Ada beberapa berbedaan antara gereja gereja dalam melihat Alkitab.Sekarang mari kita kaji,diantaranya :
I. Alkitab tidak dapat menafsirkan sendiri:
1. Pernyataan di atas sama sekali bukan untuk memandang rendah Alkitab, namun justru untuk menjaga agar kita dapat menghargai Alkitab sebagai sumber kepercayaan iman kita. Pernyataan Gereja tentang Alkitab sebagai sumber dari pengajaran dan doktrin dari Gereja dinyatakan secara jelas dalam beberapa ensiklik, seperti: Divino Afflante Spiritu, Providentissimus Deus, dan juga dalam salah satu dokumen Vatican II, yaitu: Dei Verbum atau Konstitusi Dogmatis Tentang Wahyu Ilahi. Kalau kita melihat dari dokumen-dokumen tersebut maka sungguh sangat jelas bahwa Gereja sungguh menempatkan Alkitab sebagai salah satu pilar kebenaran.
1. Kita melihat bahwa Rasul Petrus mengingatkan akan jemaat bahwa ada
perkataan-perkataan dari Rasul Paulus yang sulit dimengerti dan dapat dibelokkan oleh orang-orang (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21). Kalau kita melihat ada banyak hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian akan penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, Yesus adalah Tuhan. Contoh-contoh yang lain, misalkan: bagaimana kita tahu bahwa Yesus mempunyai dua keinginan dan bukan satu? Apakah original sin atau dosa asal benar-benar merusak manusia secara total atau tidak? Konsep tentang predestination: apakah double predestination ataukah predestination?, berapa sakramen yang Yesus berikan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang membutuhkan permenungan dan analisa yang mendalam.
II. Gereja ada terlebih dahulu sebelum Alkitab terbentuk.
1. Pernahkan kita merenungkan bahwa sebetulnya Gereja ada terlebih dahulu sebelum terbentuknya Alkitab seperti yang kita kenal saat ini? Setelah Pentekosta, jemaat perdana hanya mempunyai Perjanjian Lama, namun Perjanjian Baru belum ada.
1. Konsili Hippo (393), Konsili Carthage (397, 419 AD) pada jaman kepemimpinan Paus Siricius (397) dan Paus Boniface (418) menghasilkan 138 kanon dan salah satunya yaitu kanon 24 menetapkan Kitab Kanonik yang merupakan Kitab Suci yang kita kenal di dalam Gereja, yaitu Kitab Perjanjian Lama termasuk Kitab Deuterokanonika, dan Perjanjian Baru. Pada saat jemaat awal terdapat banyak kitab yang tersebar yang tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus, seperti contohnya Injil Thomas, dst, sehingga Gereja mengambil keputusan untuk menetapkan kitab-kitab yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus dan dapat dipakai sebagai acuan. Tentu untuk menentukan hal ini para pemimpin Gereja tersebut berdoa dan berada dalam bimbingan Roh Kudus. Hasilnya memang dapat kita lihat, sebagai Kitab Suci kanonik yang berisikan ajaran yang ’solid’ dan tidak bertentangan satu sama lain. Kitab Kanonik ini tidak sama dengan Injil. Injil yang ditetapkan hanya ada empat, yaitu Matius (yang ditulis sebelum 50 AD), Lukas dan Markus (keduanya sebelum 68 AD, Lukas sebelum 62 AD), dan Yohanes (90 AD).
Konsili Carthage umum dikenal sebagai ‘The Code of Canons of the African Church‘, yang merupakan penggabungan dari kanon yang pernah dibuat dalam 16 konsili di Carthage, Milevis dan Hippo. Koleksi Code ini merupakan yang terbesar kedua setelah Code Gereja Universal. Pada waktu itu, adalah umum bahwa Gereja Universal menerima dan menerapkan hasil penetapan dari konsili particular Church karena mereka toh masih termasuk satu kesatuan dengan universal Church, yang kita kenal sebagai Gereja Katolik. Jadi pada konsili Gereja Katolik di Chalcedon (451), hasil konsili Carthage ini dimasukkan ke dalam kanon, baik dalam Gereja Timur maupun Barat yang berpusat di Roma. Sejak saat itu semua gereja memakai Kitab Suci seperti yang telah ditetapkan Konsili ini.
1. Jadi, kalau hanya Alkitab saja sebagai pegangan satu-satunya, bagaimana para rasul dan para murid dapat menyebarkan kebenaran Kristus sebelum terbentuknya Alkitab, dari periode antara Pentekosta sampai tahun 382 AD (tahun terbentuknya kanon Kitab Suci)? Bagaimana jemaat perdana memilih buku-buku mana yang harus dimasukkan dalam Alkitab sebagai wahyu Ilahi? Nah, menjelaskan bahwa Gerejalah yang menetapkan buku-buku mana yang termasuk di dalam kanon Alkitab. Dari sini kita dapat melihat bahwa: Gereja yang melahirkan Alkitab, bukan Alkitab yang melahirkan Gereja. Karena Alkitab dilahirkan oleh Gereja, Gereja pulalah, melalui Magisterium Suci, yang dilindungi oleh Roh Kudus dan janji Kristus, mempunyai otoritas untuk menafsirkannya, sehingga kebenaran Alkitab tidak disalah artikan. Itulah sebabnya 1 Tim 3:15 mengatakan bahwa tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja.
III. Hanya Alkitab sebagai satu-satunya pilar kebenaran menyebabkan perpecahan gereja.
1. Dan sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther dan John Calvin mempunyai banyak perbedaan dalam hal Ekaristi Kudus, Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari dua orang pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab?
2. Kalau memang “hanya Alkitab” dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan Yesus terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh Kristus, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut Kristus (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio). Mungkin ada yang tidak setuju akan seluruh pernyataan di dalam dekrit ini, namun ini adalah suatu bukti bahwa Gereja juga mempunyai kerinduan yang sama dengan gereja yang lain untuk melihat seluruh umat Allah berkumpul menjadi satu, dan dengan demikian memenuhi pesan Yesus. Keinginannya sama, yang menjadi perbedaaan kita adalah caranya.
IV. Tiga Pilar Kebenaran: Sacred Scripture (Alkitab), Sacred Tradition (Tradisi Suci), dan Sacred Magisterium (Wewenang Mengajar Gereja).
1. Tradisi Suci.
Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia. Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8). Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor:2).
Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat,
ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.
1. Kitab Suci.
Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.” Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itusendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya KitabSuci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.
1. Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja.
Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.” Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Paus dan para uskup pembantunya menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah. Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut. Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).Kesimpulan: Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium
Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Fil.3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal Kristus. Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.
Jadi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ’seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.
Mari kita bersama-sama mengasihi Kristus dengan mengasihi Sabda-Nya. Bagi kita sebagai umat, untuk mengasihi Sabda-Nya, yang dimanifestasikan dalam bentuk tertulis (Kitab Suci), maupun secara lisan (Tradisi Suci), dan mengartikannya sesuai dengan pengajaran Magisterium Gereja.
AMIN.
“PERGI DAN WARTAKAN”, BAWALAH DAMAI KRISTUS DALAM HIDUP KITA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar