Terpujilah Tuhan, atas segala kebaikan-Nya yang ditunjukkan kepada kita semua hingga saat sekarang. Ya, kita patut bersyukur atas segala perbuatan-Nya yang ajaib. Tuhan kita memang luar biasa, besar kasih setia-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Gereja memiliki penekanan yang sedikit berbeda dalam hal iman pemula, iman yang bertumbuh dan iman yang sempurna.
Tentang pertumbuhan iman ini, marilah kita kaji bersama sama berdasarkan Kitab Suci:
Pengertian/ definisi iman
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” (Ibr 11:1-2).
Maka, kita mengetahui bahwa iman menjadi dasar pengharapan akan sesuatu yang tidak kita lihat, dan iman itu timbul dari kesaksian tentang kebenaran. Karena yang memberikan kesaksian tersebut pertama- tama adalah Allah sendiri melalui Kristus dan para rasul-Nya, maka kita mempunyai alasan yang kuat untuk percaya. Sebab jika kesaksian diberikan oleh manusia, maka kita tidak dapat yakin akan kebenaran sepenuhnya, namun jika Allah sendiri yang memberikan kesaksian tersebut, maka kita dapat yakin akan kebenarannya.
Dengan demikian iman berhubungan dekat dengan ketaatan. Tak heranlah bahkan di Alkitab sendiri Rasul Paulus mengajarkan tentang keduanya sekaligus, yaitu tentang “ketaatan iman” (Rom 16:26 ; lih. Rom 1:5 ; 2 Kor 10:5-6) kepada Tuhan. Maka Gereja mengajarkan :
Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah”. Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17); Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).
Terlihatlah di sini bahwa iman yang sesungguhnya, haruslah iman yang disertai dengan kasih, sebab tanpa kasih, iman itu mati (Yak 2:17, 26). Atau dengan perkataan lain, iman tidak terpisahkan dari kasih, atau tanpa kasih sesungguhnya iman orang itu tidak nyata.
1. Iman di tahap para pemula,
harus terus dipupuk agar tidak hilang/ melemah. Beberapa syaratnya adalah:
a. Menyadari bahwa iman adalah karunia, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah…” (Ef 2:8); dan karenanya tekun memohon kepada Allah agar memperoleh karunia untuk meningkatkan dan memperkokoh iman.
b. Menghidupkan iman oleh kasih, sehingga mengakibatkan kebajikan-kebajikan yang lain untuk turut bertumbuh. Dua akibat yang terbesar yang dihasilkan oleh iman yang hidup oleh kasih adalah: 1) kasih hormat seorang anak kepada Allah Bapa di surga, yang membantunya untuk menghindari dosa; 2) pemurnian hati yang mengangkat pikiran dan hati kepada hal-hal surgawi yang membersihkannya dari keterikatannya kepada kesenangan duniawi.
c. Menolak sedapat mungkin, dengan bantuan rahmat ilahi, apapun yang dapat membahayakan iman: yaitu keragu-raguan, dan pencobaan- pencobaan yang menolak iman, segala bacaan yang bertentangan dengan iman Kristiani, dst. Sebaliknya, selalu tekun dalam iman dan teguh tidak bergoncang (lih. Kol 1:23).
d. Berusaha sedapat mungkin untuk meningkatkan pengetahuan iman dan kebenaran-kebenaran iman, sesuai yang diajarkan oleh Gereja (lih. 1 Tim 3:15).
e. Meningkatkan iman dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan penghayatan iman (lih. Yak 2:18).
2. iman yang bertumbuh,
adalah iman yang tahan uji terhadap kesukaran dan penderitaan, dengan menempatkan hal-hal spiritual di atas segala yang bersifat duniawi, untuk menilai segala sesuatu. Beberapa prinsipnya adalah:
a. Melihat Tuhan selalu dalam terang iman, tanpa mendahulukan cinta diri atau pandangan diri sendiri. Orang bertumbuh imannya percaya bahwa Tuhan itu selalu sama (lih. Ibr 13:8), Ia baik dan penuh belas kasihan, dalam keadaan apapun, pada saat kita sehat maupun sakit, kelimpahan ataupun kekurangan.
Adalah lebih mudah untuk mengatakan kita beriman, pada saat tidak ada hidup dalam kelimpahan. Namun justru ketahanan iman itu harus dibuktikan, pada saat kita mengalami ujian hidup. Adakalanya Tuhan mengizinkan kita mengalami mukjizat dan berkat-berkat-Nya saat kita menghadapi ujian ini, namun adakalanya, Ia mengizinkan penderitaan itu tetap kita alami. Ujian hidup itu dapat berhubungan dengan diri kita, misalnya penyakit, ataupun bermacam pergumulan hidup. Sebagai contohnya, seseorang memang dapat mengalami mukjizat kesembuhan jasmani, namun mukjizat ini ada batasnya, dan tidak selalu jika kita sakit maka pasti kita akan menerima mukjizat kesembuhan. Akan tiba saatnya bahwa Tuhan mengizinkan penyakit itulah yang menghantar kita pulang ke rumah-Nya. Maka di sini kita ketahui bahwa yang terpenting adalah kita memiliki iman yang kokoh, akan segala yang menjadi kehendak Tuhan, bahwa situasi apapun tidak akan memisahkan kita dari-Nya. Jika kita disembuhkan, “Puji Tuhan”, namun jika Tuhan memutuskan tidak demikian, kitapun harus tetap mengatakan, “Puji Tuhan!” Kelapangan hati yang demikian itulah yang menunjukkan kedewasaan iman, iman yang menunjukkan kepercayaan penuh kepada Tuhan yang mengasihi kita dalam situasi apapun. Kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, namun selebihnya kita serahkan kepada Tuhan.
Sikap ini tidak untuk dikacaukan dengan sikap apatis, yang tidak percaya bahwa Tuhan dapat menyembuhkan/ melakukan mukjizat. Orang yang bertumbuh imannya, tetap percaya bahwa Tuhan dapat melakukan mukjizat-Nya, namun ia dengan kelapangan hati tidak “memaksakan” bahwa Tuhan harus melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Maka di sini, kita meneladani sikap Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (lih. Luk 1:38), yang juga sesuai dengan perkataan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus (lih. Mat 6:10).
b. Menilai segala sesuatu di dalam hidup dalam terang pengajaran iman, dan tak berkompromi dengan ajaran dunia. Sebagai contohnya, orang yang bertumbuh dalam iman yakin bahwa kemiskinan di hadapan Allah, kerendahan hati, kelemahlembutan, pertobatan, belas kasihan, kemurnian hati, damai sejahtera (lih. Mat 5:3-10) adalah lebih berguna bagi kehidupan kekal daripada semua yang ditawarkan dunia.
c. Teguh beriman di tengah-tengah ujian hidup dan penganiayaan dari mereka yang menentang iman kita kepada Yesus. Hal ini kita lihat dari perjuangan para rasul yang demi iman dan kasih mereka kepada Allah, mereka rela menderita demi mengabarkan Injil (Kis 5:41).
Gereja mengajarkan demikian:
Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus “ siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa ”. Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33).
3. Iman yang sempurna,
pada jiwa-jiwa orang yang sempurna adalah yang iman yang dilengkapi oleh rahmat pengertian, pengetahuan yang telah mencapai tingkat yang sempurna, sebagai permulaan/ prelude dari “beatific vision“/ pandangan Ilahi di mana kita dapat melihat dan memahami Allah dalam arti yang sesungguhnya di surga (1 Yoh 3:2). Pandangan surgawi ini dialami oleh Stefanus (lih. Kis 7:54-60) sebelum ia menyerahkan nyawanya karena imannya. Maka, kesempurnaan iman juga tampak dari perjuangan para rasul, martir dan para misionaris yang demi iman dan kasih mereka kepada Allah, mereka rela mengorbankan segala sesuatu termasuk mengorbankan nyawa mereka dengan lapang hati dan suka cita. Dengan demikian mereka menjadi sungguh serupa dengan Kristus.
Hanya hal kecil yang dapat saya sampaikan,” Mari kita berjuang untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Allah, dengan disertai perbuatan- perbuatan kasih, seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul “.
Dan, Marilah kita selalu bersatu dalam nama Bapa,Putra dan Roh Kudus dalam kehidupan kerohanian kita dan kehidupan sosial kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar