja.” Saya pikir lha saya takut mati kok malah disuruh bunuh diri? Saya akan kemana kalau bunuh diri?
Saya terus menyimpan kesedihan dan rasa sakit yang menyiksa, depresi yang hebat juga mengambil seluruh kehidupan saya. Memang turun dari tangga, tidak bisa jalan. Untung saya mengajak teman. Akhirnya di sana, saya pingsan.
Nasib buruk tetap saya alami. Ketika saya kemudian mengalami kelumpuhan, hubungan saya dengan kakak ipar saya mulai merenggang. Kakak ipar kan tidak mau ngomong saya, dia mendiamkan saya. Saya tambah beban lagi, sudah saya sakit tambah didiamkan. Kan saya makin tidak bebas. Mungkin sakit kepala saya ini bisa sembuh beberapa tahun kemudian, tapi bagaimana dengan kaki saya?
Saya sudah benar-benar putus asa. Dengan sebuah keberanian, saya menghubungi kakak yang lain. Kakak perempuan saya itu kemudian datang dan terkejut melihat keadaan saya. “Lho lho lho, kok kamu tidak bisa berdiri? Kok kamu seperti daging yang tidak ada tulangnya?” itulah tanggapan kakak saya waktu itu. Saat itu, saya pengen segera keluar dari rumah itu. Saya nggak usah kuliah dulu deh.
Berawal dari sebuah telepon dari seorang teman yang menyarankan agar saya didoakan, sebuah titik terang tampak di hadapan saya. Di rumah seorang hamba Tuhan, saya kemudian menceritakan isi hati saya untuk pertama kalinya. Saya ditantang oleh hamba Tuhan tersebut.
“Kamu mau sembuh?” katanya.
“Mau,” kata saya
“Kamu percaya?” Waktu ditanya itu, saya agak diam juga.
Lalu Pak Ferry Panjaitan berkata, “Saya juga sudah mengalami kesembuhan. Kalau kau rasakan sakit kau harus katakan begini, ‘Oleh bilur-bilur darah Yesus, saya sembuh. Itu hanya perasaan daging’,” katanya. Itulah yang saya katakan.
Untuk kedua kalinya, saya kembali ditantang. Saat itu, saya mulai memiliki keyakinan untuk sembuh. Sebuah mukjizat pun terjadi. Saya ditantang untuk dapat berjalan. Waktu itu saya berusaha agar bisa berjalan. Waktu disuruh lompat, saya mencoba melakukannya dan saya berhasil. Kenapa nggak dari dulu ya ketemu dengan Tuhan Yesus ya?
Saya semangat banget. Setiap hari saya terus mencoba berjalan walau untuk berdiri selama 5 menit saja saya tidak sanggup. Tapi saya tetap berlatih seakan ada suatu kekuatan baru. Kesembuhan itu membawa perubahan total dalam kehidupan saya. Saya bahkan mengambil keputusan untuk mengampuni kakak dan kakak ipar saya.
Memang dulu sebelum saya terima Tuhan Yesus, saya takut masa depan, saya takut mati. Tetapi, setelah saya mengenal Yesus, saya tahu hidup itu indah. Tuhan ijinkan masalah itu terjadi untuk memproses saya untuk semakin dewasa dalam iman kepada Tuhan. Dan saya tahu bahwa di dalam masalah itu, ketika kita mengucap syukur, ada mukjizat dan kuasa yang terjadi dan itu yang saya alami.

Kini bersama suami dan anak saya, saya merasakan kehidupan yang luar biasa tanpa dibayangi penyakit apapun. Buat saya, Tuhan Yesus itu dashyat luar biasa dan membuat saya ingin mengenal kasih-Nya lebih lagi dan saya juga rindu Tuhan Yesus terus ada menyertai kehidupan saya.



































Iwan, Rentenir Yang Tak Bernurani

Pekerjaannya adalah seorang rentenir, hobinya berjudi, dan ia suka bermain wanita. Pria yang tak bermoral ini bernama Iwan Siswanto.
“Capek enggak, pusing enggak, duduk manis di rumah, duit dateng terus,” demikian pengakuan Iwan. “Akhirnya semua orang kenal, kalau mau pinjem uang sama pak Iwan. Saya ini jadi pemberi pinjaman uang, rentenir.”
“Kalau ada orang yang tidak bisa bayar hutang, kalau dia kasih jaminan mobil, saya ambil mobilnya dan bawa ke show room. Saya jual semurah-murahnya, selakunya. Umpamanya lakunya tiga puluh juta, hutangnya dua puluh lima juta, saya ambil uang saya, lalu sisanya saya kasih ke yang punya mobil.”
Tidak hanya kejam terhadap para kliennya, Iwan juga tega mengkhianati istri yang sangat mencintainya. Hal ini bermula dari pertemuannya dengan seorang wanita yang merupakan teman lamanya.
“Dia punya salon, saya maksudnya untuk potong dan rapiin rambut. Lalu dia cerita pada saya bahwa dia sudah cerai dengan suaminya. Akhirnya dia ngajakin saya main judi,” tutur Iwan.
Iwan belum mengenal judi sebelumnya, namun karena wanita tersebut ia menjadi seperti kecanduan dengan judi dan main kartu.
“Cepat kebawanya saya. Diajakin judi, dikasih tahu caranya judi, akhirnya saya tertarik dan jadi tambah dekat dengan dia. Karena tambah dekat, akhirnya malam sering pulang berdua. Hingga akhirnya masuk kamar dan melakukan hal-hal yang terlarang. Sekali, dua kali, akhirnya keterusan, sampai akhirnya saya ngga pulang ke rumah.”
Iwan dibutakan oleh kecintaannya pada judi dan juga wanita selingkuhannya itu. Istrinya ia tipu dengan berbagai alasan, “Siang saya pulang, hanya nengok istri dan anak saja. Lihat, oh.. ngga ada apa-apa. Duit masih ada? Ya, udah. Saya kasih alasan sama istri saya ada urusan ke luar kota, dan dia percaya aja. Pada hal sebenarnya bukan keluar kota, tapi masuk kamar keluar kamar.”
Namun ketika hal itu terus berlangsung, istri Iwan mulai curiga. Istrinya mulai bertanya kepada adik Iwan dan diberi tahu bahwa dirinya ada di tempat judi. Tidak pernah menduka istrinya akan datang, Iwan yang saat itu sedang bersama wanita selingkuhannya di kamar kelabakan.
“Akhirnya dia marah besar sama saya,” ungkap Iwan yang saat itu juga langsung ditarik ke dalam mobil oleh istrinya. Dalam perjalanan pulang, istrinya yang masih sangat marah berusaha untuk bunuh diri dengan akan melemparkan diri keluar mobil, namun Iwan berhasil menahannya.
“Saya pura-pura bilang, ‘Saya masih sayang sama kamu…’ Sebenarnya itu alasan saya saja.”
Setiba di rumah, sang istri masih sangat geram. “Luar biasa marahnya, kalau mau tahu perempuan kaya macan, ya itulah istri saya.”
Iwan berusaha menahan istrinya yang mencakarnya dan memukulnya dengan segenap kekuatan. Karena tak tahan lagi, Iwan pun berniat membalas akan memukul istrinya. Pada saat tak diduganya, anak perempuan Iwan datang dan menahannya.
“Papa ngga boleh pukul mama!!” demikian teriak anak Iwan.
Sulatri, istri Iwan yang terluka karena pengkhianatan suaminya mengusirnya.
“Saya semakin benci sama dia,” ungkap Sulastri. “Saya pengen dia mati saja!”
Setelah pertengkaran dengan istrinya itu, tabiat Iwan makin menjadi-jadi. Dia makin jarang pulang dan tenggelam dalam perjudian bersama wanita selingkuhannya.
“Saya menjalani selingkuh itu kurang lebih lima tahun, sampai istri saya itu menyerah. Saya semakin jadi, judinya semakin jadi, selingkuhnya makin jadi, rentenirnya semakin jadi.”
Permintaan cerai istrinya tidak digubris Iwan, namun dia juga tidak mau berubah. Merasa putus asa dengan tingkah laku Iwan, Sulastri akhirnya memutuskan akan mengakhiri hidupnya.
“Karena saya perempuan, hati saya hancur. Suami saya sudah di rebut, buat apa saya hidup. Pada hal saya merantau karena mau ikut suami saya. Karena saya istri yang gagal, saya mau mengakhiri hidup saya,” demikian Sulastri bertutur sambil meneteskan air mata.
Siang itu Sulastri menyusuri rel kereta dengan penuh keputusasaan. Dia menantikan kereta cepat melaju ke arahnya sambil pikirannya terus berkecamuk dengan berbagai hal.
“Setelah kereta dateng, hampir 10 meter, Tuhan masih mengingatkan saya, ‘Jangan!’ Akhirnya saya buru-buru menghindar.”
Gagal dari usaha bunuh diri, Sulastri datang kepada seseorang dan menceritakan semua penderitaan yang sedang ditanggungnya. Orang tersebut dengan sabar mendengarkan dan berujar seperti ini, “Sudah, biarkan saja. Yang paling penting kamu bawa dalam doa masalah ini. Ngga usah dipikirin lagi, tapi bawalah dalam doa. Pasti Tuhan buka jalan..”
Malam itu, Sulastri melakukan apa yang dinasihatkan oleh temannya tersebut. Dia datang pada Tuhan dan berseru, “Tuhan, kalau Engkau ijinkan saya masih sama Iwan, tolong pulihkan keluarga saya. Saya serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan..”
Hati Sulastri yang berserah kepada Tuhan, membuat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya terjadi. Selang beberapa minggu dari ia mulai berdoa dan berserah, wanita selingkuhan suaminya itu sakit, mengalami koma dan langsung meninggal dunia. Tapi sekalipun wanita selingkuhannya telah mati, Iwan masih terlibat dalam perjudian. Hingga suatu hari, tempat ia berjudi di grebek oleh polisi.
“Saya ditangkap, saat itu saya marah, emosi dan sedih juga,” demikian pengakuan Iwan. “Kenapa saya bisa ditangkap?”
Dibalik jeruji itu, Iwan merenungkan lika-liku hidupnya. “Saya merenungkan apa yang selama ini saya lakukan ternyata salah. Hati nurani saya mengatakan bahwa saya harus bertobat. Apa yang saya lakukan itu seperti terbayang di mata saya, berjudi, main perempuan, jadi rentenir. Saya teriak di penjara, “Tuhan sekalipun saya ngumpet di lobang semut, Engkau pasti menemukan saya! Pada saat ini juga Tuhan, saya mohon ampun. Saat ini juga Tuhan, saya mau kembali kepada-Mu!” Saya menangis saat itu, karena saya merasakan Tuhan mengasihi saya. Tuhan masih mau menerima saya. Apa yang dulu saya senangi, sekarang seperti ngga ada artinya. Saya kemudian merasakan kedamaian, tidak lagi merasakan kebencian, kemarahan, dan dendam.”
Penyesalan mendalam itulah yang Iwan rasakan saat istrinya dengan tulus mengunjunginya.
“Sangat-sangat menyesal, disaat bertemu dengan istri saya menangis. Saya ngga bisa mengatakan apapun, hanya bisa minta maaf saja. Hati saya sungguh-sungguh hancur, setelah apa yang saya perbuat, mereka tetap mengasihi saya. Bahkan setiap hari mengunjungi saya, membesuk saya.”
Sewaktu Iwan memeluk dan minta maaf kepada Sulastri, saat itu juga hubungan keduanya di pulihkan. Semua dendam dan sakit hati telah digantikan oleh kasih Tuhan. Setelah 150 hari dipenjara, Iwan akhirnya di bebaskan. Ia bukan hanya bebas secara fisik, namun ia juga merasakan kebebasan dari semua keterikatan dan dosa-dosa masa lalunya.
“Apa yang dulu pernah saya perbuat kepada istri dan anak-anak saya, saya tidak akan melakukan lagi. Itu janji saya kepada Tuhan. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus, karena tanpa Dia, tanpa kasih-Nya, tanpa kemurahan-Nya, ngga mungkin saya bisa seperti sekarang ini. Karena hidup saya sudah hancur, hidup saya sudah tidak bermoral, hidup saya sudah rusak, di mata masyarakat saya sudah dianggap sampah. Tapi di dalam Tuhan Yesus, saya masih berharga dan Tuhan masih mau terima saya. Apapun adanya saya,” ungkap Iwan.













Ketika Jimat Menguasai Hati Baskami

Dalam kehidupan ini, setiap orang ingin mendapatkan keamanan dan kekuatan yang tak terbatas, bahkan demi mendapatkannya berbagai cara ditempuh termasuk melakukan ritual dan pemujaan terhadap roh-roh jahat atau benda-benda bertuah. Salah satu orang yang terjebak adalah Baskami Tarigan, sejak kecil ia sudah diperkenalkan oleh sang ayah dengan dunia gelap itu. “Suatu hari dia sudah menyiapkan ramuan, dia membaca mantra sambil memegang keris. Lalu keris itu dicelupkan ke bahan yang sudah ipersiapkan, lalu air itu saya minum. Disitulah mulai ilmu itu diberikan kepada saya.” Namun dampak dari ilmu-ilmu yang ia warisi dari sang ayah membuat Baskami menjadi pribadi yang keras dan mudah emosi. “Dalam tubuh ini ada hawa panas yang mudah sekali buat saya emosi. Orang menatap muka saya saja langsung ada rasa marah. ‘Jangan-jangan orang itu ada dendam sama saya..’ Pemikiran seperti itu ada terus dalam diri saya dan membuat saya mudah emosi dan sering berkelahi.” Baskami mewarisi benda-benda bertuah dari sang ayah, yaitu : cincin, gelang dan kalung. Berbekal warisan sang ayah tersebut, Baskami dengan percaya diri membawa istrinya merantau ke kota Jakarta. “Saya bekerja di terminal Pulo Gadung, dan dipercayakan untuk mengusasi tempat itu. Istilahnya sebagai preman. Sering sekali saya berkelahi dan tiap hari saya mabuk. Jadi setiap kali saya pulang dari terminal, saya sudah mabuk.” Prilaku Baskami ini tidak pernah di duga oleh istrinya. Sewaktu masa pacaran dulu, ia adalah sosok pria alim dan jujur. Tapi setelah satu bulan menikah, semua rahasia Baskami tersingkap di mata istrinya. Tidak hanya menjadi sosok yang menyeramkan di mata lawan-lawannya, Baskami juga merupakan sosok mengerikan di mata anak-anak dan istrinya. Tidak perduli anak-anaknya masih balita, jika ia marah, ia memukul dan menendang mereka tanpa rasa iba. “Disitu saya merasa kecewa sekali,” ungkap Minah Susanti istri Baskami. “Satu hal yang membuat saya tidak lari dari dia itu, karena itu adalah pilihan saya.”
Hingga suatu hari, sebuah kesempatan terbuka bagi Baskami untuk bekerja di Korea. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya serta mencoba keberuntungannya di negeri gingseng tersebut. “Ketika disana, ada perasaan rindu sama istri dan anak-anak saya. Ada penyesalan yang muncul, saya ingat perlakuan saya pada istri dan anak-anak saya. Disitulah saya mulai ingat Tuhan. ‘Tuhan mengapa semua ini bisa terjadi? Kenapa saya harus pisah sama anak-anak dan istri saya?’ Saat itu saya ingat ada bingkisan yang diberikan oleh istri dan anak-anak saya. Saya buka koper, ternyata isinya Alkitab. Alkitab itu saya baca, disitulah saya mulai meneteskan air mata. Saya menangis. Selama saya memiliki ilmu itu, berapa kalipun berantam, atau seperti apapun masalah yang saya alami, saya tidak pernah menangis.” Cara Tuhan bekerja memang tidak dapat terselami, di negeri yang jauh itu, Baskami merasakan kasih mulai mengalir di hatinya bagi istri dan anak-anaknya. “Ketika saya berbicara kepada istri (melalui telephone – red), yang pertama saya katakan adalah saya minta maaf. Saya katakan kalau saya rindu kepada mereka. Saya rindu kepada anak-anak dan saya menangis,” tutur Baskami.
“Baru pertama kalinya itu dia bilang sayang sama saya,” demikian pengakuan Minah. “Mendengar dia bilang sayang, luar biasa air mata saya keluar. Karena selama saya bersama dia, ngga pernah dia panggil saya sayang.” Kata-kata sederhana yang diucapkan Baskami itu memulihkan hubungannya dengan istri dan anak-anaknya. Bahkan mulai muncul dalam hati Baskami untuk mencari wajah Tuhan lebih lagi.
“Tidak ada ketenangan dalam hati saya. Saya tanya-tanya sama orang Korea di tempat kerja saya dimana ada gereja di sini. Lalu dia tunjukkan. Saya sempat bergumul di sana. Saya berdoa disana, ‘Saya minta ampun Tuhan, kenapa saya harus pisah sama istri dan anak saya.’ Suatu kali ada seorang pendeta yang berkotbah mengatakan bahwa Yesus datang untuk membawa perubahan. Ketika dia berkotbah itu, saya sadar bahwa sesungguhnya saya perlu Yesus. Sesungguhnya hanya Yesuslah yang sanggup mengubahkan hidup saya, dan itulah yang saya cari. Disanalah saya mulai mengerti siapa diri saya sebenarnya, dan disanalah saya mengerti bahwa apa yang selama ini saya lakukan salah. Akhirnya saya melakukan pemutusan kutuk, baru setelah itu saya merasakan kedamaian.”
Setelah didoakan, Baskami memutuskan untuk membakar semua jimat yang ia miliki. Kini ia telah bebas dari segala ikatan, dan setelah tujuh tahun bekerja di Korea, akhirnya ia kembali kepada keluarganya. Keluarganya yang dulu hancur dan penuh kepahitan karena ulahnya, kini telah dipulihkan oleh kasih Tuhan yang mengalir dalam hidupnya. Sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia, mengubahkan seorang preman yang kejam menjadi pria yang lemah lembuh, mungkin bagi Tuhan.
Imelda, Memberi Inspirasi Dari Kursi Rodanya

Namaku Imelda Saputra, aku seorang penulis. Sebenarnya dulu aku tidak pernah berpikir akan menjadi seorang penulis, namun inilah cara Tuhan memakai aku menjadi penanya untuk menyemangati banyak orang sama seperti Ia menyemangati aku untuk menjalani hidupku.
Aku terlahir sebagai anak normal, namun saat aku masih balita orangtuaku menemukan sebuah benjolan di punggungku. Ternyata saraf kaki kusut di benjolan tersebut. Dokter menyarankan untuk operasi, tetapi ketika operasi dilakukan ternyata ada efek samping yang terjadi. Setelah operasi kakiku bengkok dan menciut. Akhirnya aku tidak pernah bisa berjalan, aku lumpuh.
Orangtuaku melakukan berbagai upaya agar aku bisa berjalan lagi, mulai dengan ke dokter, tukang urut hingga ke dukun. Aku ingat, setiap kali ke dukun, aku sering disuruh minum air yang telah dijampi-jampi. Tapi usaha yang dilakukan oleh orangtuaku selama bertahun-tahun sia-sia belaka, aku pun telah lelah dan hampir putus asa. Tapi setiap kali aku bilang, “Malas ah…” Orangtuaku kembali bertanya, “Kamu mau sembuh ngga?” Hal itu membuatku bangkit lagi dan mau mencoba lagi.
Hingga suatu hari, saat kami konsultasi dengan seorang dokter, dia memberikan sebuah nasihat yang berbeda. Bukan janji kesembuhan yang diberikan, dia menyatakan dengan jujur bahwa kemungkinan untuk sembuh itu sudah tidak ada. Dia meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku.
Mendengar aku akan sekolah, hatiku bergejolak karena sangat senang. Karena anugrah Tuhan, aku bisa sekolah di sekolah umum sekalipun aku cacat dan harus menggunakan kursi roda. Kadang memang ada orang yang memandangku dengan aneh karena keadaanku, tapi itu hanya di satu dua hari awal saja, selanjutnya, teman-teman dan guru-guruku bisa menerima keadaanku.
Sekalipun aku lumpuh dan harus beraktivitas dengan kursi roda, namun hal itu tidak menghalangiku untuk berprestasi. Bahkan ketika aku duduk di bangku SMP, aku cukup aktif dalam organisasi di sekolah. Aktivitasku sangat padat, kadang aku pulang sekolah antara jam dua atau setengah tiga. Setelah itu, kadang ada les yang ku ikuti. Namun karena aku duduk terus, dan kadang karena kesibukan aku tidak mengganti pampers, akhirnya terjadi iritasi dan membuat kesehatanku menurun.
Aku tidak pernah memberitahu orangtuaku tentang apa yang aku rasakan karena aku takut tidak diijinkan sekolah. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, suatu hari aku jatuh pingsan karena tidak tahan lagi dengan sakitku. Dokter memvonisku dengan penyakit dekubistus dan juga tipes akut sehingga aku harus di rawat di rumah sakit. Mulai bulan Mei di tahun itu, aku berhenti sekolah. Aku sudah tidak bisa bangun lagi, jadi aku hanya terbaring di tempat tidur tanpa daya.
Aku tertekan dan putus asa karena aku tidak bisa melakukan apa-apa, padahal biasanya setiap hari aku sibuk dengan aktivitas sekolah. Sering terbersit di pikiranku, kalau aku lebih baik mati. Tapi suatu hari seorang perawat datang dan berbincang denganku. Dia menceritakan tentang kesaksian hidupnya, dulu dia juga pernah sakit, bahkan mamanya pernah berkata, “Sudahlah Tuhan, ambil saja nyawa anak saya.” Tapi perawat itu berkata pada mamanya, “Ngga ma, aku pasti sembuh. Aku pasti sehat. Aku ngga akan mati. Aku akan melayani Tuhan.”
Perawat itu berkata dengan penuh kasih kepadaku, “Kalau aku bisa sembuh, kamu juga pasti bisa sembuh.”
Ketika perawat itu keluar dari ruanganku, aku langsung berdoa. “Tuhan terima kasih karena Engkau masih sayang sama aku. Aku mengasihimu Tuhan..” Kata-kata itu sudah lama tidak pernah ku ucapkan kepada Tuhan. Hari itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda di hidupku. Aku merasakan Tuhan melembutkan hatiku kembali.
Semangat hidupku pun bangkit, bahkan kesehatanku juga berangsung membaik. Suatu saat aku diingatkan kepada seorang kakak rohaniku. Hari itu juga aku menghubunginya. Di telephone itu dia berkata, “Mel, beberapa bulan lagi kita ada konser doa. Yuk ikut gabung melayani..”
Hal itu menjadi jawaban doa bagiku, aku ingin melupakan apa yang telah lalu dan memulai sesuatu yang baru. Hingga tiba di perayaan natal di tahun 2005, saat itu hamba Tuhan yang melayani memintaku untuk maju ke tengah.
“Saya mau berdoa buat kamu,” demikian ucap pendeta tersebut.
“Saya minta seorang perempuan untuk peluk dia..”
Aku berpikir, aku akan diapakan nih? Seorang teman datang memelukku dan hamba Tuhan itu berdoa untukku, saat itu Tuhan menyampaikan isi hati-Nya kepadaku melalui hamba Tuhan itu. Salah satunya adalah:
“Kamu akan nulis buku, kamu akan Tuhan pakai jadi penanya Tuhan.”
Sempat aku merasakan keraguan, “Bener nih Tuhan?”
Tapi saat itu juga Tuhan berbicara, “Aku yang akan melakukannya, bukan kamu.”
Waktu berlalu, karena kondisiku, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Akupun mulai banyak membaca, mulai dari buku, hingga berbagai majalah. Saat membaca sebuah majalah anak-anak, aku berpikir aku juga bisa menulis seperti itu. Akupun mulai mencoba menulis, ketika ada lomba menulis, aku kirim karyaku. Tapi saat itu, semua yang ku kirimkan di tolak dan dikembalikan semua.
Waktu berbagai karyaku di tolak, aku sempat merasa, “Udahlah Tuhan, memang aku ngga berbakat.” Beberapa lama aku sempat berhenti menulis, tapi perkataan hamba Tuhan yang berdoa bagiku terus teringat olehku. Aku ingat janji Tuhan itu, aku tahu kalau aku perlu bekerja sama dengan Tuhan. Jika aku mau janji Tuhan itu terwujud, aku harus terus menulis.
Aku tidak tahu darimana datangnya inspirasi itu, terkadang seperti Tuhan sedang berbicara atau mendiktekan sesuatu kepadaku. “Nanti nulisnya seperti ini.. awalnya seperti ini..” Tuhan hanya memberi tahu aku sedikit, kemudian aku harus mengembangkannya sendiri.
Selama beberapa tahun aku hanya menulis, tanpa ada tanda-tanda janji Tuhan itu terwujud. Hingga tiba di tahun 2008, sebuah penerbit menghubungiku.
“Imelda, bukunya di terima ya, kami terbitkan.”
Aku seakan tidak percaya, “Buku… penerbit.. buku yang mana ya?”
Itulah cerita bagaimana akhirnya buku pertamaku akhirnya diterbitkan. Aku merasa sangat senang lagi, ternyata memang janji Tuhan itu tidak pernah gagal. Kini semua nubuatan itu telah menjadi kenyataan.
Aku melihat karya Tuhan begitu ajaib, apa yang tidak pernah aku pikirkan, tidak pernah timbul dalam hati, Tuhan melakukan itu dalam hidupku. Hal itulah yang membuatku merasa Tuhan itu begitu luar biasa. Jika orang heran bagaimana aku bisa menulis buku, akupun juga heran. Tapi semua itu terjadi karena Tuhan. Dari semua yang terjadi itu, aku tahu bahwa hidupku penting, bagi Tuhan dan juga bagi sesama. Aku bersyukur untuk apa yang Tuhan lakukan dalam hidupku, apa yang terlihat buruk dapat Tuhan ubahkan menjadi kebaikan, bukan hanya untukku namun juga untuk orang lain.





















Sandy Suardi : Hidup Dalam Kebencian Kepada Ayah

Pada masa mudanya, kehidupan Sandy Suardi dengan teman-temannya banyak dihabiskan di terminal. Dia terlibat dalam narkoba, terlibat perjudian, dan juga menjual narkoba. Sandy merasakan kebebasan yang keluar dari dalam hatinya selama bergaul dengan teman-teman di jalan. Terbuai dengan kehidupan yang ditawarkan oleh dunia, Sandy semakin liar. “Saya berjalan bersama dengan teman-teman. Di sanalah saya merasa seperti orang yang merdeka pada waktu itu. Di jalanlah kami berkelahi karena kami sempat bertemu dengan musuh, geng jalanan lain. Kondisi saya waktu itu dalam kondisi mabuk berat. Saya pukul dia seolah seperti saya pukul papa saya.” Tentu saja ada alasannya kenapa dia ingin memukul papanya dan membayangkannya ketika memukul musuhnya. Pada waktu kecil, Sandy kalau pulang sekolah, buka pakaian dan langsung mandi di sungai. Waktu papanya tahu, dia langsung dilempari batu. Ketika dia keluar dari sungai dan ke tempat papanya, dia dipukul dengan ikat pinggang sampai tubuhnya memar dan sampai dia kesakitan. “Waktu Sandy mandi di kali, saya sangat marah sekali.” ucap ayah Sandy dalam kesaksiannya. “Tujuan saya memukul dia, karena saya ingin mendisiplinkan dia.” lanjutnya kemudian. Perlakuan sang ayah membuat luka yang dalam di hati Sandy, ditambah lagi kejadian tragis yang terjadi di depan matanya.
Suatu kali, sang papa marah kepada mamanya karena pisang yang dibelinya tidak karuan rasanya. Mereka sering berkelahi gara-gara hal kecil, mulai dari bertengkar mulut, saling mencaci maki, sampai kekerasan yang dilakukan oleh papanya. Hal-hal seperti itu sering dilihat oleh Sandy. “Saya peluk mama saya, saya juga bilang, ‘Papa jangan, papa jangan pukul mama’. Dari situlah muncul benih-benih kebencian di hati saya. Saya sempet berpikir, kalau saya besar, saya akan lawan papa saya, bila perlu saya bunuh papa saya. Karena saking bencinya kepada papa saya waktu itu.” itulah yang dirasakan Sandy saat menyaksikan pertengkaran orangtuanya.
Jadi, ketika Sandy memukul musuhnya, dia seperti melampiaskan semua kekecewaan yang dia alami kepada musuhnya tersebut. Dia pukul, dia injak-injak, sampai musuhnya minta ampun pun tidak membuat Sandy berhenti memukulinya. Bukan hanya itu, Sandy mencari jati dirinya dengan cara yang salah, ditambah lagi kepahitan terhadap ayahnya, Sandy mabuk-mabukan. Dia semakin hari semakin terjerat oleh kehidupannya yang sia-sia. “Saya berusaha merusak diri saya, supaya papa lihat diri saya itu, dia menangis lihat saya. Supaya papa itu kecewa. Saya berusaha membalas kepahitan saya dengan sikap saya. Pada waktu saya sedang minum, sepertinya masalah itu hilang begitu saja. Tapi begitu saya pulang ke rumah, melihat kondisi keluarga saya, melihat papa saya, saya merasakan kembali merasakan kekecewaan.” Jiwanya diselimuti rasa sakit hati dan dendam terhadap sang ayah. Perbuatan nekat pun siap dia lakukan. “Karena kehidupan yang penuh dengan tekanan, kebencian kepada papa disertai dengan kekecewaan dan kemarahan, membuat saya mengambil keputusan untuk bunuh diri. Saking marah dan jengkelnya, saya menabrakkan diri ke kendaraan. Saya saat itu ada di tengah jalan. Saya pikir “Ya sudahlah saya mati saat ini juga nggak apa-apa’.”
Namun, rupanya Tuhan berkehendak lain. Saat Sandy pasrah terhadap aksi bunuh dirinya tersebut, ternyata mobil yang hendak ia tabrak dapat berhenti tepat pada waktunya. “Justru kendaraan itu berhenti, dan marah-marah kepada saya.” kisah Sandy kemudian. Lolos dari maut, Sandy tetap menyimpan rasa sakit terhadap sang ayah sampai ke pernikahannya. Setelah menikah, sang istri pun menjadi korban pelampiasannya. “Saya melihat ada hal-hal yang mengganjal dalam hati saya, saya masih suka marah-marah, emosi yang tinggi, sehingga istri saya melihat saya itu seperti papa saya.” Tjandra Indralani, sang istri pun ikut berkisah, ”Kalau sudah marah, suami saya suka banting pintu, suka jedukin kepalanya ke tembok, begitu. Kadang-kadang remote TV dilempar begitu saja. Jadi kadang-kadang kita yang nggak tahu apa-apa, kok begini. Saya cuma berdoa, terus berpikir kenapa bisa begini, padahal dalam keluarga saya, saya tidak pernah diperlakukan begini.” Dan tentu saja, sang istri terus menjadi bulan-bulanan Sandy sampai suatu hari. Sandy diajak temannya untuk mengikuti kegiatan yang dikhususkan untuk pria. Di sanalah dia mengalami pengalaman baru. “Ada pergolakan dalam hati saya, ketika saya sedang menonton suatu tayangan tentang bagaimana seorang ayah mengasihi anaknya. Saya diingatkan bagaimana masa lalu saya. Bagaimana perlakuan papa kepada saya, bagaimana perlakuan papa kepada mama saya. Saya menangis saat itu juga. Saya diingatkan Tuhan bagaimana kehidupan saya yang dulu.” Kemudian Sandy teringat suatu pengalaman hidupnya sebelum dia mengikuti kegiatan ini. Dia masih mabuk berat saat naik angkutan untuk pulang ke rumah. Dia meminta supir untuk berhenti di jalan dekat rumahnya, namun anehnya kenek dan supir angkutan itu malah menurunkan dia di tempat ibadah. “Ketika tiba di tempat ibadah, saya mendengar sebuah nyanyian yang sangat indah.” Dengan rasa penasaran dalam hatinya, Sandi kemudian masuk ke tempat ibadah tersebut. “Ternyata ada beberapa orang yang sedang berkumpul, mereka sedang berdoa. Ketika itu, saya melihat sebuah cahaya yang sangat terang, begitu kuat sinarnya. Dan di balik cahaya itu saya mendengar sesuatu.” “Sandy, Aku mengasihimu. Sandy, Aku mengasihimu…” kata suara itu.
“Saat itulah saya langsung menangis terisak-isak. Di situlah apa yang saya alami selama ini, dengan beban yang begitu berat, terlepas oleh kata-kata itu. Saya mengambil keputusan untuk meninggalkan sifat-sifat saya yang lama, kebiasaan saya yang buruk. Diingatkan peristiwa masa lalunya tersebut, membuat hatinya tersentuh. Saat itulah Sandy merasakan hal yang berbeda. “Saya melihat bagaimana Yesus yang begitu luar biasa mau melepaskan pengampunan, sekalipun saya begitu hina, saya begitu kotor. Tetapi Yesus mau menerima saya apa adanya. Saat itulah saya mengambil keputusan untuk saya bisa berubah, dengan cara melepaskan pengampunan kepada papa saya. Saya merasakan kehangatan yang luar biasa. Ada damai sejahtera yang saya rasakan ketika saya mengatakan, ‘Papa, saya mengampuni papa, sama seperti Tuhan Yesus mengampuni saya’.” Sejak mengikuti kegiatan khusus pria tersebut, Sandy mulai berubah. “Selama itu, dia betul-betul berubah 100%. Dia tidak pernah marah-marah, bentak-bentak, dia yang dulunya tidak mau mengalah jadi mau mengalah gitu, jadi keluarga kita jadi harmonis kembali begitu.” kisah istrinya. Hilang sudah luka yang disimpannya selama bertahun-tahun. “Ketika saya mengambil keputusan untuk menempatkan Yesus dalam hati saya, saya bisa menerima papa saya dalam kondisi apapun juga.
“Sekarang Sandy tidak benci lagi kepada saya, sekarang hubungan saya dengan Sandy sangat harmonis dan mesra sekali,” ungkap sang papa, Gouw Siang Bie.

“Saya melihat Yesus sebagai bapak yang baik, tidak perlu banyak aturan, tidak perlu syarat ini dan itu, Dia mau menerima saya apa adanya. Setiap luka saya sudah disembuhkan oleh Tuhan Yesus.” kata Sandy mengakhiri kisahnya.
Setan Menuntut Tumbal Dari Rosida

Setan tidak pernah memberikan sesuatu kepada manusia secara gratis, dia akan menuntut banyak hal dari kehidupan orang yang sudah ada dalam genggamannya, bahkan dapat berujung maut. Sekalipun telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana setan menyiksa ibunya dengan sakit penyakit bahkan hingga meninggal dunia, hal itu tidak membuat Rosida Ciu mengurungkan niatnya untuk meneruskan profesi ibunya sebagai seorang dukun.
“Awalnya saya masih menolak. Tapi kalau saya terima, tapi saya ngga mau ada kekurangan sesuatu apa. Saya minta dicukupin semua. Saya bilang begitu,” ungkap Rosida dalam Solusi Life.
Syarat Rosida diterima oleh setan, ada 22 roh yang mengisinya dan dalam waktu singkat tempat prakteknya sebagai paranormal ramai didatangi klien.
“Ada yang minta jodoh, ada yang minta lihat rumah, hong sui, feng sui, gitu kan. Ada yang minta penglaris sama saya.”
Uang yang melimpah dari hasil menjadi paranormal membuat pribadi yang sombong dan mau menang sendiri dalam keluarganya.
“Rasanya bahagia, orang megang duit banyak kok,” demikian Rosida mengenang perasaannya masa itu.
Namun ditengah kesuksesannya itu, sang suami meregang nyawa karena berbagai sakit penyakit. Rosida mencoba menyembuhkan sang suami dengan ilmu dan kekuatannya sebagai paranormal, tetapi sia-sia.
“Sakit jantung koroner dan ada kista juga. Memang ada perkataan seperti ini, ‘orang lain manjur, tapi buat diri sendiri dan buat keluarga itu ngga ada (kasiatnya). Jadi saya minta sama orang lain lagi, tapi tetap ngga sembuh.”
Sang suami tercinta akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, namun hal itu tidak membuat Rosida jera bermain-main dengan setan.
Setahun setelah kematian suaminya, Rosida menikah kembali dengan seorang pria. Namun pernikahan itu tidak berlangsung lama, karena pria yang dinikahinya tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadanya.
Hingga suatu hari, sebuah penyakit aneh menjangkit Rosida, “Sudah ke dokter, udah professor, segala macam ngga bisa nyembuhin.”
Kian hari, kondisi Rosida makin buruk saja. Roh-roh itu menyiksanya, dan membuatnya seperti orang gila.
“Dari rumahnya sendiri lari-lari, katanya disuruh sama orang untuk matiin dia. Yang jelas tuh, dia seperti orang kehilangan ingatan,” demikan Wati Farida, kakakRosida menceritakan kondisi adiknya yang memprihatinkan kala itu.

Rosida sampai pada titik dimana dia tidak berdaya lagi, dan tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Apakah akhir hidupnya akan seperti ibunya? Adakah sesuatu yang terjadi yang akan mengubah jalan hidupnya? Simak kisah Rosida selengkapnya pada video dibawah ini.















Andreas Noya, Manfaatkan Jabatan Untuk Dapatkan Wanita

Harta, uang dan jabatan, hal ini seringkali membuat seseorang lupa diri. Inilah yang dialami oleh Andreas Noya ketika ia mendapatkan promosi sebagai manajer sebuah klap malam.
“Mungkin karena keangkuhan saya, dimana saya dapat posisi seperti itu dengan segala fasilitas yang saya dapat, akhirnya saya lupa diri. Perempuan-perempuan yang ngga mau sama saya, saya bisa cut mereka. Awalnya dari seperti itu. Malam ini saya tidur dengan ini, malam besok saya ganti tidur dengan ini.”
Namun pengkhianatan Andreas ternyata tercium oleh istrinya. “Jelas sakit hati, iya. Saya marah, iya. Namun tidak terpikir untuk saya membalas dia dengan berlaku seperti yang dia lakukan,” demikian ungkap Arum, istri Andreas.
Tapi kecurigaan istrinya tidak menciutkan nyali Andreas, dia malah semakin berani dan menjadi-jadi.
“Mulai dari tidak pulang satu hari, naik jadi tidak pulang dua hari. Mulailah disitu terjadi letupan-letupan di keluarga kami. Suatu hari saya mau pergi lagi, istri saya nahan.”
“Beri saya waktu juga dong,” demikian ujar istrinya.
Namun bukannya diperhatikan, tamparan yang diberikan oleh Andreas.
“Pada saat itu, saya merasa istri saya menjadi penghalang hubungan saya dengan selingkuhan saya. Jadi apapun saya lakukan untuk menyenangkan selingkuhan saya. Saya memukul dia pun tidak ada rasa bersalah. Intinya pada saat itu, saya benci pada istri saya.”
Tanpa daya Arum hanya bisa menerima perlakukan Andreas yang kasar, ia hanya bisa berlari kepada Tuhan dan berserah kepada-Nya.
“Saya belajar dari firman Tuhan sebagai istri harus tunduk kepada suami bagaimanapun keadaannya, apapun situasinya,” tutur Arum. “Waktu itu saya berpikir, ‘Aduh, berat sekali ya. Masa saya harus tunduk kepada suami yang seperti itu?’ Saya berdoa memohon kekuatan dari Tuhan agar bisa mengampuni suami saya.”
Mengampuni orang terdekat yang telah menyakiti kita bukanlah hal yang mudah, demikian juga Arum. Ia bergumul selama lima tahun untuk bisa mengampuni dan menerima suaminya itu apa adanya. Selama lima tahun itu pula, Andreas berkubang dalam perselingkuhannya. Hingga suatu malam, Andreas terjatuh dari motor yang dikendarainya.
“Tiba-tiba saya jatuh dari motor, tidak bisa bergerak lagi, dan tidak berdaya apa-apa.”
Andreas mengalami luka yang cukup serius, dan dirawat di rumah. Untuk melakukan segala sesuatu, Andreas harus dibantu oleh sang istri yang dengan setia merawatnya. Melihat kasih dan kesetiaan istrinya itu, Andreas mulai berpikir dan merenungkan semua yang telah ia perbuat kepada pasangan hidupnya itu.
“Dia begitu mengasihi saya, sampai tidak ada satu kata yang keluar untuk menyakiti saya saat itu. Saya mulai berpikir: kok pada saat seperti ini, bukan selingkuhan saya yang menolong saya. Bukan selingkuhan saya yang memperhatikan saya. Yang selama ini saya benci, dia yang mengasihi saya. Waktu itu saya bertanya dalam hati, istri saya punya kekuatan apa sampai dia bisa bertahan seperti ini?”
Akhirnya, penasaran dengan kasih yang dimiliki istrinya, Andreas memberanikan diri bertanya.
“Kok kamu bisa kuat sih?”
“Iya, saya punya Tuhan,” demikian jawab Arum.
Perkataan itu menyentuh hati Andreas, ternyata Tuhanlah yang bisa membuat istrinya tabah dan sekuat itu menerima siksaan batin dan fisik yang telah ia lakukan. Andreas pun menetapkan hati untuk berubah, bahkan ia mau mengikuti sebuah ret-reat yang dikhususkan untuk para pria yang ingin hidupnya berubah.
“Di satu sesi ditayangkan sebuah video klip yang menggambarkan bagaimana seorang ayah mengasihi anaknya. Dalam kekurangannya, ia berusaha penuh untuk menyenangkan hati anaknya ini. Hal sebaliknya saya lakukan, dengan kelebihan materi yang saya terima, saya malah melupakan anak saya. Itulah yang menyentuh saya dan membuat saya berkomitmen untuk meninggalkan semua yang pernah saya lakukan, terlebih yang telah menyakiti hati istri dan anak saya.”
Komitmennya, Andreas buktikan dengan perubahan hidupnya. Kehidupan keluarganya yang diambang kehancuran kini telah dipulihkan oleh kasih Tuhan. Hal ini adalah sebuah bukti, bahwa dengan doa dan ketaatan seorang istri yang takut akan Tuhan dapat memenangkan suaminya.

“Saya melihat suami saya sekarang setelah dipulihkan, suami saya benar-benar menjadi seorang pria sejati. Sekalipun suami saya tidak sempurna, tetapi dia jauh-jauh lebih baik dari yang dulu,” terang Arum.


























Mukjizat Itu Nyata, Aku Lumpuh Bisa Berjalan Lagi

Sebagai seorang bisnisman, Ahin adalah pribadi yang sangat aktif dan cekatan, bahkan ia sering bepergian ke luar kota didampingi oleh istrinya, Aing. Demikian juga pagi itu, di bulan Desember 2002, Ahin sedang menikmati sarapannya sambil menunggu istrinya berkemas untuk perjalanan mereka ke luar kota untuk sebuah urusan bisnis.
“Pagi itu biasa-biasa, ngga ada masalah bahkan sehat sekali,” ungkap Ahin.
Akhirnya, Ahian beserta istri pergi ke tempat tujuan dengan menumpang sebuah bus antar kota. Namun tidak berapa lama duduk di bus, pinggang Ahin terasa sangat sakit.
“Waktu itu musim dingin ya, jadi saya kira pinggangnya kena dingin,” demikian duga Aing.
Tidak tahan dengan sakitnya, Ahin mencoba berdiri, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ahin merasakan kesakitan yang amat sangat, bahkan ia tidak mampu lagi berjalan atau berdiri. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ahin pun akhirnya menjalani pemeriksaan medis, dan ketika hasil MRI keluar, dokter memberikan vonis yang sangat menyeramkan.
“Hasilnya, sudah ancur tulang bapak. Tulangnya keropos, itu sudah tidak bisa jalan. Kesenggol sedikit saja bisa patah,” demikian jelas dokter yang memeriksanya.
Berdasarkan pemeriksaan dokter, Ahin mengidap penyakit osteoporosis kronis, penyakit yang menyerang tulang punggungnya. Vonis akhirnya, Ahin akan lumpuh seumur hidup. Tapi Ahin tidak mau menyerah, ia menanyakan kemungkinan penanganan penyakitnya dengan operasi.
Namun sambil menggelengkan kepala, sang dokter menjawab, “Penyakit bapak sangat parah, kalau sukses kamu lumpuh, kalau ngga sukses kamu mati.”
Mengetahui vonis dokter ini, baik Ahin maupun istri dan anaknya sangat sedih.
“Istri saya nangis terus, saya bilang: Jangan nangis di depan muka saya, saya sangat sedih sekali.”
Aing, istrinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya itu akan menderita kelumpuhan di sisa hidupnya, padahal umurnya masih terbilang muda. Demi menyembuhkan suaminya, segala cara ia halalkan. Dukun, jimat, dan juga pengobatan tradisional di coba, namun semua tidak memberikan hasil apapun.
Ahin hanya bisa terbaring di ranjang, itu pun ia terus menerus merasakan sakit. Istri yang sangat mencintainya, dengan setia merawat dan menghibur Ahin. Tapi suasana di rumah itu telah berubah, tidak ada lagi gelak tawa dan sukacita, yang ada hanya jeritan kesakitan dari mulut Ahin.
“Teriakannya bukan teriakan biasa, satu gang di komplek itu sampai mendengar,” jelas Ferdian, anak laki-laki Ahin.
Rasa sakit, tidak berdaya dan lemah membuat Ahin merasa sangat marah dengan keadaannya. Bahkan ketika tahun demi tahun berganti, kondisi Ahin tidak juga membaik. Aing yang dengan setia terus merawatnya, pada titik tertentu juga merasakan kelelahan yang luar biasa.
“Bukan capai badan, capai hati,” ungkap Aing. “Kayanya kasihan banget. Kadang-kadang saya merasa terlalu sedih lihat hidup dia.”
Kepedihan Aing semakin dalam saat suaminya putus asa dan berkata, “Lebih baik, papa mati aja mah..” Keduanya menyadari, harta tidak bisa memberikan kebahagiaan dan hanyalah kesia-siaan ketika tidak bisa menikmati dan dirundung sakit penyakit seperti itu.
“Saya lebih baik seperti dulu hidup susah, tapi suami sehat. Daripada sekarang hidup lumayan, tapi suami sakit,” demikian ungkap Aing jujur.
Hampir tiga tahun berlalu, obat apapun tidak berdampak positif bagi kondisi Ahin. Suatu hari Ferdinan datang dengan membawa sebuah bulletin dan menunjukkannya kepada papa dan mamanya.
“Saya lihat di bulletin itu ada yang sakit, sembuh. Saya tanya sama istri saya, mau ngga kita percaya sama Tuhan? Siapa tahu saya bisa sembuh. Istri saya menjawab, kalau bisa sembuh, apapun saya akan percaya,” demikian jelas Ahin.
Bagi Aing, keputusan itu sudah bulat, itu adalah jalan terakhir yang ia miliki. Akhirnya keputusan bulan di ambil, seluruh keluarga memutuskan untuk percaya dan berserah kepada Tuhan yang mereka sebut dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Cara-cara lama disingkirkan, kali ini mereka belajar untuk memohon pertolongan pada Tuhan.
“Saya bilang, suatu hari pasti di jawab ini. Pasti sembuh!” demikian ungkap Aing yakin.
Suatu hari, sebuah ibadah besar tentang kuasa Tuhan diadakan di Ancol. Sebelum mereka berangkat, seluruh keluarga bergandeng tangan berdoa agar mukjizat Tuhan dinyatakan bagi Ahin.
"Sekitar setengah empat, saya pegangan tangan dengan keluarga saya berdoa, agar dapat Tuhan punya mukjizat,” jelas Ahin.
Usai berdoa, Ahin dibawa dengan sebuah tandu masuk ke dalam mobil dan dibawa ke Ancol. Dengan terbaring ia mengikuti ibadah itu didampingi seluruh keluarganya dengan satu harapan: mukjizat kesembuhan. Disana, ia dihampiri seorang hamba Tuhan.
“Pak Ahin, bapak percaya kalau Tuhan bisa sembuhkan pak Ahin?” tanya hamba Tuhan tersebut.
“Saya hidup untuk Tuhan, mati untuk Tuhan. Semuanya sudah saya serahkan,” demian jawab Ahin. “Begitu saya katakan seperti itu, belakang saya seperti terkena strom. Akhinya saya menangis, terus menangis sampai lama. Begitu selesai, saya miring ke kiri ngga sakit, miring ke kanan ngga sakit. Saya bilang, bisa turun ngga ranjangnya? Saya mau bangun.”
Mereka yang ada di sekitar Ahin terus berdoa ketika Ahin pelan-pelan dibantu bangun dari tandu tempat ia terbaring.
“Langsung saya bangun,” ungkap Ahin.
Seluruh keluarga kaget bahkan merasa tidak percaya pada apa yang terjadi. Mereka langsung menangis dan memuliakan Tuhan atas mukjizat yang terjadi di depan mata kepala mereka itu.
“Saya benar-benar bangga saat itu,” tutur Ferdian, “Inilah papaku, inilah yang membuat mengenal Tuhan itu tidak sia-sia.”
Hari-hari penuh penderitaan dan tangisan berakhir sudah, kini semua itu berganti dengan ucapan syukur dan kesaksian bagaimana tangan Tuhan berkarya dalam kehidupan keluarga Ahin.

“Saya mengucap syukur kepada Tuhan sudah sembuh. Saya sampai selama-lamanya tidak bisa lupa Tuhan,” ungkap Ahin dengan penuh sukacita.






















Hidup Tara Hancur Karena Permainan Sejenis Jailangkung

Di Indonesia kita kenal dengan sebuah permainan yang bernama “jailangkung”, sebuah permainan yang dianggap anak-anak sebagai sesuatu yang seru karena berkaitan dengan mistis, namun sebenarnya melibatkan roh jahat. Ternyata, di Amerika pun ada permainan serupa yang bernama “papan ouija”, papan dengan huruf alphabet dimana roh tertentu bicara dengan para pemain dengan menggerakkan tangan mereka pada huruf-huruf itu.
Tara Lawson, ketika berusia 12 tahun, seusai menonton sebuah film horror ia meminta ibunya membelikannya papan ouija. Begitu mendapatkannya, Tara pun bermain bersama adik laki-lakinya.
“Kami tidak menyadari bahwa papan itu ternyata lebih dari sekedar mainan,” ungkap Tara.
Kehadiran roh jahat langsung bisa dirasakan ketika mulai permainan itu.
“Tangan kami digerakkan ke seluruh papan dengan cepat,” jelasnya.
Ketika ayahnya masuk keruangan itu, Tara dan adiknya sambil tertawa girang berseru pada ayahnya, “Ayah, lihat! Bukan kami loh yang menggerakkan tangan ini..”
Sang ayah tertegun melihat permainan kedua anaknya. “Bermain seperti itu seperti melemparkan kutukan,” ungkap Bapak Lawson, ayah Tara.
“Berikan papan itu pada saya,” serunya, “Kalian tidak boleh bermain-main dengan papan ini lagi!”
Papan itu akhirnya di sembunyikan sang ayah, namun rasa penasan membuat Tara mencari dan menemukan kembali papan itu. Ia pun dengan diam-diam bermain dengan papan itu bersama adiknya.
“Saya tidak menyadari masalah yang akan diakibatkan dalam hidup saya. “Celah” yang telah saya bukakan dalam hidup saya, bahwa permainan itu ternyata adalah suatu kuasa gelap.”
Semakin ia bermain, semakin ia ketakutan. Tara akhirnya menyimpan papan itu di bawah lemari, namun rasa takut yang mencengkeramnya itu tidak mau pergi.
“Saya takut sekali hingga saya tidak bisa tidur, karena saya tahu papan itu ada dibawah sana.”
Tara akhirnya menemui sang ayah dan mengakui bahwa ia diam-diam bermain dengan papan ouija itu, akibatnya ia sekarang ketakutan dan tidak bisa tidur.
“Bisakah ayah membuangnya?” demikian pinta Tara.
Ara dan ayahnya akhirnya membakar papan itu bersama. Namun sepertinya permainan itu mengikat Tara, beberapa tahun kemudian ia kembali pada permainan itu, bahkan ia membuat papan itu sendiri. Kali ini ia bermain dengan seorang temannya, “Tangan kami digerakkan dengan begitu kuat. Ia (roh itu – red) mulai bicara hal-hal yang tidak sopan. Sebagai seorang remaja putrid, kami tertawa walau mulai merasa tidak nyaman kami tetap bermain. Kemudian tangan kami mulai digerakkan dengan sangat cepat, saya bahkan tidak bisa mengejanya, tapi saya lihat ada nama saya di sana. Ia katakan, “Aku akan membunuhmu Tara!” Hal itu ia katakan terus menerus. Hal itu akhirnya berhenti ketika kami mulai berdoa dengan doa “Bapa kami”, cuma itu yang kami lakukan dan roh itu pergi.”
Tara berhenti main papan ouija itu, namun kehidupan tara dikuasai oleh kesepian, ketakutan dan kekosongan. Celah kecil yang ia berikan kepada kuasa kegelapan itu kini telah berhasil menjajah dan menekan kehidupan Tara.
Hal-hal aneh mulai terjadi dalam kehidupan Tara. Barang-barang bergerak dalam ruangan saat malam hari. Ia bahkan mulai mendengar suara-suara aneh saat seorang diri.
Tara akhirnya menikah dan meninggalkan rumah orangtuanya, tapi kuasa gelap itu terus mengikutinya.
“Saya bisa mendengar sauara keras merapal mantra, saya tidak mengerti bahasanya, suaranya seperti bukan suara manusia. Suaranya sangat keras, saya pikir suara manusia tidak bisa sekeras itu.”
Lalu suatu malam, saat ia tidur bersama suaminya, suaminya terbangun dan melihat ke ruangan bawah. Suaminya terkejut karena ia melihat sosok bayangan gelap disana.
“Dia akhirnya berdoa dan mahluk itu pun menghilang,” ungkap Tara.
Namun itu bukanlah akhir, kuasa kegelapan itu berhasil menghancurkan rumah tangganya. Ia akhirnya berpisah dengan suaminya.
Suatu malam, saat tidur Tara bermimpi dirinya dibunuh dengan sangat sadis.
“Saya tutup mata saya dan katakan, ‘Tuhan, tolong keluarkan saya dari sini. Tolong selamatkan saya!’ Tiba-tiba ada yang menghentak saya; bahwa satu hari nanti saya akan mati dan saya tidak tahu apakah saya akan masuk sorga atau neraka. Lalu saya mulai berdoa dan berseru kepada-Nya: Tuhan, tolonglah, tolong tunjukkan bagaimana supaya saya bisa selamat. Saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tapi saya tahu, saya tidak mau ke neraka.”
Tuhan mendengar seruan Tara yang begitu putus asa. Keesokan paginya, jawaban doanya itu langsung datang.
“Esok paginya ada ketukan pintu di rumah saya dan saya pergi ke pintu, dan ada seorang pria datang sambil membawa Alkitab. Ia katakana, “Saya mau membacakan sedikit ayat dari Alkitab dan berdoa bagi Anda.””
Tara sangat terkejut, dia menerima pria itu dan mendengarkan pria itu membacakan ayat Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Tara akhirnya berdoa dengan dibimbing oleh pria itu untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Sejak itu, hidupnya berubah total.
“Hal itu mengubah segalanya,” demikian ungkap Tara, “Hal itu seperti membangunkan saya. Saya melihat segala sesuatunya dengan mata dan cara pandang baru, melalu mata Tuhan. Saya berubah, hari demi hari. Saya tidak pernah merasakan kasih yang sedemikian dalam hidup saya. Sangat luar biasa perubahan yang saya alami ketika Tuhan hadir dalam hidup saya. Dari gelap dibawa kepada terang.”
Tara kini melayani sebagai seorang konselor di acara 700 Club. Kehidupannya yang dihantui oleh roh jahat kini tinggal kenangan. Ia menjadikan hidupnya sebuah peringatan bagi orang lain agar jangan pernah bermain-main dengan roh jahat.

“Papan Ouija adalah sebuah pintu masuk bagi segala yang jahat yang terjadi, dan satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah berbalik kepada Yesus. Saya merasa bahwa Tuhan selalu ada melindungi saya, dan saya tidak perlu lagi kuatir. Bahkan saat saya sendiri, saya tidak lagi merasa sendiri, karena saya merasa Tuhan bersama saya. Dia tidak pernah meninggalkan dan mengingkari saya. Tuhan dapat membuat hidup saya indah. Ia dapat membuat hidup setiap orang indah,” demikian pesan Tara.
























Penolakan di Malam Pengantin

Setiap kali liburan, Elisa kecil selalu dititipkan di rumah neneknya sedangkan ayah dan ibunya pergi berjualan. Namun karena sang nenek harus bekerja di ladang, sehingga Elisa bermain di rumah tanpa pengawasan dari keluarganya. Saat itulah Elisa yang masih kecil mengalami pelecehan seksual dari seorang pria dewasa.
“Dia melakukan pelecehan terhadap saya, setiap hari selama satu minggu,” tutur Elisa.
Sepertinya pelecehan seksual itu menghantui kehidupan Elisa, dirinya bahkan mengalami kembali pelecehan seksual dari seorang teman kantornya.
Kebenciannya kepada laki-laki tidak hanya karena pelecehan seksual yang dialaminya saja, namun juga karena perlakukan kasar dari ayahnya yang ia alami sejak kecil. Bahkan sebelum pernikahannya, Elisa mengalami pertengkaran besar dengan sang ayah dan menerima pukulan bertubi-tubi.
Tanpa disadari oleh Elisa, traumanya terhadap laki-laki itu mempengaruhi kehidupannya pernikahannya. Malam pertama adalah saat-saat yang dinantikan oleh setiap pasangan, termasuk suami Elisa, Robert. Namun saat malam pertama itu tiba, Robert harus mengalami penolakan dari Elisa saat hendak melakukan hubungan intim.
“Saya ngga bisa..” demikian ucap Elisa berulang kali kepada Robert, namun Robert tetap memaksa.
“Saat itu yang saya lihat bukan dia, tapi orang-orang yang pernah menyakiti saya. Malam pertama itu, saya dan suami sama sekali tidak melakukan hubungan suami istri.”
Berkali-kali Robert membujuk Elisa untuk melakukan hubungan intim, namun penolakan yang ia terima. Robert bahkan memohon-mohon kepada Elisa, namun malah yang diterimanya adalah tendakan dan pukulan.
“Saya sempat jatuh dari ranjang gara-gara saya di dorong-dorong pakai kaki. ‘Pergi kamu..!’ Saya di usir-usir seperti itu..” demikian tutur Robert yang saat itu merasa frustrasi dengan ulah istrinya.
Kesabaran Robert ternyata sudah mencapai batas akhirnya, suatu hari ia melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayang akan ia lakukan.
“Saya bertindak kasar sama istri, saya seret dia, saya peluk dia, saya rangkul dia. Dia bilang, ‘Tega banget sih mas, kamu perlakuin aku kaya gini. Sampean ini cuma suka sama tubuh aku, ngga sayang sama aku. Ini nikmati tubuh aku.’ Dia nangis sejadi-jadinya, jujur kalau saya lihat air mata seperti saya tidak tahan,” ungkap Robert penuh penyesalan.
Namun perlakuan kasar Robert membuat Elisa merasa sakit hati. Karena merasa sang suami pun tidak menyayanginya, Elisa pun tergoda untuk berselingkuh dengan seorang pria yang menunjukkan perhatian kepadanya.
“Saya cari orang yang mengasihi saya, ya dia mengasihi saya, maka saya terima dia. Tapi saat benar-benar akan melakukan hubungan suami istri, tangan dan kaki saya langsung menendang dan memukul. Dia lepaskan dan dia katakana, ‘Ya udah, ngga apa-apa.’ Saya berhenti tidak berhubungan dengan dia lagi saat dia bilang, ‘Kita saling mencintai, kita saling menyayangi, itu anugrah dari Tuhan.’ Baru saya sadar, ‘Ya, cinta itu memang anugrah dari Tuhan. Tapi hubungan kita itu salah. Masing-masing telah memiliki pasangan, itu salah. Dan itu sangat berdosa.’”
Hingga suatu hari Robert yang sedang meniti karir di Jakarta, diajak oleh seorang teman untuk mengikuti sebuah ret-reat khusus untuk pria.
“Kesempurnaan laki-laki adalah sama dengan kesempurnaan Kristus. Disitulah saya mengalami pemulihan, saya bertobat dari segala dosa-dosa saya yang pernah saya lakukan kepada istri. Disitulah saya menemukan kalau istri itu benar-benar berharga. Saya menuliskan surat cinta buat istri saya. Disitu saya menemukan bahwa saya mencintai istri saya secara penuh.”
Sekalipun Elisa tetap tidak mau berhubungan intim dengannya, Robert tetap menunjukkan kasih sayangnya. Disitulah tumbuh rasa kasih sayang di hati Elisa kepada suaminya. Sekalipun telah menerima berbagai penolakan darinya, Robert tetap sabar kepadanya.
“Saya lalu berdoa kepada Tuhan, ‘Tuhan kalau Engkau sudah memberi saya seorang suami, meskipun awalnya saya ngga suka, tapi kenapa saya ngga bisa melayani dia. Tuhan, buat saya bisa.”
Kesabaran Robert membuahkan hasil, hubungan mereka semakin membaik. Elisa pun menerima perlakuan mesra dari Robert, walaupun tidak seutuhnya.
“Saya semakin mengasihi dia, hingga akhirnya bisa melakukan hubungan suami istri, itu karena kesabaran suami saya.”

Pemulihan hubungan antara Robert dan Elisa membawa mukjizat bagi mereka, Tuhan pun mengkaruniakan anak bagi mereka setelah bertahun-tahun menantikannya. Bahkan berkat bimbingan seorang pembina rohani, Elisa mengalami pemulihan dan dapat melepaskan pengampunan kepada ayah dan juga pria-pria yang telah melecehkannya.










































Tangga Via Dolorosa, Sadarkan Subagio Akan Dosanya

Bagi Subagio, mendapatkan wanita bagai membalik telapak tangan saja. Bergonta-ganti wanita itu sudah biasa baginya, dengan apa yang ia miliki, wanita manapun bisa dia dapatkan.
“Sewaktu remaja, sama kakek saya di kasih ilmu untuk memelet wanita. Berdasarkan ilmu kakek saya itu tidak susah untuk mendapatkan wanita,” ungkap Subagio.
Sejak itu, Subagio bagai don juan yang gemar mempermainkan wanita. Hingga suatu hari seorang wanita bernama Jean melamar kerja di kantornya.
“Dia melamar kerja di kantor saya, lalu diterima,” tutur Subagio. “Kalau saya sudah suka wanita, dia ngga akan bisa nolak. Mungkin awalnya simpatik, lalu pura-pura ajak makan hingga akhirnya mulai dekat.”
Sekalipun Subagio tahu bahwa Jean sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, namun hal itu tidak menghentikannya untuk mendapatkan wanita tersebut. Dia membawa Jean ke seorang dukun, “Dengan cara-cara seperti itu, akhirnya dia lengket sama saya.”
Subagio berhasil membuat Jean seperti di mabuk cinta, namun hal itu tidak membuat wanita ini kehilangan akal sehat. Dia minta Subagio untuk segera menikahinya. Namun tidak pernah di duga oleh Jean, bahwa pernikahannya akan menjadi awal penderitaan hidupnya karena sekalipun telah berumah tangga Subagio tidak pernah mengubah perangainya.
“Saya bertugas di bagian entertain pejabat-pejabat. Disitulah saya mulai mengenal wanita yang berkelas. Setelah itu menjalin hubungan dengan wanita itu seperti orang pacaran. Lama-lama, dia mulai jatuh cinta. Ketika jatuh cinta dia tidak melihat lagi apakah saya sudah punya istri atau tidak.”
Pulang malam dengan alasan pekerjaan, itu barulah awalnya. Selanjutnya Subagio mulai memberikan banyak alasan kepada istrinya ketika dia satu atau dua hari tidak pulang ke rumah. Ketika istrinya mempertanyakan semua alasannya, jawaban yang ia berikan adalah pukulan, tamparan dan juga cacian.
“Waktu itu saya sebagai laki-laki masih membungkus semua itu sehingga seakan-akan saya tidak melakukannya. Saya menunjukkannya dengan kemarahan,” demikian pengakuan Subagio.
“Ketika dia minta bercerai dengan berteriak, tanpa sadar saya teringat kejadian bapak saya memukul ibu saya. Apa yang terekam dalam pikiran saya itu, itulah yang saya lakukan pada istri saya. Dalam pikiran saya, dari pada bercerai, dari pada saya malu lagi, lebih baik saya bunuh, saya matiin perempuan ini. Ngga papa saya masuk penjara. Jadi saya ambil pisau, dan saya mau tusuk dia..”
Tidak disadari Subagio bahwa ia melakukan semua itu depan anaknya. Dalam ketakutan, sang anak menangis menjadi-jadi melihat betapa beringasnya sang ayah.
“Ketika melihat anak saya menangis, saya sadar dan tidak jadi membunuh.”
Tujuh tahun pernikahan mereka, bagi Jean adalah waktu yang sangat panjang karena ia mengalami siksaan fisik dan batin dari suaminya. Tak tahan lagi, Jean pun jatuh sakit. Namun ketika melakukan konsultasi dengan psikolog, hal itu mengungkap masalahnya yang sebenarnya.
“Sebenarnya ibu ini tidak sakit, saya perhatikan ibu ini sepertinya sedang banyak masalah dalam keluarga?” demikian tanya sang psikolog.
“Betul, suami saya sering memukul saya.”
Karena kondisi kejiwaannya yang tidak stabil, Jean akhirnya mengkonsumsi obat penenang dan menjalani perawatan.
“Saat itu saya tidak pernah cari Tuhan” ungkap Jean. “Pulang kembali kepada rutinitas, saya merenung. Tuhan saya harus bagaimana, saya buntu saat itu.”
Dalam kondisinya yang tidak berdaya, Tuhan mengirimkan beberapa hamba Tuhan untuk melayani Jean.
“Jean, tidak ada nama lain yang dapat menolong kamu selain nama Yesus..” jelas hamba Tuhan itu pada istri Subagio.
Akhirnya Jean melembutkan hatinya dan mengikuti sebuah ibadah. Disana dia didoakan dan menerima jamahan Tuhan. Namun Subagio tetap tidak peduli dengan kondisi yang dialami istrinya, ia malah asik sendiri dengan wanita selingkuhannya.
“Ketika saya ke Solo itu, saya dengan wanita selingkuhan saya. Selama dua hari kami ada di sana, kami seperti pasangan suami istri yang tinggal dalam sebuah hotel,” ungkap Subagio.
Jean yang ingin mempertahankan rumah tangganya, berdoa meminta petunjuk dari Tuhan dimana keberadaan suaminya.
“Saya tidak mau untuk gagal dalam rumah tangga saya, Tuhan dimana suami saya?” demikian Jean berdoa.
Jean dituntun Tuhan untuk menghubungi sebuah hotel di buku telephone, dari sana ia tahu bahwa suaminya akan segera kembali ke Jakarta. Jean pun bergegas pergi ke bandar udara bersama anak laki-lakinya.
“Baru masuk di parkiran, anak saya bilang begini, ‘Mama.. mama.. itukan mobil papa..’ Kami turun pas di belakang mobilnya. Saya tunggu..”
Subagio turun dari pesawat bersama wanita selingkuhannya tanpa curiga apapun, dan mereka langsung menuju mobil. Namun tiba-tiba sebuah kejutan muncul.
Jean muncul dari belakang mobil dan langsung menyalami wanita itu, “Kenalkan saya istrinya Pak Subagio.”
“Saya langsung ambil suami saya dan pulang,” terang Jean.
Perempuan itu naik taksi, dan Subagio pun tidak banyak bicara dan langsung mengikuti istrinya masuk ke dalam mobil.
“Pada waktu itu saya tidak terpikir lagi dengan wanita itu, dan langsung mengikuti istri saya.”
Di rumah, istrinya berbicara dengan baik-baik kepada Subagio untuk memintanya memilih antara wanita itu dan dirinya. Jean minta Subagio untuk menceraikan dirinya.
“Saya tidak mau, saya katakan pada dirinya kalau saya cuma iseng-iseng aja. Akhirnya saya pura-pura janji untuk bertobat.”
Untuk menyenangkan istrinya, Subagio menuruti permintaan Jean untuk melakukan perjalan rohani ke Yerusalem.
“Aku pergi ke Via Dolorosa, waktu sedang menapaki tangga sambil shooting camera, tiba-tiba saya salah menginjak tangga. Kaki saya terpelecok, jatuh terkapar dan langsung di gotong ke hotel. Ketika saya di hotel itu, saya lihat kaki saya terus membengkak. Saya rendam kaki saya sambil duduk menghadap tembok. Tiba-tiba tembok itu bergambar seperti sebuah tv, tiba-tiba ditampilkan perbuatan-perbuatan saya dengan wanita-wanita yang dulu begitu saya banggakan. Tapi waktu itu saya diberi pengertian bahwa semua itu adalah sebuah kekotoran, saya minta ampun. Ada sebuah suara berkata, ‘Kamu pulang dari tanah suci, ketahuan kamu orang yang najis, orang yang kotor, dengan kaki pincang pula!’ Saya takut, saya bilang, ‘Tuhan tolong ampuni saya, ampuni saya Tuhan.’ Pagi-pagi saya bangun, kaki saya tidak bengkak lagi. Sudah seperti sediakala dan saya pulang dengan kaki yang sudah sembuh.”
“Setelah saya pulang dari Israel, saya mulai bisa membedakan mana yang salah dan yang benar. Saya mulai takut untuk berbuat dosa.”
Hidup Subagio semakin diubahkan ketika ia mengenal kasih Tuhan, “Saya tersentuh oleh sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Victor Hutabarat. Saya merasakan kasih yang begitu dalam, karena dari kecil saya benar-benar tidak pernah merasakan apa itu kasih. Kasih bapa, kasih orang tua, itu tidak pernah saya rasakan. Mungkin itu juga yang membuat saya mencari kasih ke mana-mana. Pada waktu saya memenemukan kasih Allah yang begitu dalam, yang melebihi kasih manusia, itu tidak sebanding dengan apapun yang saya miliki. Saya pernah memiliki uang milyaran, tapi itu tidak sebahagia ketika saya ada dalam kasih Allah.”
Menemukan kasih Allah membuat hidup Subagio berubah, namun ia harus berjuang keras agar tidak jatuh kembali kepada dosa-dosanya yang lalu. Hingga suatu hari ia mengikuti sebuah pertemuan rohani yang mengubah total kehidupannya.
“Disitu saya dibukakan tentang bagaimana menjadi seorang iman, sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas keluarga. Akhirnya ketika saya pulang dari kegiatan rohani itu, saya minta maaf pada istri dan anak saya.”

Kini, Subagio bukan hanya menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Ia bahkan melayani Tuhan bersama keluarganya. Apa yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Anderson : Aku Hina Menjual Wanita, Tuhan Jadikan Mulia

Dari sejak SMP, Anderson sudah berhubungan intim layaknya suami istri dengan seorang wanita. Waktu itu, mereka berada di rumah si wanita dan di sanalah mereka melakukan hubungan tersebut. Hubungan itu sangat berkesan di hati Anderson, dia terus mengingat wanita tersebut dan juga kejadian yang dialami bersamanya. Di situ, Anderson sudah mulai ketagihan.
Anderson lalu bekerja di Jakarta. Di Jakarta, dia bekerja di sebuah proyek yang membuatnya banyak uang. Di situlah kejadian itu terulang lagi. Kali ini dia melakukan hubungan seks dengan perempuan-perempuan malam. “(Saat itu) semacam ada ketergantungan dengan seks,” ungkap Anderson. Sepertinya seks mendarah daging dalam dirinya.
Anderson kemudian menikah dengan seorang wanita yang dikenalnya, namun kebiasaan buruk Anderson tetap dijalankannya. “Setelah saya menikah dengan dia, saya tinggalin di kota. Saya punya proyek ada di hutan. Nah, di situ juga saya mempunyai kesempatan untuk melakukan seks dengan perempuan-perempuan malam.”
Kegilaan Anderson seperti tidak ada habisnya. Anderson memiliki wanita simpanan di pedalaman Kalimantan, bahkan dia membiarkan cincin pernikahan mereka beralih ke jari wanita tersebut. “Saya tahu kalau istri saya itu hamil. Tapi kalau di sana itu, saya tidak ingat lagi. Saya mabuk oleh minuman dan kelap kelip malam, saya sudah tidak ingat lagi.”
“Saya dengar satu dua kali saya biarin, karena saya pikir nggak mungkin. Ketahuannya pas saya sudah hamil tua.” tutur Lili, istri Anderson. Lili menyadari bahwa cincin pernikahan yang dia berikan kepada Anderson sudah tidak ada. Anderson berkelit dengan mengatakan bahwa cincin itu sudah dia berikan lagi kepada Lili, tapi Lili tidak percaya.
“Perasaan saya saat itu sakit banget. Kok suami saya seperti ini, main di belakang saya dengan wanita lain. Saya waktu itu kesel banget, saya pukul dia. Saya ngomong kata-kata kasar yang sangat tidak sopan di telinga saya sendiri. Saya ke depannya bagaimana, kalau suami saya seperti ini saya sudah tidak sanggup. ” kisah Lili selanjutnya.
Tidak tahan dengan sikap suaminya, Lili meminta suaminya pindah dari Kalimantan, meskipun dengan resiko suaminya akan kehilangan pekerjaan. Akhirnya, mereka pun pindah ke kampung halaman. Ternyata di kampung, Anderson harus menghadapi sesuatu yang di luar dugaannya. “Saya hadapi mbah-nya istri saya yang saya tidak kuat. Saya banyak ditekan seperti keluar mencari pekerjaan, menghidupi istri dan anak.”
Anderson pun memutuskan untuk kembali ke Kalimantan dan meninggalkan istri serta anaknya yang baru berusia 4 bulan. Sejak saat itu, Lili tidak tahu bagaimana keadaan Anderson. “Saya tunggu-tunggu, sehari, dua hari, berminggu-minggu, akhirnya bulanan tetap nggak ada kabar. Saya cari kemana-mana tetap nggak ada.”
“Pada saat itu, saya tidak kepikiran untuk meninggalkan mereka. Tapi setelah di luar, saya biarkan saja mereka. Saya mau bersenang-senang, melakukan sesuatu sesuka hati saya. Rasa-rasanya saya tidak membutuhkan mereka.”
Yang tersisa dalam diri Lili saat itu adalah rasa penderitaan yang harus dia tanggung. “(Saya) digunjingkan oleh setiap tetangga. Setiap kali pasti ada yang berbicara tentang saya. ‘Begitulah kalau dapat orang proyek’ atau ‘Begitulah kalau hamil di luar nikah’, seperti itu” lanjut Lili kemudian. Hal ini membuat Lili sebisa mungkin tidak keluar rumah.
Sementara itu, Anderson yang tinggal di Batam waktu itu, tetap mengikuti gayanya yang penuh hura-hura. Dia bersenang-senang bersama wanita malam di klub-klub yang ada di Batam. Malahan, dia menjual wanita-wanita itu kepada cukong di Singapura dan Malaysia. “Setiap kali saya dapat perempuan yang mau ke Malaysia, saya kirim melalui cukong untuk menjadi pekerja seksual di Malaysia. Sebelum dia ke Malaysia, perempuan tersebut saya ‘pake’ dulu gitu.”
Lili, di lain tempat, terus berusaha mencari dimana keberadaan suaminya dan berusaha membuktikan kepada tetangga-tetangga bahwa suaminya pasti akan kembali. “Prinsip saya memang kalau sudah menjadi suami istri, tidak bisa dipisahkan.”
Selama setahun pencarian, akhirnya Lili dapat menemukan dimana Anderson dan menghubunginya. Namun Lili menerima perlakuan yang tidak diduga olehnya. “Tahun pertama saya menghubungi dia ke sana, nggak ada yang mau terima, biarpun itu dia langsung. Dia baru bilang ‘halo’ aja aku udah kenali dia. Saya percaya itu dia. Saya bilang, ‘Pa, ini saya’. Dia langsung bilang, ‘Siapa kamu? Saya nggak kenal kamu’.”
“Saya grogi waktu itu, saya takut. Bahkan saya matiin teleponnya, saya tidak mau berhubungan dengan dia. Saya mau tinggalin, saya punya sedikit pikiran untuk ninggalin dia.” komentar Anderson tentang telepon itu. Meskipun, setiap hari Lili meneleponnya, Anderson tetap cuek. Padahal untuk bisa menelepon, Lili harus pergi ke kampung tetangga yang letaknya lumayan jauh dengan mengayuh sepedanya.
Tanpa rasa bersalah, Anderson terus melakukan aktifitas seksnya, sementara Lili harus bertahan hidup dengan anaknya. Jadi, ketika anaknya berusia 18 bulan, Lili memutuskan untuk mencari nafkah untuk menghidupi mereka berdua dan meninggalkan anaknya di kampung.
“Waktu di Batam, saya tidak pernah mengirim duit kepada anak istri saya. Jadi, saya habisin duitnya dengan pesta pora dengan perempuan.” kisah Anderson kala itu. Lili sendiri merasakan tekanan yang begitu berat untuk meninggalkan anak mereka, namun keputusan sudah diambil. Anaknya yang masih kecil, tahu bahwa itulah yang harus ibunya lakukan, karena ulah papanya, dia harus merelakan ibunya pergi. Akhirnya, Lili pun berangkat ke Jakarta dan Lili harus rela terpisah dengan anaknya.
“Memang tiap malam pasti kebangun. Dan anaknya pun nangis terus. Setiap kali saya di telepon, anak saya nangis. Namun, saya harus hadapi ini semua.” Penderitaan yang diterimanya seakan belum cukup, dia pun harus tegar meninggalkan anaknya yang semata wayang.
“Saya memang berat sekali. Saya sering menangis. Saya kalau lihat anak kecil dimana aja, saya ikut menangis. Saya pasti peluk dia, anak siapapun dia dan menangis. Saya merasa bahwa saat itu saya melihat anak saya yang menangis. Dalam hati saya, ‘Kamu enak ada mamamu di sini’ ”.
Setelah tiga tahun berada di Batam, Anderson kemudian ke Jakarta untuk mengambil tiket pesawat karena ada tawaran pekerjaan di Manado. Dan secara tidak sengaja, Lili bertemu dengan Anderson setelah ditinggalkan. “Dia singgah dulu ke saya karena semua barang-barangnya hilang.”
“Tadinya nggak punya rencana untuk bertemu dengan istri saya gitu, nggak ada. Saya nggak punya perasaan pengen ketemu dia gitu, sama anak juga tidak. Pengennya cuma ambil baju.” kata Anderson.
Kejadian tidak seperti yang diharapkan Lili. Anderson pun kembali meninggalkan Lili. Namun, kisah tak terduga pun dialami oleh Anderson. “Suatu ketika, saya dihantam eksavator, eksavator yang buat gali-gali tanah itu menghantam saya dan membuat saya terlempar hampir sejauh lima meter. Waktu itu, pas saya pegang kepala saya, saya hampir mati. Tapi tidak ada darah, atau apa gitu.”
Setelah kejadian itu, Anderson mendapat cuti. “Mau nggak mau, saya harus sama istri saya.” katanya tentang hal itu. Selama satu bulan sampai dua bulan kemudian, Anderson merasa bahwa matanya gelap. Dia terkadang tidak bisa melihat. Mereka akhirnya pergi ke dokter. “Dokter memvonis saya bahwa mata saya tidak bisa lagi diobati. Waktu itu memang saya kaget, saya tidak bisa menerima mata saya seperti ini. Bagaimana dengan anak dan istri saya kalau kedua mata saya tidak bisa melihat lagi. Istri saya rasa-rasanya juga tidak mau menerima.”
Anderson pun akhirnya pasrah menerima kenyataan, jika kedua matanya tidak bisa berfungsi lagi. “Suatu ketika, dengan keadaan saya seperti ini, sungguh-sungguh saya tidak bisa apa-apa lagi, mau nggak mau saya harus mencari Tuhan. Dan suatu ketika saya dijamah Tuhan gitu. Dan saya melihat Tuhan. Tuhan ada di depan mata saya, waktu saya berdoa. Satu sosok yang luar biasa sedang memegang saya, yang sedang mengurapi saya gitu. Saya merasa saya tidak layak. Saya bilang saya ini orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Saya teringat perbuatan-perbuatan saya, kekotoran-kekotoran saya gitu. Seks sama perempuan-perempuan, teringat kepada kehidupan saya yang bebas. Waduh, saya merasa najis di hadapan Tuhan, saya merasa saya tidak punya tanggung jawab sama anak dan istri. Tetapi saya melihat Dia tetap memegang saya,” kisah Anderson. Sejak itulah dia merasa menyesal dengan perbuatan-perbuatannya yang betul-betul menyakiti hati Tuhan. Anderson sampai menangis di hadapan Tuhan. Dia memohon ampun. Pada saat itulah, semua perasaan bersalah pun hilang. “Perasaan saya, Dia mengangkat dosa-dosa saya.”
Malam itu juga, Anderson pun minta ampun kepada istri dan anaknya dan sejak saat itu Anderson memulai hidup baru bersama keluarganya. “Saya merasakan Tuhan sedang menyatukan saya dengan istri saya, Dia menerima saya apa adanya. Dan saya melihat istri saya yang sungguh luar biasa. Selalu berdoa buat saya dan sampai saat ini juga dia selalu mendukung saya dalam pekerjaan saya.”
“Selama ini saya selalu berdoa buat suami, dalam keadaan apapun juga, saya siap. Memang kalau sudah dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan. Jadi, apapun kondisi dia, saya tetap pegang itu. Dalam suka maupun duka, saya siap terima dia.” begitulah lapangnya dada Lili menerima kembali suaminya.

“Tuhan sungguh luar biasa dalam kehidupan saya. Dari saya gelap sampai saya menerima Tuhan, Tuhan itu sungguh luar biasa. Itulah kasih Tuhan dalam kehidupan saya.”





Habis Gelap Terbitlah Terang, Sebuah Pengalaman Nyata

Pernikahan membuka tabir rahasia kehidupan banyak orang. Seringkali di masa pacaran, banyak orang memakai topeng untuk meluluhkan hati pasangannya. Namun ketika cinta sudah ditangan, topeng pun dibuka dan pasangan pun merasa tertipu, inilah yang dirasakan oleh Sifra.
“Setelah kami menikah, baru dua hari dia sudah memperlihatkan sifat-sifat jeleknya. Saya kaget sekali..” ungkap Sifra.
Tidak hanya kasar, suaminya juga berani berselingkuh di depan hidungnya. Bahkan mertua dan keluarga suaminya membela pria yang telah menyakiti hatinya itu.
“Pernah dia ngga pulang semaleman dan dia bilang ada rapat. Setelah saya tahu, ternyata dia pergi sama perempuan-perempuan nakal. Setelah saya tegur, dia marah sekali dan emosi. Lalu keluarganya dateng untuk mengeroyok saya, dia kalap dan ambil pisau. Saya sudah hampir ditusuk waktu itu,” tutur Sifra sambil menahan air mata. “Jarak pisaunya cuma kurang lebih tinggal dua centi dari saya.”
Sifra sudah tidak tahan dengan perlakuan suaminya, ia telah sering minta di cerai oleh suaminya, namun yang ia terima adalah ancaman.
“Dia ancam saya, kalau muka saya akan di siram sama air keras, kalau ngga kuping saya akan diiris satu.”
Kejam, itulah perangai suaminya. Sifra hanya bisa bertahan dengan semua kekejaman itu setiap hari, namun suatu kali ada sebuah perbuatan suaminya yang tidak bisa lagi ia terima: suaminya mencoba memperkosa pembantu rumah tangga mereka di depan anak perempuan mereka.
“Anak saya yang perempuan tahu kalau bapaknya berbuat seperti itu… Malemnya saya tanya langsung, tapi dia lebih galak daripada saya.”
Peristiwa itu menjadi akhir perjalanan rumah tangganya dengan pria tersebut, ia akhirnya bercerai. Di tengah rasa sakit luka-luka akibat hancurnya rumah tangganya, Sifra membuka hatinya untuk seorang pria yang menurutnya dapat melipur laranya. Pria bernama Johan ini, sudah beristri dan memili anak dua, namun Sifra seperti dibutakan dan tidak memperdulikan fakta bahwa kini ia menjadi wanita kedua yang akan merusak rumah tangga orang lain. Ia menikahi pria itu.
“Istrinya baru sekali dateng ke rumah langsung ngamuk-ngamuk. Saya diam saja karena saya tahu saya salah, selain itu saya juga malu, kalau sampai teriak kan tetangga jadi tahu.. Sedangkan dia itu kan memang suami orang.”
Masalah tidak berhenti di situ, utang jutaan rupiah peninggalan suaminya membuatnya dikejar-kejar penagih hutang. Bahkan orang itu mengadukannya ke pimpinan di tempat kerjanya. Ia pun di adukan ke pihak berwajib dan harus berurusan dengan hukum.
“Polisi sempat tulis di koran kalau saya orang yang dicari oleh polisi,” demikian ungkap Sifra.
Tapi itulah kenyataannya, ia menjadi seperti penjahat yang dalam pelarian. Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar diluar dugaannya, Johan menyerahkannya pada polisi.
“Saya waktu itu pulang ke Bandung bareng dia. Saya di ajak lewat sawah, ternyata di sawah itu sudah ada polisi,” jelas Sifra lirih.
“Saya di BAP dari jam 9 sampai pagi jam 4, lalu saya dimasukin ke dalam sel.”
“Waktu itu perasaan saya hancur sekali,” ungkap Sifra sambil menangis, “Saya belum pernah ngalami sepert ini, belum pernah masuk penjara. Saya hancur, saya malu.”
Yang lebih menyedikan, suami keduanya Johan tidak mengakui bahwa dia adalah istrinya, “Hati saya sakit sekali, sampai dendam pada waktu itu.”
Tapi bukan hanya hidup Sifra yang hancur, kehidupan anaknya pun ikut hancur karena harus hidup tanpa seorang ibu.
“Pembantu saya datang, ‘Ibu saya pamit, besok anak ibu saya bawa ke kampung. Anak ibu harus berhenti sekolah dulu..’ Saya menangis, menyesali semua kesalahan saya. Saya minta ampun sama Tuhan, saya sudah putus asa dan kehilangan arah.”
Kekuatan Sifra telah habis, ia hanya bisa sujud di hadapan Tuhan memohon pertolongan. Namun ia tidak menduga sama sekali bahwa Tuhan begitu dekat dengan dirinya dan menjawab permohonannya dengan begitu cepat.
“Saya lagi tunduk gitu, tiba-tiba ada cahaya seperti salib. Waktu itu saya tidak tahu kalau itu salib Tuhan Yesus,” kenang Sifra dengan meneteskan air mata haru. “Saya kaget sekali, kaget seperti orang yang tidak punya Tuhan… Saya pikir apa ini setan ya..? Saya kaget sampai saya takut.”
Yang lebih ajaib, pagi harinya dua orang teman yang sudah lama tidak ia jumpai tiba-tiba datang menjenguk bahkan mereka mau mencarikan pengacara untuk menolongnya.
“Selesai di besuk, saya mengucapkan ‘Duh Tuhan.. terima kasih Tuhan.. mungkin jalan terang yang semalam saya temukan adalah kedua orang itu…’ Saat itu saya merasakan di tubuh saya benar-benar ada semangat untuk hidup.”
Setelah melewati beberapa proses hukum, Sifra di bebaskan dari penjara. Namun di harinya, ia masih berjuang melupakan luka hatinya.
“Tapi pelan-pelan kalau saya bawa doa, dendam saya yang selama ini saya simpan begitu dalam menjadi seperti luka yang menganga lebar, pelan-pelan terkikis. Pelan-pelan saya mulai ada ketenangan jiwa. Tapi saya belajar ke arah itu agak susah sekali. Teman saya selalu menasehati kalau kejahatan jangan dibalas kejahatan, sama seperti di ajaran kita kalau ditampar pipi kiri berikan pipi kanan.”
Kini Sifra menjalani hidup baru dengan putrinya Pipit dalam naungan kasih Kristus, karena ia telah mengubur masa lalunya yang pahit dalam penebusan Yesus Kristus.

“Walaupun sekarang saya tidak bergelimang harta, saya tidak punya yang berlebih, tapi saya bahagia bisa bersama Tuhan Yesus,” demikian ungkap Sifra. “Mungkin kata-kata yang tepat menggambarkan hidup saya adalah habis gelap terbitlah terang. Waktu dulu saya belum kenal Tuhan Yesus saya mengalami kegelapan, tapi setelah bertemu Tuhan Yesus mengalami jalan terang






























Gigolo Bertobat Karena Kematian Anak

Cinta akan uang terbukti merupakan akar segala kejahatan. Harrys Silitonga adalah buktinya, sekalipun sudah berprofesi sebagai penyanyi di kapal pesiar dia masih menjalani kehidupan sebagai seorang gigolo.
"Bule, Chinese, Korea, Jepang... Saya mencicipi semua." Demikian tutur Harrys.
Bagi Harrys, asalkan dia sudah mencukupi kebutuhan materi anak dan istrinya hal tersebut sudah cukup. Menurutnya, dengan cara itu mereka merasakan kebahagiaan.
"Semuanya saya cukupkan. Dari anak agar sekolah, mainan untuk anak-anak saya, jadi semuanya saya cukupi supaya mereka bahagia."
Sewaktu turun dari kapal, sikap manis Harrys yang ditunjukkannya melalui telephone menghilang. Kepada istrinya, ia bersikap sangat kasar. Bahkan dengan beraninya Harrys membawa pulang wanita selingkuhannya, hal ini tentu sangat menyakiti hati istrinya, Claudia.
"Siapa sih orang di dunia yang hatinya tidak sakit teriris melihat pasangan hidupnya bersama wanita lain? Mungkin ia sebagai wanita hanya bisa terdiam, tetapi hati nuraninya pasti menjerit," ungkap Claudia.
Hingga suatu hari, salah satu anaknya sakit, bahkan di vonis menderita kanker ginjal getah bening. Anaknya, Anggi kian hari kondisinya kian memburuk. Bahkan kemo terapi dan operasi tidak membawa perubahan bagi Anggi.
Suatu saat seorang hamba Tuhan berbicara kepada Harrys bahwa ada dalam Firman Tuhan, ketika bapak berbuat dosa, anak bisa kena akibatnya (Bilangan 14:18).
"Minta ampunlah sama Tuhan, atas perbuatan dosa bapak itu," nasihat hamba Tuhan itu.
Tidak hanya hamba Tuhan itu, bahkan dalam sakitnya, Anggi sempat menyampaikan dorongan untuk bertobat kepada Harrys.
"Iya, papa bertobat," demikian Anggi mengiatkan ayahnya. "Pa, jangan bertobat bohong-bohongan. Bertobat itu harus sesungguhnya, Pa".
Namun sayangnya sang anak kesayangan itu tidak tertolong lagi. Diusianya yang kesebelas, Anggi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Harrys dan istrinya sangat terpukul. Bahkan Claudia sempat mengalami stres berat selama tiga bulan. Tetapi kematian Anggi tidaklah sia-sia, Harrys bertobat dengan sungguh-sungguh.
"Saya terus menyesal, saya bayangkan semua yang telah saya lakukan. Setelah saya tahu semua Firman Tuhan ini, komitmen di dalam diri saya, jika bisa... Biarlah saya terus berada di dalam jalan kebenaran," kisah Harrys.
Pertobatan Harrys berhasil melalui ujian demi ujian, dia berhasil lepas dari minuman keras, bahkan dirinya mendedikasikan dirinya untuk menjadi penyanyi rohani.

"Yesus datang bukan untuk orang benar, Yesus datang untuk orang jahat seperti saya. Saya bersyukur sekali mempunyai Yesus, Tuhan kita. Yesus mengatakan bahwa Dialah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus. Jadi saya bersyukur, oleh kematian Anggi saya bisa bertobat. Jangan seperti saya, dihajar dulu baru datang kepada Yesus," demikian Harrys memberikan nasihat.












Hans, Perampok Taksi Yang Nyaris Mati Dibakar Massa

Sejak duduk di kelas 5 Sekolah Dasar Hans Kilapong sudah gemar berkelahi dan minum-minuman keras. Di kelas 1 SMP dia menantang kakak kelasnya dan berakhir harus berurusan dengan pihak kepolisian, akibatnya ia di keluarkan dari sekolah.
“Saya merasa puas kalau sudah menaklukan orang itu,” demikian kenang Hans tentang perasaannya kala itu.
Kekerasan bukanlah hal baru bagi Hans, di rumahnya, sang ayah juga kerap melakukan kekerasan kepada ibunya. “Yang saya pikirkan adalah: Kok orangtua saya jahat begitu? Dia ngga sayang sama mama saya. Saya ngga terima mama diperlakukan demikian. Akibat pemberontakan saya, selalu terjadi ketegangan dengan papa saya.”
Untuk membuat dirinya merasa aman, Hans merakit sendiri sebuah pisau. “Saya pikir untuk jaga-jaga.”
Karena prilaku Hans yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, orangtua Hans akhirnya mengirim dia ke Jakarta. Tapi disana dia bukannya menjadi lebih baik, malah makin rusak hidupnya. Ganja, pil koplo, minuman keras dan judi menjadi bagian kesehariannya di ibukota. Namun tidak selamanya uang tersedia untuk memenuhi gaya hidupnya, apa lagi ia tidak bekerja.
“Akhirnya terbersit dipikiran : mendingan merampok. Jadi saya merampok taksi, saya menyiapkan pisau, menyiapkan tali, kalau memang perlu saya pikir saya akan cekik lehernya, atau saya tusuk dari belakang kalau melawan.”
Hans melakukan aksinya di malam hari, dia naik taksi dan minta diantarkan ke suatu tempat yang melewati tempat sepi. Satu, dua kali ia berhasil melakukan aksinya. Namun keberuntungan tidak selalu berpihak kepadanya, pada perampokannya yang ketiga ia gagal.
“Saya tidak berhasil merampas dompetnya, hanya beberapa duitnya. Saya lari, saya dikejar. Kami kejar-kejaran, di tempat sepi saya ngumpet dipagar rumah yang dari tanaman. Ternyata informasi tentang saya sudah menyebar di tempat itu, tapi saya tidak tahu. Jadi waktu saya keluar, saya pikir aman saja. Tapi ada satu, yang belakangan, pas lihat saya lewat dia curiga. Dia langsung mendekat pada saya dan merangkul saya. Dia bilang: kamu yang dicari tadi ya! Saya langsung di keroyok orang banyak. Saya direbahkan di jalan, di injak, di tendang, di pukul. Ketika orang bilang: matiin aja, dibakar aja! Saya cuman minta ampun sama Tuhan. ‘Tuhan minta ampun, tolong saya, selamatkan saya supaya saya jangan dibunuh!’”
Tuhan mendengar jeritan Hans, tiba-tiba patroli polisi tiba. Ia selamat, namun ia harus menjalani hukumannya dan merasakan dinginnya sel penjara. Beruntung ia memiliki keluarga yang peduli padanya dan mengusahakan supaya dia bisa segera bebas. Namun kebebasan instant bukan mengubah Hans, karena dia kembali lagi kepada kehidupan lamanya. Dan akhirnya kebebasan itu tidak berlangsung lama, ia kembali tertangkap saat menjual narkoba. Kembali, keluarganya berbaik hati mengusakan kebebasannya.
“Setelah keluar dari situ, beberapa bulan setelah itu rasa bersalah dan keinginan mencari Tuhan muncul. Tapi saya terus memendamnya, dan mencari pelarian dengan kembali minum obat dan minum minuman keras. Rupanya itu memperburuk kondisi saya.”
Tanpa ia sadari, narkoba telah menggerus otak dan tubuhnya. Penyakit aneh kini merongrongnya.
“Saya merasa kondisi kepala saya itu tidak normal. Dibagian syaraf kepala saya itu seperti tarik menarik. Jadi tegang, jadi kram, kepala jadi kaya ngga berasa, saya jadi kaya robot. Orang bilang pengaruh dari obat anjing gila.”
Hingga suatu hari, ia mengalami sebuah peristiwa aneh, “Saya ketemu di kereta dengan iblis. Berbaju hitam, berjubah hitam. Trus dia bilang: kamu akan mati oleh sakitmu!”
Dalam ketakutannya, tiba-tiba Hans diingatkan sesuatu, “Berdasarkan firman yang saya ingat, saya membalik kata-kata iblis itu. Sambil menunjuk kepada dia: Hai iblis! Aku tidak akan mati oleh penyakit ini! Oleh bilur-bilur-Nya aku akan sembuh! Pas saya selesai mengucapkan kata-kata itu, mimpi saya berakhir dan saya bangun.”
Ternyata semua itu hanyalah mimpi, namun Hans saat itu sadar bahwa Tuhan memberikan pesan yang sangat jelas melalui mimpi itu.
“Saya ingat firman Tuhan yang di mimpi itu. Oh iya ya, saya kan sedang dalam kondisi bergumul dengan penyakit saya. Berarti melalui mimpi itu Tuhan memberi pesan bahwa saya dapat sembuh. Saya ngga akan mati kalau saya percaya. Jadi saya mulai bertindak, saya percaya bahwa ini suara Tuhan untuk saya sehingga saya bisa mengalahkan intimidasi iblis.”
Dengan iman Hans terus mengatakan bahwa oleh bilur-bilur Yesus dia pasti sembuh. Terbukti, enam bulan kemudian ia pulih seperti sedia kala. Saat itulah ia membuat komitmen: “Kalau begitu Tuhan, saya mau mengikuti engkau. Saya mau merubah hidup saya, karena Engkau sudah banyak menolong aku. Engkau sudah banyak berbuat baik kepadaku, Aku mau berubah. Aku mau bertobat, aku tinggalkan masa laluku karena aku mau hidup baru.”
Godaan untuk kembali ke dosa-dosa di masa lalunya bukan berarti hilang, namun komitmennya membuat Hans bisa menolak dengan tegas setiap tawaran yang datang. Jika dulu hidupnya tanpa tujuan, tidak memili arah yang jelas, kini hidupnya memiliki tujuan di dalam Kristus Yesus.


“Saya bersyukur sudah dipulihkan, merasa bahagia dan bersukacita dengan apa yang telah Tuhan percayakan,” demikian Hans menutup kesaksiannya.



































Akhir Petualangan Gigolo Pemikat Wanita

Orangtuanya bercerai ketika Robin Hasudungan masih berumur 1,5 tahun. Hal itu membuatnya merasa seperti anak yang tidak diinginkan, apa lagi ayahnya yang membesarkannya mendidiknya dengan keras.
“Ada perasaan dendam yang menekan hati saya. Kalau saya nanti sukses, saya akan suruh orang untuk pukul dia atau bunuh dia..” demikian tutur Robin yang kemudian lari dari rumah ayahnya karena tidak tahan.
Dalam keadaan sendiri dan tak berdaya keputusasaan merasuk hatinya, dengan nekat Robin menenggak 30 butir pil, tapi kematian tak juga menjemputnya.
Setelah gagal bunuh diri dan tidak lagi memiliki uang, Robin akhirnya memutuskan untuk mencari ibu kandungnya yang telah sejak kecil meninggalkannya. Ia menemukan ibunya di Purwakarta, namun disana Robin menemukan sebuah fakta yang mengejutkan.
“Lama tinggal di situ, mama tuh kawin cerai sampai lima kali. Saya kan ngga mau di caci maki orang. Saya lihat orangtua saya kaya gitu, saya pikir lebih baik sebatang kara saja lah. Saya anggap kedua orangtua saya sudah mati.”
Robin akhirnya memutuskan untuk pergi, mencoba mencari keberuntungannya sendiri. Namun saat ia hendak pamit, sang ibu membekalinya dengan berbagai susuk. Berkat susuk itu, Robin berhasil memikat banyak wanita dan juga membantunya memperlancar bisnisnya. Tetapi suatu saat datang sebuah tawaran menarik dari seorang teman.
“Udah loe jadi gigolo aja, duitnya menggiurkan,” demikian ujar orang tersebut.
Setelah terjun sebagai gigolo, demi memuaskan para wanita yang memakai jasanya, Robin nekat untuk mencoba memperbesar alat vitalnya kepada seorang dukun. Usaha Robin tidak sia-sia, para wanita yang puas dengan pelayanannya dengan mudah mengeluarkan uang untuk memenuhi apa yang ia inginkan. Tapi setelah beberapa waktu lamanya, Robin memutuskan untuk berhenti dari profesi itu karena takut terkena penyakit kelamin.
Merasa sudah tak berdaya dan tidak memiliki penghasilan akhirnya Robin mendatangi seorang paranormal.
“Saya seperti dihipnotis, lalu tertidur begitu saja. Gua dimana saya berada tiba-tiba berubah menjadi kraton (istana) dan banyak bidadari-bidadarinya.” Dalam mimpi tersebut, Robin berhubungan intim dengan salah satu bidadari itu. Setelah peristiwa itu, Robin mendapatkan imbalan dari sang dukun, namun dengan satu syarat, “Tujuh turunan kamu harus melayani bidadari ini.”
“Saya pikir, ngga usah lah. Jadi saya tinggalkan saja..”
Tak terima dengan penolakan Robin, roh jahat itu terus mengejarnya. Bidadari itu selalu muncul dalam mimpi-mimpinya dan mengganggu hidupnya. Dalam kondisi tertekan itu, Robin terus tenggelam dalam minuman keras dan obat-obatan. Hingga dalam suatu hari naas, polisi menggrebek tempat ia dan teman-temannya sedang mabuk-mabukan. Robin pun harus merasakan hidup dibalik jeruji penjara karena peristiwa itu. Tapi penjara itu ia berkenalan dengan seorang pengedar narkoba kelas kakap yang membantunya untuk menggeluti bisnis narkoba dengan lebih serius.
Sekeluarnya dari penjara, Robin sukses dalam bisnis obat biusnya. Karena sepak terjangnya, pihak berwajib tidak tinggal diam, Robin masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak kepolisian.
Sudah terpojok dan tidak memiliki tempat bersembunyi lagi, Robin menghubungi pacarnya untuk meminta tolong dicarikan tempat bersembunyi. Namun tak disangkanya, sang pacar malah membawanya ke sebuah tempat pembinaan rohani. Apa yang kelihatannya sebuah kebetulan, ternyata adalah sebuah rencana Tuhan untuk mengubah kehidupan Robin.
“Beberapa bulan mengikuti komunitas rohani ini, saya mulai mengerti apa itu firman Tuhan, siapa Tuhan Yesus. Lalu ada sebuah perkataan yang berbunyi, ‘Sekalipun orangtua kamu meninggalkan kamu, tapi Aku tetap menerima kamu’ seperti menusuk hati saya.”
Kalimat itu marasuk dalam hatinya, Robin pun mulai membuka hatinya untuk Tuhan. Saat itulah ia mengalami pelepasan dan didoakan oleh hamba-hamba Tuhan yang menjadi pembimbing rohani di tempat itu.
Robin mulai melepaskan pengampunan kepada orangtuanya dan juga mengakui semua dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Bahkan pertolongan Tuhan bagi hidupnya sangat ajaib, pihak kepolisian menutup kasusnya sehingga ia keluar dari daftar pencarian orang. Kini Robin telah menemukan tujuan hidupnya yang sejati di dalam Tuhan. Ia terus belajar bergantung kepada Tuhan Yesus agar karakter-karakternya yang buruk dapat diubahkan. .

“Saya berterima kasih kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang menobatkan saya. Kalau dengan kekuatan saya, ngga mungkin saya bisa jadi seperti ini,” demikian Robin mengungkapkan syurkurnya.










































Aku Ampuni Pembunuh Mamaku

Siang itu, Selasa, 5 Desember 2000, Gloria Oey sedang menikmati makan siang di sebuah rumah makan ketika telephone genggamnya berdering, “Cepetan pulang, mama berdarah-darah!”
Ketika Gloria sampai di rumah ibunya, ia melihat banyak orang telah berkerumun. Ia bertanya-tanya apa yang telah terjadi, dan saat ia masuk yang ia menemukan ibunya yang bersimbah darah dan sudah tidak bernyawa lagi.
“Yang membuat saya sedih adalah bagaimana dia sendirian saat kesakitan…” tutur Gloria dengan mata berkaca-kaca. “Kalau saya pikirkan itu, hati saya keiris-iris..”
Hasil investigasi polisi menemukan bahwa pembunuh ibu Gloria adalah Yudi, seorang koki yang dipekerjakan oleh wanita yang berusia 60 tahun itu. Saat itu Yudi yang biasa datang ke rumah korban meminta uang, dan ketika tidak diberikan, Yudi mengeluarkan pisau dan menusukkannya ke tubuh korban sebanyak lima kali.
“Nomor satu yang ada dipikiran saya adalah ada apa kok sampai dia begitu tega, apa dia punya dendam sama mama saya, ada kejadian sesuatu atau dendam tertentu kepada salah seorang anggota keluarga yang kami tidak ketahui?”
Tidak tahan dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, Gloria menemui Yudi di sel Kepolisian Taman Sari.
“Jawabannya semua tidak..tidak.. tidak..” demikian kenang Gloria.
“Lalu kenapa kalau tidak ada latar belakang sama sekali kamu kok bisa begitu sadis, sadar ngga kalau kamu juga lahir dari seorang ibu?” demikian berondongan pertanyaan Gloria kepada Yudi.
Rasa gemas dan gregetan memenuhi hati Gloria dan membuatnya ingin melampiaskan amarahnya kepada sang pembunuh itu. Selain itu ada sebuah penyesalan yang dalam karena ia dan empat saudaranya merasa belum bisa membalas pengorbanan dan kasih sayang ibunya yang telah bekerja keras membesarkan mereka. Ada pertanyaan yang menghantui Gloria, mengapa Tuhan mengijinkan ibunya meninggal dengan cara yang mengerikan seperti itu.
“Terlalu singkat untuk mama menikmati hidup,” ujar Gloria. “Karena sebelumnya dia menjalani hari dengan berjuang dan bekerja keras..”
Sejak kejadian itu, ada rasa takut mencekam hati Gloria, “Setiap pintu saya periksa. Lalu saya bisa turun lagi periksa lantai 3, lantai 2, lantai 1 sampai pintu paling depan apakah sudah dikunci dengan baik.”
Namun Gloria sadar, ia tidak boleh membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa takutnya. Ia memutuskan untuk datang kepada Tuhan dan membawa semua rasa takut dan sakit hatinya.
“Saya minta Tuhan buang memorinya, memori tentang mama saya yang terbaring dilantai dengan darah yang begitu banyak. Saya minta Tuhan buang dan saya ambil keputusan untuk mengampuni. Saya tahu sepanjang saya masih memelihara memori itu, saya tidak bisa mengampuni dengan tulus. Karena saya masih senang bawa-bawa memori itu, saya masih ingin orang itu diapain gitu..”
Memutuskan untuk mengampuni orang yang membunuh pribadi yang sangat dikasihinya bukanlah sesuatu yang mudah bagi Gloria. Dia membutuhkan waktu tiga bulan bergumul dengan dirinya sendiri dan terus meminta kekuatan dari Tuhan.
“Waktu itu saya sadar bahwa saya sudah menerima pengampunan dari Tuhan Yesus. Segala kesalahan saya yang banyak dan segala dosa saya sudah Tuhan ampuni. Masa sih saya ngga mau ampuni orang yang notabene tidak mengenal kebenaran. Pada waktu itu, walaupun sulit saya bawa namanya, saya katakan pada Tuhan, ‘Tuhan… saya ambil keputusan, saya mau ampuni orang ini..!’” demikian Gloria menceritakan kemenangannya atas rasa benci dan sakit hati.
Tidak lama kemudian, Gloria membuat tindakan yang sulit dipercaya. Gloria mendatangi Yudi di sel penjara dan melepaskan pengampunan langsung didepan orang yang telah membunuh ibunya itu.
“Yudi, saya mau kamu tahu bahwa sudah ambil keputusan untuk mengampuni kamu.”
Saat itu, Gloria seperti mengalami terobosan, “Ada rasa ringan, rasa lega. Saya tidak perlu mengangkat beban itu di punggung saya. Saya ngga perlu hidup dengan luka hati dan kepahitan saya lagi. Saya buang semua sampah itu, dan saya boleh hidup dalam kemerdekaan oleh karena kasih Tuhan dan darah Yesus.”
Setelah bertahun-tahun kejadian tersebut berlalu, Gloria belajar hal yang sangat penting dari kejadian yang menyakitkan tersebut.

“Segala sesuatu di muka bumi ini, dan Tuhan sudah menetapkan setiap waktu dengan sempurna. Oleh sebab itu mari pakai waktu-waktu yang kita miliki sebaik mungkin untuk mengasihi orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita, suami, istri, anak dan juga orangtua. Itu adalah pelajaran pertama, pelajaran kedua adalah sekalipun kita tidak tahu mengapa hal itu harus terjadi, kita tidak perlu terus menerus bertanya sehingga kita kehilangan iman dan kita meragukan Tuhan dalam hidup kita. Saya percaya Tuhan Yesus berdaulat dalam hidup anak-anak-Nya.
























Putriku Tewas Hanya Sebulan Sebelum Ulang Tahun Sweet Seventeen-nya

Nikita adalah putri semata wayang Merywati. Namun ia bukan sekedar seorang putri bagi Mery, sejak dirinya bercerai dengan suaminya sepuluh tahun lalu, Nikita adalah sahabat baginya. Mendekati usia ke tujuh belas Nikita, Mery dan putri kesayangannya itu telah sibuk merancang pesta spesial. Namun entah mengapa, pada saat itu hati Mery dirundung kegelisahan yang mendalam.
“Setiap malam saya menangis, saya bilang, “Tuhan, saya butuh keluarga yang utuh. Saya ingin keluarga saya utuh kembali. Saya ingin Nikita bersatu dengan saya lagi.””
Malam itu Mery menghubungi Nikita yang sedang hang out bersama teman-temannya, dan memberi tahukan bahwa dirinya akan menginap.
“Mami aku di Kemang.”
“Iya, kamu harus segera pulang, mami menginap, besok kita pergi bareng.”
Namun setelah menunggu selama lima belas menit, Nikita tidak juga sampai di rumahnya. Mery yang kuatir segera menghubungi Nikita kembali.
“Saya telephone lagi tidak diangkat,” demikian tutur Mery.
Hari itu, Nikita bersama dengan tujuh orang temannya berniat untuk mencari tempat untuk pesta ulang tahun Nikita. Namun sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.
“Tiap lima belas menit saya telephone lagi, tapi tidak diangkat. Seperti ada yang menyuruh saya terus telephone, karena Nikita bilang sebentar lagi akan pulang, tapi ngga pulang-pulang dan sudah malam. Sampai akhirnya di angkat dan saya terkejut sekali..”
“Halo..” demikian jawab seorang pria di telephone milik Nikita tersebut.
“Bapak ini siapa? Ini telephone anak saya pak..”
“Saya dari kepolisian, anak ibu mengalami kecelakaan..”
Seperti disambar petir, Mery tidak percaya apa yang telah menimpa anaknya. Mobil yang ditumpangi Nikita dan teman-temannya terbalik dan menabrak tembok rumah warga. Satu orang meninggal dan lainnya dilarikan ke rumah sakit.
“Kata mereka lagi di obati, dan saya tidak terbayang keadaannya sampai parah. Saya sangat takut, pada saat itu takut sekali,” ungkap Mery.
Nikita dalam keadaan koma dan harus menggunakan alat bantu pernafasan, melihat kondisi putrinya yang dalam kondisi kritis tersebut Mery panik tidak terkendali hingga berteriak-teriak sambil memanggil-manggil Nikita.
“Jangan tinggalkan mami, kata kamu, kamu akan pulang! Ayo bangun... bangun..!” Namun teriakan Mery tidak membuat Nikita bangun.
Sambil menangis, Nikita berdoa kepada Tuhan untuk tidak mengambil putri kesayangannya tersebut. Sambil menyanyikan “Mukjizat itu nyata,” Mery masih berharap Nikita dapat terselamatkan.
“Kasihani saya, kasihani anak saya Tuhan, sebentar lagi dia mau ulang tahun,” demikian seru Mery. “Saya menuntut Tuhan, untuk anak saya bisa hidup. “Tuhan kalau anak saya hidup, pakailah saya sebagai saksi-Mu.””
Namun diakhir doanya, Mery kembali menyerahkan semuanya kepada Tuhan, “ternyata Tuhan menunggu omongan saya itu. Dokter mengatakan, “Maaf, anak ibu tidak bisa tertolong.” Saya langsung teriak, dan seperti mimpi.”
Nikita akhirnya dipanggil Tuhan hanya beberapa minggu sebelum ulang tahunnya, dan hal ini adalah sebuah kehilangan yang sangat besar bagi Mery.
“Saya seperti tidak percaya anak saya sudah tidak ada. Saya peluk, saya ciumi Nikita.”
Mery masih belum bisa menerima kepergian putrinya tersebut. Ia terus berteriak-teriak meminta putrinya itu bangun.
Hari itu, Mery mengatarkan putrinya itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Duka yang mendalam tergurat diwajahnya, entah sampai kapan duka itu akan hilang. Untuk sementara Mery tidak ingin sendiri, ia memilih untuk tinggal dengan adiknya. Namun bayang-bayang Nikita terus muncul di hidupnya. Sekalipun saudara, teman dan sahabat menghiburnya dan juga mendoakannya, namun duka itu tidak juga menghilang. Mery terus berdoa dan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.
“Saya menghubungi teman saya dan berkata saya butuh penghiburan, dia bilang: Kalau kamu mendapat penghiburan dari Tuhan kamu harus ke puncak sekarang juga. Saya kaget sekali dan bertanya-tanya ada apa di puncak?”
Sebenarnya Mery enggan untuk bertemu dengan banyak orang, namun karena ia penasaran dan ingin membuktikan apa yang temannya katakan, ia memberanikan diri. Entah bagaimana cara Tuhan mengaturnya, namun disana ia bertemu dengan beberapa orang yang mengalami pengalaman serupa dengannya.
“Saya masuk dalam kumpulan yang semuanya anaknya meninggal. Disitu saya saling menguatkan, dan menyadari bahwa saya tidak sendiri. Ada teman-teman yang mengalami hal serupa.”
Mery dibuat takjub dengan cerita dari beberapa orang temannya bagaimana mereka mendapatkan kekuatan dan mengalami penghiburan ditengah masa duka mereka.
“Sebagai manusia, doa kita selalu meminta, meminta dan meminta kepada Tuhan. Sedangkan Tuhan sudah banyak memberikan pertolongan kepada saya di saat saya melahirkan, di saat saya koma, di saat saya bankrut, di saat anak saya SMP, banyak kali Tuhan sudah membantu saya. Sekarang giliran saya bertanya pada Tuhan, apa maksud Tuhan dibalik semua ini. Ternyata rencana Tuhan itu indah pada waktunya. Saya diberi kesempatan untuk menjadi saksinya.”
Setiap kali Mery mengingat kebaikan Tuhan, ia mendapatkan kekuatan, dan sejak saat itu ia membuat keputusan berkaitan dengan kepergian putrinya dan bangkit untuk meneruskan kehidupan. Bahkan di saat-saat sendirinya, ia belajar untuk mengampuni penyebab kecelakaan maut itu.
“Karena bagi saya, dia itu titipan Tuhan, dan semua yang kelihatan itu sementara. Dan saya percaya ada maksud Tuhan dibalik semuanya ini. Alangkah tidak adilnya dan tidak pantas ketika kita menyalahkan Tuhan, karena Tuhan itu yang memberi kita hidup.”

“Kalau saya tidak mengalami ini, saya mungkin tidak terlalu fokus kepada Tuhan. Karena saya percaya kekuatan dan segala yang ada dalam diri saya adalah dari Tuhan. Dan kasih karunia itu yang tidak bisa kita dapatkan dari dunia ini. Saya mengucap syukur bisa menghadapi badai cobaan ini karena Tuhan ada disamping saya.”






















Juara Kontes Waria Yang Dipulihkan Tuhan

Tidak ada yang menduga bahwa Cicilia pemenang sebuah kontes di kalangannya adalah seorang pria yang bernama Stanly Ernest Tikoalu. Bermula dari masa kecilnya yang kurang perhatian dari seorang ayah, membuat Stanly yang gemulai diperdaya oleh seorang pria.
“Saya pikir beliau menjadi sosok figur seorang ayah buat saya, ternyata tidak. Pada suatu hari dia mengajak saya ke hotel. Saya tidak tahu, saya pikir saya mau diajak apa. Tiba-tiba saya diikat dan dipaksa harus melakukan oral seks. Pada saat dia selesai, dia mengancam untuk jangan bilang siapa-siapa, ” ungkap Stanly.
Mulai saat itu kebenciannya kepada pria semakin menjadi dan Stanly pun memutuskan untuk menjadi seorang wanita.
“Yang ada dalam pikiran saya, saya jijik melihat pria. Saya takut karena saya sering melihat papa saya memukuli mama saya sehingga saya memilih untuk menjadi seorang wanita. Saya melihat wanita itu penuh kelembutan,” ungkap Stanly.
Stanly pun memutuskan untuk pergi dari rumah sampai akhirnya Stanly pun menjadi seorang germo dan tenggelam dalam dunia prostitusi dan narkoba.
“Tahun 2001, saya mengalami sakau. Saya telpon pulang ke rumah. Saya bilang ke mama bahwa saya sudah ga kuat, saya ingin pulang dan saya dalam keadaan sakit. Saya nangis-nangis,” kata Stanly mengenang kejadian tersebut.
Dengan bantuan orang tuanya, Stanly pun membuka bisnis kecantikan dan mulai saat itu Stanly dikenal sebagai seorang waria.
“Setelah saya sembuh tidak memakai lagi, mama saya memberi saya modal untuk membuka salon. Saya bertemu dengan komunitas waria dan saya bergabung dalam ikatan waria se-Bekasi. Pada saat itu mereka mengadakan lomba khusus para waria. Setiap lomba saya selalu menang sampai tingkat daerah kabupaten. Akhirnya saya pun ikut yang di Jakarta. Waktu itu saya menjadi juara runner up, dari pemenang itu kami diutus untuk ikut lomba ke Thailand.”
Dua minggu sebelum lomba, Stanly dan teman-temannya mengadakan sebuah pesta narkoba. Namun di tengah pesta narkoba yang gila-gilaan itu, tiba-tiba sebuah peristiwa yang menegangkan terjadi.
“ Jadi saya mulai mabuk, pusing, tidak enak badan, dan pingsan. Ketika saya sadar, saya sudah di rumah sakit. Di situ saya merasa diri saya sudah tidak berguna lagi. Banyak orang datang untuk mendoakan bagi orang-orang yang butuh didoakan. Ketika saya didoakan justru saya mengusir mereka sampai saya marah-marah. Saya mengatakan, ‘Kalian mau apa ke sini, kalian mau mendoakan saya mati.’ Pada saat itu saya sudah tidak bisa melihat dan saya lumpuh.”
Di tengah keputusasaannya, Stanly pun menerima tawaran seorang teman kakaknya untuk menghadiri sebuah camp di Puncak.
“Ketika saya masuk di camp itu ternyata isinya pria semua. Saya melihat mayoritas adalah bapak-bapak. Di situ timbul lagi perasaan saya, kok di sini tempatnya bapak-bapak semua, ini orang-orang yang saya benci semua, ”ungkapnya.
Namun akhirnya sesi demi sesi diikuti oleh Stanly. Di tiap sesi diungkapkan tentang luka-luka hati, keterbukaan dan pengampunan.
“Pada saat itu sebenarnya saya berat mengampuni apalagi papa saya atau sama orang yang telah melecehkan saya itu, berat sekali. Saya merasa jijik dan benci karena saya berpikir bahwa mereka tidak pantas untuk dimaafkan. Tetapi karena di sana hamba Tuhan bilang kalau kita ingin sembuh, kita harus mengaku dosa dan mengampuni orang lain. Saat itu saya menangis dan saya mau mengampuni mereka. Ternyata setelah saya melepaskan pengampunan, saya menjadi orang yang baru dan saya merasa beban saya sudah ringan,” ungkapnya.
Saat ini Stanly menjadi seorang fasilitator yang menangani kaum gay dan waria.

“Saya bersyukur, saya sudah menjadi pria sejati karena menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran tetapi menjadi pria sejati adalah masalah pilihan. 1, 2, 3... Yes!," kata Stanly menutup kesaksiannya







































22 Tahun Menjalani Neraka Pernikahan Tanpa Harapan

Pada tahun 1980-an, dalam sebuah pesta keluarga Wilma bertemu dengan seorang pria bernama Fredy.
“Saat itu saya melihat pria ini begitu tampan, baik, dan berawal dari perkenalan itu hubungan kami pun berlanjut kepada hubungan cinta dan kami berpacaran.”
Benih-benih cinta itu mulai tumbuh di hati Wilma. Hanya ada kebahagiaan yang dirasakannya.
“Kalau saya pergi sekolah, ia jemput. Pulang sekolah pun ia jemput. Seringkali ia mengajak saya makan. Kami bergandengan tangan, sehingga saya pikir ia adalah seorang pria yang baik. Dan memang ia pria yang baik, namun saya belum tahu karakter dia yang sebenarnya di balik semua kebaikan itu,” ujar Wilma.
Terbuai dengan cinta yang memabukkan bersama sang kekasih, akhirnya Wilma memutuskan untuk menikah. Di sanalah babak baru kehidupannya akan dimulai.
Di awal pernikahan, kehidupan rumah tangga Wilma dan Fredy begitu harmonis. Tapi sesudah itu Wilma harus menyaksikan kejadian demi kejadian yang terjadi di dalam rumah tangganya. Fredy ternyata adalah seorang pria yang suka ke bar, pulang dalam keadaan mabuk dan Wilma sama sekali tidak dapat melarang Fredy untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Yang ada, kekerasan dalam rumah tanggalah yang harus diterima Wilma sebagai balasannya.
Setiap kali Wilma menegur Fredy, suaminya justru akan memukul, melempar dan menendang Wilma tanpa belas kasihan. Wilma diperlakukan Fredy bagaikan musuh. Teriakan minta ampun Wilma sama sekali tidak menimbulkan belas kasihan dalam hati Fredy untuk menghentikan siksaan yang dilayangkan kepada istrinya. Ditambah lagi dengan cacian dan makian kasar yang terlontar dari mulut Fredy hanya bisa membuat Wilma menangis.
Wilma baru menyadari bahwa perilaku suaminya ternyata tidak berbeda jauh dengan perilaku ayahnya sendiri. Wilma melalui masa kecilnya dengan penuh penderitaan. Selama tujuh tahun, ayahnya pergi dan tidak sekalipun memberikan uang untuk memenuhi kebutuham keluarganya.
Hati Wilma bertanya, kemana ayahnya pergi selama itu. Sampai sebuah kenyataan pahit harus diterimanya dari pengakuan ibunya sendiri. Ayahnya ternyata adalah seorang suami yang suka selingkuh dan main perempuan. Sebagai seorang perempuan Wilma juga turut merasakan penderitaan ibunya. Wilma benar-benar merasa kecewa dengan kenyataan yang harus diterimanya saat itu. Dan hal itu menimbulkan trauma di dalam hati Wilma, jangan sampai jika kelak ia menikah ia mendapatkan seorang suami yang seperti ayahnya.
Batin Wilma harus ikut menangis ketika ia menyaksikan apa yang dialami ibunya. Setiap kali ibunya mencuci atau memasak, selalu diiringi dengan air mata. Sebagai anak, Wilma tidak sampai hati melihat kondisi ibunya yang seperti itu namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Diam-diam, kebencian kepada sang ayah dibawa Wilma sampai dewasa dan hal itu menimbulkan kepahitan serta perasaan kecewa terhadap sang ayah.
Namun apa yang ditakutkan Wilma sepanjang hidupnya, justru itu yang menimpanya. Apa yang terjadi dalam pernikahannya tidak beda jauh dengan apa yang harus dialami ibunya selama bertahun-tahun. Kehidupan neraka pernikahan harus dihadapinya setiap hari. Tidak ada kedamaian. Yang ada hanyalah ketakutan, trauma dan apapun yang dilakukannya selalu salah di mata sang suami. Wilma hanya dapat menerima nasibnya dengan pasrah.
Namun hal yang paling menyedihkan sebenarnya adalah anak mereka harus menyaksikan kekejaman ayahnya terhadap ibunya setiap hari.
“Papa saya sangat kejam. Ketika ia memukul mama saya, ia seperti memukul musuhnya sendiri. Anak mana yang tidak akan terluka ketika melihat perlakuan seperti itu terhadap mamanya sendiri. Pada saat itu saya sangat membenci papa saya. Dan saya bertekad satu saat nanti saya harus membalas apa yang papa saya telah lakukan terhadap mama saya,” ujar Reffys Tuhumury, anak hasil pernikahan Wilma dengan Fredy.
“Seandainya saya tahu karakter suami saya yang sebenarnya seperti itu, tidak mungkin saya mau menikah dengannya,” ujar Wilma.
Penyesalan tinggallah penyesalan. Tidak ada yang bisa dilakukan Wilma selain berharap kepada Tuhan.
“Selama kurang lebih 22 tahun, saya selalu disiksa oleh suami saya sendiri. Namun saya tidak putus asa, saya tetap berdoa. Saya tetap bergumul untuk suami saya. Saya percaya doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. Saya katakan kepada Tuhan, ‘Tuhan, saya rindu agar suami saya berubah,” kisah Wilma.
Selama bertahun-tahun Wilma terus menanti akan jawaban doanya. Namun tanpa sadar hatinya masih menyimpan duka. Sampai sebuah kebenaran membuka mata hatinya.
“Satu saat saya mendapatkan bahwa barangsiapa yang tidak mengampuni saudaranya, Bapa yang di surga juga tidak akan mengampuni dirinya. Tidak tahukah kamu bahwa barangsiapa yang membenci saudaranya, ia adalah seorang pembunuh manusia. Waktu saya membaca Firman itu, saat itulah saya mulai tergerak untuk melepaskan pengampunan. Saya katakan, ‘Tuhan, angkat semua kekecewaan, luka batin dan akar pahit yang selama ini mengikat, membelenggu dan memperbudak saya sejak saya kecil sampai saya dewasa dan menikah. Hari ini saya tolak dalam nama Yesus!’ Pada saat saya melepaskan pegampunan, saat itulah kuasa Tuhan Yesus turun atas diri saya. Ada satu kelepasan, kebebasan dan kemerdekaan dalam hidup saya,” tandas Wilma dengan penuh keyakinan.
Ketika Wilma mengambil keputusan untuk mengampuni, sesuatu yang mustahil terjadi pada suaminya.
“Suatu saat saya mengajak suami dan anak saya pergi ke tempat ibadah. Sewaktu kami menyanyi, tiba-tiba ia menangis. Saya bersama dengan anak saya yang melihat dia menangis, jadi ikut menangis. Kami menangis bukan karena marah, tetapi menangis karena sukacita. Karena ia dilawat oleh Tuhan. Di situlah saya melihat bagaimana suami bertobat dan berubah 180 derajat,” ujar Wilma sambil tersenyum penuh sukacita.
Sejak peristiwa itu, Wilma benar-benar melihat suaminya berubah. Hari-hari dalam rumah tangganya pun ia lewati dengan penuh kebahagiaan. Setiap kali melakukan kesalahan, Fredy mulai belajar untuk meminta maaf kepada Wilma. Setahap demi setahap, Fredy pada akhirnya melakukan hal itu hampir setiap hari. Wilma dan Fredy sama-sama belajar untuk saling mengakui kesalahan dan mengampuni. Perubahan dalam rumah tangganya pun menjadi suatu hal yang nyata.
“Saya sangat bahagia dengan perubahan di dalam diri papa saya. Dia datang kepada saya dan meminta maaf. Dan itu membuat semua dendam yang saya simpan, setiap luka, dan kekecewaan-kekecewaan terhadap papa saya di masa lalu, semua itu diangkat oleh Tuhan. Dan jujur, saya sangat bahagia sekali menghadapi perubahan papa saya,” ujar Reffys Tuhumury dengan senyum kebahagiaan.
Di tengah kebahagiaan yang sedang mereka nikmati, Wilma dan Reffys harus kembali menelan kenyataan pahit. Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena Tuhan memanggil Fredy pulang ke rumah Bapa di surga. Kepergian Fredy meninggalkan duka dan rasa kehilangan mendalam bagi Wilma. Karena saat itu mereka sedang menikmati masa-masa bahagia bagaikan pengantin baru.
“Ketika saya sangat butuh figur papa, dia meninggal. Dan itu membuat saya sedikit depresi, Saya merasakan betapa saya telah kehilangan seseorang yang sangat saya sayangi,” ujar Reffys.
Terlalu singkat kebahagiaan yang dirasakan Wilma bersama Reffys. Namun seiring berjalannya waktu, mereka pun dapat melupakan kesedihan itu. Luka yang dulu disimpannya selama puluhan tahun, kini sudah Tuhan pulihkan.
“Walau tanpa suami, saya dapat melihat bahwa pemeliharaan Tuhan Yesus itu luar biasa dalam hidup saya. Saya bisa mengampuni suami saya bukan karena kuat dan gagah saya, tetapi karena Tuhan Yesus sudah terlebih dahulu mengampuni saya sehingga saya bisa mengampuni papa dan suami saya almarhum,” ujar Wilma.
“Walaupun sekarang saya hidup tanpa papa, saya seorang anak yatim, namun saya melihat bahwa penyertaan Tuhan dalam hidup saya dan mama begitu sempurna. Dan hal itu membuat saya sangat bersukacita, bersyukur dan bersemangat untuk menjalani hari-hari dalam hidup saya,” ujar Reffys.


“Tuhan Yesus itu segala-galanya buat saya. Dia sebagai suami buat saya, Dia juga Bapa buat saya dan anak saya,” ujar Wilma menutup kesaksiannya.





















Bebas Dari Perjanjian Darah Dengan Iblis

Siksaan dan kekejaman sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak Tarunadjaya Lawoto masih kecil. Sang ayah yang seringkali tak berbelaskasihan menghajarnya telah menorehkan luka hati yang tak mudah disembuhkan.
"Saya sudah merasakan pukulan rotan, dan kepala sabuk atau ikat pinggang, bahkan saya juga pernah mengalami dicelupin papa di dalam drum yang diisi air, dan itu sangat-sangat membekas di hati saya. Saya bertanya-tanya "Mengapa papa saya sangat jahat?" Saya berusaha agar bisa cepat menyelesaikan sekolah dengan harapan dapat meneruskan kuliah di tempat lain dan saya bisa bebas."
Akhirnya hari yang dinanti-nantikan oleh Taruna pun tiba, ia melanjutkan kuliah di kota lain. Dan seperti burung yang lepas dari sangkar, Taruna menjadi tidak terkendali menikmati kebebasannya. Ia bahkan bergabung dengan sebuah kelompok gank yang selalu membuat keonaran. Hingga suatu hari, sebuah kelompok gank yang terkenal dengan kebrutalannya mulai mengancam kelompok Taruna.
"Gank tersebut mulai melakukan tindakan-tindakan yang di luar dugaan. Banyak anak-anak yang perantau dipalak, dan yang kedua mereka mulai main benda tajam. Hal itu menyebabkan saya merasa sangat takut sekali. Saya berpikir, saya harus mencari sesuatu yang dapat membuat saya menjadi kuat sehingga saya bisa menjaga diri."
Tindakan brutal dari gank lain tersebut membuat Taruna dan teman-temannya benar-benar mati kutu. Ketakutan bercampur dendam dan amarah kian berkecamuk dalam batin Taruna. Dan demi harga diri dan keselamatan jiwanya, Taruna dan teman-temannya memutuskan pergi ke pedalaman untuk berburu ilmu hitam.
"Saya tidak memikirkan lagi apakah itu okultisme, atau apakah itu ilmu hitam, bagi saya, pokoknya saya ingin kuat. Saat itu saya disuruh melakukan sesuatu layaknya seekor binatang. Saya berada kira-kira berada 100 meter dari tempat dimana guru saya berada sambil menggigit suatu benda. Lalu seluruh tubuh saya dirajah dengan darah ayam, dan saya menuju tempat itu dengan merangkak. Saya tidak pikir panjang saat itu. Karena dalam hati saya, isinya hanya dendam dan ketakutan. Saya menjalani semua ritual yang ada, dan menganggap bahwa semua itu adalah sesuatu yang benar. Karena saya dengar sejak dari kecil, sepertinya okultisme itu tidak berbahaya. Saat itu seluruh tubuh saya dibacok dengan golok, dan ternyata saya sudah kebal. Jadi setelah saya punya ilmu kebal itu, saya tidak takut sama orang, saya merasa hebat dan itulah yang mengakibatkan saya sambong."
Ilmu hitam telah menyatu dengan raga Taruna, kesombonganpun mulai merajai jiwanya.
"Salah satu kejadian adalah sewaktu saya di clurit. Harusnya sudah pasti sobek di dekat leher saya, tapi hal itu tidak terjadi."
Saat Taruna sudah mulai berumah tangga dan memiliki seorang istri, sesuatu terjadi dalam hidupnya.
"Saya punya niat ingin hidup baik. Dan okultisme yang pernah saya miliki, sudah saya tidak anggap ada lagi. Ritual yang dulu rutin saya lakukan sudah tidak saya jalankan lagi. Saya di bacok mempan, terluka juga. Kena beling, luka juga. Bahkan kena pisau, saya tetap luka. Tetapi akibatnya dan efek yang ditimbulkan dalam hidup saya ternyata besar. Sewaktu saya mencari ilmu itu, ada perjanjian yang saya buat, saya setuju untuk mengikuti aturan main kuasa kegelapan. Dan itu sebenarnya harga yang harus saya bayar. Tetapi bukan karena ditengah perjalanan saya tidak mau pakai ilmu itu lagi, lantas perjanjian yang dulu saya buat batal begitu saja."
Akibat perjanjiannya dengan kuasa gelap, kehidupan keluarganya mulai diganggu oleh hal-hal yang bersifat supranatural. Dalam mimpi, istrinya melihat ada roh-roh jahat yang mendatangi Taruna. Namun Taruna masih menyimpan rapat-rapat rahasia tentang keterlibatannya dengan kuasa gelap di masa lalu.
Hingga suatu hari, anak pertama Taruna lahir kedunia ini. Namun, hari-hari penuh kebahagiaan itu diisi oleh tangisan sang buah hati yang tidak bisa dibuat tenang.
"Setelah saya pikir-pikir, saya ingat kalau saya masih pegang jimat saat itu. Lalu saya langsung barang-barang itu. Dan ketika saya membuang barang-barang itu, saya anggap semua sudah hilang dan saya tidak lagi terikat dengan kuasa gelap. Dan begitu saya buang, ternyata anak saya tidak menangis lagi."
Dalam sebuah kunjungan ke rumah seorang hamba Tuhan bersama istrinya, Tarunadjaya di tegor hamba Tuhan tersebut.
"Saya kaget begitu hamba Tuhan itu bicara pada saya, ‘Ta, kamu datang tidak sendiri. Saya jawab, ‘Saya sendiri, saya datang bersama istri saya.' Saya masih sombong saat itu. Hamba Tuhan itu berkata dengan tegas, ‘Tidak, saya melihat banyak kepala di belakang kamu.' Ternyata okultisme saya yang dulu, itu masih ada pada saya. Saya tahu apa yang dimaksudkan oleh hamba Tuhan tersebut, tapi saya berpura-pura tidak tahu."
Saat sang istri tahu bahwa Taruna pernah terlibat ilmu hitam, ia pun mengundang seorang teman untuk menolong Taruna agar lepas dari ikatan ilmu hitam tersebut. Namun ketika Taruna bertemu dengan orang tersebut, ia menunjukkan sikap tidak bersahabat.
"sewaktu saya didoakan, saya muntah. Saya merasa ada sesuatu yang lepas. Tapi hal itu tidak membuat sesuatu perubahan yang banyak bagi saya. Meskipun saya merasakan ada kasih, tapi saya tidak tahu kasih apa yang melanda hidup saya ini."
Mengetahui suaminya masih belum lepas sepenuhnya dari ilmu hitam, istri Taruna membawanya ke suatu ibadah. Saat Taruna maju ke depan untuk didoakan, sesuatu yang luar biasa terjadi.
"Hamba Tuhan itu mendoakan saya, dan saya hanya diam saja. Dalam hati saya berkata, ‘kamu bisa apa sih. Kamu orang tua ngga ada apa-apanya.' Saya doa, saya tunduk dan saya tahan. Beberapa menit dia mendoakan saya, saya pandang dia, saya tunduk lagi dan saya tahan. Tetapi saya merasa ada arus panas yang masuk ditubuh saya. Saya bertanya, ‘ada apa?' ternyata saat saya membuka mata saya lihat seluruh panitia sudah mendoakan saya. Saya tahan dan memejamkan mata, saya pengen tahu seperti apa sih ini. Saya merasa badan saya panas. Dan saya melihat banyak kepala bersayap dibelakang panitia yang saat itu sedang memuji Tuhan. Dan saya muntah darah disitu. Saya berguling-guling dan merasakan sakit di ulu hati. Saya ingat dulu saya menelan sesuatu berupa botol, dan apakah saat itu dlam alam roh itu keluar atau tidak, tapi yang keluar dari diri saya saat itu adalah darah. Kemudian saya melihat suatu jubah putih, yang berbias sinar keemasan, dan saya melihat sebuah tangan yang terulur dan menyuruh saya naik. Dan saya tahu itu adalah Yesus."
Ternyata apa yang dilakukan oleh Taruna di masa lalunya adalah sebuah perjanjian darah dengan iblis tanpa pernah tahu akibatnya akan berdapak buruk bagi hidupnya. Hari itu, Taruna menyadari bahwa Tuhanlah satu-satunya pribadi yang sanggup menyelamatkannya. Menyadari hidupnya telah diselamatkan, Taruna pun mulai mengikuti beberapa kali ibadah dan secara berangsur-angsur ia pun dibebaskan dari ilmu hitam secara total. Kini Taruna bisa menapaki kehidupan yang lebih bahagia bersama keluarganya.


"Tuhan yang menyelamatkan hidup saya, sehingga saya bisa sampai saat ini ada, semua itu karena anugrah dan belas kasihan dari Tuhan," demikian Tarunadjaya mengakhiri kesaksiannya.






































Narkoba Merenggut Semua Kesuksesan Michael

Semenjak meninggalnya sang ayah, kondisi perekonomian keluarga Michael Sie hancur, tidak hanya itu, hidup Michael pun hancur. Teman-temannya meninggalkannya, ibunya terlibat hutang, dan ia merasa sangat minder. Akhirnya Michael mencoba mencari jalan keluar dengan menggunakan narkoba.
“Saya lari ke narkoba, saya terjerat lebih dalam lagi dan malah saya tidak bisa lari ke mana-mana,” demikian pengakuan Michael.
Hingga suatu saat mamanya bertanya, “Kamu mau gini-gini aja, hidup di Jakarta?”
“Ya ngga mi, tapi mau gimana lagi?”
Saat itulah terlontar sebuah penawaran menarik, “Mama mau kerja ke Amerika, kamu mau ikut ngga?”
”Saat itu saya cuma mikir, kalau saya cari uang saya bisa jadi kepala rumah tangga yang baik. Sebagai anak yang baik untuk orangtua saya, saya melihat ini suatu kehidupan yang baru. Saya bilang, “Mam, saya ikut.” Amerika man.. Amerika, kapan lagi..”
Di tahun 1998 itu, Michael mengambil kesempatan yang ditawarkan mamanya itu. Mereka berdua pergi ke negeri Paman Sam itu dengan banyak harapan. Michael menjejakkan kaki di Los Angeles, Amerika dan memulai kehidupan baru. Namun kenyataan yang dihadapinya tidak seindah harapannya.
“Akhirnya saya mulai kerja, cuci piring. Sambil nyuci piring, saya menangis. Tuhan, sesusah-susahnya saya di Jakarta, ngga pernah sampai di suruh nyuci piring 14 jam sampai tangan biru-biru semuanya.”
Merasa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya di kota itu, Michael mencoba peruntungannya ke Florida. Disana ia kerja sebagai pelayan restoran, namun dengan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil, setelah tiga tahun bekerja di restoran itu, di tahun 2001 Michael dipercayakan untuk menjadi manajer.
“Saya dipromosikan menjadi manajer dan dipercayakan untuk mengkepalai waiter-waiter. Ada suatu kebanggaan dan diposisi manajer itu saya penghasilannya cukup baik. Saya sempat bilang sama mama saya, “Udah mam, lebih baik mami pulang. Mami sudah waktunya istirahat, nanti biar aku yang beresin soal rumah dan biaya hidup.”
Michael ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi kepala keluarga yang baik kepada mamanya dan juga adiknya, dan hal itu berhasil, mamanya percaya kepadanya dan kembali ke Indonesia. Tapi di tengah kejayaan, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Peristiwa penyerangan teroris 11 September 2001 ternyata berpengaruh kepada kondisi perekonomian saat itu, dan ia terpaksa harus berhenti bekerja dan kembali ke Los Angeles.
“Ternyata di hari pertama saya di Los Angeles saya langsung bertemu dengan saudara-saudara saya. Dia tanya, “Mike, mau putaw ngga?” Langsung deh nyobain, gimana sih rasanya putaw Amerika.”
Apa yang telah ia tinggalkan di Indonesia dulu, ternyata mengejarnya kembali. Iapun kembali terikat bahkan hingga kehilangan semua harta hasil kerja kerasnya.
“Pikiran saya cuma narkoba dan narkoba.. Saya ngga mikir lagi kalau saya punya orangtua, punya adik. Seperti dibutakan..”
Hingga akhirnya semua harta Michael ludes semua, namun kebutuhannya akan narkoba tidak bisa ia kendalikan lagi. Ia nekad tinggal di jalanan dan mulai menjadi calo penjual narkoba untuk mendapatkan penghasilan. Keberhasilannya mendapatkan banyak pembeli, membuat Michael di lirik oleh seorang bandar besar.
“Saya seperti dapat promosi, dulu cuma calo sekarang megang barang. Dijalanan saya seperti dapat respek dan diterima.”
Namun uang, penghormatan dan narkoba yang melimpah tidak bisa memuaskan Michael. “Saya teriak sama Tuhan, tapi saya ngga tahu Tuhan yang mana. Saya cuma bilang, “Tuhan saya cape, cape begini. Harus bangun pagi, makai. Siang makai. Tuhan tangkep aja deh, lebih baik saya dipenjara aja deh. Saya capai begini.””
Doa Michael itu dijawab dengan segera. Saat ia sedang memakai narkoba, seorang polisi datang dan menangkapnya. Dipenjara itu, untuk sementara ia bisa berhenti menggunakan narkoba. Namun dengan alasan hanya sebagai pemakai, ia hanya sebentar berada di penjara. Sekeluarnya dari penjara, Michael mengalami kebimbangan apakah ia harus kembali ke keluarganya atau pada si bandar narkoba. Namun karena takut ditolak oleh keluarganya, Michael memilih kembali ke bandar narkoba.
“Terakhir kondisinya sedang panas, banyak polisi segala macam. Saat itu tidak ada yang berani jualan, tapi saya tetap jualan. Duitnya saya ambil, kami jalan berlawanan arah.”
Namun saat Michael sedang menghitung uang yang di dapatnya, seorang polisi menangkapnya. Di tahun 2003 itu, Michael harus menjalani pengadilannya dan dijatuhi hukuman selama satu tahun delapan bulan dan harus di deportasi ke Indonesia.
“Tujuh tahun ke Amerika, pulang hanya bawa 120 US dolar. Saya cuma berharap orang sudah tidak kenal lagi sama saya. Saya pikir saya akan dihakimi, tapi adik saya cuma peluk saya dan terima saya apa adanya. Dia cuma bilang, “Koko.. I miss you..” Pada hal dia tahu saya mengecewakan. Saat itu saya sadar bahwa semua hal yang saya takuti tidak terjadi, ternyata keluarga saya tidak mengecewakan saya. Keluarga saya mengasihi saya, itu hal yang diluar dugaan saya.”
Namun saat Michael sedang menata kembali kehidupannya, tawaran narkoba kembali datang. Kebiasan buruk Michael akhirnya diketahui oleh sang adik yang kemudian meminta bantuan dari sebuah panti rehabilitasi. Namun Michael melakukan perlawanan dan tidak mau dibawa ke panti rehabilitasi, hingga akhirnya tindakan keras pun dilakukan.
Tindakan pemaksaan ke tempat rehabilitasi itu, membuat Michael merasa dikhianati oleh keluarganya. Amarahnya memuncak.
“Saya benci semua orang!” demikian ungkap Michael. Ia merasa di khianati dan di tolak oleh keluarganya. Namun ia tidak dapat berbuat banyak.
Hingga suatu saat seorang mentor dipanti rehap itu berkata, “Kunci satu-satunya kamu keluar dari tempat ini adalah kalau kamu menghafalkan firman Tuhan.”
“Dia kasih saya Hagai pasal 1 dan pasal 2. Saya mulai baca Hagai itu dan hafalin. Lama-lama keasikan. Saya merasa ada sesuatu yang masuk. Sesuatu kayak ketenangan. Saya mulai menyadari kalau yang salah itu bukan dari luar. Yang salah itu saya. Tuhan itu panjang sabar, saya sudah ditolong begitu banyak. Saya baru sadar kalau Tuhan itu selalu ada buat saya. Tuhan sendiri bicara, “Mike, mereka itu mengasihi kamu, makanya itu kamu disini. Mike, Aku ini mengasihi kamu, karena itu Aku mau kamu mengenal Aku.””


Kasih Tuhan yang Michael rasakan saat itu membuatnya menyadari tujuan hidupnya. Enam bulan di tempat rehabilitasi itu, mencelikkan mata hatinya akan semua kesalahannya di masa lalu. Kini ia telah bebas dari narkoba, bahkan memberikan hidupnya untuk melayani anak-anak muda yang mengalami masalah seperti dirinya.

















Yunlung, Temukan Sukses Sejati di Dalam Tuhan

Anak muda ini sejak kecil menyimpan kemarahan kepada sang ayah. Pria yang bernama Yunlung ini bercita-cita tinggi, namun ayahnya yang gemar berjudi membuatnya mengecap pahit dan getirnya kemiskinan.
“Waktu itu saya pernah diajak teman makan di suatu restoran di kota, tapi saya ngga diajak masuk untuk makan. Walaupun saat itu saya masih kecil, tapi saya merasa miskin itu ngga enak. Susah itu ngga enak. Saya berpikir suatu hari saya harus punya uang, jadi ngga akan ada kejadian yang seperti ini lagi.”
Tekadnya untuk menghasilkan uang sendiri membuat Yunlung mengabaikan rasa malunya. Ia bersama beberapa orang temannya mencari barang-barang bekas seperti kardus, besi tua dan juga bekas botol minuman yang kemudian di jualnya kembali. Dengan uang hasil jerih payahnya ini ia bisa mendapatkan uang jajan yang tidak pernah diterimanya dari orangtuanya. Namun upayanya untuk mandiri ini sepertinya tidak dipandang sama sekali olah ayahnya. Sosok yang diharapkan dapat menjadi pengayom dan sumber bagi keluarganya tersebut malah sibuk berjudi, bahkan lama-lama ayahnya menjadikan rumah mereka sebagai tempat judi.
“Dia suka merasa menyesal, dia punya keluarga. Seolah-olah itu yang menghabiskan uang itu keluarga. Saat itu saya menyesal punya papa kaya gitu. Saya berpikir, suatu hari saya tidak boleh jadi seperti papa saya.”
Sewaktu Yunlung lulus dari SMA, ia meminta untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun ayahnya dengan enteng menyuruhnya kerja. Hal ini membuat Yunlung bertambah kecewa, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya dapat mewujudkan cita-citanya tanpa bantuan sang ayah. Berkat pertolongan seorang saudara Yunlung akhirnya berhasil merintis karir di luar negeri sekalipun harus melewati jalan yang berat. Namun uang yang mendadak melimpah membuat Yunlung lupa akan tujuannya semula. Setiap hari Yunlung yang ia lakukan hanya pesta pora. Tanpa disadarinya kebiasaannya berpesta pora telah menghancurkan karirnya, pekerjaannya yang semula menjanjikan kini terbengkalai karena ulahnya. Dengan penuh rasa malu, akhirnya Yunlung mengundurkan diri dan pulang ke Indonesia.
“Waktu itu perasaan saya kacau, pulang tidak bawa apa-apa dan saya jadi pengangguran. Akhirnya kembali ke teman-teman lama, mereka mulai ngajakin ke dunia malam lagi. Setiap malam kami mulai masuk dari satu diskotik ke diskotik yang lain.”
Untuk mengalihkan rasa frustasinya karena tidak memiliki pekerjaan, dia mulai terikat minuman keras dan juga narkoba. Awalnya Yunlung menikmati obat-obat bius itu, namun suatu saat ia mengalami overdosis. Di ambang maut itu, Yunlung meminta satu kesempatan lagi kepada Tuhan untuk bisa merubah hidupnya.
“Tuhan beri saya satu kesempatan lagi, tapi kalau seandainya saya harus mati hari ini, tolong buat saya segera mati.”
Tuhan mendengar permohonan Yunlung, ia selamat dari maut di hari itu. Seperti mendapatkan kehidupan baru, Yunlung semangat kembali untuk membangun masa depannya. Ia menjual semua harta miliknya, dan memulai sebuah usaha, namun sayangnya usahanya ialah menjual minuman keras.
“Saya ngga mikir apa minuman keras itu haram, apa minuman keras itu dosa, atau menjual minuman keras itu bisa mencelakakan orang. Saya tidak pernah memikirkannya sedikitpun.”
Ditengah kesuksesannya di bisnis haram tadi, Yunlung diajak seorang teman untuk menghadiri sebuah seminar. Namun ajakan itu berkali-kali di tolaknya. Hingga suatu hari saat ia mengunjungi beberapa night club yang menjadi konsumennya, ia melihat sesuatu yang mengusik hatinya.
“Saya bertemu dengan seorang pelanggan saya. Dia dalam keadaan sangat mabuk, dan dikelilingi oleh beberapa orang laki-laki yang mencari-cari kesempatan. Saat itulah hati saya merasa sakit, saya merasa takut sekali. Ternyata produk saya malah mencelakakan orang lain.”
Rasa bersalah mulai mengganggu hati Yunlung, namun ia tidak melakukan apapun hingga suatu saat ia mengalami sebuah kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.
“Kami pulang berdua naik motor, saya ngga tahu kalau tas teman saya di belakang di jambret. Karena tasnya ditarik, kami berdua jadi terpelanting dari motor.”
Karena kejadian itu ke dua kaki Yunlung cedera dan membuatnya harus terbaring di tempat tidur selama dua minggu. Saat ia dalam keadaan tidak berdaya itulah hati nuraninya kembali mengusiknya. Ia kembali diingatkan akan ajakan temannya untuk mengikuti seminar tentang bisnis yang benar itu.
“Saya mulai berpikir tentang apa yang akan menjadi masa depan saya. Apakah saya benar-benar harus mengikuti seminar itu?”
Yunlung pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti seminar tersebut. Sesi demi sesi dijalaninya untuk menemukan jawaban akan sebuah usaha yang benar. Hingga sebuah perkataan dari pembicara dalam seminar itu menyentuh hatinya.
“Kita sebenarnya memiliki lima harta: harta rohani, harta jasmani, harta hubungan, harta keluarga, baru harta benda. Kalau dulu saya berpikir: harta benda, harta benda di awal, baru sisanya di belakang. Tapi ternyata terbalik. Dari situ saya mulai sadar, untuk apa saya kejar harta benda kalau harus mengorbankan empat harta yang sebelumnya.”
Sesi demi sesi mengubah kehidupan Yunlung, dalam seminar itu ia mengalami jamahan Tuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Saya merasakan Tuhan itu masih ingat saya, masih sayang saya. Kalau selama ini saya hidup di dunia realitas, kasih yang menuntut, yang mengharapkan imbalan, ternyata setelah di doakan, saya tidak merasakan lagi. Saya merasakan kasih yang murni dari seorang bapak. Apa yang saya pikirkan, kepahitan saya kepada orangtua, itu seperti hilang. Saya merasa lega sekali.”
Sebuah keputusan untuk mengijinkan Tuhan untuk menguasai hidupnya, telah mengubah seluruh kehidupan Yunlung. Hubungannya dengan kedua orangtuanya kini telah pulih, dan pemahamannya akan arti kesuksesan yang sejati membawanya menjadi pengusaha pertanian dan juga menjadi guru sukarelawan di sebuah pedesaan di Jawa Barat.

“Kalau dulu saya berpikir bahwa sukses itu : saya memiliki posisi yang bagus, usaha yang bagus, uang yang banyak dan mendapatkan penghargaan. Tapi saat ini, saya berpikir sukses itu adalah: kalau kita benar-benar mau mengikuti apa yang menjadi kehendaknya Tuhan. Kalau kita hidup dengan cara yang benar, sikap yang benar dan tujuan yang benar dimata Tuhan, itu baru kesuksesan yang sejati,” demikian papar Yunlung.
























Nyawa Nyaris Melayang Akibat 50 Tusukan Brutal

Minggu, pukul 2 pagi, Puji beserta istri dan anaknya masih tertidur lelap. Tanpa disadarinya, seorang tamu tak di undang sedang mengendap-ngendap memasuki kamarnya.
“Awalnya saya mendengar suara klotak, saya pikir suara tikus jadi saya tidak menanggapi suara itu,” tutur Puji. Namun kemudian ada suara pintu dibuka, Puji berpikir itu istrinya yang sedang keluar kamar untuk mengambil sesuatu. Tapi karena suara itu mengganggu, Puji akhirnya memanggil-manggil istrinya.
“Waktu saya panggil ‘Mah..mah…!’ orang itu dengan penutup kepala naik ke tempat tidur dan memukul saya dengan sebuah alat pemijat ke arah wajah. Ketika pukulannya berhenti, saya merasa ada tusukan di dada dan perut saya.”
Kesakitan dan merenggang nyawa, itulah yang dirasakan oleh Puji. Istrinya yang mendengar suara jeritan Puji segera terbangun. Kaget bukan kepalang, istri Puji melihat seorang pria bertopeng sedang menusuk tubuh suaminya. Ia pun berteriak, “Maling! Maling!” Sadar dirinya terancam, pelaku menyerang istri Puji dengan pisau. Wanita malang itu pun terluka di atas dadanya.
Puji menahan maling tersebut dengan mendekapnya, sehingga istri dan anaknya yang paling kecil bisa lari keluar kamar. Pelaku berusaha mengejar, namun istri puji berhasil mengunci pintu.
“Saya lihat pelaku berusaha buka pintu, tapi tidak bisa. Saya coba telephone satpam, tapi tidak bisa digunakan, “ tutur Endah istri Puji. “Saya merasa takut sekali, waktu saya pegang gagang telephone, saya lihat pelaku berusaha membuka pintu. Kemudian dia berbalik menyerang suami saya lagi.”
Istri Puji terus berteriak-teriak histeris sambil menahan rasa sakit akibat luka tusukan di dadanya. Tak lama kemudian, anak laki-lakinya yang tertua bangun dan keluar dari kamar.
“Saya lihat mama saya teriak maling-maling dengan kondisi berdarah-darah dan lemas,” tutur Peter anak Puji. Peter lari menuju kamar dan menyaksikan ayahnya sedang mati-matian berusaha menghindari tusukan pisau dari pelaku. “Saya langsung masuk dan saya langsung dekap orang itu,” jelas Peter. Tanpa buang waktu, dengan sisa tenaganya Puji mengambil kabel yang ada di dekatnya dan langsung menjerat leher pria tidak di kenal tersebut. Dipukulnya pria itu beberapa kali hingga tak berdaya.
“Saya pegang lagi orang itu, sepertinya tidak ada kekuatan,” ungkap Puji. “Saya buka topengnya, saya lihat, wah, saya ngga kenal.’’
Dengan darah yang terus mengalir di dada dan perutnya, Puji mengambil alat pijat yang tadinya dipakai sang pencuri untuk memukulinya. Dengan sekuat tenaga ia memukulkannya pada si pencuri hingga alat itu pecah. Pria itu masih diam tak bergerak, Puji pun mengambil kabel rol yang ada di dekatnya dan memukulkannya lagi ke pria itu.
“Dia diam, saya pikir pingsan karena tidak bergerak. Jadi saya tinggal.”
Puji menuju ruang tengah dengan dada penuh darah, dan duduk sebentar di sofa. Waktu ia akan kembali lagi ke kamar, pria itu sudah bangun dan akan keluar. Mata Puji bertemu pandang dengan sang pelaku. Dengan mata nanar, pria itu pergi melarikan diri.
Peter lari ke luar menyusul mamanya yang saat itu sedang teriak-teriak di dekat pagar untuk mencari pertolongan. Sayangnya, pagi buta itu semua orang sedang nyenyak tidur dan tidak satupun merespon teriakkan Enda. Peter pun langsung melompat pagar dan berlari menuju pos satpam untuk mencari bantuan.
“Saya teriak rasanya sampai putus asa karena tidak ada tetangga yang bangun,” ungkap Endah sedih. “Saya merasa pasti akan kehilangan suami saya. Anak-anak saya tidak akan punya papa lagi.”
Satpam datang, Enda sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa terduduk di depan rumahnya.
“Cepat masuk pak, malingnya masih ada di dalam, tolong suami saya pak..!”
Saat Enda dipapah masuk oleh Peter dan satpam, Puji keluar rumah dengan kondisi dada penuh darah.
“Saya lega, karena ternyata suami saya masih bisa keluar dari kamar,” ungkap Enda.
Puji yang mengalami lima puluh tusukan di dada dan perutnya bertanya pada satpam apakah ada yang bisa menyetir mobil untuk membawa dirinya dan istrinya ke rumah sakit, sayangnya dua satpam yang datang tidak ada yang bisa menyetir. Dengan terpaksa, ia menahan sakit dan membawa kendaraan sendiri menuju rumah sakit bersama istrinya.
Pencuri sadis yang masih di dalam rumah Puji berusaha melarikan diri, namun akhirnya tertangkap oleh polisi dan satpam karena terjatuh dalam kondisi terluka.
Mobil yang dikendarai Puji dalam keadaan oleng, namun Endah sang istri terus menguatkannya agar bisa menjaga kesadaran dan bisa sampai di rumah sakit.
Nama Yesus, itulah yang diserukan terus menerus oleh Endah agar suaminya dapat bertahan dan mengendarai mobil hingga rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Endah langsung di tolong petugas keamanan dan dibawa masuk dengan kursi roda. Sebaliknya Puji, dengan luka dan darah yang terus mengucur berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan mencari bantuan.
Begitu di tangani oleh dokter jaga dan suster, luka-luka Puji segera di jahit. Namun karena tidak tahu pasti apakah ia ditusuk dengan pisau yang steril atau tidak, dirinya harus menjalani operasi. Dalam kondisi menahan sakit yang luar biasa itu, Puji masih sempat menghibur dan menenangkan putranya yang kecil yang mengikuti kejadian itu dari awal hingga tiba di rumah sakit.
Puji kemudian harus menjalani operasi karena tusukan yang dialaminya mengenai organ penting. Luka pada diri Endah relatif lebih aman, namun ia mengalami trauma yang dalam akibat kejadian tersebut. Satu doa Endah, ia minta Tuhan menguatkannya dan menyembuhkan dirinya dan suaminya sehingga bisa melalui kondisi kritis.
Nyawa Puji terselamatkan, operasinya berhasil. Namun masa pemulihannya sangat menyakitkan.
“Hidung saya diberi selang, jadi langsung masuk ke lambung. Hari pertama itu saya tidak boleh mengkonsumsi apapun juga. Saya bilang pada perawat, saya haus. Dia menjawab, bapak belum boleh minum, karena bapak harus puasa. Saat itu hausnya luar biasa. Saya membayangkan Tuhan Yesus pada waktu di salib. Tuhan, Engkau pernah merasakan hal seperti ini dan dilukai. Saya hanya mencicipi sedikit dari luka itu, mungkin seperti itulah penderitaan-Nya karena kehausan yang luar biasa.”
Rasa sakit yang luar biasa mendera Puji, gerakan sedikit pun akan membuatnya merasakan penderitaan yang luar biasa. Tapi inilah yang ia ingat:
“Saya cuma ingat satu lagu, Tuhan adalah kekuatanku.. bersama Dia ku tak akan goyah.. Ketika lagu itu saya nyanyikan dalam hati, lagu itu menguatkan saya. Lagu itu memompa semangat saya. Saya harus sembuh! Saya harus sembuh! Saya nyanyikan lagu “Hati yang gembira adalah obat” Jadi yang bisa menyembuhkan saya adalah kalau saya gembira, kalau saya semangat, dan berharap pada Tuhan,” demikian tutur Puji.
Dengan lima puluh tusukan dan dua operasi besar yang harus ia lewati, terbukti kuasa Tuhan bekerja dan Puji dapat sembuh seperti sedia kala.
Polisi melakukan penyelidikan, dan sebuah kenyataan yang tidak pernah di duganya terungkap. Pelaku pernah di lihatnya berada di rumah tetangganya, sekalipun demikian ia bertanya-tanya karena keluarganya tidak pernah mengenal pria tersebut. Beberapa hari setelah Puji pulang dari rumah sakit, pintu rumahnya di ketuk. Ternyata yang datang adalah istri pelaku. Sambil menangis, wanita tersebut meminta maaf atas nama suaminya. Kesal, marah, dan merasa tak terima, Endah mengungkapkan rasa amarahnya kepada wanita tersebut. Tapi Puji menahannya.
“Ketika dia mau marah, saya pegangin dia. Saya bilang, ‘Boleh saya ngomong ma?’ Saya sampaikan kepada istrinya bahwa saya sudah mengampuni dan tidak ada lagi rasa marah dan rasa dendam.”
Sebelum wanita itu pulang, Puji bahkan sempat mendoakannya dan juga pelaku yang ada di penjara. Namun masalah belum selesai, Endah masih mengalami trauma yang mendalam. Setiap jam dua malam, ia selalu terbangun dan dibayang-bayangi peristiwa mengerikan itu.
“Saya katakan kepada istri saya, jika kita masih diberi kesempatan hidup, maka kita masih diberi kesempatan untuk menjadi anak Tuhan yang lebih baik. Untuk itu kita harus mengampuni orang lain. Tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan luka di hati. Karena jika kita menyimpan luka di hati, itu akan merampas sukacita, itu akan merampas sukacita kita.”
Sebuah ayat yang berkata “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44) melembutkan hati Endah.
“Itu harus saya lakukan, kalau mau memiliki kasih yang sempurna,” ujar Endah. “Artinya saya harus mengampuni pelaku.”
Empat bulan setelah kejadian tragis itu, Puji dan Endah sudah bisa mengampuni pelaku.
Niko, Panglima Kegelapan Yang Takluk Pada Yesus

Pria ini ditakuti lawan dan disegani oleh kawan. Nama Niko Kilikili sudah tidak asing lagi bagi mereka yang tinggal di sebuah kawasan niaga Jakarta Pusat. Pria yang sering mengenakan jubah putih dan menyandang samurai ini mendapat julukan “panglima.”
“Semua orang takut sama saya, dan saya menganggap bahwa diri saya adalah orang yang terhebat,” tutur Niko.
Sudah tak terhitung berapa banyak orang yang tewas ditangannya. Tidak ada belas kasihan di hati Niko bagi lawan-lawannya. Namun suatu saat, sebuah bentrokan antar preman membuatnya melakukan kesalahan fatal.
“Akibat ribut itu akhirnya kantor camat Tanah Abang dibakar. Saya yang pimpin keributan itu.”
Karena kejadian itu Niko dan anak buahnya di gelandang ke kantor polisi. Namun setelah diproses tak berapa lama kemudian, mereka bebas kembali. Keluar masuk penjara karena perkelahian adalah sesuatu yang biasa bagi Niko, karena ia memang di didik oleh sang ayah untuk itu.
“Niko, kalau kamu mencuri, pakai narkoba atau memperkosa orang dan masuk penjara, kamu tidak akan papa bela. Tapi kalau kamu bunuh orang, sampai dimanapun kamu akan papa bela,” demikian pesan ayah Niko yang rupanya juga seorang jagoan.
Tindakannya yang brutal dan bengis ternyata dimanfaatkan para pengusaha untuk memperlancar urusan mereka. Hal ini membuat uang dengan mudahnya mengalir ke kantong Niko, dan membuatnya ia makin bergelimang dosa. Minuman keras, narkoba dan seks bebas mewarnai hidupnya setiap hari.
“Mengapa saya lakukan semua itu? Jawabannya sangat sederhana. Saya cuma ingin cari damai sejahtera. Saya ingin cari kasih sayang. Sebenarnya saya ingin keluar dari lingkaran setan ini, tapi tidak bisa. Berat sekali.”
Hingga suatu hari, Niko ditawari inex dari Belanda. Saat ia mencobanya, sesuatu yang tak pernah diduganya terjadi.
“Saya pakai inex itu, tapi waktu saya pakai, ternyata saya over dosis.”
Darah mengalir keluar dari telinga, mulut dan hidung Niko, ia pun segera dilarikan ke rumah sakit.
“Dalam perjalanan, dingin pelan-pelan mulai naik dari kaki hingga leher saya. Waktu dingin sudah mulai sampai leher, saya cuma ingat satu lagu sekolah minggu, ‘Yesus.. Yesus.. dokterku yang baik. Dokter dunia tak sama dengan Dia. Saya sakit DIa sembuhkan.’ Pada hal saya tidak pernah ingat lagu itu, sudah lama sekali saya tidak nyanyikan lagu itu. Tiba-tiba bisa ingat dan saya nyanyi lagu itu.”
Di rumah sakit, seorang suster mendengar Niko menyanyikan lagu itu dengan suara yang kecil dan sudah mulai tidak jelas berkata-kata karena lidahnya sudah mulai kaku. Menyadari ajal sudah di depan mata, Niko meminta tolong pada sang suster untuk mendoakannya. Semua keangkuhan Niko saat itu hancur.
“Pada saat maut itu datang, saya sangat ketakutan. Saya sangat menyesal atas semua dosa-dosa yang telah saya lakukan.” Kegelapan menyelimuti Niko, dalam hatinya berkata bahwa ia pasti ke neraka. Samar-samar ia mendengar dokter mengatakan kepada suster bahwa waktu bagi Niko tinggal sebentar lagi.
“Waktu dokter bilang, ‘Sebentar lagi!’ Saya langsung teriak kenceng-kenceng, ‘ Tuhan Yesus tolong saya! Tuhan Yesus tolong saya!’ Waktu saya teriak seperti itu, suster berdoa. Selesai ‘amin,’ sepuluh menit kemudian dingin mulai turun berlahan-lahan. Dokter bingung, dokter bilang hal seperti ini belum pernah terjadi. Tapi itulah Tuhan Yesus yang ajaib.” Menyadari bahwa dirinya masih bernafas, Niko pun membuat sebuah keputusan penting yang akan mengubah jalan hidupnya.
“Waktu itu tahun 98 akhir, saya berkata, ‘Tuhan, mulai saat ini dari ujung kaki sampai ujung rambut, aku serahkan bagi kemuliaan nama-Mu.”
Niko akhirnya meninggalkan dunia preman dan bertobat sungguh-sungguh, namun hal ini bukanlah hal yang mudah karena ia di cap pengkhianat oleh rekan-rekannya.
“Banyak orang yang membenci saya, tapi saya tidak peduli. Saya berpikir, lebih baik saya menyenangkan hati Tuhan dari pada menyenangkan hati manusia.”
Namun pengorbanan Niko tidak sia-sai, melalui proses yang panjang, ia berhasil merangkul rekan-rekannya dan membawa mereka kepada Tuhan. Kini ia dipakai oleh Tuhan untuk membawa bukan hanya kelompoknya dulu, namun ribuan preman kepada Tuhan dan memuridkan mereka.
Hans, Bintang Film Laga Yang Terpuruk Karena Judi

Kecintaannya pada ilmu bela diri mengantarkan Hans Wanaghi masuk kedunia film laga. Hal ini awalnya hanyalah sebuah mimpi baginya yang hanyalah anak dari daerah dan keluarga sederhana.
“Dari nonton-nonton film ini (film laga), timbul keinginan, ‘Saya kan punya kemampuan bela diri, kenapa ngga sekalian aja jadi pemainnya.’ Tapi hanya sebatas impian, karena saya merasa saya di daerah.”
Impian itu terus bertumbuh di hati Hans, hingga suatu hari sebuah kejadian membuat masa depannya seakan telah hancur.
“Papa saya meninggal, perekonomian keluarga kami hancur. Disitu timbul tekad, suatu hari nanti saya harus merubah keadaan perekonomian keluarga.”
Hans yang akhirnya melanjutkan SMA-nya di Jakarta semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi populer dan sukses. Apa lagi ketika ia menyaksikan beberapa teman sekolahnya yang berhasil menjadi artis, impiannya mulai menyala kembali. Suatu hari pintu kesempatan terbuka baginya, ia pun menyambarnya.
“Pada saat itu pemilihan “Abang None Jakarta,” saya coba ikuti. Kebetulan saya mendapat predikat sebagai salah satu abang Jakarta di tahun 83. Disitu, ada salah satu none yang sudah sering ikut drama-drama di televisi. Saya diajak dan di casting lalu diterima. Karena saya baru, jadi dikasih peran figuran untuk coba dulu. Disitulah awal karir saya hingga ke layar lebar.”
Jalan menjadi seorang bintang sudah terbuka lebar di depan Hans. Tidak hanya ketenaran, uang pun mengalir dengan deras ke kantongnya. Namun hal tersebut membuatnya lupa diri dan jatuh dalam dunia seks bebas.
“Saat saya ditawarkan menjadi pemeran utama di sebuah film kolosal, disitulah saya baru merasa inilah dunia saya. Saya semakin populer dan terlena. Saya lagi istirahat shooting, tiba-tiba ada yang mengetok pintu. Pada saat itulah terjadi hubungan suami istri.”
Bergonta-ganti wanita adalah hal biasa bagi Hans, bahkan dirinya sama sekali tidak merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah.
Hati Hans semakin melambung saat ia sudah berhasil mendirikan rumah produksi sendiri dan bisa membeli mobil dan rumah mewah. Namun harta telah membutakan mata hatinya, Hans malah terperosok dalam perjudian.
“Dipuncak kesuksesan saya itu, disitu tidak membuat saya bersyukur. Malah saya jatuh dalam perjudian. Memang awalnya membuahkan hasil, sepertinya gampang sekali. Selama masih ada uang ditangan, saya akan terus pergunakan untuk judi.”
Namun malang tak dapat ditolak, kekalahan membuat Hans kehilangan semua hartanya.
“Saya mengalami putus asa, saya sempat stag. Pada saat itu saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan apa yang saya miliki.”
Hans mencoba bangkit, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai tempat namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan ia terima. Hans akhirnya memulai usaha air minum gallon.
“Saya dulu direktur, namun kini saya angkat-angkat gallon sendiri. Saat itu sebenarnya hati kecil saya menangis.”
Sepertinya Tuhan tidak ingin membiarkan Hans terus meratapi nasibnya. Seorang teman datang dan mengajaknya untuk mengikuti sebuah camp khusus pria.
“Sesi demi sesi saya ikuti, hingga pada malam harinya ketika pembicara mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup ini bukanlah milik kita, semua titipan dari Tuhan. Disitu hati saya mulai tersentuh, saya merasa kalau saya sendiri adalah milik Tuhan, masakah saya menyia-nyiakan hidup saya. Disitu saya merasa kelegaan, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik. Saya yang tidak bisa bertanggung jawab terhadap berkat yang Tuhan berikan, tapi Tuhan tetap mengasihi saya. Masih mau menyadarkan saya, masih mau menerima saya kembali.”
Sejak saat itu, Hans mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan bersungguh-sungguh hidup untuk Tuhan.

Pelecehan Demi Pelecehan Kulalui Tanpa Dapat Kulawan


“Saya waktu itu lagi capek dan saya tidur tanpa tahu apa yang terjadi. Saat saya tidur, saudara saya datang dan memeluk saya dari belakang. Ia kemudian memanggil-manggil nama saya. Saya begitu kaget dan langsung lompat lari bersembunyi ke pojok. Ia kemudian meminta saya untuk tidur lagi tapi saya tidak mau, hanya meringkuk di pojok sambil menangis sampai pagi dan tak bisa tertidur lagi,” ungkap Debby memulai kesaksiannya.
Sedari usia dini, Debby sudah seringkali mengalami perlakukan yang tidak wajar dari orang-orang dekatnya. Pelecehan-pelecehan seringkali ia alami.
“Malam hari karena terang bulan bersama anak-anak yang lain saya bermain petak umpet. Tetangga saya ternyata ada di belakang saya dan saat itulah ia meraba saya dan memegang alat kemaluan saya,” ungkap Debby.
“Beberapa hari kemudian saya bermain di rumah tetangga yang lain. Kita sudah seperti keluarga karena rumah yang berdekatan. Saat itu saya sedang makan, dan kakek datang sambil meremas-remas. Saya yang merasa kesakitan langsung berontak dan lari tanpa menyelesaikan makan saya,” ujar Debby lagi mengungkap pelecehan demi pelecehan yang ia alami.
Dalam ketakutannya, Debby hanya bisa bungkam. Ia merasa tak seorangpun dapat menolongnya. Bahkan orangtuanya sendiri tak bisa memberikan rasa aman baginya. Sepulangnya dari rumah tetangga yang baru melecehkannya, ia harus menyaksikan kondisi papa mamanya yang begitu menyedihkan.
“Kaca di dalam rumah pecah karena mama ada di dalam dan tidak mau keluar, sedangkan papa akhirnya menerobos masuk dengan memecahkan kaca. Saya pun melihat bagaimana mama diseret keluar. Saat itu saya hanya bisa diam seribu bahasa. Bagaimana saya mau cerita, sedangkan saya tidak mendapatkan perlindungan sama sekali. Saya hanya bisa memendam semuanya sendirian,” ujar Debby.
Perlakuan keras sang ayah tak hanya terjadi pada ibunya, bahkan Debby tak jarang mendapat perlakuan yang sama. Debby masih dapat mengingat dengan jelas saat sang ayah mengajarinya matematika. Debby yang selalu salah menjawab pertanyaan yang diajukan ayahnya harus menahan sakit saat sang ayah mendaratkan sandal ke mulutnya. Debby hanya dapat menahan sakit dengan diam dan merasa sangat ketakutan.
Debby juga harus menerima kenyataan pahit. Ibu yang diharapkannya menjadi tempat ia berlindung, memperlakukan dirinya dengan kejam. Satu waktu saat ibunya meminta Debby untuk melakukan sesuatu, sedangkan Debby sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Debby yang menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh ibunya membuat sang ibu marah dan kemudian melemparkan gayung kecil runcing dan mengenai pipinya sampai robek dan menyebabkan darah mengucur dengan derasnya. Sampai-sampai baju pramuka yang dikenakannya pun penuh dengan darah.
“Kenapa mama bisa memperlakukan saya seperti ini? Yang bisa saya lakukan hanyalah menangis dan menangis dan saya pendam semuanya di dalam hati. Kenapa papa mama saya tidak pernah rukun dan mereka hanya bisa menyiksa saya? Itu yang saya rasakan sampai menumbuhkan rasa dendam di dalam hati saya. Saya hanya bisa melampiaskannya dengan mengikuti kegiatan bela diri. Saya akan memukuli kantong pasir, push up, hanya dengan satu tujuan agar satu saat nanti saya bisa membunuh mereka,” ungkap Debby dengan pedih.
Yang Debby tidak sadari, dendam pribadinya membentuk Debby menjadi pribadi yang lain. Debby bahkan menyanggupi duel dengan anak laki-laki sepulang dari sekolah. Saat itulah ia melampiaskan segala kemarahannya dengan memukuli anak tersebut sampai babak belur.
Sebelum Debby beranjak dewasa dan mampu melampiaskan dendamnya, kembali ia harus menerima kenyataan yang lebih pahit. Ayahnya memutuskan pergi meninggalkan ia dengan ibunya karena perceraian. Ekonomi keluarga yang semakin terpuruk sepeninggal ayahnya, membuat Debby harus bekerja keras agar ia dapat melanjutkan sekolah. Berbagai pekerjaan harus ia lakukan meski harus mengorbankan masa remajanya.
“Kelas 3 SMP saya harus mencari rumput untuk makanan kambing. Sebagai seorang remaja, saya benar-benar merasa sedih. Bahkan saya merasa malu dan minder karena teman-teman saya bisa bersenang-senang dengan orang-orang yang disukai, sementara saya pulang sekolah masih harus mencari rumput. Saya benar-benar merasa sedih karena dari kecil saya tidak pernah merasa bahagia. Pada saat itu perasaan saya benar-benar hancur,” ujar Debby.
Debby pun merantau ke kota untuk merubah nasib hidupnya dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun saudaranya yang tinggal di kota tidak setuju jika ia bekerja sebagai pembantu. Mereka meminta agar Debby pindah dan tinggal bersama mereka. Namun Debby tak pernah menyangka akan apa yang akan ia hadapi. Saat ia sedang tidur, saudaranya malah melakukan pelecehan terhadap dirinya. Dua minggu kemudian Debby mencari tempat tinggal lain dan pindah dari sana. Ia tak mau tinggal lagi di situ.
Langkah kaki yang berat itupun akhirnya berhenti. Dalam kebimbangan dan kepedihan, Debby kemudian bertemu dengan seorang wanita yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya. Debby menceritakan segala kepedihan hidupnya kepada Ibu Ita Hutomo yang pada akhirnya menjadi pembimbing rohaninya.
“Waktu didoakan, Debby bermanifestasi dengan luar biasa. Seluruh ilmu bela dirinya keluar sampai kita harus memanggil beberapa orang untuk memegangi dia. Karena Debby bisa karate orang, bisa tinju orang, bahasanya juga aneh,” ujar Ita.
“Pada waktu mengalami pelepasan, yang saya rasakan adalah rasa panas di dalam diri saya. Saya benar-benar merasa terbakar. Saya melihat ada pribadi lain yang marah karena saya benar-benar mau melepaskan itu semua. Ada makhluk yang jelek sekali bentuknya, matanya merah dan ia benar-benar marah. Jadi saat itu yang terjadi benar-benar tarik-menarik antara makhluk itu dengan jiwa saya,” ungkap Debby.
“Namun kami terus mendoakan Debby sampai akhirnya ia dilepaskan. Waktu saya peluk Debby dan mengatakan betapa Tuhan Yesus mengasihi dirinya, Debby langsung menangis dan berteriak seperti ada pelepasan yang luar biasa,” ujar Ita.
“Saya hanya bisa menangis dan tak dapat menahannya. Waktu saya dipeluk, disayang-sayang dan dikatakan ‘I love you’, jujur, saya yang tidak pernah merasakan kasih seorang ibu namun saat itu saya benar-benar dapat merasakan kasih seorang ibu yang sangat berbeda. Ibu saya tidak pernah memperlakukan saya seperti ini. Bahkan papa saya apalagi, belum pernah sekalipun ia memeluk saya,” ujar Debby dengan penuh keharuan.
Debby pun teringat akan mimpinya ketika ia bertemu dengan seoran pribadi yang pernah menawarkan jalan kehidupan baginya.
“Ada seorang Manusia yang datang kepada saya dan Ia mengulurkan tangan. Dalam mimpi itu Ia bilang, ‘Anak-Ku, datanglah kepada-Ku. Akulah jalan dan kebenaran dan hidup dan tidak seorang pun yang dapat diselamatkan kecuali datang kepada-Ku’. Saya pun semakin percaya kepada Yesus dan bahwa Yesus akan memulihkan saya dan keluarga saya,” ujar Debby.
Pemulihan yang Debby alami seakan membuka pintu-pintu kebahagiaan yang selama ini ia cari. Bahkan ia tak pernah menyangka bahwa ia akan diterima bekerja di sebuah tempat kursus terkemuka sebagai asisten pengajar di sana. Bagaimana tidak, secara kualifikasi sebenarnya Debby jauh dari kualifikasi yang diminta. Tempat kursus tersebut hanya menerima staff minimal SMA sedangkan Debby hanya lulusan SMP. Namun pengelola tempat kursus tersebut merasa entah bagaimana bahwa jalan hidup Debby memang ada di tempat tersebut sehingga iapun tak dapat menolak Debby untuk bekerja di sana.

































Yayah, Gadis Preman Tukang Palak Terminal

Perceraian ayah dan ibunya membuat kehidupan Yayah Ade Rina berubah selamanya. Masa kecil Yayah yang seharusnya dipenuhi dengan perhatian dan kasih dari kedua orangtuanya berubah menjadi masa-masa menyeramkan. Ibunya yang harus sibuk bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga, membuat Yayah yang ditinggal di rumah bersama sang paman merasakan pahitnya didikannya.
“Salah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dia, saya dipukul pakai kayu,” demikian tutur Yayah.
Rasa takut, itulah yang Yayah rasakan setiap kali melihat atau bahkan mengingat sosok sang paman. Baginya rumah adalah tempa yang mengerikan baginya. Rasa dendam di hatinya membuatnya ingin membalas perbuatan sang paman.
“Saya dendam sekali sama dia, sampai saya ingin bunuh, saya ingin tusuk kalau dia lagi tidur,” itulah keinginan Yayah kecil, tapi apa daya, ia hanya seorang gadis kecil.
Hingga ia memasuki masa SMA-nya, saat itu ia berkenalan dengan seorang teman pria yang mengajaknya berkenalan dengan anak-anak seusianya yang putus sekolah dan kurang kasih sayang yang sering berkeliaran di terminal bus.
“Pertama saya merasa takut ya, bergaul dengan orang-orang yang kurang kasih sayang, dan ada yang putus sekolah. Tapi satu dua kali saya di ajak, saya mulai tertarik. Asik-asik orangnya…” ungkap Yayah.
Sejak bergaul dengan anak-anak itu, prilaku Yayah berubah kasar. Ia sering memalak, minum-minuman keras dan bermain judi. Tak jarang ia tidak pulang ke rumah dan asik dengan teman-temannya di terminal itu. Tapi suatu hari, sosok yang ia takuti itu muncul kembali.
“Sempat waktu saya lagi nongkrong, ketahuan sama om saya. Saya ditarik sama om saya, disuruh pulang. Saya dinasehatin, tapi nasehatnya menjatuhkan harga diri saya sebagai perempuan. Kesel juga saya dikatain perempuan nakal, tapi saya tidak beritahukan kalau selama ini saya nongkrong karena saya kesal sama om saya.”
Hati kecil Yayah tahu bahwa tidak baik menjadi anak yang pemberontak, namun diluar rumah sana ia menemukan peneriman dan sosok pria yang melindungi dan mengasihinya. Tidak menemukan jalan keluar, Yayah terus menjalani kehidupannya yang brutal di terminal. Suatu hari, seorang ibu yang pulang dari pasar menjadi korban pemalakannya bersama teman-temannya.
Yayah merebut belanjaan ibu itu, “Beri saya uang, kalau tidak saya buang belanjaan ini dan saya injak-injak.”
Ibu itu dengan terpaksa mengeluarkan uang dari dompetnya sambil berkata, “Kamu masih anak-anak aja sudah kaya gini, gimana kalau sudah besar..!”
Perkataan itu langsung membuat Yayah terdiam, “Perkataan itu seperti menyentuh saya. Sepertinya hidup ini tidak berguna, dan saya bingung apa yang harus saya lakukan.”
Ditengah kebingungannya, seorang kerabat dari ayahnya datang dan memberitahukan keberadaan ayahnya.
“Dia bilang ayah saya ada di Palembang. Untuk menghindar dari teman-teman pergaulan saya yang tidak baik, akhirnya saya memutuskan untuk ke Palembang.”
Perjalanan pencarian akan sang ayah pun di mulai, menapakkan kaki di kota Palembang Yayah akhirnya memberanikan diri menemui sosok pria yang selama ini tidak ia kenal.
“Walaupun dalam hati ada rasa kesel karena selama ini dia tidak ada tanggung jawab, sebagai ayah tidak ngurusin saya, tapi ketika dia minta maaf dan dia peluk saya, dia cium saya, akhirnya saya senang. Saya bangga, oh ini dia, saya merasakan punya ayah.”
Hati Yayah yang terluka sedikit terobati oleh kasih yang baru ia rasakan dari sang ayah. Bersama keluarga ayahnya, ia kemudian membangun kehidupan yang baru. Hingga seorang teman memperkenalkannya dengan seorang pria yang bernama Maykel, yang dikemudian hari akan menjadi suaminya.
Hubungannya dengan Maykel tidaklah berjalan mulus, karena sikap egois Yayah, maka Maykel lebih sering mengalah.
“Pernah suatu kali, dia marah saya, dia tampar saya,” demikian kenang Maykel, suami Yayah. “Reaksi yang dia tidak suka, dia keluarkan kata-kata yang ngga sopan.”
Maykel bersabar menghadapi Yayah, hingga suatu hari Maykel mendengar ada sebuah ibadah yang diadakan khusus untuk pemuda. Ia pun mengajak Yayah untuk pergi ke ibadah itu.
“Saya ajak dia, saya bilang: Besok mau ngga pergi ke tempat rekreasi?” jelas Maykel
“Saya pun tidak tahu kalau disana ada ibadah, karena suami saya bilangnya Cuma jalan-jalan aja,” aku Yayah.
Namun Yayah mengikuti ibadah itu tanpa komentar, dan disana ia mendengar sebuah lagu yang begitu indah dan menyentuh hatinya.
“Lagunya, “Mataku tertuju padamu”. Saya bilang begini, ternyata mata Tuhan tertuju pada saya. Semakin saya dengar, semakin tenang jiwa saya. Sepertinya baru kali ini saya rasakan begitu leganya jiwa saya, begitu damainya hati saya, tanpa saya sadari mulut saya berkata: saya terima Tuhan, saya buka hati untuk Tuhan.”
Hari itu, Yayah merasakan kelepasan dan kelegaan. Semua beban dalam hidupnya yang selama ini menekannya lenyap sudah. Sejak saat itu, Yayah berjanji untuk mengubah cara hidupnya, bahkan ia membuat sebuah komitmen baru.
“Karena Tuhan juga sudah mengampuni saya, juga sudah memulihkan saya, saya belajar mendoakan orang yang sudah menyakiti saya, melupakan dan mengampuni om saya yang sudah berbuat kasar pada saya.”
Keputusannya itu diikuti oleh sebuah tindakan berani. Setelah sekitar delapan tahun tidak pernah berjumpa dengan sang paman, Yayah datang untuk meminta restu agar dapat menikah dengan pria yang ia cintai.
“Terserah kamu mau menikah dengan siapa, asalkan dia sayang sama kamu, dan saya minta maaf jika selama ini menyakiti kamu,” demikian ujar sang paman.
“Saya dengan kaget berpelukan (dengan paman). Saya percaya ini karena kemurahan Tuhan, sampai dia mau meminta maaf dari hatinya yang terdalam, hingga menangis.”






















Lina, Selingkuh Selama 16 Tahun Dengan Suami Orang

Bermula dari telephone salah sambung, Lina berkenalan dengan seorang pria. Selama enam bulan, Lina berteman dengan pria tersebut hanya melalui telephone saja, hingga suatu hari mereka akhirnya janji bertemu.
“Akhirnya kami janjian bertemu di sebuah tempat parkiran. Pada saat kami bertemu itu, saya baru tahu kalau dia itu sudah menikah.”
Lina bertanya pada pria itu tentang status pernikahannya, dan pria itu menjawab dengan jujur bahwa ia pria beristri dan beranak dua.
“Jadi saya merasa tidak dibohongi,” demikian tutur Lina, “Karena dari pertama saya sudah tahu status dia.”
Lina sendiri saat itu sedang berpacaran dengan Harry, namun perhatian dan cinta dari pria beristri itu membuatnya buta.
“Saat itu saya masih berhubungan dengan pacar saya, tapi hubungan saya dengan pacar saya tidak bisa membuat saya nyaman seperti saya dengan pria ini.”
Hubungan Lina dengan pria beristri itu semakin dalam, bahkan hingga melakukan hal yang terlarang. Alasan suka sama suka telah membuatnya tidak bisa melihat apakah hal itu dosa atau tidak.
Hingga suatu titik, Lina harus membuat keputusan penting tentang status hubungannya. Ia tahu pasti bahwa ia tidak mungkin mengharapkan pria tersebut menikahinya, jadi ia akhirnya memutuskan untuk menikahi Harry yang selama ini telah ia duakan.
“Saya menikah dengan pacar saya demi status saya menikah. Tapi sementara itu hati saya hanya ke dia, karena bersama dia saya merasakan sesuatu yang special dalam hidup saya.”
Harry, pria yang Lina nikahi ini adalah tipe pekerja keras dan serius, sebaliknya, pria selingkuhan Lina adalah pria yang romantis dan hangat. Hal ini membuatnya sulit melepaskan pria itu. Jadi, sekalipun ia telah menikah, ia masih tetap berselingkuh dengan pria tersebut.
“Saya berusaha menyembunyikan perselingkuhan saya. Kalau tidur handphone saya taruh di bawah bantal,” ungkap Lina.
Sekalipun Harry tidak tahu perselingkuhan istrinya, namun ia merasakan hubungannya dengan Lina terasa dingin.
“Saya merasa istri saya tidak pernah melayani saya dengan baik,” ujar Harry. “Kami jarang melakukan hubungan suami istri yang dari hati ke hati.”
Selama belasan tahun pernikahannya dengan Harry, Lina tetap menjaga rahasia perselingkuhannya dengan pria tersebut serapi mungkin. Hingga suatu hari, Lina merasakan sebuah firasat yang tidak enak tentang pria selingkuhannya itu. Berkali-kali ia menghubungi telephone genggam pria itu, namun tidak diangkat.
“Saya akhirnya telephone ke kantornya, yang mengangkat itu sekretarisnya, saya bilang saya adiknya, sekretarisnya mengatakan dia sudah meninggal 10 menit lalu. Saya langsung shock, saya merasa dunia ini runtuh. Saya merasakan Tuhan itu jahat buat saya, merampas sesuatu yang berharga buat saya.”
Setelah pria yang ia cintai itu meninggal dunia, Lina kehilangan tujuan hidup.
“Tidak ada orang lagi yang mendengarkan saya, tidak ada orang lagi yang jadi teman curhat saya. Walaupun saya bersama suami dan anak-anak, saya merasa kosong. Saya sampai tidak bisa melakukan apapun dalam rumah tangga saya. Saya sudah tidak bisa hidup di dunia.”
Keputusasaan itulah yang dirasakan Lina, ia sudah tidak punya semangat hidup. Hingga suatu hari ia menghadiri sebuah pertemuan.
“Pembicara itu bilang: Tuhan berkata, barang siapa Kukasihi, ia akan ku tegur dan ku hajar. Oleh sebab itu bertobatlah. Saya merasa hal itu buat saya, pada saat lagu “Allah mengerti, Allah peduli” saya sudah tidak kuat lagi, saya pingsan di gereja itu.”
Selesai ibadah, Lina dilayani oleh pendeta gereja tersebut. Saat itulah Lina mengungkap rahasia yang selama ini ia pendam.
“Tuhan terus menegur saya, sampai saya bermimpi: saya berdiri di suatu lorong yang gelap dan bau. Saya mendengar teriakan-teriakan di dalam gang itu, juga suara pecutan-pecutan. Saya bilang, ‘Ih, saya ngga mau kesitu.’ Disitulah saya mendengar suatu suara yang mengatakan: Aku mengasihi kamu, sebab itu aku tidak mau kamu berada di dalam jalan itu.”
Suatu hari seorang teman mengajak Lina dan Harry ke sebuah ret-reat. Harry menyetujui ajakan tersebut dan datang bersama Lina.
“Pembicara menceritakan tentang perempuan yang berzinah,” tutur Harry. “Siapa diantara kamu yang tidak berdosa, lemparkan batu pertama pada perempuan itu. Disitu Tuhan bukakan hati saya.”
“Dengar firman di ret-reat itu, membuat saya semakin yakin kalau ini waktu Tuhan untuk bertobat. Saya membaranikan diri untuk maju, dan saya mengatakan apa yang terjadi dengan saya.”
Didepan mata suaminya, dan juga banyak orang yang hadir dalam acara tersebut, Lina mengakui perselingkuhan yang ia jalani selama 16 tahun. Harry seperti disambar petir di siang hari, shock, bingung, bahkan ia jadi seperti orang yang linglung.
“Saya cukup shock saat itu, kok istri saya bisa begitu. Saya kemudian juga dipanggil ke depan, saya ngga bisa bicara apa-apa. Saya hanya diam.. Mungkin saat itu saya seperti orang tolol. Saya hanya diam, dan kami di doakan,” demikian pengakuan Harry.
Amarah, kebencian dan rasa dikhianati, itulah yang dirasakan Harry. Ia merasa sangat bodoh bisa di bohongi oleh istrinya selama belasan tahun. Setiba di rumah, kemarahan Harry tak terbendung.
“Malam itu kami bertengkar sampai pagi, suami saya tidak terima,” ungkap Lina.
Berbagai pertanyaan Harry lontarkan, namun Lina hanya berdiam diri saja sambil menangis. Tekanan demi tekanan hari lakukan, Lina tetap tidak bergeming. Lina pun menghubungi pembimbing rohaninya, dan sebelum berangkat ke kantor pagi itu, mereka menyempatkan diri datang ke rumah Harry dan Lina.
“Saya mau ceraikan istri saya, “ demikian ungkap Harry. “Saya sudah tidak sanggup lagi.”
Pembimbing rohani mereka menenangkan Harry, dan memintanya untuk berpikir ulang tentang keputusannya tersebut. Harry pun masuk kembali ke kamar.
“Di dalam kamar, firman Tuhan itu terus teringat. “Apakah kamu orang tidak berdosa?” Saya menangis, saya tanya Tuhan: Apa yang harus saya perbuat Tuhan, apa yang bisa saya lakukan dengan masalah seperti ini? Tapi firman Tuhan itu terus mengingatkan saya, saya orang berdosa. Bahwa kita harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh. Saya berkata, saya tidak sanggup Tuhan. Saya berdoa, menangis. Terus terang, sebelumnya saya tidak pernah berdoa. Tuhan lembutkan hati saya, saya ambil keputusan, saya minta ampun sama Tuhan.”
Harry keluar dari kamar dan menghampiri istrinya, temannya langsung memegangnya takut Harry akan memukul Lina. Tapi yang terjadi sebaliknya.
“Dia menghampiri saya dan meminta maaf,” ungkap Lina haru.
Keduanya saling berpelukan dan saling meminta maaf. Apa yang mustahil, mengampuni orang yang telah mengkhianatinya selama belasan tahun, itu terjadi dalam satu hari, karena kasih Tuhan yang memampukan Harry. Sejak hari itu, pemulihan demi pemulihan terjadi dalam pernikahan Harry dan Lina. Bahkan hubungan keduanya semakin harmonis dan penuh kasih.














Emily Klotz, Diculik dan Diperkosa Pria Tak Dikenal

Kejahatan bisa terjadi dimana saja dan tidak pernah disangka-sangka, pagi itu oleh Emily Klotz sedang lari pagi seperti biasanya, tidak sedikitpun terbersit hal buruk akan ia alami.
Saya melihat seorang pria datang ke arah saya pada sisi jalan yang berlawanan, demikian tutur Emily. Dia menyeberangi jalan dan meraih saya lalu menyemprotkan semprotan merica ke wajah saya dan menarik saya sepanjang jalan menuju mobilnya yang diparkir di hutang, dan mendorong saya masuk ke dalam bagasi. Itu adalah ketakutan terbesar yang sedang terjadi dalam hidup saya saat itu juga.
Emily mencoba memberontak di bagasi mobil itu, dan menemukan disana ada segulung lakban, obeng dan borgol.
Saat itu saya berpikir bahwa saya pasti akan dibunuh. Dibalik pemikiran itu saya memiliki banyak penyesalan, saya mengingat bahwa saya masih belum menikah dan saya ingin punya anak. Sungguh menyesal mengapa hidup saya begitu singkat.
Untuk menenangkan dirinya, dibagasi yang gelap dan pengap itu ia menyanyikan lagu-lagu yang dia pelajari di gereja saat dia masih kecil.
Saat itu saya benar-benar merasakan hadirat Tuhan bersama saya. Tuhan menenangkan saya, kedamaian-Nya ada dalam bagasi mobil tersebut, dan itu membuat saya tetap bertahan hidup, kenang Emily.
Suara nyanyian Emily dan doa yang dia panjatkan dalam ketakutan rupanya terdengar oleh telinga pria yang menangkapnya itu, Pria yang sedang menyetir itu pastilah merasa bersalah, sebab dia langsung menyalakan radio dan mengeraskan suaranya untuk menutupi suara nyanyian dan doa saya.
Satu jam kemudian mobil itu berhenti dan bagasi pun dibuka. Emily berusaha melarikan diri, namun pria itu dengan cepat menyergapnya dan menjatuhkannya ke tanah.
Pada saat itu saya menatap dia dan berkata: Apakah kamu bekerja untuk setan? Dia melihat saya dengan wajah mengejek menjawab Tidak. Lalu saya berkata, Ketahuilah bahwa Tuhan bersama saya!
Emily diikat dan kembali dimasukkan ke dalam bagasi. Empat puluh lima menit kemudian dia dibawa ke sebuah loteng dan di borgol disana.
Dia memborgol tangan saya ke sebuah tiang di dekat lantai dan disitulah dia memperkosa saya secara brutal.
Saat semua selesai, Emily ditempatkan di bangku belakang mobil. Anehnya, tiba-tiba pria itu meminta Emily untuk menyanyi.
Saya mulai menyanyikan lagu Amazing Grace di mobil itu. Saya merasa Tuhan memberikan lagu itu untuk dinyanyikan karena bukan agar si pria yang baru saja melakukan hal yang mengerikan kepada saya ini menerima anugerah Tuhan dan dia bisa diselamatkan jika menerima anugerah Tuhan, tapi saya juga membutuhkan anugerah tersebut sama besarnya seperti dia meskipun saya bertumbuh di sebuah sekolah Kristen dan bertumbuh di gereja, saya belum memiliki hubungan dengan Tuhan, saya belum menerima anugerah tersebut.
Emily akhirnya ditinggalkan oleh pria tersebut di lapangan parkir di dekat kampusnya dan segera menghubungi polisi. Pria penyerangnya itu ditangkap keesokkan harinya. Namun Emily hidup dengan luka yang mendalam akibat kejadian tersebut.
Saya terluka secara fisik, saya juga terluka secara emosional. Tentunya saya merasa marah pada pria itu dan saya marah pada semua hal yang harus saya lalui untuk pemulihan. Marah pada keadaan mengapa hal itu bisa terjadi,demikian Emily mengungkapkan perasaannya kala itu.
Akhirnya seorang teman datang kepadanya dan berkata bahwa Tuhan mengasihinya dan ingin memulihkannya.
Saya mulai mengerti bahwa Yesus telah memberikan segalanya, Dia memberi hidup-Nya bagi saya, karena Dia sangat mengasihi saya. Yesus menawarkannya pada saya dan jika saya mau menerimanya dan membukanya maka saya akan memperoleh hidup yang kekal. Saya pun mulai memanjatkan doa yang sederhana: Tuhan, aku sungguh ingin melayani Engkau dengan hidupku dan akan mengasihi-Mu dengan seluruh keberadaanku. Aku menerima Engkau masuk ke dalam hatiku. Aku ingin hatiku sepenuhnya menjadi milik-Mu. Dan tiba-tiba saja kata-kata itu menjadi begitu hidup bagiku, seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Karena aku mendengar Tuhan berkata, Aku akan melakukan ini semua demi kebaikan.Saya pun mulai menemukan hal-hal baik dari peristiwa itu. Saya merasa bahwa Tuhan ingin agar saya mengampuni pria yang telah memperkosa saya. Dia mengingatkan pada saya ketika Yesus di kayu salib dan berkata, Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat!Maka saya berkata dengan lantang, Saya memutuskan untuk mengampuni pria tersebut.
Seperti Yesus berdoa untuk mereka yang telah menyalibkannya, demikianlah Emily berdoa bagi pria yang telah memperkosanya. Bahkan mulai saat itu, Emily terus berdoa bagi keselamatan jiwa pria tersebut.
Pengampunan saya baginya dapat berlangsung dengan cepat karena itu (berdoa bagi pria itu), kemarahan di hati saya mulai hilang dan luka karena peristiwa itu juga mulai hilang. Hanya Tuhan yang mampu melakukan hal seperti ini.
Pria tersebut di kenai hukuman maksimal 30 tahun atas perbuatannya kepada Emily. Namun pertanyaan Emily, Apakah kamu bekerja untuk setan? dan lagu Amazing Grace yang dinyanyikan Emily terus terngiang-ngiang di telinga pria itu. Dua tahun kemudian, pria itu meminta ampun atas dosa-dosanya dan diperbaharui hidupnya oleh Tuhan. Emily mengetahui ini melalui seorang reporter berita yang meliput tentang tahanan dalam penjara.

Dia memberi hatinya pada Tuhan dan meminta Yesus sebagai juru selamatnya. Dan sekarang dia sudah menjadi pembimbing bagi para narapidana lainnya di penjara. Saat saya mendengar berita itu dari reporter tersebut melalui telephone, saya melompat-lompat kegirangan di dapur saya. Saya merasa sangat sukacita mengetahui bahwa doa saya telah dijawab oleh Tuhan.

Tidak ada komentar: